Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Perokok Pasif yang Juga Menderita

May 16, 2008

16/05/2008 - Scientific Medicastore


Bahaya rokok tidak hanya mengancam perokok saja, namun orang yang tidak merokok yang ada di sekitar perokok (disebut perokok pasif) juga ikut menderita. Ada bukti kuat bahwa lingkungan yang tercemar asap rokok menimbulkan permasalahan kesehatan yang serius.

Tercatat 3.000 kematian karena kanker paru dan 35.000 kematian karena serangan jantung setiap tahunnya pada perokok pasif yang hidup bersama perokok. Orang yang tidak merokok dapat juga merasakan iritasi mata, sakit kepala, mual, pusing, serta dapat menyebabkan asma dan penyakit pernapasan lainnya.

Asap rokok yang dihembuskan oleh perokok akan juga ikut terhirup oleh mereka yang tidak merokok. Asap ini meliputi mainstream smoke dan sidestream smoke. Mainstream smoke merupakan asap yang diisap dan kemudian dihembuskan ke udara oleh perokok. Sedangkan sidestream smoke adalah asap yang muncul langsung dari rokok yang dibakar.

Udara yang dipenuhi asap rokok mengandung bahan kimia yang sama berbahayanya dengan asap yang diisap oleh perokok. Sesungguhnya, sidestream smoke yang terbentuk pada temperatur yang lebih rendah, mengandung racun dan bahan penyebab kanker (karsinogenik) yang lebih besar dibandingkan dengan mainstream smoke.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 700 juta anak, atau hampir separuh anak-anak di dunia, bernapas dengan menghirup udara yang tercemar oleh asap rokok. Kebanyakan mengalami hal ini di rumah, mungkin karena orang tua atau anggota keluarga yang merokok. Anak-anak ini akan lebih rentan terkena asma, pneumonia, bronkhitis, infeksi telinga, batuk, napas berbunyi, dan peningkatan produksi lendir (mukus).

Bayi dari orang tua yang merokok akan memiliki peluang besar kematian. Sementara wanita hamil yang terlalu sering menghirup asap rokok akan berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan kemungkinan melahirkan prematur atau keguguran.

Asap rokok yang terperangkap di udara akan dihirup oleh semua orang. Baik perokok maupun orang yang tidak merokok akan terkena dampak yang dapat membahayakan kesehatan. Organisasi Buruh Sedunia (ILO) memperkirakan setidaknya ada 200.000 pekerja yang meninggal setiap tahunnya karena terpapar asap rokok di tempat kerja.

Ada sekitar 4000 bahan kimia dalam asap rokok yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) serta penyakit pernapasan yang serius. Pada orang dewasa, penyakit tersebut dapat berujung pada kematian.

Pada tahun 2005, penggunaan tembakau menyebabkan 5,4 juta kematian, atau rata-rata satu kematian tiap enam detik. Apabila kecenderungan ini terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2030 jumlah kematian akan mencapai angka 8 juta. Padahal sesungguhnya, kematian karena rokok (dan produk tembakau) dapat dicegah.

Tembakau membunuh separuh dari penggunanya. Keseluruhan ada 29% orang di dunia yang mengisap tembakau. Prevalensi perokok di dunia sebanyak 47,5% adalah laki-laki dan 10,3% adalah perempuan.

Ada lebih dari 1 milyar perokok di dunia. Lebih dari 80% hidup di negara dengan income yang rendah sampai menengah. Apabila tidak ada tindakan nyata yang dilakukan, diperkirakan pada tahun 2030 ada lebih dari 80% kematian yang terkait dengan penggunaan tembakau di negara berkembang.

Tembakau menyebabkan 100 juta kematian pada abad ke 20. Jika kecenderungan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kematian akan melonjak sampai 1 milyar pada abad ke 21.

Untuk mengatasi permasalahan global tentang penggunaan tembakau, WHO mengeluarkan rekomendasi terbaru yang tertuang dalam “WHO Report on the Global Tobacco Epidemic 2008” berupa enam strategi yang disingkat menjadi MPOWER:

* Monitor tobacco use and prevention policies (Memonitor penggunaan tembakau dan kebijakan pencegahannya).
* Protect people from tobacco smoke (Melindungi umat manusia dari asap tembakau).
* Offer help to quit tobacco use (Menawarkan bantuan untuk menghentikan kebiasaan menggunakan tembakau).
* Warn about the dangers of tobacco (Memberi peringatan akan bahaya tembakau).
* Enforce bans on tobacco advertising, promotion and sponsorship (Memberlakukan larangan terhadap iklan, promosi atau sponsor tembakau).
* Raise taxes on tobacco (Meningkatkan cukai tembakau).

Asap rokok bukanlah perkara sederhana. Paparan terhadap asap rokok menimbulkan biaya ekonomis tersendiri. Baik langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan biaya medis dan kehilangan produktivitas yang harus dibayarkan.

Tidak ada batasan aman dalam paparan asap rokok. Hanya lingkungan yang 100% bebas asap rokok yang dapat memberikan perlindungan paling efektif terhadap kesehatan. Bukankah udara bersih adalah hak setiap manusia di bumi ini? Jadi, berhentilah merokok sekarang juga!

Sumber : Medicastore

Remaja dan Rokok

16/05/2008 - Scientific Medicastore

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari satu milyar perokok di dunia. Hampir dua per tiganya ada di 10 negara, dan Indonesia ada di urutan ke tiga. Setengah dari jumlah tersebut akan mati karena rokok.

Di Indonesia, prevalensi merokok pada orang dewasa (usia 15 tahun ke atas) yakni pria 63,1% (naik 1,4% dibandingkan tahun 2001) dan wanita 4,5% (tiga kali lipat dibandingkan tahun 2001). Sementara prevalensi merokok pada anak-anak (usia 13-15 tahun) perinciannya pada anak laki-laki 24,5% dan anak perempuan 2,3%. Sebanyak 30,9% dari anak-anak yang merokok ini telah mulai merokok sebelum berumur 10 tahun.

Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah perokok pemula (usia 5-9 tahun) naik secara signifikan. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun (2001-2004) persentase perokok pemula naik dari 0,4 menjadi 2,8%.

Membaca fakta di atas mungkin membuat anda terheran-heran. Terlintas di benak anda, sudah sedemikian parahkah epidemik rokok di Indonesia? Dan mengapa terjadi kecenderungan perokok pemula adalah remaja yang nyatanya masih sangat muda?

Bukan hanya di Indonesia saja. Rokok telah menjadi permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh seluruh dunia. Rokok telah menjadi permasalahan global.

Remaja, Sasaran Industri Rokok

Dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh setiap tanggal 31 Mei, tahun ini WHO mengangkat tema Tobacco-Free Youth dengan didasari kenyataan bahwa anak remaja perlu dilindungi dari ancaman penggunaan tembakau.

Sebanyak 1,8 miliar anak usia 10-24 tahun hidup di dunia. 85% diantaranya hidup di negara berkembang. Setelah melalui masa kanak-kanak yang penuh kerentanan terhadap penyakit, mereka menghadapi ancaman rokok (penggunaan tembakau) yang dapat merusak kesehatan mereka.

Merokok dapat menimbulkan kecanduan. Kebanyakan remaja meremehkan bahaya rokok terhadap kesehatan dan mereka yakin mampu untuk berhenti kapan saja mereka mau. Namun dengan adanya sifat adiksi (ketergantungan) yang ditimbulkan oleh nikotin, pada akhirnya sulit bagi mereka untuk berhenti.

Ketahuilah bahwa semakin muda usia seseorang ketika memutuskan untuk mulai merokok, maka semakin besar peluangnya untuk menjadi perokok berat ketika dewasa.

Tindakan untuk bereksperimen, mencoba-coba mengisap rokok oleh para remaja, yang didorong secara agresif oleh industri rokok, akan dengan mudah membawa remaja kepada ketergantungan tembakau seumur hidup.

Ada beberapa alasan yang membuat remaja merokok, diantaranya:

* Pengaruh orangtua
Keluarga yang tidak harmonis dan mencontoh dari orang tua yang juga perokok.
* Pengaruh teman
Kebanyakan remaja pertama kali merokok karena pengaruh teman. Remaja perokok akan mempunyai teman yang sebagian besar adalah perokok juga.
* Pengaruh diri sendiri.
Remaja merokok dengan alasan ingin tahu atau melepaskan diri dari masalah dan rasa bosan.
* Pengaruh iklan
Banyaknya iklan rokok di media cetak, elektronik, dan media luar ruang telah mendorong rasa ingin tahu remaja tentang produk rokok.

Salah satu cara yang efektif untuk melindungi remaja dari bahaya rokok yakni dengan melarang iklan atau promosi rokok, termasuk sponsor dari industri rokok pada berbagai aktivitas, seperti kegiatan musik, olahraga, film layar lebar, seni dan budaya, hingga keagamaan.

Yang Dapat Dilakukan Orang Tua

Jika anak remaja anda merokok, sebagai orang tua, anda dapat mencoba melakukan strategi berikut:

* Bicara dengan anak anda, tanyakan apakah teman-temannya merokok.
* Dengarkan pendapat anak tentang merokok.
* Bantu anak untuk mengungkapkan pendapatnya tentang tekanan dari teman sebaya dan kebiasaan merokok.
* Dorong anak anda untuk menikmati energi dan kesehatan dengan maksimal.
* Katakan akibat sosial merokok, seperni napas dan pakaian yang akan bau rokok.
* Beri contoh dengan tidak merokok.

Sumber : Medicastore

Dampak Merokok bagi Kehidupan

16/05/2008 - Scientific Medicastore


Ada berbagai hal yang menjadi latar belakang seseorang menjadi perokok. Awalnya mungkin hanya rasa penasaran dan sekedar ingin mencoba. Namun efek adiksi yang ditimbulkan oleh nikotin membuat sebagian besar orang terbawa ke dalam ketergantungan seumur hidup terhadap tembakau.

Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 1 dari 10 kematian pada orang dewasa disebabkan oleh penggunaan tembakau. Pada tahun 2005, penggunaan tembakau menyebabkan 5,4 juta kematian atau rata-rata satu kematian setiap 6 detik. Bahkan pada tahun 2030 diperkirakan jumlah kematian mencapai angka 8 juta.

Saat sebatang rokok disulut dan asapnya mulai diisap, sejumlah bahan kimia akan beredar ke berbagai organ vital dalam tubuh, yakni paru-paru, jantung dan pembuluh darah. Tubuh akan terkontaminasi dengan bahan kimia yang dapat menyebabkan kanker dan kecanduan.

Asap rokok mengeluarkan lebih dari 40 bahan kimia penyebab kanker, juga sejumlah kecil racun lainnya seperti arsen dan sianida serta lebih dari 4000 bahan kimia lainnya.

Salah satu bahan kimia dalam rokok adalah nikotin. Nikotin akan membuat anda ketagihan rokok dan membuat kecanduan. Nikotin akan meningkatkan zat kimia otak yang disebut dopamin, yang akan membuat anda merasa senang. Dopamin inilah yang mengakibatkan proses kecanduan tersebut.

Karbonmonoksida yang anda hirup dari asap rokok menggantikan oksigen di sel-sel darah dan mengambil zat makanan dari jantung, otak dan organ tubuh lainnya. Merokok juga mematikan indra pengecap dan penciuman sehingga makanan tidak lagi selezat biasanya.

Efek langsung yang dialami oleh orang yang merokok misalnya: aktivitas otak dan sistem saraf yang mula-mula meningkat lalu kemudian menurun, perasaan euforia ringan, merasa relaks, meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung, menurunnya aliran darah ke anggota badan seperti jari-jari tangan dan kaki, pusing, mual, mata berair, asam lambung meningkat, menurunnya nafsu makan, dan berkurangnya indera pengecap dan pembau.

Sementara efek jangka panjang dari penggunaan tembakau adalah timbulnya berbagai penyakit, antara lain:

* Kecanduan nikotin
* Berbagai macam kanker, terutama kanker paru, ginjal, tenggorokan, leher, payu dara, kandung kemih, pankreas dan lambung. Satu dari enam pria perokok akan menderita kanker paru.
* Penyakit jantung dan pembuluh darah: stroke dan penyakit pembuluh darah tepi.
* Penyakit saluran pernapasan: flu, radang saluran pernapasan (bronkhitis), penyakit paru obstruktif kronis.
* Cacat bawaan pada bayi dari ibu yang merokok selama kehamilan.
* Penyakit Buerger
* Katarak
* Gangguan kognitif (daya pikir): lebih rentan terhadap Penyakit Alzheimer (pikun), penyusutan otak.
* Impotensi

Survey tahun 1981-1997 pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sedang, dan tinggi, menunjukkan bahwa pada kelompok ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah, pengeluaran untuk merokok naik 227 persen, yaitu dari Rp. 343 per orang per hari menjadi Rp. 779 per orang per hari. Saat ini diperkirakan lebih besar lagi seiring dengan kenaikan harga barang. Perokok harus disadarkan begitu besar biaya yang harus dikeluarkan dari merokok.

Ini merupakan suatu beban ekonomi yang berat mengingat lebih dari separuh pengeluaran digunakan untuk pemenuhan kebutuhan makan. Jelas terlihat dampak merokok terhadap proses pemiskinan. Pengeluaran untuk rokok sebenarnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga (anak balita), khususnya pada keluarga miskin.

Seorang ahli ekonomi kesehatan Soewarta Kosen menyatakan total biaya konsumsi tembakau adalah Rp. 127,4 triliun yang digunakan untuk belanja tembakau, biaya pengobatan akibat sakit mengkonsumsi tembakau, kecacatan dan kematian dini. Jumlah tersebut setara dengan 7,5 kali lipat penerimaan cukai tembakau pada tahun yang sama yaitu Rp 16,5 triliun. Jadi sebenarnya tidak ada keuntungan yang diperoleh negara dari tembakau. Fenomena seperti ini juga terjadi di semua negara.

Sumber : Medicastore