Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Pra Instrumentasi

February 11, 2006

PRA INSTRUMENTASI

Dr.Petrus Hendra Gunadi SpPK
RSUD Pasar Rebo Jakarta timur

Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu :
1. Faktor Pra instrumentasi : sebelum dilakukan pemeriksaan
2. Faktor Instrumentasi : saat pemeriksaan ( analisa ) sampel
3. Faktor Pasca instrumentasi : saat penulisan hasil pemeriksaan

Pra instrumentasi :
Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas , pasien dan dokter. Hal ini karena tanpa kerja sama yang baik akan mengganggu / mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi :
1. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium.
2. Persiapan penderita
3. Persiapan alat yang akan dipakai
4. Cara pengambilan sampel
5. Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) & transportasi

1. Pemahaman instruksi dan pengisian formulir

Pada tahap ini perlu diperhatikan benar apa yang diperintahkan oleh dokter dan dipindahkan ke dalam formulir. Hal ini penting untuk menghindari pengulangan pemeriksaan yang tidak penting, membantu persiapan pasien sehingga tidak merugikan pasien dan menyakiti pasien.
Pengisian formulir dilakukan secara lengkap meliputi identitas pasien : nama, alamat / ruangan, umur, jenis kelamin, data klinis / diagnosa, dokter pengirim, tanggal dan kalau diperlukan pengobatan yang sedang diberikan. Hal ini penting untuk menghindari tertukarnya hasil ataupun dapat membantu intepretasi hasil terutama pada pasien yang mendapat pengobatan khusus dan jangka panjang.

2. Persiapan penderita

2.1. Puasa
Dua jam setelah makan sebanyak kira2 800 kalori akan mengakibatkan peningkatan volume plasma, sebaliknya setelah berolahraga volume plasma akan berkurang. Perubahan volume plasma akan mengakibatkan perubahan susunan kandungan bahan dalam plasma dan jumlah sel / ul darah.

2.2. Obat
Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya : asam folat, Fe, vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akan menurunkan jumlah eosinofil, sedang adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit. Pemberian transfusi darah akan mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan pembacaan morfologi sediaan apus darah tepi maupun penilaian hemostasis. Antikoagulan oral atau heparin mempengaruhi hasil pemeriksaan hemostasis.

2.3. Waktu pengambilan
Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari tertutama pada pasien rawat inap. Kadar beberapa zat terlarut dalam urin akan menjadi lebih pekat pada pagi hari sehingga lebih mudah diperiksa bila kadarnya rendah. Kecuali ada instruksi dan indikasi khusus atas perintah dokter. Selain itu juga ada pemeriksaan yang tidak melihat waktu berhubung dengan tingkat kegawatan pasien dan memerlukan penanganan segera disebut pemeriksaan sito. Beberapa parameter hematologi seperti jumlah eosinofil dan kadar besi serum menunjukkan variasi diurnal, hasil yang dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan. Kadar besi serum lebih tinggi pada pagi hari dan lebih rendah pada sore hari dengan selisih 40-100 ug/dl. Jumlah eosinofil akan lebih tinggi antara jam 10 pagi sampai malam hari dan lebih rendah dari tengah malam sampai pagi.

2.4. Posisi pengambilan
Posisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10 % demikian pula sebaliknya.

Hal lain yang penting pada persiapan penderita adalah menenangkan dan memberitahu apa yang akan dikerjakan sebagai sopan santun atau etika sehingga membuat penderita atau keluarganya tidak merasa asing atau menjadi obyek.

3. Persiapan alat

Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.

3.1. Pengambilan darah
Yang harus dipersiapkan antara lain : - kapas alkohol 70 %, karet pembendung (torniket) semprit sekali pakai umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering bertutup dan berlabel. Penampung dapat tanpa anti koagulan atau mengandung anti koagulan tergantung pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Kadang-kadang diperlukan pula tabung kapiler polos atau mengandung antikoagulan.

3.2. Penampungan urin
Digunakan botol penampung urin yang bermulut lebar, berlabel, kering, bersih, bertutup rapat dapat steril ( untuk biakan ) atau tidak steril. Untuk urin kumpulan dipakai botol besar kira-kira 2 liter dengan memakai pengawet urin.

3.3. Penampung khusus
Biasanya diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain. Yang penting diingat adalah label harus ditulis lengkap identitas penderita seperti pada formulir termasuk jenis pemeriksaan sehingga tidak tertukar.

4. Cara pengambilan sampel

Pada tahap ini perhatikan ulang apa yang harus dikerjakan, lakukan pendekatan dengan pasien atau keluarganya sebagai etika dan sopan santun, beritahukan apa yang akan dikerjakan. Selalu tanyakan identitas pasien sebelum bekerja sehingga tidak tertukar pasien yang akan diambil bahan dengan pasien lain. Karena kepanikan pasien akan mempersulit pengambilan darah karena vena akan konstriksi.
Darah dapat diambil dari vena, arteri atau kapiler. Syarat mutlak lokasi pengambilan darah adalah tidak ada kelainan kulit di daerah tersebut, tidak pucat dan tidak sianosis. Lokasi pengambilan darah vena : umumnya di daerah fossa cubiti yaitu vena cubiti atau di daerah dekat pergelangan tangan. Selain itu salah satu yang harus diperhatikan adalah vena yang dipilih tidak di daerah infus yang terpasang / sepihak harus kontra lateral. Darah arteri dilakukan di daerah lipat paha (arteri femoralis ) atau daerah pergelangan tangan ( arteri radialis ). Untuk kapiler umumnya diambil pada ujung jari tangan yaitu telunjuk, jari tengah atau jari manis dan anak daun telinga. Khusus pada bayi dapat diambil pada ibu jari kaki atau sisi lateral tumit kaki.

4.1. Cara pengambilan darah kapiler :
- dilakukan tindakan asepsis dengan alkohol 70 %, biarkan kering
- lakukan tusukan dengan arah memotong garis sidik jari
- tetesan pertama dibuang dengan menggunakan kapas kering
- selanjutnya dapat diambil dengan menggunakan tabung kapiler.

4.2. Cara pengambilan darah vena :
- lakukan pembendungan dengan torniket
- dilakukan tindakan asepsis dengan alkohol 70 % dengan arah putaran melebar menjauhi titik tengah, biarkan kering
- ambil semprit dengan arah mulut jarum dan skala menghadap ke atas
- arah tusukan jarum membentuk sudut sekitar 10-30°
- bila sudah terkena venanya, isap pelan2 darah supaya tidak terjadi hemolisis - cabut jarum dengan sebelumnya melepas dan menekan daerah tusukan
- jarum dilepas kemudian alirkan darah ke dalam penampung melalui dinding penampung pelahan-lahan sehingga tidak hemolisis
- bila penampung menggunakan antikoagulan segera campur darah dengan mengocok tabung seperti angka 8.

Untuk pemeriksaan hematologi biasanya digunakan antikoagulan Na2EDTA / K2EDTA, sedang untuk hemostasis digunakan Na sitrat 0.109 M.
Jangan melakukan pembendungan terlalu lama karena akan terjadi perubahan komposisi plasma karena terjadi hemokonsentrasi, selain itu pada darah kapiler jangan menekan-nekan ujung jari karena akan terbawa cairan jaringan.

4.3. Cara pengambilan darah arteri :
- siapkan semprit yang telah dibasahi antikoagulan heparin steril
- tanda-tanda pembuluh darah arteri /nadi adalah terabanya denyutan yang tidak ditemukan pada vena
- bila telah ditemukan arteri, lakukan tindakan asepsis dengan alkohol 70 %
- dengan 2 jari telunjuk dan jari tengah lakukan fiksasi arteri tersebut
- kemudian lakukan tusukan / pungsi tegak lurus ( karena letaknya dalam )sampai terkena arteri tersebut
- bila arteri telah tercapai akan tampak darah yang akan mengalir sendiri oleh tekanan darah ke dalam semprit yang telah mengandung heparin. Cabut semprit dan segera ditutup dengan gabus sehingga tidak terkena udara. Goyangkan semprit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku.
- tekan bekas pungsi dengan baik sampai tidak tampak darah mengalir. Hal ini tidak sama dengan vena karena dengan vena lebih mudah membeku daripada arteri.
- Segera kirim ke laboratorium ( sito )

Perbedaan darah arteri dan vena :
1. Lokasi tusukan lebih dalam
2. Teraba denyutan yang tidak ada pada vena
3. Warna darah lebih merah terang dibandingkan vena
4. Darah akan mengalir sendiri ke dalam semprit.

5. Penanganan awal sampel & transportasi

Pada tahap ini sangat penting diperhatikan karena sering terjadi sumber kesalahan ada disini. Yang harus dilakukan :
- Catat dalam buku expedisi dan cocokan sampel dengan label dan formulir. Kalau sistemnya memungkinkan dapat dilihat apakah sudah terhitung biayanya ( lunas )
- Jangan lupa melakukan homogenisasi pada bahan yang mengandung antikoagulan
- Segera tutup penampung yang ada sehingga tidak tumpah
- Segera dikirim ke laboratorium karena tidak baik melakukan penundaan
- Perhatikan persyaratan khusus untuk bahan tertentu seperti darah arteri untuk analisa gas darah, harus menggunakan suhu 4-8° C dalam air es bukan es batu sehingga tidak terjadi hemolisis. Harus segera sampai ke laboratorium dalam waktu sekitar 15-30 menit.
Perubahan akibat tertundanya pengiriman sampel sangat mempengaruhi hasil laboratorium. Sebagai contoh penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan penurunan kadar glukosa, peningkatan kadar kalium. Hal ini dapat mengakibatkan salah pengobatan pasien. Pada urin yang ditunda akan terjadi pembusukan akibat bakteri yang berkembang biak serta penguapan bahan terlarut misalnya keton. Selain itu nilai pemeriksaan hematologi juga berubah sesuai dengan waktu.
Tabel berikut menggambarkan batasan waktu maksimum yang diijinkan :

- Kadar hemoglobin stabil
- Jumlah leukosit < 2 jam
- Jumlah eritrosit < 6 jam
- Nilai hematokrit < 6 jam
- Laju endap darah < 2 jam
- Jumlah trombosit < 1 jam
- Retikulosit < 6 jam
- Sediaan apus darah tepi < 1 jam

Untuk itu sebagai pegangan selalu berprinsip bahan laboratorium harus selalu segar < 1 jam harus sudah tiba di laboratorium

Jihad Tidak Mesti Bertempur

February 10, 2006

Jihad Tidak Mesti Bertempur

Artinya : “Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah

orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.

(QS. Ali ‘Imran : 142)

Oleh : Ahmad Sopiani

Banyak orang masih menginterpretasikan kata Jihad dengan perlawanan bersenjata dan sejenisnya. “Banyak orang” yang saya maksud; pertama, Orang Islam sendiri, yang karena tidak banyak meluangkan waktunya untuk mempelajari doktrin Islam, menjadi kurang mengerti terhadap makna Jihad yang lengkap. Kedua, non muslim yang karena “a priori” terhadap Islam, menelan mentah-mentah interpretasi yang salah tentang Jihad yang masuk ke telinga mereka, lalu mem-beo mengartikan Jihad dengan perang suci. Ketiga, segolongan non muslim, yang karena suatu “kepentingan”, menggeneralisir pengertian Jihad ke dalam pengertian yang sempit sebagai suatu tindak kekerasan senjata/perang suci, jikapun sebenarnya mereka mengerti bahwa makna Jihad tidaklah sesempit yang mereka katakan. Keempat, Orang yang “so tau” alias “so ngerti”. Golongan yang satu ini bisa muslim (yang belum tercerahkan) ataupun non muslim yang “so ngerti” ajaran Islam.

Jadi, apakah Jihad itu ?

Kata Jihad dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 41 kali.

Kata Jihad diambil dari kata “Jahd” yang berarti “letih/sukar”, karena jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada pula yang berpendapat kata itu dari akar kata “Juhd” yang berarti “kemampuan”. Ini karena jihad menuntut kemampuan. Dari kata yang sama tersusun ucapan “Jahida birrajul” yang berarti “seseorang sedang mengalami ujian/cobaan”. Terlihat bahwa kata ini mengandung makna ”ujian dan cobaan”, hal yang wajar karena jihad memang merupakan ujian dan cobaan bagi diri seseorang.

Secara terminologis, Jihad berarti: “pengerahan segenap kemampuan seorang mukmin dengan segala kesulitan dan pengorbanan dengan menghadapi berbagai ujian untuk mencapai tujuan dengan semata-mata karena Allah SWT”.

Dengan pengertian ini maka jihad mencakup segala aspek kehidupan, entah itu urusan dunia ataupun akhirat. Lagipula, urusan dunia sekalipun, bagi seorang mukmin segala bentuk amal atau jihadnya di dunia harus senantiasa dilandasi suatu keyakinan bahwa apapun bila dilakukan karena Allah, maka hal tersebut bernilai ibadah dengan janji pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Pada masa Rasulullah SAW. masih hidup dalam periode Madinah, puncak tuntutan jihad adalah dengan berperang menghadapi musuh-musuh Islam, yaitu orang-orang musyrik dan munafik. Perang pada masa itu merupakan suatu keniscayaan yang harus dijalani, karena jika tidak, maka tidak akan ada umat Islam seperti sekarang, karena hancur habis dibasmi sebelum benar-benar tegak. Oleh sebab itu pada masa Rasulullah SAW, kata jihad seringkali dipadankan dengan kata qitaal yang berarti perang. Namun hal ini tidaklah kemudian mengeliminir pengertian jihad secara luas seperti dikemukakan di atas.

Jika jihad sama dengan perang atau semata-mata berarti “perang suci” seperti yang dipahami orang-orang non muslim atau bahkan mungkin sebagian muslim, maka tentu Rasulullah SAW. tidak akan berucap: “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad terbesar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. (Al-hadits).

Demikian beratnya perjuangan melawan hawa nafsu hingga Rasulullah SAW. menganggap kecil perjuangan bertaruh nyawa menghadapi pasukan musuh. Itulah mengapa menghadapi hawa nafsu disebut oleh Rasul sebagai Jihaadul-akbar, dan jihad melawan hawa nafsu ini harus dilakukan sepanjang hayat seseorang, selagi ia masih terjaga, senyampang ajal belum tiba, semasa ia belum menghadap Sang Pencipta.

Karena jihad mencakup segala segi kehidupan, maka ia dilakukan dengan segala sumber daya yang ada pada seorang muslim, apakah itu diri, harta kekayaan, kekuatan dan kekuasaan, kepandaian, keahlian, mengorbankan waktu, umur dan sebagainya, dan dengan menghadapi segala macam kesulitan dan kesukaran, termasuk di dalamnya menumpahkan darah menghadapi pasukan musuh. Jadi jihad adalah perjuangan seumur hidup seorang mukmin yang mungkin dapat berwujud dalam bentuk perang dan pertempuran, tetapi itu hanya bersifat temporer. Jihad tidak mesti selalu dalam arti bertempur di medan perang.

Mari kita tegaskan kembali mengenai jihad dan perang ini, yaitu:

1. Jihad lebih luas cakupannya daripada perang. Perang hanya bagian dari jihad.

2. Jihad adalah perjuangan seorang mukmin seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan, jihad harus tetap ia lakukan.

3. Jihad terbesar adalah mengendalikan hawa nafsu dari tiap individu, karena hawa nafsu yang tak terkendali akan membawa manusia ke dalam kehancuran dan penderitaan.

4. Jihad dilakukan untuk membentuk hidup yang lebih baik, misalnya dengan memberantas penyakit dan mengentaskan kemiskinan.

“Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya (yang dialami) oleh orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang aneka cobaan, sehingga berkata rasul dan orang-orang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah”? Ingatlah pertolongan Allah amat dekat”. (QS. Al-Baqarah : 214)

So, jika anda seorang dokter, kemudian dengan ilmu dan pengetahuan yang anda miliki, dengan sarana yang ada pada anda, anda korbankan waktu dan kesenangan pribadi anda untuk berusaha dengan segala kemampuan untuk memberantas segala macam penyakit yang diderita manusia, dengan niat semata-mata karena keyakinan bahwa apa yang anda miliki dan kuasai dari ilmu kedokteran adalah amanat Allah yang harus anda jalankan dalam rangka pengabdian kepada_Nya, maka anda tengah berjihad.

Atau, jika anda seorang pegawai atau seorang karyawan, kemudian anda bekerja dengan segenap potensi yang anda miliki, memecahkan masalah-masalah yang menghadang, giat dan tekun dalam bekerja, menganggap omelan atasan sebagai cobaan dalam rangka kesempurnaan pekerjaan anda, dengan tujuan untuk mencukupi nafkah diri anda dan keluarga, semata-mata dalam rangka penghambaan diri anda kepada Allah SWT. maka anda tengah berjihad.

Atau kita dapat bertanya, entah ditujukan pada siapa, tengah berjihadkah para pemimpin republik ini? Adakah mereka mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang ada pada mereka untuk tujuan kesejahteraan warganya, mengentaskan kemiskinan, mengatasi pengangguran, menciptakan keamanan dan ketertiban, menegakkan hukum, memberantas ketidakadilan?

Wallahu a’lam.

11 Bulan

Assalamualaykum…

Syukur alhamdulillah Ghozan hari ini genap berusia 11 bulan, akhir-akhir ini ghozan sering sakit-sakitan mungkin karena tertular dari ayahnya dan bundanya.
Habis demam…sekarang lagi pilek…tapi alhamdulillah so far so good.

Ghozan sekarang tambah pinter….
bahkan dah pinter berenenang….

Minggu kemarin ghozan berenenag di ajak budhenya bersama mas davin.
Ghozan nampak ceria dan senang sekali…tidak mengalami takut di kedalaman 1meter, dengan bebek balonnya Ghozan jejakan kakinya supaya terbawa arus.

Fotonya nanti akan di upload di gallery ghozan

Smoga Ghozan tambah pinter dan tetep sehat

Wassalam,
ayahghozan