Jihad Tidak Mesti Bertempur
Jihad Tidak Mesti Bertempur
Artinya : “Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.
(QS. Ali ‘Imran : 142)
Oleh : Ahmad Sopiani
Banyak orang masih menginterpretasikan kata Jihad dengan perlawanan bersenjata dan sejenisnya. “Banyak orang” yang saya maksud; pertama, Orang Islam sendiri, yang karena tidak banyak meluangkan waktunya untuk mempelajari doktrin Islam, menjadi kurang mengerti terhadap makna Jihad yang lengkap. Kedua, non muslim yang karena “a priori” terhadap Islam, menelan mentah-mentah interpretasi yang salah tentang Jihad yang masuk ke telinga mereka, lalu mem-beo mengartikan Jihad dengan perang suci. Ketiga, segolongan non muslim, yang karena suatu “kepentingan”, menggeneralisir pengertian Jihad ke dalam pengertian yang sempit sebagai suatu tindak kekerasan senjata/perang suci, jikapun sebenarnya mereka mengerti bahwa makna Jihad tidaklah sesempit yang mereka katakan. Keempat, Orang yang “so tau” alias “so ngerti”. Golongan yang satu ini bisa muslim (yang belum tercerahkan) ataupun non muslim yang “so ngerti” ajaran Islam.
Jadi, apakah Jihad itu ?
Kata Jihad dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 41 kali.
Kata Jihad diambil dari kata “Jahd” yang berarti “letih/sukar”, karena jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada pula yang berpendapat kata itu dari akar kata “Juhd” yang berarti “kemampuan”. Ini karena jihad menuntut kemampuan. Dari kata yang sama tersusun ucapan “Jahida birrajul” yang berarti “seseorang sedang mengalami ujian/cobaan”. Terlihat bahwa kata ini mengandung makna ”ujian dan cobaan”, hal yang wajar karena jihad memang merupakan ujian dan cobaan bagi diri seseorang.
Secara terminologis, Jihad berarti: “pengerahan segenap kemampuan seorang mukmin dengan segala kesulitan dan pengorbanan dengan menghadapi berbagai ujian untuk mencapai tujuan dengan semata-mata karena Allah SWT”.
Dengan pengertian ini maka jihad mencakup segala aspek kehidupan, entah itu urusan dunia ataupun akhirat. Lagipula, urusan dunia sekalipun, bagi seorang mukmin segala bentuk amal atau jihadnya di dunia harus senantiasa dilandasi suatu keyakinan bahwa apapun bila dilakukan karena Allah, maka hal tersebut bernilai ibadah dengan janji pahala yang besar di sisi Allah SWT.
Pada masa Rasulullah SAW. masih hidup dalam periode Madinah, puncak tuntutan jihad adalah dengan berperang menghadapi musuh-musuh Islam, yaitu orang-orang musyrik dan munafik. Perang pada masa itu merupakan suatu keniscayaan yang harus dijalani, karena jika tidak, maka tidak akan ada umat Islam seperti sekarang, karena hancur habis dibasmi sebelum benar-benar tegak. Oleh sebab itu pada masa Rasulullah SAW, kata jihad seringkali dipadankan dengan kata qitaal yang berarti perang. Namun hal ini tidaklah kemudian mengeliminir pengertian jihad secara luas seperti dikemukakan di atas.
Jika jihad sama dengan perang atau semata-mata berarti “perang suci” seperti yang dipahami orang-orang non muslim atau bahkan mungkin sebagian muslim, maka tentu Rasulullah SAW. tidak akan berucap: “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad terbesar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. (Al-hadits).
Demikian beratnya perjuangan melawan hawa nafsu hingga Rasulullah SAW. menganggap kecil perjuangan bertaruh nyawa menghadapi pasukan musuh. Itulah mengapa menghadapi hawa nafsu disebut oleh Rasul sebagai Jihaadul-akbar, dan jihad melawan hawa nafsu ini harus dilakukan sepanjang hayat seseorang, selagi ia masih terjaga, senyampang ajal belum tiba, semasa ia belum menghadap Sang Pencipta.
Karena jihad mencakup segala segi kehidupan, maka ia dilakukan dengan segala sumber daya yang ada pada seorang muslim, apakah itu diri, harta kekayaan, kekuatan dan kekuasaan, kepandaian, keahlian, mengorbankan waktu, umur dan sebagainya, dan dengan menghadapi segala macam kesulitan dan kesukaran, termasuk di dalamnya menumpahkan darah menghadapi pasukan musuh. Jadi jihad adalah perjuangan seumur hidup seorang mukmin yang mungkin dapat berwujud dalam bentuk perang dan pertempuran, tetapi itu hanya bersifat temporer. Jihad tidak mesti selalu dalam arti bertempur di medan perang.
Mari kita tegaskan kembali mengenai jihad dan perang ini, yaitu:
1. Jihad lebih luas cakupannya daripada perang. Perang hanya bagian dari jihad.
2. Jihad adalah perjuangan seorang mukmin seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan, jihad harus tetap ia lakukan.
3. Jihad terbesar adalah mengendalikan hawa nafsu dari tiap individu, karena hawa nafsu yang tak terkendali akan membawa manusia ke dalam kehancuran dan penderitaan.
4. Jihad dilakukan untuk membentuk hidup yang lebih baik, misalnya dengan memberantas penyakit dan mengentaskan kemiskinan.
“Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya (yang dialami) oleh orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang aneka cobaan, sehingga berkata rasul dan orang-orang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah”? Ingatlah pertolongan Allah amat dekat”. (QS. Al-Baqarah : 214)
So, jika anda seorang dokter, kemudian dengan ilmu dan pengetahuan yang anda miliki, dengan sarana yang ada pada anda, anda korbankan waktu dan kesenangan pribadi anda untuk berusaha dengan segala kemampuan untuk memberantas segala macam penyakit yang diderita manusia, dengan niat semata-mata karena keyakinan bahwa apa yang anda miliki dan kuasai dari ilmu kedokteran adalah amanat Allah yang harus anda jalankan dalam rangka pengabdian kepada_Nya, maka anda tengah berjihad.
Atau, jika anda seorang pegawai atau seorang karyawan, kemudian anda bekerja dengan segenap potensi yang anda miliki, memecahkan masalah-masalah yang menghadang, giat dan tekun dalam bekerja, menganggap omelan atasan sebagai cobaan dalam rangka kesempurnaan pekerjaan anda, dengan tujuan untuk mencukupi nafkah diri anda dan keluarga, semata-mata dalam rangka penghambaan diri anda kepada Allah SWT. maka anda tengah berjihad.
Atau kita dapat bertanya, entah ditujukan pada siapa, tengah berjihadkah para pemimpin republik ini? Adakah mereka mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang ada pada mereka untuk tujuan kesejahteraan warganya, mengentaskan kemiskinan, mengatasi pengangguran, menciptakan keamanan dan ketertiban, menegakkan hukum, memberantas ketidakadilan?
Wallahu a’lam.









