Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Tiap Tahun 2,2 Juta Perokok Meninggal karena Penyakit Paru-paru

November 27, 2007

Pengantar

Indonesia saat ini menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia. Tak adanya aturan hukum yang tegas, mengakibatkan tak terkendalinya penjualan dan usia konsumen rokok, padahal bahayanya sudah cukup jelas dan tercantum di setiap bungkus rokok. Wartawan SP Eko B Harsono menyorotinya dalam tulisan di bawah ini.

Dok SP - Penyediaan ruang khusus bagi para perokok diharapkan dapat meminimalisasi jumlah korban akibat rokok

Saat ini terdapat 1,2 miliar perokok di dunia ini. Kebiasaan merokok berhubungan dengan terjadinya 25 jenis penyakit di tubuh manusia. Separuh dari para perokok akan meninggal oleh berbagai penyakit akibat rokok. Di dunia juga terdapat 2,2 juta kematian akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) setiap tahunnya.

Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah kelompok penyakit paru yang disebabkan terganggunya aliran udara. Istilah PPOK digunakan untuk menggambarkan penderita bronkitis kronis, emfisema, atau kombinasi penyakit itu. Batuk disertai dahak atau sputum, sulit bernapas atau napas pendek dan merasa lelah adalah gejala PPOK.

“Bronkitis kronis timbul pada kira-kira 85 persen dari kasus PPOK secara global,” kata Prof Antonio Anzueto dari Universitas Texas, Amerika Serikat, kepada wartawan di Singapura, pekan lalu. Bronkitis sendiri merupakan peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru).

Seperti diketahui, sejumlah peneliti independen melakukan penelitian besar khusus meneliti antibiotik global guna mengamati dampak dari acute exacerbations of chronic bronchitis (AECB) atau serangan singkat dan parah seperti batuk yang parah, tidak dapat bernapas dan produksi ludah atau air liur berlebihan.

“Dalam penelitian kami terbukti pasien yang mendapat pengobatan antibiotik jenis moxifloxacin atau produk Avelox hanya dalam waktu lima hari sangat membantu menekan penyebaran virus dan membunuh virusnya. Penelitian dilakukan di 48 negara di dunia dan melibatkan 50.000 pasien,” ujar Profesor Antonio Anzueto.

Merokok sigaret atau kretek adalah faktor risiko paling nyata bagi penyakit dan infeksi saluran napas. Sekitar 85 hingga 90 persen penderita AECB atau PPOK mempunyai riwayat merokok. Penyebab AECB atau PPOK lainnya termasuk faktor-faktor genetik, perokok pasif, dampak pekerjaan, polusi udara, dan kemungkinan jalan napas yang hipersensitif.

Penyakit bronkitis sebenarnya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Namun, pada penderita yang memiliki penyakit menahun, seperti jantung dan paru-paru serta berusia lanjut, bronkitis bisa memperburuk keadaan dan mengakibatkan kematian.

Bronkitis biasanya terjadi karena infeksi seperti radang tenggorokan, campak, dan batuk rejan. Penyakit ini disebabkan virus dan bakteri. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru serta saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari sinusitis kronis, bronkektasis, alergi, dan pembesaran amandel pada anak-anak.

Dua Tipe

Sedangkan dr Marc Miravitlles dari Institut Clinic del Torak Spanyol pada kesempatan itu menjelaskan sejauh ini terdapat dua tipe bronkitis, yakni akut dan kronis. Bronkitis akut ditandai dengan batuk berdahak kekuningan dan demam. Bronkitis akut biasanya juga mengenai bagian paru lainnya.

Sementara bronkitis kronis ditandai dengan batuk lama, berdahak banyak, dan terutama terjadi pada saat tidur atau pada pagi hari. Penyakit ini biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas.

Dewasa ini diperkirakan 2,5 juta orang meninggal setahun-nya di dunia akibat penyakit yang berkaitan dengan rokok. Di pihak lain, konsumsi rokok di negara-negara maju turun sekitar 1,1 persen per tahunnya, sementara konsumsi rokok di negara ber-kembang malah meningkat 2,1 persen per tahunnya. Data pada suatu kongres kanker paru di Swedia, menyebut-kan 75 persen pria Indonesia dan 4 persen wanitanya perokok. Survai kesehatan rumah tangga Departemen Kesehatan RI mendapatkan 52,9 persen pria dan 3,6 persen wanita adalah perokok. Konsumsi rokok di Indonesia adalah 770 batang per kapita. Tahun 1989 produksi rokok Indonesia adalah 141 miliar batang. Angka itu di tahun 1986 hanyalah 119;6 miliar, dan bila tidak dilakukan tindakan apa-apa maka diperkirakan di tahun 1997 produksi rokok akan melonjak menjadi 300 miliar batang. Kebiasaan merokok merupakan faktor penting terjadinya kanker paru dan PPOM. Risiko perokok untuk mendapat kanker paru berkisar antara 2,5 sampai lebih dari 20. Sementara itu, perkiraan risiko untuk perokok mendapat bronkitis kronik berkisar antara 1,5 sampai 7,1. Rasio kematian perokok akibat kanker paru berkisar antara 2,3 sampai 25,10. Departemen Kesehatan Amerika Serikat telah menghitung seluruh kerugian yang dialami negara itu akibat kebiasaan merokok. Mereka mendapatkan kerugian US$ 52,34 miliar setahunnya, artinya US$ 221 per kapita. Berbagai penyakit paru kini merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi, tuberkulosis maupun non tuber-kulosis, asma dan penyakit paru obstruktif menah un, kanker paru dan juga penyakit paru akibat kerja merupakan contoh penyakitpenyakit yang punya dampak luas di masyarakat. Khusus untuk kita di Indonesia, penyakit-penyakit infeksi paru masih merupakan penyebab kematian yang amat penting dan masih sering pula dijumpai dalam pola morbiditas yang ada, demikian pula dengan asma bronkial dan penyakit paru obstruk-tif. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1980 menunjukkan bahwa hampir sepertiga (28,4 persen) kematian di Indonesia dise-babkan oleh penyakit paru. Pada survai berikutnya di tahun 1986 angka ini ternyata meningkat menjadi 30,5 persen, sehingga berdasar-kan survai kesehatan rumah tangga nasional terbaru ini tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa 1 di antara 3 kematian di negara kita disebabkan oleh penyakit paru.Di Indonesia, asma, bronkitis dan emfisema merupakan penyebab kematian ke 10, sementarabronkitis; asma dan penya-kit saluran napas lain menduduki peringkat ke lima dalam pola morbiditas di negara kita.

Negeri Jiran

Di negara tetangga atau jiran kita seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Singapura, bronkitis, emfisema dan asma merupakan penyebab kematian ke delapan. Penelitian di Amerika Serikat mendapatkan prevalensi asma sekitar 3 persen, sementara di Inggris angkanya adalah sekitar 5 persen. Penelitian pada guru-guru di India menghasilkan prevalensi asma sebesar 4,1 persen, sementara laporan dari Taiwan menunjukkan angka 6,2 persen.

National Health Interview Survey di Amerika Serikat memperkirakan bahwa setidaknya 7,5 juta orang penduduk negeri itu mengidap bronkitis kronik, Iebih dari 2 juta orang menderita emfisema dan setidaknya 6,5 juta orang menderita salah satu bentuk asma. Di tahun 1981 di Amcrika Serikat dilaporkan ada 60.000 kernatian akibat PPOM dan keadaan yang berhubungan dengannya.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report 2000 menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4 persen dari seluruh kematian di dunia, masing-masing infeksi paru 7,2 persen, PPOK 4,8 persen, tuberkulosis 3,0 persen, kanker paru/trakea/bronkus 2,1 persen, dan asma 0,3 persen.

Kelima penyakit ini menurut indikator Bank Dunia merupakan 13,3 persen dari seluruh Disability-Adjusted Life Years. Laporan WHO tahun 1999 menyebutkan, penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut (termasuk pneumonia dan influenza), yaitu 3,5 juta kematian setahunnya.

Dok SP - Para perokok sering mengabaikan larangan merokok di ruang publik

Pesan WHO

WHO menyatakan bahwa penyakit yang menjadi pembunuh utama di kawasan negara berkembang sudah bergeser dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Dari seluruh kematian di dunia tahun 2000 (55.694.000 kematian), ternyata 59 persen di antaranya akibat penyakit tidak menular, sedangkan 9,1 persen akibat kecelakaan dan sisanya akibat penyakit menular serta penyakit lain.

Beberapa penyakit tidak menular utama adalah penyakit paru, yaitu yang tergolong dalam chronic respiratory diseases (CRD) atau penyakit paru kronik dan kanker paru.

Buku SEAMIC Health Statistic 2002 menunjukkan bahwa setidaknya tiga penyakit paru merupakan bagian dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia, yaitu pneumonia, tuberkulosis, serta bagian dari neoplasma ganas. Sementara itu, infeksi saluran pernapasan akut memang sudah sejak lama selalu jadi urutan utama dalam pola morbiditas-dan kadang-kadang mortalitas-di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Dalam hal konsumsi rokok, yang jelas amat memengaruhi kesehatan paru, Indonesia menduduki urutan kelima. Lima negara dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia berturut-turut adalah China yang mengonsumsi 1.643 miliar batang rokok per tahun, Amerika Serikat dengan konsumsi 451 miliar batang setahun, Jepang dengan konsumsi 328 miliar batang setahun, Rusia dengan konsumsi 258 miliar batang setahun, dan Indonesia (215 miliar batang setahun).

Konsumsi rokok di negara kita meningkat secara persisten sejak tahun 1970-an. Prevalensi merokok penduduk dewasa usia 15 tahun ke atas meningkat dari 26,9 persen tahun 1995 menjadi 31,5 persen pada tahun 2001, yang disebabkan meningkatnya prevalensi merokok pada laki-laki dari 53 persen menjadi 62,2 persen selama kurun waktu tersebut, sementara pada kaum perempuan tidak ada perubahan berarti. *

Sumber : Suara Pembaharuan

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ghozan.blogsome.com/2007/11/27/tiap-tahun-22-juta-perokok-meninggal-karena-penyakit-paru-paru/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.