Makin Banyak Remaja Terjerat Rokok
Kamis, 29 Mei 2008 | 01:04 WIB
Jakarta, Kompas - Remaja anak jalanan usia 10-18 tahun di sepanjang jalur rel kereta api jurusan Jakarta-Bogor sebagian besar terjerat rokok. Mereka mengenal rokok umumnya ketika masih anak-anak.
”Hasil survei menunjukkan, 61 persen remaja anak jalanan 10-18 tahun di jalur KA Jakarta-Bogor adalah perokok aktif. Prevalensi laki-laki 66 persen dan perempuan 27 persen,” kata Ketua Badan Khusus Pengendalian Tembakau-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TSCS- IAKMI) Widyastuti Soerojo di Jakarta, Rabu (28/5).
Pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2008 yang bertema ”Remaja Bebas Rokok” ini dipaparkan hasil survei cepat yang dilaksanakan TSCS-IAKMI dan mahasiswa S-1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 400 anak jalanan di jalur rel kereta api Jakarta-Bogor.
Dari survei itu ditemukan 34,5 persen anak jalanan tersebut tak pernah sekolah dan tidak tamat SD, 40 persen hanya tamat SD. Umumnya mereka bekerja di sektor informal, seperti pengamen, pengasong, pengojek, pedagang, penyapu kereta api, serta pemulung, dengan penghasilan kurang dari Rp 20.000 per hari.
Mereka justru membelanjakan lebih dari 20 persen penghasilannya untuk membeli rokok. Kebutuhan akan rokok ini akan terus meningkat karena rokok adalah adiktif.
Pengeluaran tersebut hanya sedikit lebih rendah dari belanja rokok keluarga miskin yang konsumsinya rata-rata 10 batang per hari. Kalau harga rokok dihitung Rp 500 per batang, berarti sebulan menghabiskan Rp 150.000. Ini berarti lebih besar dibandingkan dana bantuan langsung tunai yang besarnya Rp 100.000 per bulan. (LOK)
Sumber : Kompas














