Membiasakan Anak Disiplin Dan Mandiri Sejak Dini
Bidang Pendidikan dan Keluarga LSM Kharisma menggelar acara taujih online yang bertemakan “Membiasakan Anak Disiplin dan Mandiri Sejak Dini” pada hari Jumat, 24 Maret 2006 yang lalu. Acara yang menghadirkan narasumber Ummu Ghaida Muthmainnah, istri dari dai terkenal Aa Gym, atau lebih dikenal dengan nama Teh Ninih ini dimulai pada pukul 13.00 siang waktu Jerman dan berlangsung selama dua jam berturut-turut. Tercatat 43 peserta di Chatroom Yahoo mengikuti acara ini plus 23 peserta yang mendengarkan secara langsung melalui Qommunity Radio. Seperti biasa, para peserta taujih online tidak hanya berasal dari berbagai kota di Jerman, tetapi juga diikuti oleh para ibu yang berdomisili di negara-negara lain seperti Indonesia, Belanda, Inggris, Swedia, Kanada, Russia, juga Qatar.
Teh Ninih memulai acara dengan membacakan surat Al-Ahqaaf ayat 13 (Q.S. 46:13) yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang berbahagia di dunia dan akherat adalah orang yang istiqomah. Dan sikap istiqomah ini akan timbul jika kita terbiasa dengan ‘disiplin’ dalam segala hal.
Disiplin merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi orang-orang yang ingin mencapai suatu cita-cita. Orang yang terbiasa disiplin akan mempunyai program harian dan aturan, dan dia berkomitmen terhadap program yang telah dia buat tersebut. Jika belum terbiasa, tentu disiplin ini akan terasa berat, karena itulah disiplin ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan butuh proses yang cukup panjang serta perjuangan yang gigih Terlebih lagi dalam menanamkan sikap disiplin pada anak, seperti disiplin dalam meraih cita-cita, disiplin dalam ibadah, disiplin dalam belajar maupun disiplin dalam amalan sehari-hari.
Ibu dari tujuh anak ini memberikan beberapa contoh disiplin. Disiplin dalam meraih cita-cita dicontohkan dengan harapan seorang ibu yang menginginkan anaknya hapal juz amma. Untuk mencapai hal tersebut, sang ibu harus menjadi ibu yang disiplin. Anak tidak bisa sekaligus hapal juz amma. Disinilah dibutuhkan ketelatenan seorang ibu untuk mengajarkan dan mengontrol hapalan anak setiap saat, bahkan mungkin ibu juga harus ikut menghapalkan quran bersama anak. Disiplin dalam ibadah, misalnya sebelum adzan anak-anak sudah disiapkan untuk sholat, ketika adzan anak-anak tidak lagi menonton TV, antara maghrib sampai isya tidak ada kegiatan selain tilawah bersama orang tua. Disiplin dalam belajar, dicontohkan meskipun ibu sudah tidak kuliah lagi, tetaplah kita tunjukkan kepada anak-anak bahwa ibunya masih rajin belajar, banyak membaca untuk menambah wawasan, sehingga anak-anak pun akan mengikuti ibunya. Disiplin dalam kegiatan sehari-hari, misalnya sebelum tidur harus menggosok gigi dan membaca doa. Meskipun kita sedang kecapaian, kita harus memaksakan untuk mengantar anak menggosok giginya. Jadi untuk mendisiplinkan anak, orang tua pun harus disiplin. Beberapa kali Teh Ninih menegaskan bahwa anak akan mencontoh orang tuanya. Adapun beberapa kiat untuk menjadikan anak disiplin adalah ilmu, keteladanan, kesungguhan dan ketelatenan.
Di akhir uraiannya, Beliau mengajak ibu-ibu semua untuk mulai menanamkan kedisiplinan dalam keluarga dengan metode 3 M, yaitu ‘Mulai dari diri sendiri, dari kita sebagai orang tua’, ‘Mulai dari hal-hal yang kecil’ dan ‘Mulai saat ini, tidak boleh ditunda-tunda’.
Berbagai pertanyaan pun bergulir begitu sesi tanya jawab dibuka. Dengan penuh kesabaran, Teh Ninih menjawabnya satu persatu. Seorang ibu yang mempunyai anak hiperaktif menanyakan cara yang efektif untuk mengajarkan anaknya sesuatu hal baru. Teh Ninih menjelaskan bahwa menghadapi tipe anak seperti ini harus tenang dan tidak panik, dibutuh kesabaran dan ketelatenan yang lebih dibandingkan menghadap anak normal. Menangani anak hiperaktif membutuhkan bantuan orang lain yang paham, misalnya psikolog atau sekolah yang khusus menangani anak hiperaktif. Dengan terus memohon pada Alloh dan juga menambah wawasan dengan membaca berbagai buku tentang anak hiperaktif, insyaAllah kitapun dapat menanganinya. Dan yang paling penting menurut Beliau, kita tidak boleh membentak anak tetapi memberikan pemahaman yang bisa dimengerti oleh mereka.
Dari anak hiperaktif beralih ke anak melankolik atau cengeng. Dalam menghadapi anak yang melankolik ini, yang utama adalah jangan pernah mengatakan bahwa dia melankolik atau cengeng. Hal itu hanya akan membuat anak itu menjadi semakin melankolik. Pendekatannya harus halus, bijaksana dan tepat, tidak boleh dikerasi. Yang terakhir, ungkapkan kata-kata positif yang dapat membuatnya kuat dan semangat.
Seorang ibu beranak dua dari Aachen menanyakan tentang kekurangkonsistenan orang tua dalam mencontohkan pada anak. Menurut Teh Ninih, idealnya memang mau tidak mau sebagai orang tua harus disiplin, harus memaksakan diri, karena anak-anak memang dibentuk oleh kebiasaan orang tua.
Ada juga pertanyaan mengenai sifat malas yang kadang keluar dari si anak untuk mengerjakan sholat, bahkan adiknya mengganggu kakaknya yang sedang belajar sholat. Untuk kasus ini, Teh Ninih menjelaskan bahwa menanamkan kedisiplinan pada anak jangan membuat anak kaku atau takut, tapi harus menyenangkan. Cobalah dengan memberinya cerita, elusan dan hadiah. Sedangkan untuk adik kecil yang mengganggu kakaknya, baiknya diajak bicara seusai sholat, diajak sholat bersama dan diberi daya tarik untuk berbuat baik. Satu yang sangat penting, tidak usah berteriak.
Untuk kasus anak yang sangat tergantung pada orang tuanya alias tidak mandiri, bisa diberi penjelasan secara pelan-pelan. Misalnya dia ingin dipangku ketika ibunya sholat. Anak tak perlu dimarahi karena itu, tapi seusai sholat berilah pengertian padanya bahwa itu tidak baik. Yang penting anak menyimak, jangan sampai anak dibiarkan, sehingga dia tidak pernah tahu apa yang tidak seharusnya dia lakukan.
Seorang ibu guru dari Moskow menanyakan bagaimana caranya menyampaikan kepada orang tua siswa, jika anaknya banyak mengikuti aturan mereka yang menurutnya kurang baik. Teh Ninih memberikan masukan agar di sekolah diadakan diskusi pertemuan orang tua yang membahas beberapa perilaku anak yang kurang baik. Dengan tidak ditujukannya hal tersebut pada perorangan, diharapkan orang tua tidak
tersinggung.
Ada lagi kasus anak yang berubah kebiasaan, sewaktu kecil disiplin, tapi setelah besar berubah menjadi malas. Perubahan kebiasaan ini bisa disebabkan oleh lingkungan. Oleh karena itu, orang tua harus selektif dalam memilih teman, minimal ada pengawasan yang intensif dari kita sebagai orang tua. Kalau orang tua menyadari ada perubahan dalam diri anaknya, maka orang tua harus lebih mengajar kembali dan sekaligus mengajak temannya untuk berbuat yang benar. Untuk mengembalikan kebiasaan baik waktu kecil memang membutuhkan perjuangan.
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah pada usia berapa sebenarnya seorang anak mulai mandiri? Setiap anak ternyata mempunyai karakter yang berbeda, dan kemandirian ini membutuhkan proses. Orang tualah yang bisa membiasakan anaknya mandiri, tidak ada patokan sejak usia berapa, namun lebih awal lebih baik. Sebagai orang tua, jangan sampai kita menghambat kemandirian anak, misal ketika anak ingin makan sendiri, tidak dibolehkan karena khawatir tumpah dan sebagainya.
Pertanyaan terakhir mengenai kelakuan anak yang sukar diatur. Menurut Teh Ninih, ada banyak kemungkinan kenapa anak susah diatur, mungkin karena dulu kurang konsentrasi mengajarnya, kurang perhatian, kurang sistematis dalam mengajar anak disiplin, orang tuanya terlalu sibuk, atau tidak sempat mengajari anak sejak dini. Itu kembali pada kita sebagai orang tua. Sebaiknya kita mulai mengantarkan anak-anak menjadi disiplin dan mandiri sejak dini, jangan ditunda-tunda.
Pada akhir acara yang dipandu oleh Diana Rochayani dari Darmstadt ini, Teh Ninih mengajak ibu-ibu peserta taujih online untuk terus menambah ilmu dan berdoa, karena semua yang Alloh berikan pada kita hanyalah titipan. Beliau mengingatkan untuk selalu membaca surat Al-Furqon ayat 74 (Q.S. 25: 74) di saat-saat ijabahnya doa, antara lain setiap selesai sholat fardlu, saat berbuka shaum sunnah, dan setelah selesai sholat tahajud, di saat para malaikat turun ke bumi mencari hamba-hamba Allah yang memohon kepada-Nya.
Reporter Kharisma, Tina Martiana, München.
Sumber : Kharisma.de








