Kematian Paman Gober
Assalamualaikum…
Boleh jadi negara saat ini berkabung dengan meninggalnya mantan penguasa rezim orde baru Jendral Soeharto yang mana tepat di hari ini 28 Januari 2008 jenazah dimakamkan di Astanagiri bangun Solo Jawa Tengah.
Namun tidak demikian dengan semua rakyat Indonesia, meskipun pemerintah telah mengumumkan sebagai hari berkabung nasional dengan mengibarkan bendera merah putih setengah tiang.
Tidak juga dengan diri ini….
Entah kenapa seakan sejarah Indonesia telah dinina bobokan selama 32tahun.
Saya bukan korban secara langsung dari rezim orba, akan tetapi saya dan anak saya mungkin juga cucu dan cicit dapat merasakan langsung akibatnya.
Tahun 1965 saat Soekarno meninggalkan hutang U$ 2 milyar dengan kurs 1 U$ Rp. 45, tapi saat Soeharto turun meninggalkan hutang U$ 150 milyar dengan kurs 1 U$ Rp 15000.
Utang Luar Negeri Indonesia 1998 : US$ 150 billion
Utang Luar negeri Indonesia 1998/kapita : US$ 750
Utang Luarnegeri Indonesia terhadap PDB : 169 %
Utang dalam negeri Indonesia 1998 : Rp 650 trilyun
Sementara hampir sebagian besar sumber daya alam yang ada sudah ludes dihisap namun hutang masih tetap menumpuk.
Soekarno dan Soeharto sama-sama diktator, namun mana yang lebih Korup…???
Saya jadi teringat tulisan Seno Gumira Aji th 1994 dalam sebuah ankedot tentang kematian paman gober.
Selamat tinggal Pak Soeharto.
Semoga Allah SWT menerima amal baik semasa hidupnya.
Wassalam,
Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma
Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang
bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk
Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal :
apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat,
terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya
berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana,
segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah
berhenti bertambah.
Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa
saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir
selalu berkata, “oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu.”
Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok,
pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang,
hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata,
uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.
Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah
bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia
tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras
malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek,
hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak
pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang
dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper
selalu diakalinya.
Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap,
menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada
dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam,
tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi
Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun
keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa
dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis
dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi
modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi
dari Kota Bebek.
Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang
mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan
bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi
legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit.
Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi,
pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang
itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski
hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan,
tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang
meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah
tertidur sembari bermimpi makan roti apel.
“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.
“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.
“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.
Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu
dari depan pintu ke ruang tengah.
“Belum mati juga!”
Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada
lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita.
Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan
pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.
Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik
yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap
untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup
uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn
membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau
mati. Ia sudah siap untuk mati.
“Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap
masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua
Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya,
sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang
mampu menjadi ketua?”
Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin
Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses.
Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober
memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai
sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah
tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang,
Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa,
ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung
seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai
seperti tidak ada calon yang lain lagi.
“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”
Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek
menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya.
Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek
bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada
tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.
“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”
“Apakah saya tidak punya hak bicara?”
“Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”
“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”
“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”
“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”
“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”
“Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat
manusia?”
Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk
menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau
Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun
kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu
menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga
semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.
“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa
jadinya Kota Bebek?”
Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan
diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan
arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan
duniawi.”
“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini.
Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah
hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa
mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang,
sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”
Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi
berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu
pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan
Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek,
dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah
kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi.
Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak
mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir
keabadian Paman Gober sudah semestinya.
Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup
Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek
terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek
Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin
canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin
meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling
kaya di dunia.
“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.
” Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.
“Apakah itu hakikat hidup bebek?”
“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”
Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus
menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya
telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia
bagai tak tergantikan.
Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota
Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari
nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca
berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.
Jakarta, 16 Agustus 1994








