Visi Indonesia 2030
Assalamualaikum.
Visi Indonesia 2030 mematok target dalam 23 tahun ke depan, menuju negara maju yang unggul dalam pengelolaan kekayaan alam. Tujuan itu ditopang oleh empat pencapaian utama, yakni: masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita 18 ribu dolar AS (sekitar Rp 165 juta dengan kurs 9.200 per dolar AS) setelah Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa dan India.
Kira-kira masih 23 tahun lagi namun gaungnya sungguh sangat luar biasa.
Kompas, 24/03/2007 menampilkannya di headline dengan judul “Visi 2030 Memerlukan Rencana Aksi Strategis” namun Republika tanggal 29 Maret 2007 mengkritiknya dengan menampilkan “Visi 2030, Semoga Bukan Pemanis Keterpurukan”.
Semalam 10 April 2007, Metro TV lewat program economics challange membahasanya dengan mendatangkan nara sumber Prof. Emil salim.
Kalau saya ikuti pembicaraan beliau rasanya senyum ke-optimisan mengalir dengan begitu indahnya…maklum namnya aja visi atau mimpi.
Namun kalau melihat fenomena yang ada sekarang bagaimana Indonesia kedepan akan mengalami kelaparan/Gizi buruk,kemiskinan dan penyakit yang kian mengancam.
Saya bukannya ingin memperpanjang daftar kritikan tersebut namun tulisan ini sekedar penginggat saya saja bahwa visi 2030 tidak terlalu muluk-muluk.
Rabu, 11 April 2007, Republika menurunkan berita ancaman tersebut “Kelaparan dan Penyakit Kian Mengancam Indonesia”, bahkan menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang disampaikan Yayasan Pelangi dalam siaran persnya. IPCC adalah lembaga yang dibentuk oleh World Meteorological Oganization (WMO) dan United Nations Environment Programme pada tahun 1988. salah satu ramalan IPCC “Pada tahun 2080, jutaan orang akan terkena banjir setiap tahun karena naiknya permukaan air laut.”
Dihari yang sama Rabu, 11 April 2007 Presiden akan melantik Wantimpres yang didalamnya ada 9 mpu atau begawan dengan ilmu kedigdayaan masing-masing.
Nggak usah nunggu 2080 wong sekarang saja banjir sudah bukan di Jawa lagi.
Visi atau mimpikah ini…???
Wassalam








