Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Potret Diri Generasi Nanti

April 8, 2006

Oleh : Ahmad Sopiani

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

(Q.S. An-Nisaa : 9)

Hari itu, tidak lama selepas adzan maghrib, saya masih dalam perjalanan pulang di sebuah angkutan kota di pinggiran kota Bogor. Ketika melalui sebuah “Polisi Tidur”, angkot yang saya tumpangi melaju lambat dan tiba-tiba saja seorang anak kecil melompat ke pintu angkot, lalu duduk di lantai angkot di pintu masuk.

Umurnya baru sekitar 4 atau kurang dari 5 tahun, berkaos oblong, celana pendek, rambut kusam, kulit legam, mata berbinar tajam. Dengan suara sengau ia mulai menyanyikan lagu yang pertama sambil tangan kanannya memukul-mukulkan tamborein dari tutup-tutup botol yang dipipihkan ke tangan kirinya. Dengan syair lagu yang lebih sering salah dan nada yang amat tidak beraturan ia mengakhiri lagu pertamanya, dan disambung dengan lagu kedua yang isinya amat terang sebagai sebuah permintaan kepada penumpang untuk memberinya uang.

Usai itu ia mengangsurkan gelas plastik bekas air mineral ke wajah-wajah para penumpang. Satu dua penumpang memberinya uang recehan, lebih karena kasihan, sebagian lagi hanya menggeleng dan sisanya tetap asyik dengan lamunannya masing-masing. Selagi angkot masih melaju anak itu melompat turun meninggalkan para penumpang angkot yang memandangnya dengan berbagai komentar dan kecamuk perasaan dalam benak masing-masing hingga akhirnya anak itu hilang dari pandangan ketika angkot melewati sebuah tikungan.

Di tahun 90-an awal, seingat saya, jika kita bepergian kemanapun, kita hanya menjumpai pengamen satu-dua di bis-bis kota. Di tahun 90-an akhir ada banyak peningkatan, bukan lagi satu-dua di bis-bis kota, tetapi dua, atau tiga atau empat atau bahkan lebih bayak dari itu di satu bis kota yang kita tumpangi. Di tahun 2000-an, peningkatannya jauh lebih spektakuler lagi karena di samping intensitasnya yang jauh membengkak, ekstensitasnya pun menyebar dengan sangat luas. Para “seniman jalanan” kini menjangkau angkot-angkot dan mikrolet yang penumpangnya paling minim sekalipun hingga ke kota-kota kecil dan pinggiran kota seperti kenyataan yang saya ungkapkan di atas.

Dulu, yang namanya anak jalanan sesungguhnya bukanlah melulu anak-anak. Tetapi lebih banyak yang merupakan orang dewasa atau beranjak dewasa. Kini anak jalanan lebih banyak yang memang anak-anak bahkan balita. Perkembangan dan pertumbuhan kuantitasnya semakin hari semakin mencengangkan. Dan karena demikian banyaknya, hal itu kemudian seolah-olah hanya sesuatu yang biasa tanpa dirasa sebagai suatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan, padahal di jalanan, hal yang paling buruk yang tidak dapat kita bayangkanpun bisa saja terjadi.

Dulu, semasa saya masih anak-anak, selepas Ashar akan makan lalu menghafal pelajaran diajari orangtua atau kakak, selepas Maghrib akan pergi ke Mushalla untuk mengaji dan bersosialisasi, selepas Isya pergi tidur, selepas Shubuh bermain bola di lapangan, ketika matahari mulai meninggi akan berjalan kaki berbarengan ke sekolah, pulang sekolah rame-rame mandi di kali, selepas Dzuhur bermain layang-layang, kelereng atau petak umpet sampai waktu Ashar menjelang. Setiap hari diisi dengan kegembiraan, tanpa perlu pusing dengan urusan-urusan yang tidak perlu menjadi pikiran anak-anak karena itu urusan orang dewasa.

Apa hendak dikata, kini anak-anak harus hidup di dua sisi. “Anak-anak harus berkelahi dengan waktu, anak-anak tak sempat ni’mati waktu, anak-anak tidur dengan perut lapar dan diganggu mimpi buruk, anak-anak menjadi pecandu narkoba, anak-anak dieksploitasi sampai kering, anak-anak dipaksa untuk memecahkan karang hanya dengan jari yang lemah terkepal.(Bahwa ini tidak terjadi pada semua anak, ya Alhamdulillah)

Fenomena anak jalanan sesungguhnya hanya merupakan sebagian kecil, hanya salah satu sisi cerita, dari representasi kenyataan yang terjadi terhadap anak-anak dalam kehidupan kita. Anak-anak lebih banyak yang menjadi korban dan alat tinimbang mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka terima. Semestinya masa anak-anak adalah masa-masa tertawa, bermain dan gembira. Semestinya masa anak-anak adalah masa-masa bermanja yang penuh ceria. Semestinya masa anak-anak adalah masa untuk belajar dan memupuk cita-cita. Tidak semestinya keluguan anak-anak menjadi bahan eksploitasi dari orang yang lebih dewasa. Tidak semestinya kepolosan anak-anak dijadikan bahan untuk menopang kehidupan malas orang tua. Tidak semestinya anak-anak diajak ikut menjadi korban keadaan “cuaca buruk” orang-orang sekitarnya.

Mungkin tidak separah itu, tetapi kenyataan bahwa anak-anak kian hari kian banyak yang merintih mencari nafkah di jalanan menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat ini tengah mengidap penyakit yang luar biasa berbahaya, yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengerti nilai-nilai kemanusiaan, tanpa perlu ia orang Islam atau bukan. Kenyataan bahwa sangat banyak anak-anak menjadi korban kekerasan orang tua atau orang yang lebih tua; kekerasan kata-kata, kekerasan fisik, bahkan kekerasan seksual. Demikian banyak anak-anak yang dimaki, dicaci, dipukul, diterlantarkan dan bahkan dibunuh dan atau diperkosa.

Tahukah Anda bahwa mereka itu sebenarnya anak-anak kita juga. Anak-anak muslim, anak-anak yang akan melanjutkan eksistensi kita di dunia ini untuk menjadi hamba Allah SWT.? Lalu bagaimana mereka menjadi abdi Allah jika kenalpun tidak dengan Allah? Bahkan banyak yang tidak kenal orangtua mereka sendiri. Kita baru ribut kalau ada berita bahwa mereka dibawa ke gereja, di kasih makan lalu dikristenkan. Kita baru ribut kalau ada berita ada anak yang dibunuh setelah disodomi atau diperkosa, kita baru ribut kalau ada berita ada anak yang mati karena over dosis.

Sesungguhnya, jika negara ini tidak salah diurus, hal itu dapat kita hindari mengingat demikan banyak potensi untuk kemakmuran dan kemajuan yang dimiliki bangsa besar ini. Jika pengurusan negara ini benar sejak awal, pastilah Undang-Undang Dasar yang antara lain menyatakan “Fakir miskin dan anak terlantar dijamin (kehidupannya) oleh negara” dapat direalisasikan. Bahkan mungkin teks seperti itu akan dihilangkan dari UUD karena tidak ada lagi yang namanya Fakir Miskin dan Anak Terlantar.

Okelah, terlalu muluk mendambakan negara seperti itu, lebih baik kita mulai dari diri kita masing-masing. Mari kita berkaca, tanyakan pada diri-diri dalam refleksi di cermin itu, apa yang telah kau pikirkan (pikirkan saja dulu) untuk anak-anak bangsa. Ambil premis-premis minor yang biasa kita dapati dalam keseharian kita, lalu simpulkan apa yang tengah terjadi terhadap anak-anak bangsa. Penyadaran terhadap diri-diri untuk ikut peduli dan memikirkan terhadap apa yang tengah terjadi terhadap dunia anak-anak saja sulitnya bukan main, karena terlalu banyak yang berfikir; “Yang penting bukan anak saya”. Tidak peduli dan tidak ambil peduli. Jangan lagi ini terjadi.

Jika kepedulian itu sudah tumbuh, mulailah tengok kanan kiri kita, amati, amat banyak anak-anak di sekitar kita, bahkan mungkin anak kita sendiri dan anak dari keluarga kita, yang membutuhkan sedikit (sedikit saja dulu) kasih sayang dan sentuhan lembut di kepala. Saringlah, mana prioritas utama untuk dibantu, karena tidak mungkin satu orang membantu semuanya.

Selanjutnya Anda akan tahu apa yang harus dilakukan, dan akan tahu bagaimana ni’matnya bisa membantu anak-anak meni’mati masa kecil mereka, dan tanpa sadar anda telah menegakkan potret anak masa depan yang tadinya tergeletak tak terurus dan kusam diterpa cuaca ketidakpedulian.

Sesungguhnya kuncinya cuma dua; pertama taqwa, kedua perkataan yang baik dan benar. Apa itu taqwa, apa saja isinya taqwa, bagaimana realisasi taqwa, silahkan Anda gali Al-Quran dan Sunnah Nabi. Bacalah Al-Quran, pahami isinya (dengan terjemahnya cukup banyak membantu). Pelajari Sunnah Nabi, bagaimana Nabi bersikap terhadap anak-anak, hak-hak anak dan sebagainya dan sebagainya. Memahami ajaran Islam tentang anak-anak dari sumber aslinya akan lebih membekas di hati kita.

Perkataan yang baik dan benar siapapun tentu tahu hakikatnya, termasuk pentingnya kata-kata positip terhadap pembentukan masa depan seorang anak. (Silahkan baca tulisan saya sebelumnya; “Orang Besar Dibentuk Kata-kata Positip”.

Pada akhirnya, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisaa : 9)

Wallahu a’lam