Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Rokok, Remaja, dan Dosa Orang Dewasa

November 30, 2007

Oleh Risang Rimbatmaja

Global Youth Tobacco Survey atau GYTS Indonesia menyebutkan 24,5
persen remaja laki-laki Indonesia adalah perokok (Kompas, 9/11/2007).

Situasi ini sungguh memprihatinkan, apalagi merokok merupakan pintu ke
arah perilaku yang lebih berisiko, termasuk penyalahgunaan narkoba.
Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kita sudah
memberi solusi yang efektif?

Salah satu pendekatan yang umum ditawarkan untuk mencegah remaja mulai
merokok atau menjadi pencandu serius adalah melalui komunikasi publik,
seperti melalui penyebaran pesan-pesan tentang bahaya merokok atau
kegiatan-kegiatan penyuluhan di sekolah. Pendekatan yang sifatnya
lebih enforcement atau penerapan peraturan yang disertai sanksi sejauh
ini menghadapi banyak kendala, di antaranya adalah kapasitas dan
integritas sekolah untuk mengawasi seluruh gerak-gerik siswa dan tidak
adanya panutan dari kelompok guru. Seperti diketahui luas, guru
perokok bukanlah hal yang aneh di sekolah. Padahal, seperti kata
pepatah lama, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Sementara, di lingkungan luar sekolah kita juga menyaksikan
implementasi peraturan yang (sudah diprediksikan) mandul, seperti
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi
Kesehatan dan yang lebih baru, Perda DKI Jakarta No 2/2005 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara. Meski peraturan yang disebut terakhir
berisi sanksi yang tegas, kenyataannya masih banyak ditemui warga yang
dengan santai merokok di kendaraan umum atau tempat-tempat umum
lainnya tanpa khawatir akan sangsi sampai Rp 50 juta seperti tertulis
dalam perda.

Ego orang dewasa

Komunikasi publik kemudian menjadi andalan perubahan perilaku remaja,
tetapi pendekatan itu rasanya belum banyak membuahkan hasil. Secara
jujur harus diakui bahwa penyebab utama ketidakberhasilan komunikasi
publik adalah justru paradigma kelompok orang dewasa sendiri yang
cenderung egosentris dan menempatkan remaja sebagai obyek atau bahkan
pesakitan.

Remaja selalu dianggap sebagai obyek yang dianggap tidak tahu atau
tidak sadar akan bahaya rokok. Karena itu, mereka dipandang sebagai
“khalayak yang perlu diberi tahu”. Di lain pihak, para penggiat
kampanye antirokok, orang dewasa, diposisikan lebih tinggi, yakni
sebagai mereka yang lebih tahu, ahli, berpengalaman, dan lain-lain.
Padahal, para remaja perokok mungkin jauh lebih tahu tentang bahaya
merokok daripada yang diperkirakan. Bukankah mereka lebih sering
membaca peringatan pemerintah tentang bahaya merokok?

Diungkap dalam buku Erica Weinstraub Austin berjudul Reaching Young
Audiences (1995), kesalahan umum dalam desain kampanye (bagi kelompok
remaja) adalah mengasumsikan bahwa dengan mengangkat sebuah perilaku
sebagai suatu yang buruk atau tidak sehat (di dalam pesan-pesan
kampanye), maka remaja akan menolak perilaku itu.

Tipikal pesan kampanye antirokok adalah merokok merupakan perilaku
yang sangat berbahaya bagi kesehatan karena itu jangan merokok.
Dipaparkan bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan
kehamilan, kanker, dan lain-lain. Namun, para remaja, seperti halnya
orang dewasa, tentu tidak selalu memaknainya sesuai pesan yang tertulis.

Ketika para ahli kesehatan memandang merokok sebagai perilaku yang
merusak kesehatan, banyak remaja (dengan bantuan komunikasi komersial
industri rokok) mengartikannya secara positif, sebagai citra kekuatan,
perilaku risk-taking yang jantan, dan sebagainya.

Mengutip McGuire (1989), dalam konteks remaja kita gagal mengenali
sebagian daya tarik perilaku (buruk) yang justru bisa terletak pada
“pelarangannya”.

Paradigma yang egosentris itu sebetulnya bersumber dari ketidakmauan
dan atau ketidakmampuan orang dewasa mendengarkan suara remaja dan
menganggap diri mereka lebih hebat. Nilai semacam ini sebetulnya
banyak dijumpai dalam komunikasi kesehatan di medical era yang di
banyak negara sudah ditinggalkan satu generasi lalu (Strategic
Planning for Participatory Social and Behavior Change Communication in
Public Health, JHU-CCP 2007).

Model komunikasi yang diandalkan dalam medical era adalah model linear
SMR (sender medium receiver) di mana perubahan perilaku dipercaya
merupakan hasil niscaya dari pengiriman pesan melalui medium tertentu
yang sifatnya monolog (satu arah), semisal penyebaran poster atau
kegiatan-kegiatan penyuluhan.

Beberapa dekade lalu model komunikasi perubahan perilaku berkembang
menjadi lebih dialogis (field-era) di mana umpan balik khalayak
dipercaya sebagai komponen penting untuk mengembangkan program yang
efektif. Di sini, khalayak tidak lagi dianggap sebagai sasaran seperti
benda mati yang tinggal ditembak oleh peluru ajaib. Khalayak menjadi
lebih sebagai responden yang perlu diketahui dan diakomodasi reaksinya.

Partisipasi remaja

Namun, pengalaman implementasi program-program komunikasi akhirnya
menyimpulkan bahwa dialog saja tidak cukup. Di dekade terakhir, model
komunikasi yang terlihat membawa hasil yang lebih berkelanjutan adalah
model yang lebih strategik-partisipatif. Tidak ada lagi batas yang
tegas antara khalayak dengan pemrogram. Yang dipentingkan adalah
kolaborasi yang egaliter. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Di
sini, remaja menjadi warga yang memiliki posisi yang sama dengan orang
dewasa penggiat antirokok. Mereka bersuara, mendapat hak untuk
bersama-sama berpikir, bergerak mencegah ataupun mengubah perilaku
merokok, dan juga menilai hasilnya.

Memahami suara remaja akan menghasilkan program dengan pendekatan yang
berbeda. Contoh yang klasik dalam kampanye antirokok adalah Program
Truth yang difasilitasi oleh The American Legacy Foundation (Sly,
Heald & Ray 2001 di dalam Panduan Lapangan Merancang Strategi
Komunikasi Kesehatan, JHU/CCP 2003). Alih-alih mengeksploitasi dampak
rokok terhadap kesehatan remaja, Program Truth menguatkan identitas
remaja sebagai pemberontak, pengambil risiko, atau orang yang mandiri
yang tengah berkembang dalam diri remaja.

Dalam kampanye Truth, perusahaan tembakau dikuliti dan diperlihatkan
sebagai penjahat yang menjual produk yang mereka sendiri sudah tahu
bahayanya. Dengan mengungkap “kebenaran” tentang perusahaan rokok,
kampanye memberi alasan yang kuat bagi orang muda yang tengah memiliki
hasrat memberontak yang kuat untuk melakukan pemberontakan terhadap
perusahaan rokok raksasa yang berusaha keras mencelakakan mereka.

Sly, Heald dan Ray (2001) melaporkan bahwa pendekatan Truth membawa
hasil yang cukup menggembirakan. Negara Bagian Florida melaporkan
bahwa kampanye ini menghasilkan angka kesadaran yang tinggi, perubahan
signifikan dalam sikap atau kepercayaan dan menurunkan angka merokok
di kalangan remaja.

Perubahan positif semacam itu tentu dibutuhkan Indonesia. Namun, kita
harus mengembangkan sendiri program terbaik untuk menanggulangi
masalah remaja dan merokok.

Risang Rimbatmaja Volunter di Koalisi untuk Indonesia Sehat dan Forum
Komunikasi Gizi dan Kesehatan

Sumber : Kompas

Tiap Tahun 2,2 Juta Perokok Meninggal karena Penyakit Paru-paru

November 27, 2007

Pengantar

Indonesia saat ini menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia. Tak adanya aturan hukum yang tegas, mengakibatkan tak terkendalinya penjualan dan usia konsumen rokok, padahal bahayanya sudah cukup jelas dan tercantum di setiap bungkus rokok. Wartawan SP Eko B Harsono menyorotinya dalam tulisan di bawah ini.

Dok SP - Penyediaan ruang khusus bagi para perokok diharapkan dapat meminimalisasi jumlah korban akibat rokok

Saat ini terdapat 1,2 miliar perokok di dunia ini. Kebiasaan merokok berhubungan dengan terjadinya 25 jenis penyakit di tubuh manusia. Separuh dari para perokok akan meninggal oleh berbagai penyakit akibat rokok. Di dunia juga terdapat 2,2 juta kematian akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) setiap tahunnya.

Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah kelompok penyakit paru yang disebabkan terganggunya aliran udara. Istilah PPOK digunakan untuk menggambarkan penderita bronkitis kronis, emfisema, atau kombinasi penyakit itu. Batuk disertai dahak atau sputum, sulit bernapas atau napas pendek dan merasa lelah adalah gejala PPOK.

“Bronkitis kronis timbul pada kira-kira 85 persen dari kasus PPOK secara global,” kata Prof Antonio Anzueto dari Universitas Texas, Amerika Serikat, kepada wartawan di Singapura, pekan lalu. Bronkitis sendiri merupakan peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru).

Seperti diketahui, sejumlah peneliti independen melakukan penelitian besar khusus meneliti antibiotik global guna mengamati dampak dari acute exacerbations of chronic bronchitis (AECB) atau serangan singkat dan parah seperti batuk yang parah, tidak dapat bernapas dan produksi ludah atau air liur berlebihan.

“Dalam penelitian kami terbukti pasien yang mendapat pengobatan antibiotik jenis moxifloxacin atau produk Avelox hanya dalam waktu lima hari sangat membantu menekan penyebaran virus dan membunuh virusnya. Penelitian dilakukan di 48 negara di dunia dan melibatkan 50.000 pasien,” ujar Profesor Antonio Anzueto.

Merokok sigaret atau kretek adalah faktor risiko paling nyata bagi penyakit dan infeksi saluran napas. Sekitar 85 hingga 90 persen penderita AECB atau PPOK mempunyai riwayat merokok. Penyebab AECB atau PPOK lainnya termasuk faktor-faktor genetik, perokok pasif, dampak pekerjaan, polusi udara, dan kemungkinan jalan napas yang hipersensitif.

Penyakit bronkitis sebenarnya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Namun, pada penderita yang memiliki penyakit menahun, seperti jantung dan paru-paru serta berusia lanjut, bronkitis bisa memperburuk keadaan dan mengakibatkan kematian.

Bronkitis biasanya terjadi karena infeksi seperti radang tenggorokan, campak, dan batuk rejan. Penyakit ini disebabkan virus dan bakteri. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru serta saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari sinusitis kronis, bronkektasis, alergi, dan pembesaran amandel pada anak-anak.

Dua Tipe

Sedangkan dr Marc Miravitlles dari Institut Clinic del Torak Spanyol pada kesempatan itu menjelaskan sejauh ini terdapat dua tipe bronkitis, yakni akut dan kronis. Bronkitis akut ditandai dengan batuk berdahak kekuningan dan demam. Bronkitis akut biasanya juga mengenai bagian paru lainnya.

Sementara bronkitis kronis ditandai dengan batuk lama, berdahak banyak, dan terutama terjadi pada saat tidur atau pada pagi hari. Penyakit ini biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas.

Dewasa ini diperkirakan 2,5 juta orang meninggal setahun-nya di dunia akibat penyakit yang berkaitan dengan rokok. Di pihak lain, konsumsi rokok di negara-negara maju turun sekitar 1,1 persen per tahunnya, sementara konsumsi rokok di negara ber-kembang malah meningkat 2,1 persen per tahunnya. Data pada suatu kongres kanker paru di Swedia, menyebut-kan 75 persen pria Indonesia dan 4 persen wanitanya perokok. Survai kesehatan rumah tangga Departemen Kesehatan RI mendapatkan 52,9 persen pria dan 3,6 persen wanita adalah perokok. Konsumsi rokok di Indonesia adalah 770 batang per kapita. Tahun 1989 produksi rokok Indonesia adalah 141 miliar batang. Angka itu di tahun 1986 hanyalah 119;6 miliar, dan bila tidak dilakukan tindakan apa-apa maka diperkirakan di tahun 1997 produksi rokok akan melonjak menjadi 300 miliar batang. Kebiasaan merokok merupakan faktor penting terjadinya kanker paru dan PPOM. Risiko perokok untuk mendapat kanker paru berkisar antara 2,5 sampai lebih dari 20. Sementara itu, perkiraan risiko untuk perokok mendapat bronkitis kronik berkisar antara 1,5 sampai 7,1. Rasio kematian perokok akibat kanker paru berkisar antara 2,3 sampai 25,10. Departemen Kesehatan Amerika Serikat telah menghitung seluruh kerugian yang dialami negara itu akibat kebiasaan merokok. Mereka mendapatkan kerugian US$ 52,34 miliar setahunnya, artinya US$ 221 per kapita. Berbagai penyakit paru kini merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi, tuberkulosis maupun non tuber-kulosis, asma dan penyakit paru obstruktif menah un, kanker paru dan juga penyakit paru akibat kerja merupakan contoh penyakitpenyakit yang punya dampak luas di masyarakat. Khusus untuk kita di Indonesia, penyakit-penyakit infeksi paru masih merupakan penyebab kematian yang amat penting dan masih sering pula dijumpai dalam pola morbiditas yang ada, demikian pula dengan asma bronkial dan penyakit paru obstruk-tif. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1980 menunjukkan bahwa hampir sepertiga (28,4 persen) kematian di Indonesia dise-babkan oleh penyakit paru. Pada survai berikutnya di tahun 1986 angka ini ternyata meningkat menjadi 30,5 persen, sehingga berdasar-kan survai kesehatan rumah tangga nasional terbaru ini tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa 1 di antara 3 kematian di negara kita disebabkan oleh penyakit paru.Di Indonesia, asma, bronkitis dan emfisema merupakan penyebab kematian ke 10, sementarabronkitis; asma dan penya-kit saluran napas lain menduduki peringkat ke lima dalam pola morbiditas di negara kita.

Negeri Jiran

Di negara tetangga atau jiran kita seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Singapura, bronkitis, emfisema dan asma merupakan penyebab kematian ke delapan. Penelitian di Amerika Serikat mendapatkan prevalensi asma sekitar 3 persen, sementara di Inggris angkanya adalah sekitar 5 persen. Penelitian pada guru-guru di India menghasilkan prevalensi asma sebesar 4,1 persen, sementara laporan dari Taiwan menunjukkan angka 6,2 persen.

National Health Interview Survey di Amerika Serikat memperkirakan bahwa setidaknya 7,5 juta orang penduduk negeri itu mengidap bronkitis kronik, Iebih dari 2 juta orang menderita emfisema dan setidaknya 6,5 juta orang menderita salah satu bentuk asma. Di tahun 1981 di Amcrika Serikat dilaporkan ada 60.000 kernatian akibat PPOM dan keadaan yang berhubungan dengannya.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report 2000 menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4 persen dari seluruh kematian di dunia, masing-masing infeksi paru 7,2 persen, PPOK 4,8 persen, tuberkulosis 3,0 persen, kanker paru/trakea/bronkus 2,1 persen, dan asma 0,3 persen.

Kelima penyakit ini menurut indikator Bank Dunia merupakan 13,3 persen dari seluruh Disability-Adjusted Life Years. Laporan WHO tahun 1999 menyebutkan, penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut (termasuk pneumonia dan influenza), yaitu 3,5 juta kematian setahunnya.

Dok SP - Para perokok sering mengabaikan larangan merokok di ruang publik

Pesan WHO

WHO menyatakan bahwa penyakit yang menjadi pembunuh utama di kawasan negara berkembang sudah bergeser dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Dari seluruh kematian di dunia tahun 2000 (55.694.000 kematian), ternyata 59 persen di antaranya akibat penyakit tidak menular, sedangkan 9,1 persen akibat kecelakaan dan sisanya akibat penyakit menular serta penyakit lain.

Beberapa penyakit tidak menular utama adalah penyakit paru, yaitu yang tergolong dalam chronic respiratory diseases (CRD) atau penyakit paru kronik dan kanker paru.

Buku SEAMIC Health Statistic 2002 menunjukkan bahwa setidaknya tiga penyakit paru merupakan bagian dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia, yaitu pneumonia, tuberkulosis, serta bagian dari neoplasma ganas. Sementara itu, infeksi saluran pernapasan akut memang sudah sejak lama selalu jadi urutan utama dalam pola morbiditas-dan kadang-kadang mortalitas-di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Dalam hal konsumsi rokok, yang jelas amat memengaruhi kesehatan paru, Indonesia menduduki urutan kelima. Lima negara dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia berturut-turut adalah China yang mengonsumsi 1.643 miliar batang rokok per tahun, Amerika Serikat dengan konsumsi 451 miliar batang setahun, Jepang dengan konsumsi 328 miliar batang setahun, Rusia dengan konsumsi 258 miliar batang setahun, dan Indonesia (215 miliar batang setahun).

Konsumsi rokok di negara kita meningkat secara persisten sejak tahun 1970-an. Prevalensi merokok penduduk dewasa usia 15 tahun ke atas meningkat dari 26,9 persen tahun 1995 menjadi 31,5 persen pada tahun 2001, yang disebabkan meningkatnya prevalensi merokok pada laki-laki dari 53 persen menjadi 62,2 persen selama kurun waktu tersebut, sementara pada kaum perempuan tidak ada perubahan berarti. *

Sumber : Suara Pembaharuan

Anthuriumku

November 22, 2007

Assalamualaikum

anthuriumkuAlhamdulillah 2 buah benih beserta pot kecil yang dikasih mertua kini telah tumbuh besar dan sedap dipandang mata. 1tahun persis benih itu tumbuh dan tidak menyangka beberapa bulan yang lalu menjadi primadona pecinta tanaman bunga dengan nilai jual ratusan juta rupiah.

Seorang tetangga bercerita bahwa temannya menukar 2buah anthurium tipe jemani dengan sebuah Kijang Innova terbaru.

Sementara tetangga yang lain bercerita bahwa tanaman kesayanagnnya ini rahib dicuri orang.

Begitu hebohnya jenis tanaman “raja” ini hingga mengalahkan primadona lainnya.

Akankah anthurium mampu bertahan ditengah jutaan tanaman hias lainnya, atau tergerus seperti pendahulunya adenium dan aglaonema.

Tanaman apa lagi yang kira-kira akan menjadi primadona lagi…???

Wassalamualaikum

Musuh-Musuh Anthurium

Tanaman anthurium memang memberi citra sebagai tanaman yang gagah, bermartabat, dan eksklusif. Citra itu tentu saja harus dijaga dengan perawatan yang baik. Daun anthurium yang koyak, berlobang, atau berwarna kuning atau hangus terbakar jelas akan menurunkan citranya. Berikut adalah musuh utama anthurium yang harus diwaspadai:

Hama
Kutu Daun (Aphis sp.)
Kutu daun hidup bergerombol pada daun muda atau pucuk daun dan helaian mahkota bunga. Hama ini menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan sel, yang mengakibatkan pucuk atau bunga merana atau menjadi keriting. Kutu daun mengeluarkan cairan madu yang dapat mengundang datangnya semut.

Thrips (Thrips sp.)
Hama ini menyerang pucuk dan bunga anthurium dengan cara mengisap cairan sel yang mengakibatkan permukaan daun berwarna keperakan atau kekuningan seperti perunggu. Kadang-kadang daunnya juga menjadi keriting atau melintir.

Ulat Daun dan Kumbang (Lema sp.)
Kedua hama ini merusak daun secara tidak beraturan sehingga menyebabkan terganggunya proses fotosintesis. Serangan yang berat dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tanaman.

Cara Mengatasi
Solusinya, potong bagian tanaman yang terserang, dan semprot tanaman dengan insektisida, seperti Decis 2,5, atau Curakron dengan dosis yang dianjurkan pada label kemasan. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari agar tidak menguap.Untuk menghalau semut, bisa menggunakan Furadan.

Jamur dan Bakteri
Penyakit Bercak Daun
Pada daun timbul bercak-bercak berwarna cokelat. Apabila diamati, di pusat bercak tadi terdapat konidium cendawan berbentuk gada memanjang atau benang yang lentur. Penyebab penyakit ini adalah jamur Cerrospora anthurii (Mycosphaerella anthuii Miles).

Penyakit Bercak Antraknosa
Bagian yang diserang adalah daun, tangkai daun, dan bunga. Akibatnya pada tempat yang diserang tadi muncul bercak cokelat, berlekuk, dan tidak teratur. Penyebabnya adalah jamur Collectotrichum anthurii Del.
Penyakit Busuk Batang atau Busuk Daun
Gejala yang tampak adalah batang dan daun berwarna kecokelatan dan membusuk. Penyebabnya bakteri yang dipicu oleh drainase media yang kurang baik sehingga tercipta kondisi lingkungan yang jelek

Cara Mengatasi
Solusinya, pangkas habis bagian tanaman yang sakit, dan semprot dengan fungisida, seperti Dithane M-45 atau Agrept. Gunakan dosis sesuai dengan yang tertera pada label.
Untuk mencegah munculnya hama atau penyakit di atas, upayakan agar kita selalu menciptakan sanitasi tanaman atau kebun yang baik. Dan yang tak kalah penting, adalah menciptakan media tanaman yang porous sehingga menjamin drainase berjalan baik agar perakaran tanaman juga dapat tumbuh sehat.

(Dikutip dari buku Pesona Anthurium Daun karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta)

Syarat Hidup Anthurium

Tanaman anthurium termasuk tanaman yang bandel dan tidak manja. Jadi, memiliki dan merawat tanaman anthurium tidak repot. Tanaman ini, misalnya, tak butuh pemangkasan seperti pada tanaman cemara udang. Juga tak terlalu digemari kutu atau hama seperti pada tanaman sikas.

Anthurium juga dikenal sebagai tanaman dari keluarga arracae yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Yang paling penting, jangan abaikan beberapa persyaratan hidup dibawah ini:

A. LOKASI:
Pada dasarnya, di Indonesia, tanaman anthurium dapat beradaptasi dengan baik di segala tempat: baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Namun untuk menjamin pertumbuhan anthurium yang bagus, daerah atau lingkungan tumbuh ideal bagi anthurium adalah di dataran menengah (medium) sampai dataran tinggi (antara 600 m – 1.400 m dpl).

B. SUHU:
Anthurium daun tumbuh ideal di dataran sedang yang bersuhu 24—28º C pada siang hari dan 18—21º C pada malam hari. Karena pada suhu tersebut menyebabkan perangsangan produksi klorofil (zat hijau daun) lebih banyak, sehingga warna daunnya menjadi lebih hijau. Namun, tanaman yang gampang perawatannya ini juga dapat beradaptasi dengan baik di daerah dataran rendah yang bersuhu 28—31º C pada siang hari dan 21—25º C pada malam hari.

C. KELEMBABAN:
Kelembapan adalah jumlah kandungan air di udara pada suatu lokasi. Anthurium dapat hidup pada kelembapan cukup tinggi, yakni 60—80%. Kalau kelembapan kurang dari 60%, tanaman akan cepat layu. Sedangkan, jika kelembapan lebih dari 80% akan memicu tumbuhnya jamur pada media sehingga mengancam kesehatan tanaman. Penyiraman pada tanah atau semprotan air yang lembut pada tanaman dapat meningkatkan kelembapan. Untuk mengukur kelembaban, gunakan Higrometer, alat pengukur suhu, yang bisa dibeli di toko2/ apotek di kota anda.

D. SINAR MATAHARI:
Sebagai tanaman yang hidup di daerah menengah dan tinggi, Anthurium tidak tahan terhadap panas matahari langsung. Tanaman anthurium yang menerima sinar matahari secara langsung atau berlebihan akan mengalami dehidrasi: daun-daunnya mongering atau hangus terbakar.

Sebaliknya bila kekurangan cahaya juga dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu. Misalnya, daun menjadi pucat atau lemas.

Yang ideal, anthurium membutuhkan tempat yang semi teduh (semi naungan). Kira-kira, lingkungan yang menerima sinar matahari dengan intensitas cahaya sekitar 30-60 %.

Jika Anda tinggal di dataran rendah seperti Jakarta, atau Surabaya, sebaiknya menggunakan shading net, yang berukuran 65% atau jika lokasi Anda di dataran menengah bisa menggunakan shading net berukuran 55%.

E. ANGIN DAN SIRKULASI UDARA:
Angin dan sirkulasi udara berkaitan erat dengan hal-hal yang sudah sebut di atas. Dalam kondisi suhu udara meninggi, maupun rendah sirkulasi udara bisa menjaga kestabilan kelembaban.

F. AIR:
Seperti halnya pada tanaman lain, air merupakan unsur penting untuk pembentukan akar, cabang, daun dan bunga. Namun dalam soal air, bagi Anthurium bisa dibilang, “malu-malu tapi mau”. Tepatnya, dia membutuhkan media tanam yang lembab. Penyiraman hanya dilakukan bila media telah kering. Media yang becek tergenang air, tidak bersahabat bagi tanaman ini. Kebanyakan air siraman, bisa membuat anthurium celaka, karena akar anthurium membusuk.

Penyiraman sebaiknya dilakukan dua hari sekali hanya bila cuaca panas atau pada musim kemarau. Tapi bila musim hujan, lihat kondisi dulu. Kalau media masih basah, penyiraman tidak perlu dilakukan.
Kalau bisa, selalu gunakan air yang bersih dan bebas dari pencemaran.

G. MEDIA TANAM:
Media tanam memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan anthurium.

1. Syarat Media Tanam
• Derajat keasaman (pH) media tanam yang ideal bagi anthurium adalah 6—7. Namun, anthurium masih mungkin hidup di media ber-pH 5,5 atau 6,5. Pada pH 7 atau netral, anthurium dapat tumbuh optimal karena ketersediaan unsur hara pada media terpenuhi dan ada jaminan kemampuan akar dalam menyerap nutrisi atau zat hara. Angka pH sangat penting karena berpengaruh pada kandungan unsur hara di media. Media disebut masam (tanda media miskin hara) jika angka pH di atas 7, dan disebut basa jika pH ada di bawah angka 7. Pada kondisi media asam, . umumnya cendawan lebih mudah tumbuh, meski ada juga cendawan yang tumbuh pada media ber-pH netral atau sedikit basa seperti jamur fusarium.
Cara untuk menaikkan pH media tanam, taburkan dolomit secara bertahap. Dolomit mengandung kalsium dan magnesium karbonat. Sebaliknya jika media dianggap terlalu basa, kita bisa menaburkan belerang pada media tanam. Cara yang paling praktis, ganti saja media tanamnya.
• Porositas adalah kemampuan media dalam menyerap air. Tingkat porositas tanaman di setiap daerah berbeda-beda. Di daerah dataran rendah yang berudara panas, sehingga tingkat penguapannya tinggi, media harus mampu menahan air sehingga tidak mudah kering. Sedangkan di daerah dataran sedang dan tinggi yang umumnya sering hujan, gunakan media berporositas tinggi atau tidak boleh mengikat air terlampau banyak. Komposisi media yang digunakan sangat menentukan tingkat porositasnya.
• Steril artinya media harus terbebas organisme yang dapat menyebabkan penyakit, seperti bakteri, spora, jamur, dan telur siput. Cara melakukannya cukup gampang, ada yang mengukus media tanam, menjemur seharian di terik matahari, menyiram media dengan air panas, ada juga yang merebus pupuk kandang sebelum digunakan. Cara lainnya yang sering dipraktikkan adalah menebarkan Furadan atau Basamine G ke media tanam untuk meracuni semut atau cacing.

2. Jenis dan Komposisi Media Tanam
Bahan organik yang digunakan bisa berupa pupuk kandang, kompos, humus, cincangan pakis, serutan kayu, dan arang. Komposisi media yang digunakan bisa berbeda-beda untuk setiap petani atau nurseri, tergantung pada iklim setempat.
Berikut beberapa variasi komposisi media yang selama ini dianggap ideal.
- Pakis dan Sekam bakar (arang sekam) dengan perbandingan 1 : 4.
- Sekam bakar dan pupuk kandang yang difermentasi dengan perbandingan 1: 1.
- Cacahan pakis dan kadaka (1:1).
- Pakis, humus, dan pupuk kandang (1:1:1).
Fungsi masing-masing komponen media:
• Pakis mempunyai rongga udara yang banyak, membuat akar tanaman bisa berkembang dengan nyaman dan memperoleh air dengan mudah. Pakis dikenal sebagai bahan campuran media yang bisa menyimpan air dalam jumlah cukup, sekligus drainase dan aerasinya mantap. Daya tahannya sebagai bahan media juga baik, yakni tidak mudah lapuk. Sangat layak digunakan di daerah dengan curah hujan tinggi.
• Sekam bakar dianggap memiliki daya serap terhadap air yang sedikit, tetapi aerasi udaranya sangat baik. Sekam disarankan sebagai bahan campuran media, tetapi digunakan sekitar 25% saja, karena dalam jumlah banyak akan mengurangi kemampuan media dalam menyerap air
• Pupuk kandang, baik berupa kotoran unggas atau ternak, atau humus dianggap memiliki kandungan N yang sangat menunjang dalam pembentukan daun, menjadikan daun lebih sehat dan segar serta membentuk sel dan jaringan pada tanaman.

Disarankan, setiap komponen dari media tersebut, disterilkan, guna menjaga tanaman terhindar dari jamur dan bakteri. Sterilisasi yang lazim dilakukan adalah dengan mengukus atau menyiram dengan air panas terlebih dulu pada komponen-komponen tersebut.

(Dikutip dari buku Pesona Anthurium Daun karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta)

Memilih Pot untuk Anthurium Anda

Anthurium sangat pantas dan cocok ditanam sebagai tanaman hias dalam pot (pot plant) dibanding ditanam di tanah atau di kebun. Sebagai tanaman pot, kita punya keuntungan khusus. Tanaman bisa dipindah-pindahkan penempatannya, sesuai keinginan kita.
Penempatan tanaman di pot yang pas, niscaya juga akan meningkatkan penampilan anthurium. Wajar, jika penanaman di pot tidak boleh dianggap sepele.
Dengan kata lain, pot tidak boleh dianggap sekadar wadah untuk menampung media dan menaruh tanaman. Persisnya, pot harus dianggap sebagai elemen penting agar tanaman enak dipandang mata.

Jenis Pot:
Ada banyak pilihan pot, Masing-masing ada segi plus-minusnya.

Pot plastik. Lebih awet, ringan, dan harga relatif lebih murah. Mudah diperoleh. Warna, bentuk dan ukuran beragam. Itu keuntungannya. Minusnya, pot plastik tidak memiliki pori-pori yang menjamin air dapat tetap meremebes keluar jika terlalu jenuh. Hal itu membuat aliran udarta dalam media tanam juga jadi kurang lancer. Efeknya, suhu dalam pot gampang naik sehingga bisa mengganggu kesehatan anthurium.

Pot porselen atau tembikar. Harga relatif lebih mahal. Tidak mudah diangkat, karena berat. Pot ini juga tak memiliki pori-pori di dindingnya. Keuntungannya, pot keramik beragam, dari yang polos sampai yang bercorak. Suka tidak suka, anthurium akan tambah berwibawa ditaruh di pot keramik.
Pot semen. Pot semen kaya akan bentuk dan biasanya diberi ornament seperti pecahan kaca, kulit kerang atau kerikil. Dinding berpori-pori, sehingga jika air berlebih bisa keluar. Repotnya, bobotnya biasanya berat. Dibutuhkan beberapa orang untuk mengangkatnya.

Pot tanah liat. Dindingnya berpori-pori, menjamin air tidak akan berlebihan di dalam media sehinga suhu udara di dalam media juga stabil. Kelebihan lain, pot tanah liat tidak berat dan harganya relatif lebih murah. Celakanya, pot tanah liat sangat rentan, dan mudah pecah. Salah-salah angkat, pot pecah, media tanam berantakan dan tanaman rusak.

Memilih Pot yang Proporsional:
Rumus yang harus kita pegang dalam memilih pot untuk anthurium adalah proporsionil agar tanaman enak dilihat. Tentu sangat tidak porporsional dan kurang estetis, jika anthurium yang tinggi daunnya mencapai 1 meter, ditanam dalam pot berdiameter 40 cm. Atau sebaliknya, sangat tidak pantas, anthurium yang panjang daunnya ‘hanya’ 30 cm, ditempatkan di pot berdiameter 45 cm.

Ada jenis anthurium yang keunggulannya terletak pada bentangan daun-daunnya yang mengembang seperti sayap burung. Untuk anthurium jenis ini, seyogyanya gunakan rumus sbb: Jika diameter bentangannya mencapai 1 meter, pilih diameter pot yang berukuran lebih kecil sekitar 20 persen dari bentangan daun tersebut. Jadi pot yang pas, adalah yang berdiameter 80 cm. Jika bentangan daunnya hanya 60 cm saja, maka gunakan pot berdiameter 35 atau 40 cm. Begitu seterusnya.
Untuk jenis-jenis anthurium tertentu, pot yang simetris dan proporsional saja belum cukup. Misalnya pada anthurium yang memiliki daun berjurai ke bawah seperti anthurium vetchii, kita masih harus menambah pilar di bawah pot, untuk memberi efek ekslusif pada sang anthurium.

Secara umum, untuk anthurium yang memiliki sosok gagah, akan lebih terlihat mempesona kalau ditaruh di pot dengan stegger pilar di bawahnya. Kesannya ekslusif.

(Dikutip dari buku PESONA ANTHURIUM DAUN, karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta)

Tips Membeli Anthurium

Anthurium punya banyak ragam, jenis, nama populer, selain nama-nama lokal dan ukuran bermacam-macam. Misalnya saja, jangan sampai Anda membeli anthurium indukan setingi satu meter dengan bentangan 1,5 meter, jika rumah Anda sempit. Atau, hanya karena murah, Anda membeli bibit yang membutuhkan waktu lama dan kesabaran untuk merawatnya. Orang lain menyebut Anthurium golok, tapi Anda menyebut pedang, atau tombak. Anda menyebut ular kobra, tapi orang lain menganggapnya berbentuk ular sanca. Pusing kan?
Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan jika tidak ingin sesat di jalan:

1. Tanaman anthurium banyak jenis dan ragamnya. Demikian juga sosok atau ukurannya. Ada yang kecil ada yang besar. Tentukan dulu ukuran anthurium jenis yang ingin Anda beli dengan menyesesuaikan tempat yang Anda miliki. Jangan sampai Anda membeli anthurium indukan setingi satu meter dengan bentangan 1,5 meter, jika rumah Anda sempit.

2. Anthurium memiliki banyak nama, termasuk memiliki nama-nama yang populer. Jangan hanya membeli nama. Ingat, yang Anda beli adalah tanaman. Jadi belilah hanya tanaman yang sehat, yang menurut hati nurani Anda bagus, apa pun jenis anthuriumnya. Nama besar tapi anthurium tersebut tidak sehat, tidak berarti apa-apa.

3. Tanaman anthurium banyak menggunakan nama-nama lokal yang umumnya sekadar menunjukkan bentuk yang menyerupai sesuatu. Terus terang, hal seperti ini bisa sangat subyektif. Orang lain menyebut Anthurium golok, mungkin saja Anda menyebut pedang, atau tombak. Anda menyebut bentuknya seperti ular kobra, tapi orang lain mungkin menganggapnya berbentuk ular sanca.

4. Anthurium termasuk tanaman yang membutuhkan waktu lama dalam pertumbuhannya, sejak dari bibit sampai menjadi tanaman yang sedap dilihat. Jangan hanya karena murah, Anda membeli bibit anthurium, apalagi yang masih dalam bentuk kecambah. Dibutuhkan waktu lama dan kesabaran untuk merawatnya. Anda harus menimbang kemampuan tersebut. Betapapun, kalau Anda mantap, dan ada uang, beli saja tanaman dewasa. Tanaman dewasa umumnya sudah enak dilihat: tumbuh kompak, subur, kuat dan bisa langsung dipajang (atau bahkan bisa langsung dijual lagi, jika ada untung).

5. Anthurium punya banyak ragam..Beli hanya di nursery langganan yang terpercaya, untuk menjamin Anda membeli tanaman yang bagus. Atau jika Anda memburu anthurium jenis tertentu, Anda tidak tertipu.. Sedikitnya, kalau salah, Anda bisa komplain.

6. Jangan malu bertanya tentang segala sesuatunya, seperti cara perawatan, pemupukan dan lain sebagainya. Malu bertanya sesat di jalan. Nursery terpercaya adalah nursery yang bisa dan siap menjawab setiap pertanyaan Anda.

(Dikutip dari buku Pesona Anthurium Daun karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta)

Kiat Memelihara Anthurium

Penampilan tanaman athurium yang prima selalu menjadi dambaan setiap pemiliknya. Untuk dapat memiliki anthurium yang mantap, prima, eksklusif dan megah, serta sedap dipandang mata, perawatan jelas menjadi kunci utama.

A. PENYIRAMAN:
Penyiraman memegang peran penting untuk menjamin pertumbuhan anthurium yang sehat. Namun demikian selalu disarankan, penyiraman tidak boleh berlebihan. Air tidak boleh sampai tergenang, atau media sampai becek. Secara ringkas, penyiraman anthurium hanya berfungsi untuk menjaga kelembaban media saja.

Yang ideal penyiraman dilakukan satu hari sekali, pada pagi hari sebelum pukul 10.00 atau sore hari setelah pukul 17.00, untuk menghindari penguapan. Pada musim kemarau, atau saat suhu sangat tinggi dan kelembaban udara juga meningkat, jadwal penyiraman boleh dilakukan 2-3 kali sehari. Apabila media masih basah, penyiraman tidak perlu dilakukan. Penyiraman yang terlampau sering justru menyebabkan tanaman busuk dan memicu munculnya penyakit.

Upayakan menggunakan air yang bersih dan terhindar dari pencemaran. Penyiraman bisa dilakukan dengan sprayer ke arah media tanamnya, bukan pada daunnya untuk menjaga agar daun tidak robek.

B. PEMUPUKAN:
Pupuk dasar bagi anthurium adalah NPK. Di pasaran saat ini tersedia pupuk NPK dalam bentuk slow release seperti Dekastar atau Osmocote. Apabila menggunakan pupuk ini, pemupukan cukup dilakukan enam bulan sekali. Pupuk NPK diberikan dengan cara disebar di sekitar tajuk tanaman. Jumlahnya, mengikuti petunjuk yang tertera pada kemasan.
Jenis pupuk yang diberikan, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan fase pertumbuahnnya:
• Pada tanaman muda, gunakan pupuk dengan kandungan N (Nitrogen) yang tinggi untuk merangsang pertumbuhan vegetatif.
• Pada saat tanaman sudah mencapai fase generatif, bisa diberikan pupuk dengan kandungan P (Phospor) dan K (Kalium) yang tinggi guna merangsang munculnya bunga.
Selain pupuk dasar NPK, sebaiknya juga diberikan pupuk kandang atau humus sedikitnya setahun sekali. Pupuk kandang yang digunakan harus steril. Untuk anthurium daun, banyak hobbyst menambahkan dengan menyemprotkan pupuk majemuk, seperti Gandasil atau Atonik sesuai aturan. Disebut pupuk majemuk karena kandungannya tidak hanya NPK tetapi juga ada unsur tambahan.

C. PENEMPATAN:
Anthurium sebaiknya ditempatkan di tempat semi teduh. Tepatnya, lokasi dengan intensitas cahaya antara 30-40%. Misalnya, di teras rumah, halaman rumah di bawah pohon pelindung, atau ruangan dalam dekat jendela.
Jika diletakkan di dalam rumah, sebaiknya taruh dekat jendela atau yang terkena cahaya matahari. Anthurium yang diletakkan di dalam rumah, sebaiknya di keluarkan secara berkala. Sedikitnya 3 hari sekali selama sehari penuh. Karena tanaman yang terlalu lama bnerada di dalam ruangan, cenderung membuat daun-daunnya pucat. Jika ruangan ber-AC, daun menjadi kering dan warna hijau menjadi kusam.
Jika diletakkan di halaman terbuka, harus menggunakan shading net yang memiliki ketebalan 60%, yang memungkinkan hanya 40 % cahaya masuk. Jangan terlalu gelap, atau teduh. Ini bisa membuat pertumbuhan fisik tanaman terganggu. Misalnya, tangkai daun anthurium yang mestinya bertangkai pendek, menjadi memanjang, bentuk daun yang mestinya bulat, menjadi runcing, dan berbagai perubahan lainnya. Yang selalu harus diingat, jangan sampai anthurium kita terkena cahaya matahari langsung, daun anthurium bisa terbakar (necrosis) dan musnah sudah keindahan anthurium sebagai tanaman hias berdaun indah.

D. PERAWATAN DAUN:
Daun adalah bagian dari anthurium yang paling spesial. Kalau daun anthurium kotor penuh debu, atau sobek, kadar ketistimewaannya dengan sendirinya akan merosot.
Untuk menjaga agar daun-daun anthurium kita selalu kinclong dan ngejreng, tentu saja kita harus menjaganya dari kotoran atau debu. Kalau dianggap perlu, boleh saja kita melapnya dengan tissue basah atau kain halus yang basah, setiap hari.
Sedang untuk menjaga agar daun-daun anthurium yang kita sayangi tidak sobek, atau hangus terbakar matahari sebaiknya kita meletakkan tanaman anthurium di tempat yang kita anggap paling aman baik dari lalulintas orang lalulalang maupun cahaya matahari langsung.

E. SANITASI:
Yang dimaksud sanitasi di sini adalah kebersihan yang meliputi kebersihan lingkungan, media tanam dan alat kerja. Harus diingat, bahwa kondisi lingkungan dan cuaca jelek, terutama di musim hujan sering-sering memicu munculnya berbagai jenis penyakit seperti bakteri atau jamur.
Media tanam selalu dianjurkan steril. Tujuannya, juga untuk mencegah munculnya
cendawan.

(Dikutip dari buku Pesona Anthurium Daun karangan Kurniawan Junaedhie, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta)

sumber: www.toekangkeboen.com