Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Malik Bin Dinar

April 14, 2007

Assalamualaikum….

Khutbah jum’at pekan ini menceritakan perjalanan hidup sang ahli sufi Malik bin Dinar murid dari Imam Besar yang terkenal yaitu Hasan Al Basri.

Menurut riwayat Malik Bin Dinar sebelum bertobat adalah Rajanya maksiat, semua maksiat yang ada di muka bumi ini kalau di tanyakan ke Malik Bin Dinar pasti akan di jawab sudah.

Seorang ahli sufi yang terkenal Malik bin Dinar pada mulanya adalah seorang yang sangat suka melakukan pelbagai kejahatan/ kemaksiatan.

Pada suatu ketika ada orang bertanya kepadanya bagaimana ia dapat, mengubah kelakuannya yang buruk itu. Pada mulanya Malik enggan memberitahu , tetapi setelah didesak, beberapa kali, akhirnya diapun bersetuju menceritakan kisah dirinya itu.

Menurutnya, dulu dia adalah seorang satpam/ penjaga kemanan dipasar. Kesukaanya tidak lain ialah suka berfoya-foya dan minum arak sehingga mabuk dan kemaksiatan lainnya. Suatu ketika Malik membeli seorang budak (hamba) untuk dijadikan isterinya yang sah. Kebetulan budak yang baru dibelinya itu sangat cantik, sehinggalah dia begitu tertarik kepadanya.

Malik dan budak itu kemudian dikurniakan seorang anak perempuan yang cantil yang di beri nama Fatimah. Fátima dididik dengan penuh kasih sayang. Satu sifat aneh yang dimiliki oleh Fatimah ialah suka merampas gelas minuman arak di tangan ayahnya dan kemudian menuangnya ke jubah ayahnya. Perbutan tersebut selalu dilakukan berulang-ulang. Walaupun Malik tidak suka perbuatan Fatimah namun dia tidak pernah memarahinya disebabkan rasa sayang terhadap anaknya itu.

Ketika berumur dua tahun, puteri kesayangan Fatimah telah kembali ke Rahmatullah. Betapa hancurnya hati Malik waktu itu kerana kehilangan mutiara yang tidak ada gantinya. Hidupnya menjadi muram disebabkan kematian puterinya itu dan kemaksiatan yang lebih dahyat dia lakukan lagi.

Pada suatu malam Nisfu Sya`ban, yang kebetulah jatuh pada hari Juma’at, Malik mengisikan malam tersebut dengan meminum arak sebanyak-banyaknya sehinggalah mabuk. Dalam keadaan mabuk itulah dia tertidur dan bermimpi dengan mimpi yang sangat mengerikan.

Dalam mimpinya Malik melihat manusia bersesak-sesak keluar dari kubur masing-masing dan berhimpun di Padang Mahsyar termasuklah dirinya sendiri. Di dalam keadaan sedemikian beliau dikejutkan dengan satu suara raungan yang sangat kuat dan menakutkan. Setelah dilihatnya ke belakang didapatinya ada seekor ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan dengan mulutnya terbuka luas hendak menelannya.

Tidak ada jalan lain bagi Malik untuk mengelakkan diri daripada ditelan ular itu kecuali lari sekuat tenaga. Dia berlari untuk menyelamatkan dirinya namun ular itu terus mengejar dengan ganasnya. Akhirnya dia bertemu dengan seorang yang sangat tua sedang berjalan dengan lemah sekali dan bertatih-tatih. Bajunya bersih dan baunya sangat wangi.

“Assalamualaikum ya Syeikh,” Malik menegur dan menghampiri lelaki tua itu dengan maksud meminta pertolongannya.

“Wa`alaikum salam ya Malik,” jawab orang tua itu.

“Tolonglah saya wahai Syeikh”, pinta Malik.

“Tolong ? Tolong apa ?” Tanya orang tua itu.

“Tolong selamatkan saya dari kejaran ular besar itu, ” kata Malik sambil menunjuk ular besar yang mengejarnya.

“Maafkan aku wahai Malik, aku sudah tua, badanku sangat lemah. Aku tidak berupaya untuk melawan ular besar itu “kata orang tua itu.

“Jadi apa yang perlu saya lakukan ?” Tanya Malik.

“Begini, berlarilah terus sampai ke engkau merasa aman, kata sang Syeikh.

Setelah mendengar nasihat daripada orang tua itu, Malikpun terus berlari sehinggalah dia sampai ke sebuah bukit yang agak tinggi dan akhirnya sampai ke puncaknya. Ketika dia melihat ke bawah alangkah terkejutnya beliau kerana mendapati neraka terbentang luas. Beliau hampir terjatuh ke dalam neraka itu kerana terlalu takut dan terkejut dengan ular besar yang sentiasa mengekorinya itu. Kemudian Malik terdengar satu suara yang sangat kuat menyuruhnya mundur dari situ.

“Wahai Malik, silakan engkau mundur dari sini ! karena engkau bukan termasuk ahlinya,” kata suara itu.

Tenanglah hati Malik setelah mendengar suara itu dan bila dia mundur ke belakang didapatinya ular itu berhenti mengejarnya. Oleh sebab tidak ada jalan lain lagi, Malik terpaksa berputar balik ke belakang sehinggalah dia bertemu kembali dengan orang tua tadi.

“Wahai Syeikh ! Aku benar-benar minta pertolongan engkau untuk menyelamatkan aku dari kejaran ular itu, tapi mengapa engkau enggan ? “Tanya Malik. “Sudah aku katakan, aku ini sudah tua, sangat lemah,” jawab orang tua itu memberi alasan yang sama.

Bagaimanapun orang tua itu menunjukkan ke arah sebuah bukit yang lain lalu menyuruh Malik bin Dinar pergi ke bukit itu kerana di sana terdapat sebuah rumah.

Tanpa buang-buang waktu lagi Malik berlari ke bukit itu. Ular itu masih juga mengejarnya dengan ganas. Setelah sampai di puncak bukit tersebut tampak ada sebuah bangunan yang berbentuk tirus kubah bertingkap. Pada tiap-tiap tingkat itu kelihatan pintu yang teramat indah. Semua pintu itu bertahtakan mutiara yang indah dan zamrud yang berkilau-kilauan. Kemudian dia coba memanjat pintu itu terdengar satu suara aneh, yang menurut fikirannya adalah suara malaikat berseru : “Bukalah pintunya dan angkatlah kain penutupnya. Keluarlah kamu sekalian, barangkali ada di antara kamu yang dapat menolong orang jahat ini”.

Setelah mendengar suara tersebut, tiba-tiba semua pintu terbuka dan sungguh aneh yang keluar dari pintu itu adalah anak-anak semua dengan wajah/muka yang berseri-seri. Mereka memandang kepadaku dengan penuh belas kasihan kerana mereka melihat aku sedang di dalam ketakutan dikejar ular. Tiba-tiba aku melihat anakku yang berusia dua tahun ada bersama-sama kumpulan anak-anak itu. Seketika Fatimah memandangku, dia pun menangis, lalu berlari memelukku. Kemudian Fatimah menunjukkan tangannnya ke arah ular itu dan secara tiba-tiba ular itu pun pergi dari situ. Ular raksasas yang amat sangat menakutkan aku itu kemudiannya lenyap dari pandanganku.

Malik meneruskan ceritanya. ” Aku pun meletakkan puteriku itu dalam pangkuanku dan dia asyik bermain dengan janggutku. Kemudian puteriku itu membaca sepotong ayat al-Qur’an surah al-Hadid (ayat : 16) yang artinya :

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

“Tatkala mendengar ayat yang dibacakan tiba-tiba aku menangis serta menyesali akan segala dosa-dosa yang lalu. Kemudian aku bertanya kepada puteri kesayanganku itu. “Wahai Fátima anakku, apakah arti/ maksud dari al-Qur’an itu.?”

Fatimah menjawab : “Sesungguhnya saya faham akan segalanya ayah, bahkan lebih daripada ayah sendiri.”

Kemudian aku terus bertanya lagi : “Apakah maksudnya ular itu wahai anakku?”

“Maka dia mengatakan kepada ku bahawa ular itu adalah perbuatan jahat selama hidupnya yang hampir menjerumuskanku ke dalam api neraka.

“Tetapi siapa pula orang tua itu wahai anakku ? tanya Malik lagi.

“Dia adalah perbuatan baik ayah lakukan, perbuatan baik itu menjadi lemah kerana perbuatan jahat yang telah ayah lakukan. Dia tidak dapat menolong ayah ” jawab puteriku.

Aku bertanya lagi : “Apakah yang kamu lakukan di rumah ini anakku ? “Lalu puteriku menjawab : “Ayahku yang dikasihi ! Kami semua adalah anak-anak Islam. Kami menunggu kamu sekalian sehingga Hari Akhirat. Kemudian kami meminta Allah untuk keselamatan ayah-ayah kami.”

Sampai di sini, Malik terjaga daripada tidurnya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa-siapa, ternyata dia baru sadar bahwa dia telah bermimpi. Dari mimpinya itulah dia terus sedar bahwa itu merupakan satu peringatan baginya. Malik merasakan sudah sampai masanya dia insaf dan menghentikan semua amalan buruknya dan bertaubat kepada Allah. Maka akhirnya Malik bin Dinar menjadi seorang ahli sufi yang terkenal di bawah bimbingan hasan Al Basri.

I’tibah/ pelajaran yang dapat diambil adalah seberapa besar dosa kita, kalau kita mau insaf dan bertaubat Insya Allah…akan diampuni, Demikian juga amalan manusia akan dikuburkan bersama-sama di dalam kubur. Jika ternyata amalannya itu baik, amalan itu akan menemaninya di dalam kubur untuk memberi suasana yang menggembirakan, menerangi dan melapangkan kubur nya, dan sebaliknya jika amal kejahatan lebih banyak yang di buatnya, niscaya alam kubur akan terasa sempit..gelap..pengap dan mengerikan.

Semoga saya pribadi dan saudara-saudara semua dan mengambil I’tibah dari cerita tersebut.

Wallahualam

Wassalamualaikum

Visi Indonesia 2030

April 11, 2007

Assalamualaikum.

Visi Indonesia 2030 mematok target dalam 23 tahun ke depan, menuju negara maju yang unggul dalam pengelolaan kekayaan alam. Tujuan itu ditopang oleh empat pencapaian utama, yakni: masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita 18 ribu dolar AS (sekitar Rp 165 juta dengan kurs 9.200 per dolar AS) setelah Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa dan India.

Kira-kira masih 23 tahun lagi namun gaungnya sungguh sangat luar biasa.
Kompas, 24/03/2007 menampilkannya di headline dengan judul “Visi 2030 Memerlukan Rencana Aksi Strategis” namun Republika tanggal 29 Maret 2007 mengkritiknya dengan menampilkan “Visi 2030, Semoga Bukan Pemanis Keterpurukan”.

Semalam 10 April 2007, Metro TV lewat program economics challange membahasanya dengan mendatangkan nara sumber Prof. Emil salim.

Kalau saya ikuti pembicaraan beliau rasanya senyum ke-optimisan mengalir dengan begitu indahnya…maklum namnya aja visi atau mimpi.

Namun kalau melihat fenomena yang ada sekarang bagaimana Indonesia kedepan akan mengalami kelaparan/Gizi buruk,kemiskinan dan penyakit yang kian mengancam.

Saya bukannya ingin memperpanjang daftar kritikan tersebut namun tulisan ini sekedar penginggat saya saja bahwa visi 2030 tidak terlalu muluk-muluk.

Rabu, 11 April 2007, Republika menurunkan berita ancaman tersebut “Kelaparan dan Penyakit Kian Mengancam Indonesia”, bahkan menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang disampaikan Yayasan Pelangi dalam siaran persnya. IPCC adalah lembaga yang dibentuk oleh World Meteorological Oganization (WMO) dan United Nations Environment Programme pada tahun 1988. salah satu ramalan IPCC “Pada tahun 2080, jutaan orang akan terkena banjir setiap tahun karena naiknya permukaan air laut.”

Dihari yang sama Rabu, 11 April 2007 Presiden akan melantik Wantimpres yang didalamnya ada 9 mpu atau begawan dengan ilmu kedigdayaan masing-masing.

Nggak usah nunggu 2080 wong sekarang saja banjir sudah bukan di Jawa lagi.

Visi atau mimpikah ini…???

Wassalam

Mau Jadi Apa IPDN…???

April 9, 2007

Assalamualaikum…

Sekedar lamunan kawuloalit, melihat fenomena kekerasan di lembaga yang konon katanya pencetak calon pemimpin bangsa…kok yo ga lebih dari pada almarhum Sumanto sang pemangsa manusia.

Belum hilang rasa duka di hati orang tua yang di tinggalkan putra tercintanya, almarhum Praja Wahyu Hidayat th2003 ketika itu masih bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) untuk yang kesekian kalinya nyawa begitu tidak ada harganya di lembaga ini.

Apalacur STPDN bergabung dengan IIP(Institut Ilmu Pemerintahan) dan berubah nama menjadi IPDN(Institut Pemerintahan Dalam Negeri) dengan harapan akan lebih baik, agar efisien dari sisi anggaran karena kedua lembaga ikatan dinas dibawah Depdagri (Mendagri saat itu Hari Sabarno) ini sama-sama dibiayai APBN. Selain itu, dengan nama baru IPDN, kurikulum makin baik dan kampus ini jauh dari stigma sebagai ladang kekerasan. Bukan itu saja. Depdagri juga melakukan reorganisasi terhadap petinggi perguruan tinggi ini.

Namun apa dikata, kini muncul korban lagi Cliff Muntu..???
Berbagai media cetak dan elektronik menyoroti akan hal ini, bahkan RI 1 pun langsung turun tangan tak segan-segan memanggil petinggi IPDN I Nyoman Sumaryadi.

Aneh bin ajaib IPDN ini?
Betapa tidak sesoarang yang dengan niat tulus ikhlas untuk menyampaikan yang benar malah di ganjar tidak boleh mengajar?

Aneh….lebih aneh dari almarhum Sumanto sang pemangsa manusia sekalipun.

Mau jadi apa sampeyan iki toh……

Dimana hati nurani sampeyan..???

Apakah pantas calon pemimpin demikian…???

Harapan dan doa saya, kalau memang IPDN masih layak untuk diperjuangkan…semoga korban Cliff Muntu ini menjadi yang terakhir.

Wassalam