Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Duka Untuk Negeriku

April 5, 2008

Assalamualaikum….

Sedih…sedih dan sedih…

Saya belum bisa berbuat apa-apa.

Dari hari kehari para pemimpin Kita disibukan oleh urusannya sendiri-sendiri.
Belum lagi panasnya gelombang Pilpres 2009 dan terkatung-katungnya nasib sudaraku yang tertimpa musibah korban lumpur lapindo di Porong-Sidoarjo…Gizi Buruk…Korupis…..dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya.

Untuk yang kesekian kalinya hati ini terasa tercabik-cabik membaca berita di sebuah koran harian Tempo, seorang Ibu berjalan 18KM atau 8jam demi memperjuangkan nyawa buah hatinya.

Dimanakah hati nuarani Kita….

Ya Rabb……maafkanlah hamba-Mu yang hina ini……yang tidak bisa berbuat apapun….

Ya Rabb….berikanlah kelapangan rezeki…..kebahagaian…dan kesehatan…bagi saudara-saudaraku yang bernasib kurang baik.

Ya Rabb…..bukakanlah hatinurani pemimpin-pemimpinku agar lebih peka terhadap rakyatnya.

Ampunilah segala kekhilafan Kami Ya Rabb.

Wassalamualaikum

Delapan Jam Menyelamatkan Nyawa Bayi

Anak berusia 10 bulan itu dibawa berjalan selama 7 jam lebih demi mendapatkan perawatan dokter. Kedua orang tua angkatnya berjalan dari Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Soebandi, Jember. Jarak dari desanya ke rumah sakit itu 18 kilometer.

Gurat wajah Rita–nama anak itu–masih menyisakan rasa sakit. Kelopak matanya lesu dan kuyu.

Jarum dan slang infus masih menempel di punggung tangan kirinya. Di sebelahnya, Ny Mariyah, 36 tahun, terlihat sabar menungguinya kemarin pagi. “Alhamdulillah, samangken kole’ en ampon cellep. Tak mencret. Bisa ngeddha tedhung (Alhamdulillah, sekarang kulitnya sudah tidak panas. Tidak mencret. Bisa tidur nyenyak),” ujarnya kemarin.

Sudah sejak 10 hari lalu Rita terserang panas. Di tubuhnya juga mulai muncul bercak merah. “Makin lama makin parah,” kata buruh tani lepas itu.

Rita adalah kemenakan Mariyah. Ibunya, Sumiyati, dan bapaknya, Rohim, sejak Agustus 2007 mencoba mengadu peruntungan menjadi TKI ilegal di Malaysia.

Kondisi ekonomi keluarga Mariyah memang serba kekurangan. Mariyah tak bisa memenuhi gizi yang dibutuhkan bayi seusia Rita.

Sebagai pengganti air susu ibu, Mariyah memberi Rita susu bayi formula. Agar bisa membeli susu, tak jarang Mariyah harus menukarkan beras atau jagung.

Ketika kondisi Rita mulai parah, Kamis lalu Mariyah dan suaminya membawa Rita ke seorang bidan di kompleks perumahan di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, yang terletak sekitar 15 kilometer di selatan dusun mereka. Dengan bekal uang hanya Rp 8.000, keduanya menggendong Rita menuju rumah bidan itu.

Dengan berjalan kaki, kedua orang itu menapaki jalanan gelap. Di sepanjang jalan, tangis Rita membahana. Setiba di rumah bidan, sang bidan menyarankan agar dibawa ke puskesmas. Sang bidan memberinya uang Rp 10 ribu.

Di puskesmas dibilang kondisi Rita sudah parah. Mantri yang bertugas menyarankan agar Rita dibawa ke RSUD Soebandi, Jember.

Setiba di rumah sakit, Rita divonis kena gizi buruk. “Kondisinya parah,” kata dokter Ramzi Syamlan.

Rita hanyalah salah satu kondisi bayi yang memprihatinkan. Masih banyak lagi kondisi bayi yang seperti ini. MAHBUB DJ

Sumber : Tempo