Tayangan TV Ikut Andil Pada Kekerasan Anak
YPMA Serukan Hari Tanpa TV 23 Juli 2007
JAKARTA–Memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli, Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) serta Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) melaksanakan Hari Tanpa Televisi 2007. Gerakan ini dilakukan dengan menggelar berbagai kegiatan bagi anak-anak sebagai alternatif mematikan televisi selama sehari penuh pada hari Ahad (22/7).
Koordinator Hari Tanpa TV B Guntarto menjelaskan, kegiatan ini bukan berarti YPMA dan YKBH yang didukung beberapa LSM memusuhi media televisi. Tetapi lebih menyoroti masih banyak acara yang disajikan di televisi yang tak sesuai untuk anak-anak. Oleh karena itu, gerakan ini sebagai wujud kepedulian akan isi tayangan tv yang tidak aman dan tidak sehat bagi anak-anak.
‘’Sebagai wujud keprihatinan tersebut kami bersama LSM, sekolah, dan masyarakat menyatakan dengan cara mematikan televisi selama sehari, yaitu Ahad (22/7). Pemilihan tersebut terkait dengan Hari Anak Nasional. Untuk mengisi hari tanpa TV itu digelar berbagai acara di Lapangan Monas Jakarta. Rencananya dihadiri sejuta orang terdiri dari anak-anak, orang tua dan guru dari beberapa sekolah di Jakarta. Acara tersebut gratis, terbuka untuk umum. Kegiatannya antara lain game, kuis, menyanyi dan pembagian hadiah. Selain di Jakarta, gerakan serupa serentak digelar di Medan, Bandung, Yogya, Surabaya, dan Makasar.
Bagi yang tidak bisa berkunjung ke Monas, Guntarto menganjurkan agar keluarga atau lingkungan mengadakan acara serupa untuk mengalihkan perhatian anak televisi. Sebelum Hari Tanpa TV di gelar, hari ini (Jum’at.red) diadakan aksi damai di Bundaran HI Jakarta. Mereka akan membagikan brosur dan membentangkan spanduk mengajak masyarakat luas mendukung kegiatan tersebut.
Nina M Armando dari YPMA menambahkan, sebagian besar anak Indonesia menonton TV jauh lebih lama dibandingkan jam belajar di sekolah. Mereka menghabiskan waktu menonton selama 1600 jam, sedangkan belajar di sekolah 740 jam. Dalam sehari anak menonton 3-5 jam, dari maksimal dua jam yang dibolehkan.
(vie )
sumber: Republika
Tayangan TV Ikut Andil Pada Kekerasan Anak
Surabaya (ANTARA News) - Aktivis pembelaan atas hak-hak anak mengemukakan bahwa tayangan kekerasan di sejumlah stasiun televisi telah ikut andil membentuk prilaku kekerasan di kalangan anak-anak.
“Salah satu contohnya adalah anak dari Kediri yang membunuh anak kecil, katanya terinspirasi dari tayangan telvisi, khususnya di berita kriminal,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim, Dr dr Sri Adiningsih, kepada ANTARA di Surabaya, Jumat.
Ia mengemukakan bahwa tayangan-tayangan kriminal yang menggambarkan secara teknis kejadiannya telah memberikan “pembelajaran” pada anak-anak untuk melakukan hal serupa jika menghadapi suatu masalah.
“Mungkin kalau perkosaan atau pembunuhan itu tidak ditayangkan secara teknis dianggap tidak sensasional dan tidak komersial, tapi justru sensasional itu merugikan masyarakat pemirsa, khususnya anak-anak,” katanya.
Menurut Sri, selain itu tayangan sinetron dan hiburan juga telah memberikan andil pada prilaku negatif anak. Cerita-cerita sinetron yang juga ditonton oleh anak-anak saat ini hanya memperlihatkan masalah seks.
“Lihat saja, ceritanya kalau tidak rebutan pacar ya orangtuanya yang selingkuh. Apa tidak ada cerita lain? Mungkin sutradaranya itu tidak pernah membaca pengetahuan yang baik, sehingga tidak tahu bahwa karyanya merugikan masyarakat,” katanya.
Karena itu, katanya, dibutuhkan sutradara maupun penulis naskah yang berpendidikan bagus, sehingga karyanya dibingkai dalam kemasan yang mengandung nilai-nilai pendidikan bagi pemirsa.
“Kok tidak ada cerita yang terinspirasi dari anak-anak yang berprestasi dalam berbagai kejuaraan, sehingga hal itu menggugah anak-anak lain untuk mengikuti jejaknya,” katanya.
Sementara aktivis Plan Indonesia yang membidangi hak-hak anak, Nanang A Chanan, mengemukakan bahwa selain kekerasan, saat ini muncul fenomena rebutan anak yang justru merugikan anak itu sendiri.
“Sebut saja beberapa nama yang sedang rebutan anak, seperti Tamara dengan suaminya, Setiawan Djody dengan Sandy Harun, Zarimah Mirafzur dengan orang lain dan Yatti Octavia rebutan cucu dengan menantunya,” katanya.
Kasus-kasus perebutan pengasuhan itu bisa lebih parah kalau terjadi antara pasangan yang kawin campuran atau dengan warga asing.
“Ujung-ujungnya anak mengalami tekanan atas berbagai konflik orangtua seperti itu. Karenanya butuh kesadaran semua pihak untuk mengembalikan hak-hak anak ini,” kata mantan Sekretaris LPA Jatim itu. (*)
Copyright © 2007 ANTARA
sumber: Antara
FISIP UI Hasilkan “Doktor Langka” Ilmu Komunikasi
Jakarta (ANTARA News) - Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia menganugerahkan gelar doktor dengan predikat sempurna (cumlaude) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.0 dari skala 4.0 kepada Sunarto, setelah mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Indonesia, di kampus UI, Depok, Kamis siang.
“Saudara Doktor Sunarto adalah doktor langka di lingkungan Universitas Indonesia, “kata Promotor Prof. M. Alwi Dahlan, Ph.D pada upacara pelantikan Sunarto setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Kekerasan Televisi Terhadap Wanita” dalam sidang yang dipimpin Prof. Dr. Harsono Suwardi, M.A.
Disebut langka, sambungnya, karena di Departemen Ilmu Komunikasi Fisip UI belum pernah ada mahasiswa doktoral yang berhasil meraih IPK 4.0, alias semua nilai mata kuliah yang diujikan mendapat nilai sempurna (A). Harusnya ia lulus summa cumlaude, namun predikat itu tidak ada lagi di UI yang hanya membagi tiga katagori lulusannya: Cumlaude, Sangat Memuaskan, dan Memuaskan.
Dalam sidang tersebut Sunarto berhasil menjawab semua sanggahan penguji yang terdiri dari Prof. Andre Hardjana, Ph.D; Prof. Dr. T.M. Soerjanto Poespowardojo; Prof. Alois Agus Nugroho, Ph.D, Dedy N. Hidayat, Ph.D, dan Francisia SSE Seda, Ph.D yang juga merangkap sebagai Ko-Promotor.
Dalam disertasinya, Sunarto, yang juga dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Diponegoro, Semarang Jateng, mengatakan fenomena kekerasan terhadap wanita secara aktual di Indonesia akhir-akhir ini meningkat, sebagaimana juga ditemui pada media massa lainnya.
Menurut Sunarto, baik media cetak maupun media elektronik umumnya berisi kekerasan terhadap wanita. “Bahkan kondisi itu juga ditemui pada media anak-anak,” kata Sunarto yang memfokuskan penelitiannya pada media televisi, khususnya tayangan untuk anak-anak.
Acara anak-anak yang ia teliti adalah tayangan film animasi Doraemon, Crayon Shincan, dan P-Man dengan mengamati stasiun televisi yang direktor program acaranya dijabat seorang wanita.
Dari penelitian itu , Sunato menemukan fakta bahwa teks film animasi anak-anak seluruhnya berisi kekerasan terhadap wanita dalam wujud kekerasan personal (psikologis, seksual, fungsional) dan kekerasan struktural (dominasi pria atas wanita, streotipe peran gender, domestikasi dan ekstensinya sebagai profesi, obyektifikasi seksualitas wanita).
Meski demikian, kata Sunarto, film tersebut tetap ditayangkan karena menjadi komoditas potensial untuk mendapatkan rating, iklan, dan image yang baik. “Selain itu sebagai entitas politik kultural, film itu menjadi sarana edukasi strategis mengenai konstruksi relasi gender asimetris yang represif,” katanya.
Ia mengatakan proses naturalisasi kekerasan terhadap wanita melalui program siaran televisi terjadi dengan melibatkan struktur gender agen wanita dan stuktur industri televisi beserta stuktur sosial di belakangnya dalam relasi saling mempengaruhi (interplay) satu sama lain.
Aplaus meriah segera bergema setelah Sunarto dinyatakan meraih gelar doktor dengan sempurna, dan ruangan tiba-tiba hening ketika Prof. Alwi Dahlan, mantan Menteri Penerangan, menguraikan perjalanan hidup Sunarto, anak pasangan Ngadiyono bin Karsodikromo (alm) seorang petani gurem dan tukang becak di Kudus, Jateng, semasa hidupnya, dan Ny. Inem Salamah, seorang penjual gado-gado yang berjuang keras mencari uang untuk menyekolahkan Sunarto.
“Sunarto bahkan harus berkeliling ke berbagai instansi pemerintah untuk mendapatkan surat miskin agar bisa mendapat potongan SPP 50 persen dari nilai Rp50 ribu ketika kuliah di Universitas Diponegoro,” kata Prof. Alwi dengan suara tersendat menahan haru.
Sunarto menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Kudus (1973-1985), dan pendidikan tinggi S-1 di Fisip Undip, dan S-2 serta S-3 di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI.(*)
Copyright © 2007 ANTARA
sumber : Antara














