Bagaimana memilih kriteria Dokter yang baik dan bagus..???
Assalamualaikum
Dari milis sehat, berkembang dari waktu ke waktu wacana dokter yang baik dan bagus.
Tak jarang kerap orang tua dibuatnya binggung mencari dokter yang baik dan bagus.
Apakah dokter yang baik adalah dokter yang mempunyai pasien banyak atau yang gampang memberikan obat-obatan…..???
Meskipun kelihatannya seperti mencari jarum di tumpukan jerami atau seperti menegakan benang basah, namun Kita coba untuk mendapatkan sedikit yang “cacat”.
saya coba rangkum sedikit jawaban dari para orang tua atas pengalamannya berkunjung ke dokter, siapa tahu bermanfaat buat Kita semua.
Ada beberapa kriteria dokter yang baik dan bagus menurut pandangan Kami sebagai konsumen kesehatan di Indonesia
1. Dokter yang Komunikatif
Kenapa diperlukan dokter yang komunikatif adalah agar supaya arus komunikasi kita tidak macet alias dua arah, sehinga Kita bisa mendapatkan atau meminta informasi yang sejelas-jelasnya. Paling tidak 5W2H (What, When, Where, Why, Who, How, How Much) terpenuhi.
2. Dokternya mau mendengarkan
Ini penting sekali, tidak sedikit dijumpai dokter yang langsung mengambil kesimpulan tanpa mau mendengarkan penjelasan dari si pasien secara utuh/ detail.
Si pasien baru menyampaikan sepatah dua patah kalimat sudah langsung di cut.
3. Dokternya tidak arrogant
Kalau sudah seperti ini, apa yang mau diharapkan.
Bagaimana komunikasi terbentuk kalau kemudian dokter hanya memandang sebelah mata terhadap si pasien, seolah-olah dialah yang paling tahu segala-galanya…dengan menganggap pasien tidak tahu apa-apa.
Atau kemudian yang keluar adalah kata-kata yang tidak mengenakan untuk di dengar.
Mohon maaf…sekedar contoh dari pengalaman Kami….
- Saya ini sudah tua…sudah praktek berpuluh-puluh tahun lebih tahu dari Anda.
- Saya ini kuliahnya bertahun-tahun, bukan cuma dari internet.
Perlu Kita sadari bersama……bahwa dunia ini berputar…teknologi berkembang dengan cepatnya….pun dunia kedokteran.
Barangakali yang dulu disampaikan A bisa saja karena perkembangan dunia dan sebab-sebab lainnya berubah menjadi B, sementara Kita wabil khusus dokter tentu dituntut untuk selalu update dalam segala macam informasi.
4. Dokternya mengerti kewajiban dan hak pasien maupun maupun hak dan
kewajiban dokter.
Tanpa harus ditanya, seandainya informasi itu memang perlu untuk disampaikan ke pasien barangkali saja pasiennya lupa tentu sampaikan juga.
Sampaikan bahwa obat ini begini…begini dan begini…..efek sampingnya begini..begini…dan begini…..
Lebih baik pakai yang generik karena begini…begini..dan begini…..kalau memang harus membeli yang patent sampaikan dengan jujur kareana alasan medis terhadap si pasien…mungkin saja alregi…dlsb.
5. Dokternya melakukan tatalaksana sesuai dengan guideline yang sudah
ada.
Ini yang paling sering menjadi masalah, karena kita tidak tahu semua tatalaksana dari
setiap penyakit, dan untuk itu Kita mengunjungi dokter.
Nah biasanya kita baru sadar setelah mendapatkan 2nd opinion atau 3rd opinion dari dokter yang lain, atau setelah membaca-baca informasi dari internet, baik lewat postingan teman, milis atau web site.
Perlu kita sadari bersama….bahwa informasi di internet tidak 100% benar, bahkan Kita harus pandai-pandai mencari informasi dari sumber yang reliable, bahkan salah informasi bisa berakibat fatal.
6. Dokternya rasional dalam penggunaan obat atau terapi apapun
Ini juga sangat penting sekali terkait dengan ESO (Efek samping Obat)
Tidak sedikit dokter yang dengan mudahnya meresepkan 4 sampai 5 obat dalam sekali kunjungan, dan anehnya dari pengalaman saya setelah bertanya-tanya ke teman (dokter) dan internet dan juga sharing dari para orang tua…tidak sedikit obat yang diresepkan hanya satu atau dua saja yang berhubungan dengan diagnosanya, selebihnya tidak……………..
Sungguh sangat ironis memang…..dan memang sudah menjadi rahasia umum mohon maaf…tidak sedikit dokter yang “bermain” dengan industri farmasi.
Sehingga bukan saja pasien yang dirugikan…selain mahal juga tubuh yang lama-kelamaan bisa menjadi resisten dan teracuni sehingga merusak organ tubuh…terutama yang mudah di serang adalah liver dan ginjal. tentu juga merusak citra profesionalism dunia kedokteran di Indonesia.
Dan ini sudah terbukti sekarang di tengah-tengah masyarakat berkembang fenomena enggan berkunjung ke dokter.
Ironis…sungguh sangat ironis dan sangat prihatin sekali saya.
Entah sampai kapan akan seperti ini……
7. Dokternya tidak commercial
Beda tipis dengan point no 6 caranya adalah dengan memperbanyak pemeriksaan atau terapi yang tidak dibutuhkan. Ceritanya sih untuk menegakkan diagnose.
8. Dokternya bersedia dihubungi bila kita butuh bantuan by phone, sms atau juga e-mail.
9. Dokternya antrian pasiennya pendek.
Perlu kita sadari bersama…..
Dari sisi saya sebagai konsumen kesehatan, tolong dokter juga manusia tenaganya terbatas.
Kalau memang dirasa antriannya sudah panjang…carilah dokter lainnya atau kalau memang tidak mendesak coba tunda jadual kunjungannya.
Dan juga tolong…..hargai Kami juga sebagi pasien…..jangan lantaran kasihan antrian sampai 100orang..jam praktek sampai di perpanjanggggggggggggggggggggg……sampai-sampai Rumah Sakit membuatkan ruang praktek khusus…..eleh…eleh…eleh…….
Akhirnya yang timbul apa……pemeriksaan bisa super cepat…..sehingga komunikasi tidak berjalan dengan baik.
Siapa yang di rugikan…tentu dokter dan pasien.
Tolong….tolong ini Kita sadari bersama……
Ada juga kasus…karena sangat komunikatifnya si dokter….hal-hal diluar pasien yang sedang berkunjung…mungkin karena saudara….atau teman dekat yang sakit….juga ditanyakan.
Kasihan yang masih antri dibelakang…….dan juga bisa jadi bayaran jadi nambah.
Jadi sekali lagi….yuk Kita sadari bersama.
Jangan hanya sekedar mencari dokter yang baik dan bagus atau RUM ( Rational Used Of Medicine ) tanpa kita mau belajar menjadi bijak dan rational terlebih dahulu.
Jadilah konsumen kesehatan yang cerdas.
Jadilah dokter yang baik dan benar serta rasional dan bijak.
Barangkali Anda mempunyai kriteria yang lain atau pengalaman yang lain, silakan berbagi bersama..???
Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan
Wassalamualaikum








