Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Indonesia Surga Antibiotik

June 6, 2007

Assalamualaikum

Berapa kali anda berkunjung ke dokter dalam sebulan?
Berapa kali anda diresepkan Antibiotik(AB) dalam setiap kunjungan?

Seandainya saja ada yang mensurvei barangkali jawabannya 8 dari 10 dokter di Indonesia meresepkan Antibiotik untuk pasiennya.

Ndak salah kalau memang tepat pemakiannya rasional dan bijak, akan tetapi kalau datang cuma tull…tul…tul…atau dengan alasan yang prematur…untuk mencegah terjadinya infeksi……sehingga sehabis operasi pasti diresepkan AB….duh edan tenan.

Duh generasi bangsaku…makanya pada gampang sakitan…..tuanya pada lemah-lemah ndak seperti orang dulu yang bangkotan….singset.

Prihatin sekali….

Semoga saja pemerintah membuat regulasi yang jelas terkait pemakaian AB ini.

Wassalam

Antibiotik? Siapa Takut?
by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Mungkin begitulah kira2 pikiran kebanyakan pasien Indonesia ketika diberi
resep oleh dokternya ketika berobat…karena sudah seringnya diberi AB,
kita langsung aja meminumnya tanpa mempertanyakan dahulu apakah benar kita
perlu AB? Lalu kapan sih kita perlu dan kapan tidak? Summary ini membahas
dengan singkat apa itu AB dan beberapa topik yang berhubungan…..

Apa itu AB?
AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk
membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian
dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan 1.
produk alami, 2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa
perubahan agar lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas
jenis bakteri yang dapat dibunuh, 3. full sintetik.

Jenis AB:
1. Narrow spectrum, berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik.
Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target
dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan
amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).
2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa
disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB
jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang
sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah
cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

Bakteri
Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram
positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada)
umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah
difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Biasanya, infeksi yang
disebabkan oleh gram (+) lebih mudah dilawan. Didalam tubuh kita banyak
sekali terdapat bakteri, bahkan salah satu kandungan ASI adalah bakteri.
Jadi, sebenarnya, kebanyakan bakteri tidaklah “jahat”. Manfaat bakteri
diusus kita adalah:
1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan
oleh tubuh.
2. memproduksi vitamin B & K.
3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.
4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi).
5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung
mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Sekarang kita tahu manfaatnya, jadi jangan lagi minum AB tanpa alasan yang
jelas, karena hal ini akan membunuh bakteri yang baik tersebut.

Virus
Walaupun sesama mikro-organisme, virus ukurannya jauh lebih kecil
dibandingkan dengan bakteri. Mereka berkembang biak dengan mengunakan sel
tubuh kita, jadi virus akan mati bila berada diluar tubuh. Catatan
penting: virus tidak dapat dibunuh oleh obat dan AB sama sekali tidak
bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau
daya tahan tubuh kita, salah satunya adalah dengan demam. Demam merupakan
bagian dari sistem daya tahan tubuh yang bermanfaat untuk membasmi virus,
karena virus tidak tahan dengan suhu tubuh yang tinggi. Jadi apabila
anak/anda mengalami demam, sebaiknya tidak diobati apabila suhu tubuhnya
tidak terlalu tinggi. Untuk petunjuk lebih lanjut, buka e-mail terdahulu
yg membahas demam.

When AB doesn’t work?
Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu
1. Demam, 2. Radang tenggorokan, 3. Diare. Padahal, sebenarnya, penggunaan
AB untuk kondisi diatas tidaklah tepat dan tidak berguna. Dibawah ini
petunjuk kapan AB tidak bekerja:
1. Colds & Flu
2. Batuk atau bronchitis
3. Radang tenggorokan
4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan
menguntungkan, bahkan merugikan dan membahayakan.

When do we need AB?
Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan
membutuhkan terapi AB:
1. Infeksi saluran kemih
2. Sebagian infeksi telinga tengah atau biasa disebut otitis media
3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala,
pembengkakan di daerah wajah)
4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang
anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15%
yang mengalami r adang tenggorokan karena kuman ini)

How do I know this is bacterial infection?
Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan
kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Contohnya apabila
dicurigai adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan
kemudian dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi
bakteri berikut jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek
samping yang paling sering terjadi.
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan
yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim,
sefalsporoin & eritromisin.
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah
satunya kloramfenikol.
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat
TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini
adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena),
Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit
ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB.

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat
menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita
dan lingkungan sekitar, contohnya:
1. Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna
yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh
bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur. Kondisi
ini disebut juga sebagai “superinfection”.

2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak
terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap AB,
biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati
dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan dengan
irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga
memerlukan jenis AB yang lebih kuat.
Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama
kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, maka
suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB yang dapat
membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal ini akan membuat
kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana infeksi yang
diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati sehingga angka kematian
akan drastis melonjak naik.

Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit. The less
you consume AB, the less frequent you get sick.

Inappropriate AB Use
Berjuta2 resep ditulis yang mencantumkan AB untuk infeksi virus, padahal
kita semua tahu AB tidak berguna untuk memerangi virus. Ada 3 alasan
mengapa apparopriate use of AB ini terjadi, yaitu:
1. Diagnostic uncertainty.
2. Time pressure.
3. Patient Demand.”People don’t want to miss work or they have a sick
child who kept the family up all night and they’re willing to try anyhing
that might work”. It’s easier for the physician to give AB than to explain
why it might be better not to use it.

Benar, seringkali kitapun sebagai pasien juga berperan didalam AB
irrational use ini. Sudah terbentuk persepsi didalam pasien Indonesia,
dimana kita beranggapan bahwa kalau pulang dari kunjungan dokter itu harus
membawa resep. Malah akan aneh kalau kita tidak pulang dengan membawa
resep. Hal ini justru mendorong dokter untuk meresepkan AB ketika tidak
diperlukan. Sebaiknya sikap ini sedikit demi sedikit kita hilangkan.

How Can We Help?
1. Rubah sikap kita ketika berkunjung ke dokter dengan menanyakan; Apa
penyebab penyakitnya? bukan apa obatnya.
2. Jangan sedikit2 minta dokter untuk meresepkan AB. Jangan mengkonsumsi
AB untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk atau radang tenggorokan.
Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi tsb. tanya dokter bagaimana cara
meringankan gejalanya, tetapi tidak dengan AB.
3. Tidak mempergunakan Desinfektan dirumah, cukup dengan air dan sabun.
Hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit dengan daya tahan tubuh
rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis, pemakaian steroid
jangka panjang, dll.).

Battle of the Bugs: Fighting AB Resistance
Masalah bakteri yang kebal terhadap AB (AB resistance) ini telah menjadi
masalah global dan sudah sejak beberapa dekade terakhir dunia kedokteran
mencanangkan perang terhadap AB resistance ini.

Ada petunjuk yang dapat dilakukan untuk perihal pemakaian AB yang
rasional, yaitu:
1. Kurangi pemakaian AB, jangan menggunakan AB untuk infeksi virus.
2. Gunakan AB hanya bila benar2 diperlukan dan mulailah dengan AB yang
ringan atau narrow spectrum.
3. Untuk infeksi yang ringan (infeksi saluran nafas, telinga atau sinus)
yang memang perlu AB, gunakan AB yang bekerja terhadap bakteri gram (+).
4. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi dibawah diafrgma, seperti
infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, prneumonia, meningitis
bakteri) pilih AB yang juga membunuh kuman gram (+).
5. Hindari pemakaian lebih dari satu AB, kecuali TBC atau infeksi berat di
rumah sakit.
6. Hindarkan pemakaian salep AB, kecuali untuk infeksi mata.

Rule fo Thumb
Bila anda memperoleh terapi AB, pertanyakanlah hal2 berikut:
1. Why do I need AB?
2. Apa yang dilakukan AB?
3. Apa efek sampingnya?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?
5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau
sesudah makan?
6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?
7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau
makanan, dll.

Final Message
Sebagai konsumen kesehatan yang bertanggung jawab, sebaiknya kita juga
berperan aktif dengan cara menggali dan mempelajari pengetahuan dasar ilmu
kesehatan. Dengan begitu kita akan menjadi konsumen kesehatan yang smart
and critical. So, semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan dasar ilmu
kesehatan para pembaca.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang pemakaian AB. Sebaliknya kita
harus mengetahui bagaimana pemakaian AB yang benar dan tepat karena justru
AB yang irrational akan menyebabkan AB menjadi impotent atau kehilangan
manfaatnya. Antibiotics save lives, therefore we also have to save
Antibiotics.

Bahaya Resistensi Antibiotik Cetak E-mail

MUDAHNYA pembelian antibiotik, tanpa resep dokter, membuat orang tak segan meminumnya untuk atasi penyakit yang dideritanya. Kekhawatiran terhadap timbulnya masalah resistensi antibiotik makin memuncak seiring penggunaan antibiotik yang makin umum di tengah masyarakat. Permisifnya masyarakat terhadap antibiotik telah menimbulkan dampak terhadap meluasnya resistensi terhadap kuman-kuman penyakit.

Bahkan, kondisi ini ikut diperparah dengan sikap para dokter yang cenderung mudah memberikan antibiotik kepada pasiennya. ”Contohnya saat pascaoperasi, sebagian besar dokter di sini (Indonesia) meresepkan antibiotik kepada pasien, dengan tujuan mencegah kemungkinan infeksi. Padahal di luar negeri, pasien pascaoperasi tidak diberikan antibiotik,” ujar Ketua Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW) Prof Dr Robert Utji SpMK.

Dia menambahkan, masalah itu sebenarnya lebih kepada kebiasaan para dokter di sini yang terbiasa memberikan antibiotik. Padahal, dengan penanganan yang baik, kemungkinan infeksi bisa diminimalisasi. Dengan demikian, pemberian antibiotik tidak diperlukan. Kekhawatiran terhadap penyakit infeksi menjadi alasan tersendiri bagi para dokter untuk meresepkan antibiotik.

Memang tidak bisa disalahkan karena penyakit infeksi merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Hanya, pemberian antibiotik yang tidak tepat justru menimbulkan masalah baru, yakni resistensi terhadap si obat pembunuh kuman, virus, dan bakteri tersebut. Louis Rice dari Louis Stokes Cleveland Veterans Affair Medical Center mengatakan, resistensi antibiotik merupakan masalah besar, yang faktanya akan menjadi problem besar di kemudian hari.

”Hal ini disebabkan mikroba mempunyai banyak alat untuk beradaptasi dan menjadi resisten,” ungkap Rice, seperti dikutip AFP. Bahkan, yang mengkhawatirkan adalah kemunculan kuman yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Akibatnya, tidak ada yang bisa atau menghambat perkembangan penyakit infeksi tersebut. Salah satunya adalah jenis kuman extended spectrum beta lactamase (ESBL). ESBL pun rentan terjadi di Indonesia, mengingat penggunaan antibiotik di kalangan masyarakat cukup tinggi.

Menurut klinisi mikrobiologis dari FKUI dr Anis Karuniawati Phd SpMK, angka mengenai penggunaan antibiotik di kalangan masyarakat sebenarnya bisa dilihat dari hasil penjualan berbagai produk obat antibiotik. Data itu sebenarnya telah ada dan dikeluarkan oleh Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) setiap tahunnya. ”Jika melihat perkembangan itu, kemungkinan ESBL terjadi di Indonesia memang cukup besar,” tutur Anis.

Dia menambahkan, ahli mikrobiologi sebenarnya telah melaporkan kepada para klinis mengenai masalah resistensi antibiotik ini. Terutama, jenis-jenis antibiotik yang sudah tidak efektif untuk digunakan sebagai obat pembunuh infeksi. ”Sejumlah penelitian akhir-akhir ini mengungkapkan masalah resistensi antibiotik meningkat, tidak hanya di Indonesia, juga menjadi masalah serius di berbagai negara di dunia,” ungkapnya.

Dampak buruk dari keadaan resisten antibiotik tidak hanya pada bidang kesehatan, melainkan juga sektor ekonomi, terutama produktivitas yang menurun, meningkatnya jumlah dana untuk pembelian antibiotik, dan masa perawatan di rumah sakit yang lebih panjang dengan konsekuensi meningkatnya biaya perawatan. ”Penyakit infeksi menjadi masalah utama di Indonesia. Penyakit infeksi bisa disebabkan bakteri, virus, dan parasit. Dengan demikian, pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk membunuh bakteri, virus, dan parasit tersebut,” papar Anis.

Pengobatan yang dikenal untuk membasmi kuman di dalam tubuh manusia adalah obat antibiotik. Namun, antibiotik digunakan untuk infeksi karena bakteri. Sementara untuk jenis infeksi lain, seperti yang disebabkan oleh virus, penggunaan antibiotik merupakan sesuatu hal yang berlebihan.

Probiotik Tangkal Bakteri Jahat

Bakteri tidak selalu negatif. Kini, fenomena yang berkembang di tengah masyarakat adalah kehadiran berbagai jenis minuman probiotik, suplemen dalam makanan yang mengandung bakteri yang sangat menguntungkan.

Ensiklopedia Wikipedia menyebutkan, probiotik sebagai suplemen diet yang mengandung bakteri berguna dengan asam laktat bakteri (lactic acid bacteria-LAB) sebagai mikroba yang paling umum dipakai. LAB telah dipakai dalam industri makanan selama bertahun-tahun karena mampu untuk mengubah gula (laktosa) dan karbohidrat lain menjadi asam laktat.

Probiotik berasal dari bahasa Latin yang berarti ”untuk kehidupan” (for life) disebut juga ”bakteri bersahabat”, ”bakteri menguntungkan”,”bakteri baik”, atau ”bakteri sehat”. Apabila didefinisikan secara lengkap, probiotik adalah kultur tunggal atau campuran dari mikroorganisme hidup yang apabila diberikan ke manusia atau hewan akan berpengaruh baik. Sebab, probiotik akan menekan pertumbuhan bakteri patogen/bakteri jahat yang ada di usus manusia/hewan.

Dalam tubuh manusia sendiri terdapat kira-kira 400 jenis mikroba dengan jumlah sekira 1.014 (100 000 000 000 000). Betapa banyak memang bakteri di tubuh manusia, bakteri-bakteri tersebut ada yang jahat dan ada yang baik. Beberapa probiotik terdapat secara alami, contohnya lactobacillus dalam yogurt. Menurut Food Science and Human Nutrition Specialist dari Colodaro State University Cooperative Extension Pat Kendall Phd, yogurt merupakan salah satu jenis makanan/minuman yang telah memiliki reputasi sebagai pangan sehat karena mengandung lactobacilus acidophilus, l casei, l reuteri, dan bifidobacterium bifidum.

”Semua merupakan bakteri probiotik melewati perut menuju gastrointestinal. Mereka dapat menjaga keseimbangan kesehatan di antara 200-an jenis bakteri yang hidup di situ,” ujar Kendall. Probiotik umumnya diketahui dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hingga kini, belum ada publikasi yang menyatakan bahwa suplemen probiotik mampu menggantikan mikroflora alami di dalam tubuh.

Namun, banyak penelitian yang membuktikan bahwa probiotik akan membentuk koloni sementara, yang dapat membantu aktivitas tubuh dengan fungsi yang sama dengan mikroflora alami dalam saluran pencernaan.

”Ini kuman yang baik dan bisa membantu kekebalan tubuh dalam melawan kuman-kuman penyakit,” ungkap Guru Besar Departemen Mikrobiologi FKUI Prof dr Robert Utji SpMK. Menurut Utji, maraknya berbagai jenis makanan dan minuman yang mengandung probiotik inilah yang menjadi salah satu topik yang akan dibahas dalam Simposium Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW). (alfian/sindo/mbs)

sumber: okezone