Cerita Mudik
Assalamualaikum…
Pengin cerita sedikit pengalaman mudik kemarin.
Seperti biasa, karena sudah punya keluarga, tiap lebaran jatah lebaran pertama atau sholat iednya bergantian, dan tahun ini jatah sholat ied jatuh di daerah sukoharjo atau di rumah mertua, yang kebetulan sekitar 80%(warga Muhamadiyah) lebaran pada hari Senin 23 Oktober 2006, sedangkan 20%(warga NU, LDII) lebaran pada hari selasa 24 Oktober 2006. Dan ini berlaku sebaliknya jika di daerah Tegal 80%(warga NU) lebaran hari Selasa 24 Oktober 2006 dan 20%(warga Mumadiyah) lebaran hari Senin 24 Oktober 2006…itu kira-kira saja.
Kebetulan juga di tempat mertua lebaran jatuh pada hari sSenin 23 Oktober 2006, Saya yang berkeyakinan lebaran hari Selasa binun, pasalnya di radius kira-kira 3km dari rumah tidak ada masjid, mushola, lapangan yang menyelenggarakan sholat ied hari selasa kecuali ada 1 mushola radius kira-kira 2km dan itupun katanya saudara LDII…duh ….alhasil..pernah mendengar cerita Imam Syafie yang sholat shubuh di Imam Hambali yang biasa tanpa qunut dan juga cerita Pak Amin Rais yg jadi imam sholat subuh di Pak Hasyim Husadi dengan pakai qunut, akhirnya Saya pasrah..Saya ikut lebaran hari Senin 23 Oktober 2006.
Semoga Allah SWT menerima segala niat baik saya .amien.
Ada satu budaya silaturahim yang baik yang berkembang di masyarakat Jawa Tengah dan DIY, khususnya Solo, Klaten, Sragen, Boyolali, Yogya, Wonogiri dan daerah sekitar itu, yaitu budaya sungkeman….bukan cara sungkeman ala keraton tapi sungkeman atau permintaan maaf dimana yang muda mengunjungi yang lebih tua.
Saya perhatikan setiap minta maaf ada tata cara tersendiri yang menurut saya sangat baik sekali, yaitu yang lebih tua duduk di kursi kemudian yang muda menyalaminya sembari mengucapkan kira-kira seperti ini “Ngaturaken sugeng riyadi, Nyuwun ngapunten sedaya lepat…bla…bla..bla” lantas yang lebih tua akan menerima permintaan maaf dan dengan di sertai doa-doa kebaikan dan ini dilakukan dengan khidmat alias khusyuk.
Tidak seperti di kota-kota besar yang Saya lihat salaman ala preman…hehehehehe……
maafin ya….kosong-kosong ya…kl perlu sambil teriak sembari melambaikan tangan.
Ngga salah…tapi kok ya kalau menurut Saya kurang sreg/ sopan gitu.
Tak ketinggalan makanan khas solo timlo pasti saya lahap, balik ketegal tak ketinggalan sate kambing muda dan soto khas tegal yang pakai tauto Saya lahap berkali-kali juga tahu murni yang terkenal gurihnya. Ada dua yang ketinggalan yaitu kikil kepala kambing muda dan ikan bakar karena uangnya yang pas-pasan…hehehehe.
Gimana dengan pengalaman mudik anda?
Wassalam.


Dah baca tulisan Pak BR
Atau kalau toh sudah mendesak, kenapa tidak pakai 





