Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Hitam - Putih Metode Glenn Doman

July 17, 2008

Assalamualaikum…

Sejak tahun 2005 pertama kali saya menerima informasi mengenai metode Glenn Doman dari milis sehat dan informasi mengenai metode ini sampai saat ini tidak pernah surut, bahkan berbagai macam media turut serta membombardir informasi ini.

Dan hari ini saya menerima informasi itu dari milis nakita, isinya kurang lebih sbb :

—– Original Message —–
From: uttiek
To: milis-nakita@news.gramedia-majalah.com
Sent: Tuesday, July 15, 2008 2:35 PM
Subject: [milis-nakita] Free Ticket Smart Parents Conference {01}
Dear nakita-ers,

nakita dan Frisian Flag menggelar event akbar dengan mengumpulkan ribuan peserta dalam acara SMART PARENTS CONFERENCE
selama 3 hari berturut-turut mulai tanggal 25-27 Juli 2008 di Lower Lobby-Jakarta Convention Center.
member milis nakita berkesempatan mendapat 50 free ticket untuk acara hari Sabtu, 26 Juli 2008,
masing-masing tiket berlaku untuk 2 orang.
Silakan reply email ini ke uttiek@xxxxxx, sebelum Jumat 18 Juli 2008 untuk mendapatkan tiketnya.

Bukan acaranya nakita kalau tidak bertabur hadiah,
Dengan hadir di acara Smart Parents Conference, Anda berkesempatan untuk mengikuti Smart Parents Contest dan memenangkan hadiah uang tunai serta liburan sekeluarga mengunjungi science center di Singapura.
kami tunggu.

salam,
Moderator

Bila kurang jelas klik disini : http://www.tabloid-nakita.com/iklan/ffbannerjuli.html

Sementara dari tahun ketahun informasi yang saya dapatkan tidak berimbang, untuk itu perkenankan saya untuk memposting diskusi beberapa tahun lalu yang saya ambil dari milis sehat dan juga milis anakberbakat dengan harapan kita sebagai orang tua mampu memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anak kita….generasi masa depan bangsa.

Sudah saatnya Kita harus bangkit…..jangan hanya diam dan menunggu untuk selalu disuapi.

Bangkitlah saudaraku…..

Wassalam
“Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan”– Publilius Syrus (100 SM)

Dari Milis Sehat :

From: Pudji Yulianti Sukri
To: sehat@yahoogroups.com
Date: Nov 18, 2005 6:51 AM
Subject: [sehat] REPOST: Metode Glenn Doman

dear sps,..kebetulan pertengahan tahun yang lalu,. pernah dibahas dimilis
ini juga tentang metode glen doman ini,, disitu juga sudah dijelaskan
panjang lebar oleh ibu julia dan ada beberapa sharing dari sps,..

mudah2an bisa memberikan informasi yang seimbang buat kita dalam mengasuh
dan mendidik anak..

buat sps lama,.. sori yaa…

oh iya satu lagi.. kalo sps tertarik dengan metode flash card,…kalo ga
salah di web sehat ada lho flashcard,.. jadi sps tinggal print aja (lebih
bagus kalo printer-nya berwarna).. trus bisa ditempel di karton or
dilaminating..jadi bisa lumayan irit biaya.. (thanks banget niih sama
bundanya simamat.. hehehe…(

rgds,
-yuli-
mamabumi
=========
PERTANYAAN:

Dear Dr. Wati & SPs?

Mau numpang tanya mengenai metode membaca sambil bermain “Metode Glenn
Doman”?apakah para SPs ada yang punya pengalaman mengenai metode ini ?

Saya ditawari seminar “Bagaimana Mengajar Balita Membaca Sambil Bermain”
pembicaranya : Irene F. Mongkar , Penyelenggaranya : PT Tigaraksa Satria
(maaf nyebut nama).

Sebelum daftar mau konsultasi dulu ke milis? siapa tau ada yang bisa kasih
masukan mengenai penting hal ini, karena pada dasarnya saya tertarik? tapi
takut salah?

Mohon sharingnya ya Dok? dan SP juga tentunya?

Terima Kasih.
Bunda Kayla.
=============
TANGGAPAN:

Yang aku inget dari metoda ini adalah, jangan mengajari anak membaca dengan
memperkenalkan huruf. Jadi kita memperkenalkan tulisan AYAH itu
bacanya “ayah” kemudian tulisan BUNDA itu bacanya bunda dan bukan dieja AYAH
itu terdiri dari huruf A, Y, A, dan H. Caranya dengan membuat
tulisan di karton besar (ukuran 20 x 60 cm, kira-kira) kemudian setiap hari
sambil bermain anak-anak diperkenalkan dengan huruf-huruf itu
sambil bicara. Misalnya saat flashcard-nya bertulisakan AYAH maka yg
ngajarin bilang ayah, trus 5 detik ekmudian ganti dengan flashcard yg
lainm begitu seterusnya. Beberapa waktu yg lalu saya sempat meihat di NGC
beberapa waktu yg lalu (yg membahas ttg metoda ini) diperlihatkan
seorang ibu yg giat “mengajari” anaknya dengan memperlihatkan gambar-gambar
pesawat tempur dan jenis batu-batu. Selang beberapa tahun
kemudian sang anak dites dengan menggunakan flashcard yg dulu digunakan
ibunya ternyata sang anak tidak kenal sama sekali gambar-gambar yg
ditunjukkan.

Rina rinso

==============
Mbak Yulia bundanya Kayla,
Kalau boleh aku berbagi cerita niii…
terus terang aja, aku tuh gak percaya dah sama metode2 kayak
ginian…,buatku hanyalah suatu taktik marketing (apalagi kalo gak salah PT
Tigaraksa ini jualan buku yg muahal2 banget kan yah??), and kenapa yah
“jualan” yang kayak ginian selalu marak di Indo, tapi disini gak ngeblooming
tuh.. Buatku metode paling tokcer mau ngajarin balita/anak membaca yah baca
buku sama2. Tanamkan cinta membaca sejak dini, kalau gak ditanamkan cinta
membaca lah percuma aja toh, banyak anak yang sudah bisa membaca tapi males
baca, malah lebih milih main playstation or game boy..;o).

Mau sharing aja.. Mamatku (3tahun 7 bulan) sudah bisa membaca simple words
(3-4 huruf misalnya cat, dog, dad, shut, door etc)dan tau
phonics dari tiap alphabet (a = ah, b= buh, c=keh..etc)dan konsonan sh, ch.
Terus terang aja aku gak pernah ngajarin secara special set time. Aku sama
bapaknya membacakan dia buku dari masih newborn banget… apa aja deh gak
cuma buku bacaan bayi… kadang catalog belanjaan/supermarket jadi sasaran
juga hehehe..(kalo bapae si mamat emang doyan baca buku banget, kalo emake
si mamat demennya catalog toko..heheh) sambil mangku si Mamat yang masih
bayi banget saat itu, sambil ngeliat catalog supermarket trus aku bilang”
wah Mat, jeruknya lebih murah nih disini (sambil tunjuk gambar jeruk)” sampe
suka diledek emaknya mau menularkan hobi belanja ke anaknya hehehe.. Dari
dia lahir hingga saat ini tiap malam aku/bapaknya sebelum dia tidur selalu
baca buku, sambil baca kita point satu persatu kata2nya, trus sebelum balik
ke halaman selanjutnya, kita tanya tuh seputar cerita
yang kita baca, dan juga suruh dia tunjuk gambarnya.. misalnya kalo lagi
baca buku si Spot the dog, kita tanya “Spot mana?” atau “Spot tuh binatang
apa?” , or “Spot lagi ngapain?” Kami ngelakuin ini bukan hanya untuk
menanamkan dia jadi cinta membaca tapi juga melatih dia untuk konsentrasi
dan menyimak/mengerti apa yang dibacakan. Ke library pun merupakan acara
ritual tiap minggu.. Mamat sekarang hobi banget ke library, dia udah bisa
pilih buku mana yang dia mau pinjam dan tentunya dia tahu banget harus look
after itu buku properly karena minjam.

Karena tiap hari kita selalu membacakan buku, akhirnya mendorong dirinya dia
untuk bisa membaca sendiri. Buku favorite pertamanya adalah buku picture
dictionary. Pengenalan dia pertama dengan huruf, aku belikan dia poster A-Z
yang ada gambarnya misalnya A for Apple, B for Ball.. etc. Trus dia sendiri
yang tanya ini huruf apa? baru deh sambil nyanyi lagu abc aku tunjuk
hurufnya satu persatu.Selain pengenalan huruf aku merasa pengenalan akan
bunyi huruf tersebut sangatlah penting (apalagi dalam bahasa inggris yang
nama huruf dengan bunyinya beda).Karena dia sudah tahu semua bunyi huruf,
akhirnya mendorong dia untuk mengeja dan merangkai bunyi satu persatu hingga
pada akhirnya dia bisa membaca simple word. Inget banget, pertama kali kata
yang dia baca adalah CAR. Saat itu kita lewat car park ada sign gede “CAR
PARK” (tanpa gambar mobil tentunya) trus dia sambil tunjuk dia bilan “mummy,
C-A-R spell car!” kaget campur seneng tentunya aku, trus aku tanya lagi, and
dia bilang “keh (C)-ah (A) -er (R).. car!!” wah langsung deh ta cium and
tentunya kasih pujian. Sejak saat itu dia semangat banget buat belajar baca.

Soal buku… gak perlu beli buku yang muahal2 koq… or mbak bisa bikin
sendiri juga bukunya (jadi deh special book apalagi bikinnya sama2 dengan
Kayla).. misalnya ditempelin fotonya mbak trus ditulis “ini bunda” lalu
fotonya Kayla “ini Kayla”, etc.. trus bikin cerita sendiri dehh ;o)

Ok deh.. sorry banget kalau kepanjangan and gak berkenan..

regards,
Shereen

================
Waaahh…Shereen…bagus juga tuh metode pembelajaran ala “Shereen’ simple,
murah dan mudah dimengerti..dan idenya untuk membuat buku belajar membacanya
sangat bagus sekali… Saya justru lebih setuju jika para orang tua
menerapkan pola pembelajaran dengan metode yang Shereen terapkan…

PAPARAFI

===============
halo, sy Martha, mama Kezia (2th). Wah yg beginian rupanya lagi booming
dimana-mana. Sy pikir cm di Sby aja. Sampe2 pesat4jatim jd kalah pamor
(hiks..sedih).Sekarang ortu berlomba2 membuat anaknya genius
(weleh…weleh).

Metode mengajar anak membaca ala Glenn Doman sudah pernah sy ikuti. Bukan
latah. Bener. Tapi kok ya penasaran aja. Kayak apa sih? Pembicaranya adalah
beliaunya sendiri pengikut Glen Doman di Indo yg notabene pernah mengikuti
beberapa pelatihan di sekolah Glenn Doman sono di Philadelphia.
Malah sy mengikuti workshopnya seharga 300rb (plus buku) yg dimulai dr jam 9
pagi sampai 7 malam. Metodenya mmg seperti yg dijelaskan oleh mbak Rina.
Plus diajarkan jg cara membuat flashcard tsb. Dari jam ke jam sy ikuti,
aduh…(maaf) tidak ada sesuatu yg baru yg sy dapat. Apalagi tidak mengacu
pada satu teori baku yg reliabilitas&validitas nya sdh teruji (maksud saya
mis. berdasar pd teori psikologi y.i tahap perkembangan bahasa).

Ketika ada peserta yg bertanya:”Loh, bu. Kita hanya memberikan/mengajarkan
flashcard ini tanpa boleh menguji anak (ga boleh ngulang yg kita ajarin
dengan mis:hayo ini apa ya?) darimana kita tau bahwa metode ini berhasil?”
Sang narasumber menjawab (dgn setgh tertawa):”Ya darimana-mana
(waduh).Ya pokoknya kita ajarin aja. Kan nggak susah kita cuma butuh
beberapa menit aja.Lebih baik diberikan daripada tidak
samasekali…bla…bla(membeberkan pengalamannya).”

Disela-sela memberikan presentasinya beliau membawa buku2 yg muahal2 itu dan
mempromosikannya. “Kalo yg ini segini, isinya bagus bgt…bla…bla…Coba
kalau anak kita sejak dini uda kita ajarkan dgn….bla…bla…”

Oiya, beliau juga membawa paket flshcard utk dijual seharga ratusan ribu
/paketnya. Pdhl hanya cetakan tulisan berwarna merah tanpa gbr. Sy tertegun.
Sementara dosen sy pernah berbagi cerita kl beliau ditegur oleh guru anaknya
yg baru msk SD karena anaknya belum bisa membaca. Krn dosen sy ini psikolog
ya pasti dia punya alasan kuat utk itu. Masa TK kan masa bermain & bermain &
bermain. Jd tidak perlulah ngotot hrs bisa baca (tp kurikulum ya yg
mengharuskan begitu. Kali perlu direvisi ya?he). Toh pd akhirnya beberapa
saat stlh diajarkan anak dosen sy ini bisa lancar membaca.
Kembali ke workshop yg sy ikuti. Ketika beranjak sore, sy msh mencoba
bertahan&berharap mungkin nanti ada materi yg lebih penting yg akan
diberikan.Tp toh sama sj cm penawaran2 buku. Dann…ketika waktu sdh
menunjukkan pukul 5.30 pm sy sudah nggak tahan.Sy bergegas
pulaaaaang.Kepalasudah mau
EXPLODE.Setengah kesal sy injak pedal gas kenceng2 berharap bisa sgr nemui
Kezia yg agak demam wkt itu.
Yaa bukannya percaya tidak percaya atau berusaha memberi judgement pd pihak
tertentu, tp mungkin bapak/ibu bisa mengambil hikmah dr
pengalaman sy. Biarkan anak-anak menikmati masa bermainnya,
jingkrak-jingkrak, nyanyi,…dsb..tidak usahlah dipaksakan harus bisa ini
dan
itu. Semua kan ada masanya. Jgn dijejali melulu.Beri mrk fun jgn kejenuhan.
Jgn menciptakan2 robot2.Belajar sambil bermain sgt tdk maslah tp tidak usah
memaksa. Apalagi menuntut tinggi2 outcome dr yg kita ajarin. Ajarkan sesuai
tahap perkembangannya&jgn paksakan, shg anak2 kita nantinya bisa tumbuh
matang, ceria, dan kreatif.

Maaf kepanjangan.

Salam,
martha sitompul

==========

Dear Bapak Ibu,

Mengajarkan membaca anak terlebih anak batita, maksudnya bukan mengajarkan
membaca seperti kalau kita mengajarkan anak sekolah. Mengajarkan membaca
batita bisa dicari bacaannya di Webnya Zero to Three org, maksudnya kita
memperkenalkan pada anak bahwa di dunia ini ada kegiatan membaca dengan cara
melatih perilakunya agar ia siap menghadapi kegiatan membaca kelak. Misalnya
saja beri ia buku penuh gambar (bukan tulisan), lalu ajak ia bagaimana
caranya memperlakukan buku, yaitu buku di taruh dimukanya, lalu lembar demi
lembar dibuka. Bukan diuwel uwel apalagi dikunyah kunyah, atau dijejer jadi
mobil-mobilan. Dari mana lembaran bisa dibuka, dan bagaimana kita
mengajaknya menunjuk gambarnya. Lalu bercerita
tentang gambar itu. Hal seperti ini juga akan memperkaya wawasannya.
Misalnya ada gambar buah-buahan yang setiap harinya dimakan. Mainan
dan alat-alat yang setiap hari digunakan.

Jika ia sudah bisa berkonsentrasi mengikuti cerita (sekitar 2,5 tahun)
barulah kita mulai mengajaknya membaca, tetapi bukan ia disuruh membaca,
tapi mendengarkan cerita pendek sambil melihat gambarnya.

Untuk bisa belajar, learning process (proses belajar) seorang anak perlu
menunggu berbagai hal tumbuh kembangnya sampai mencukupi untuk mendukung
belajar membaca, menulis dan berhitung. Mengajar matematika pada bayi kan
nonsen?

Jika sejak bayi kita ketahui anak kita ternyata mengalami gangguan
perkembangan, nah itu harus kita perhatikan lebih ekstra dan lebih
hati-hati, karena ia mempunyai resiko mengalami gangguan belajar. Berbagai
tumbuh kembang yang tertinggal atau melenceng perlu kita stimulasi
perkembangannya, agar disaatnya seorang anak belajar betulan, ia sudah siap.
Contoh, kalau ia mengalami gangguan perkembangan motorik halus, nah anak ini
kita latih-latih agar
motorik halusnya berkembang baik, agar saat sekolah tangannya siap untuk
menulis.

Salam,
JM
================

Sharing aja nih..

Setuju banget nihma Mbak Shereen n papa Rafi..
Aku terrapin ke Kavin 16,5 bln sama aja kok.. minimal sehari sekali ada
acara baca buku bareng? so, anak2 suka n ngerasa diperhatiin.. Pake kartu2
semacam flashcard pernah juga but kurang efektif buat Kavinku yg sukanya ke
mana2.. but kalo sama buku2 cerita , VCD, or liat langsung di sekelilingnya
suka tuh.. bahkan skarang kalo ada buku pasti Kavin ambil n bilang.. “cita..
cita” maksudnya crita..crita.. minta dicritain getu.. Now, Kavin juga udah
ngerti macem2 binatang, alat transportasi, macem org, kosakatanya juga
banyak dsb.. n yg aku bias dikit bang atuh kemajuan bicara Kavin lebih dr
anak2 sebayanya di komples aku..

Btw, setelah aku banyak belajar dr berbagai seminar n berbagai milis or web2
metode pembelajaran anak yg tepat adalah metode dr otunya sendiri?
karna dr metode2 yg diungkapan para ahli tuh gak smuanya bias ditrima oleh
masing2 anak.. Ingat anak adalah pribadi yg unik? so, sebagai ortu kita sih
seharusnya ngerti metode yg cocok buat anak masing2..

Bukan aku tidak setuju dg metode yg diterpkan para ahli or pakar..but,
alangkah baik kita juga tau metode2 tsb tetapi untuk penerapannya perlu
disesuaikan dg kemauan n kemampuan anak.. Yg penting dlm mengajari anak
harus fun n tanpa paksaan.. kalo udah capek ya udah brenti.. yg perlu lagi
juga konsisten dlm mempelajari sesuatu n perlu juga kompak dengan org2 di
sekitar anak? biar anaknya gak bingung.. Kalo perlu punya buku khusu buat
nyatet perkembangan anak.. so, kita nantinya bias gampang mereview apa yg
udah kita jarkan?

Ok deh happy parenting yah..

Uci mamaKavin

============

Dear semuanya,

Metoda ini sudah seliweran bertahunan di milis-milis, tanpa ada yang protes.
kalau ada yang protes, yang jualan marah dan ngajak “berkelahi”.

Untuk bisa tahu apakah metoda ini bermanfaat atau tidak, seharusnya kita
mempelajari saja pola tumbuh kembang dan prinsip prinsip perkembangan otak
dari sumber yang baik. Saya anjurkan sumber yang baik adalah: dari Zero To
Three org. http://www.zerotothree.org/ztt_parents.html
Selain ia juga membahasa berbagai ilmu di luaran (masayarakat yang
membingungkan saat ini) betul atau tidak, mereka juga mengeluarkan majalah,
buku-buku, dan ada radio web yang bisa kita dengarkan.

Sp’s,
Sebetulnya gak susah kok dimana kita bisa berdiri kokoh mengasuh anak kita,
tidak dibingungkan dengan berbagai publikasi yang menyesatkan.
Kalau saja kita selalu berpatokan bahwa tumbuh kembang anak-anak selalu
dipengaruhi oleh masalah nature biologis (genetik) dan nurture pengasuhan.
Nature biologis akan senantiasa menjadi blue print anak itu tumbuh, dan
nurture (pengasuhan) yang baik akan memaksimalkan potensinya. Sehingga ia
akan menjadi anak sebagaimana dirinya. Bukan seperti yang dicita-citakan
oleh kita yang justru cita-cita itu seringkali menyimpang dari karakteristik
dan pola tumbuh kembangnya, itu kalau kita tidak memperhatikan nature
biologisnya.

Ambil contoh, seperti halnya ingin membuat anak menjadi jenius dengan musik
mozart yang dipublish bisa meningkatkan sel sel otak tanpa batas. Itu kan
engga mungkin karena faktor genetik akan mengendalikan besar, pola dan
kecepatan tumbuh kembang.

Glenn Doman dari Human Potensial Institute adalah seorang pencipta ide dari
kelompok yang justru tidak melihat faktor nature biologis. Sehingga sajian
materinya selalu menggiurkan. Mereka, dengan caranya mencoba seorang anak
mempunyai memori yang hebat,memori yang tahan lama (long term tanpa bisa
hilang lagi), detil dan tepat, memori fotografis namanya. Itu tah engga
normal. Seseorang yang mempunyai memori demikian, sebetulnya akan menjadi
anak yang sangat sulit dalam hidupnya. Saya sudah banyak mendongeng tentang
memori fotografis di blog ini.
http://si-entong.blogspot.com/2004/08/memori-fotografis-1.html

Sekalipun anak itu jenius, memori fotografisnya akan hilang juga, karena ia
mampu berfikir kreatif dan analisis. Jika seorang anak yang mempunyai memori
fotografis tapi tidak diikuti dengan kemampuan kreativitas dan analisis, ia
akan menjadi anak tidak normal.

Jadi kita musti hati hati ya Bapak Ibu…Kita curahkan waktu dan perhatian
kita dalam pola tumbuh kembang yang baik, dalam jalur normal.

Salam,
Julia Maria van Tiel

==============

Nah..Si Ibu pakar udah muncul nih?

Thx Mbak Jul? masukkan Mbak Jul sangat berarti buat aku.. terutama setelah
seminar online bebrapa wkt lalu di milis WRM (ingat gak yg sampe
benjol2.. n jd rame diskusinya gara2 per?an aku ttg metode pembelajaran yg
tepat bai baby..)

Pokoke intinya yg fun2 aja dlm mendidik n mengembangkan potensi anak? serius
tapi santai gitu lah.. jangan terlalu ngoyo dg ambisi/ego ortu
secara pribadi? Sekali lagi ingat setiap anak tu diciptakan secara unik..
gak bisa disamakan satu sama lain dlm hal pngasuhan or pembelajaran..

n ternyata ok menerapkan teori NATURE + NURTURE.. Kavin aku 16,5 bln jd
lebih happy n lebih bisa bekembang sesuai minat n kesukaannya…. suka
baca2 gambar n suka nyanyi (walo masih dikit kurang jelas..)

Salam,
Uci mamaKavin

==========
— In sehat@yahoogroups.com, “ade” wrote:
> Ya, saya sependapat dengan mbak Intan dan mbak Heni.
> Memang pola pembelajaran yang baik menurut saya adalah pola pembelajaran
yang diberikan oleh orang tuanya sendiri. Karena orang tuanyalah
yang tahu mengenai luar dalamnya si anak.

Setuju pendapat Ibu Ade,
Banyak saran dalam pendidikan anak bahwa pendidikan/pengasuhan itu
perlu sesuai dengan:
- pola tumbuh kembangnya
- kulturnya
- logis dan realis

Jangan lupa (Mamakavin gak pernah lupa… he he) bahwa setiap anak akan
selalu membawa pengaruh dari nature-nya (genetik sebagai blue printnya) dan
nurture-nya (pola pengasuhan).

Jika mau mendongengkan siapa Glenn Doman, panjang dan menarik juga. Di
Amerika ia dikelompokkan sebagai orang yang melakukan quackery dan health
fraudulent (penipuan dalam bidang kesehatan), karena memperdagangkan
programnya untuk menyembuhkan (katanya) anak-anak cacat mental, mental
retarded, dan brain damage (yang sebetulnya long live disabilities yah!).
Menurutnya bisa disembuhkan. Sehingga banyak orang tua mengambil anaknya
dari pendidikan sekolah khusus yang mengajarkan kemandirian dan sosialisasi
(menyiasati kemampuan si anak agar ia mampu menyandang gangguan tsb dan
mampu hidup di tengah-tengah masyarakat). Anaknya dibawa ke Glenn Doman,
tidak boleh sekolah karena harus ditreat 40 jam seminggu (menyita waktu
ya?). Hasilnya? Abusing terhadap mental anak menjadi stress, waktu anak
tersia-sia untuk mempelajari kemandirian, dan menyikat habis duit orang
tuanya, orang tuanya berkelahi kiri kanan dengan saudara, dlst.

Glenn Doman sekarang sudah tua, usahanya diteruskan oleh putrinya Jannet
Doman tetapi tetap membawa nama bapaknya. Usahanya engga lagi ke arah
anak-anak cacat, tapi mengikuti trend terakhir menjadi The Prodigy Makers
(pembuat super baby jenius) dengan dasar teorinya yang justru bertentangan
dengan berbagai temuan ilmiah. Para The Prodigy Makers ini juga selalu
dicaci maki oleh berbagai fihak termasuk Zero to three org, karena membuat
bingung para orang tua dengan berbagai teorinya yang kelihatan ilmiah tetapi
ngawur. Lebih seru lagi kalau bisa membaca bukunya Edward F Zigler dengan
judul The First Three Years & Beyonds. Disana banyak deh ditampilkan
berbagai masalah dan dilema pengasuhan anak batita. Rusuhnya banyak.

Munculnya The Prodigy Makers ini karena adanya program pemerintah US Early
Head Start yaitu penyantunan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs)
dari keluarga miskin. Oleh pemerintah anak-anak ini diberi full screening
dan berbagai intervensi dini, maksudnya agar nanti saat usia 5 tahun ia
sudah siap secara fisik dan psikis (mental, emosional, percaya diri dlsb)
masuk sekolah (school readiness). Tapi ide pemerintah ini kemudian
diplesetkan oleh kelompok The Prodigy Makers yang umumnya pedagang program
dan buku itu, untuk mengeruk duit para orang tua yang terkesima oleh ide
early intervention ( bukan cuma mulai bayi saja sasarannya, ibu-ibu hamil
juga jadi sasaran, disuruh pakai musik di perut, dibacakan buku cerita dlsb)
lalu dibohongin saja sekalian oleh mereka. Akhirnya ngetrend deh di dunia.
Lagian masak kita mau sih dibohongin orang Amerika itu? Datangnya dari
Amerika, dari negara maju, bukan berarti terus bener lho. Kalau sudah banyak
warning gitu, ya kita ini ngeh lah ya…. masak mau sih ikutan ditipu.
Lagipula negara kita sedang krismon gini… ee kok ya tega…

Di bawah ini ada worning dari Zero to Three:

Salam,
Julia Maria van Tiel

ZERO TO THREE Response to
The Myth of the First Three Years

A book entitled The Myth of the First Three Years has been reported on by
the news media and has created confusion about the significance of the early
years. ZERO TO THREE has developed the following response to help put the
book into perspective for parents, policymakers, professionals and others
who care about babies and toddlers. As you will see, there is no myth about
the importance of the first three years.

www.zerotothree.org/ztt_professionals.html

The Myth of the First Three Years, by John Bruer, is an attempt to
redresssome popular misconceptions about the importance to brain development
of achild’s earliest experiences. The book is an extension of “Education and
the Brain: A Bridge Too Far,” a scholarly article by Bruer that appeared in
the November 1997 issue of Educational Researcher. Bruer, who is president
of the James S. McDonnell Foundation, which awards $18 million annually for
biomedical, educational, and international projects, has no formal training
in either neuroscience or child development. But his “Bridge Too Far”
article provided an astute examination of the ways in which recent findings
in neuroscience have been blown out of proportion and used to imply that we
know how to increase the neural connections in a child’s brain and
ultimately, the child’s intelligence. Take the so-called “Mozart effect,”
for example, the
notion that playing classical music, especially Mozart, will boost a child’s
IQ. This idea was popularized in the press and capitalized on by
entrepreneurs selling Mozart CDs for babies and parents, but it has no clear
foundation in science.

However, in The Myth of the First Three Years, a book written for a popular,
mass audience, Bruer crosses his own bridge and then burns it,taking his
correct observation that the neuroscience of early childhood is,in a sense,
in its own infancy, and leaping to the extreme conclusion thatwhat happens
to a child in the early years is of little consequence tosubsequent
intellectual development. He also suggests that intervening inthe lives of
very young children at risk for poor outcomes in school andadulthood will
have little or no effect. Nothing could be further from thetruth. We are
particularly concerned that readers will come away from this bookconfused
about what babies need and what parents can do to encouragedevelopment, and
that policymakers will see Bruer’s argument as an excuseto ignore the
growing interest and demand for policies and services that support babies,
toddlers, and their families.

The Myth of Boosting Baby’s Brain

ZERO TO THREE agrees with some of Bruer’s assertions. He is right
thatscience has just begun to sort out how the trillions of nerve cells in
achild’s brain are organized during the first three years of life to allow
achild to learn to talk, read, and reason. The application of these new
andexciting findings has sometimes been exaggerated, particularly by
themedia, or used inappropriately to make claims about what
parents,educators, and policymakers should or
should not be doing.Much of the confusion centers on the notion that the
first three years area “critical period,” defined as a window of opportunity
for laying downcircuits in a child’s brain or learning a particular set of
skills thatcloses irrevocably after a set amount of time. What we know from
earlyresearch is that critical periods exist in children only for some
verybasic capacities, such as vision, and to a lesser extent for
learninglanguage. For example, it has been well-documented that young
children canlearn a second language much more easily — and often with
better pronunciation and grammar — than can adolescents or adults. We agree
with Bruer that a child’s brain is not even close to being completely wired
when the third candle on the birthday cake has been blownout. In fact, brain
research suggests the opposite conclusion:

Importantparts of the brain are not fully developed until well past puberty,
and thebrain, unlike any other organ, changes throughout life. The human
brain is capable of learning and laying down new circuitry until old age.
But thisdoes not mean that the first three years are unimportant.

Why the Early Years Are So Important.
While scientists have so far only confirmed a few “critical periods” in
thedevelopment of the human brain, there is no doubt that the first
threeyears of life are critical to the growth of intelligence and to
latersuccess in adulthood. We know from rigorous psychological and
sociological research, and from compelling clinical experience, that early
childhood isa time when infants and toddlers acquire many of the motivations
and skills needed to become productive, happy adults. Curiously, Bruer turns
a blind eye to the immense and crucial social and emotional development that
begins during a child’s first three years, which provides a foundation for
continued later intellectual development.

The importance of the first three years is no myth, and parents and
policymakers must not be misled by Bruer’s book. Following are a few
examples that underscore why and how a child’s intellectual development
rests on social and emotional skills learned in the early years:

1. Development of Trust
Every person needs to learn to trust other human beings in order to function
successfully in society. It is crucial that this sense of trustbegins to
grow during the earliest years. While it is certainly possible tolearn this
later, it becomes much more difficult the older a child gets.Years of living
in an interpersonal environment that is unresponsive,untrustworthy, or
unreliable is difficult to undo in later relationships.

Trust grows in infancy in the everyday, ordinary interactions between
thechild and the significant caregivers. A baby learns to trust through
theroutine experiences of being fed when she is hungry, and held when she
isupset or frightened. The child learns that her needs will be met, that
shematters, that someone will comfort her, feed her, and keep her warm
andsafe. She feels good about herself and about others. Children whose basic
needs are not met in infancy and early childhood oftenlack that sense of
trust, and have difficulty learning to believe inthemselves or in others. We
know this from a
multitude of scientificstudies, including the research of Alan Sroufe and
Byron Egeland, at theUniversity of Minnesota. In a long- term study that
followed infants throughtoddlerhood and into adulthood, Sroufe and his
colleagues found that when children were reared within relationships they
could count on, they hadfewer behavior problems in school, had more
confidence, and were emotionally more capable of positive social
relationships.

2. Development of Self-Control
From the time a child begins to walk, we can see the progress she is making
in mastering an important skill: self-control. Babies do not comeinto the
world knowing that nobody likes it when they bite and hit, or grabtoys and
food from them; they need help from adults to understand thatthese impulses
are not socially acceptable. John Gottman, of the Universityof Washington,
among others, has demonstrated that children who get no helpmonitoring or
regulating
their behavior during the early years, especiallybefore the age of three,
have a greater chance of being anxious,frightened, impulsive, and
behaviorally disorganized when they reachschool. Further, these children are
more likely to rely on more violent or other intimidating means to resolve
conflicts than their peers who havesuccessfully begun the long process of
learning self-control.

3. The Source of Motivation
Another pillar of intellectual development and success in school is
motivation. Infants and toddlers develop this through day-to-day
interactions with responsive caregivers. Responding to the needs of thechild
is a powerful process that builds confidence and an inner sense ofcuriosity.
This motivates the child to learn and has direct effects onsuccess in
school. The more confident a child is, the more likely she is totake on new
challenges with enthusiasm.

The Emotional Foundations of Learning
Trust, self-control, and motivation form the bedrock of a child’s
intellectual development. Intelligence and achievement in school do
notdepend solely on a young child’s fund of factual knowledge, ability to
reador recite the alphabet, or familiarity with numbers or colors. Rather,
in addition to such knowledge and skills, success rests on children,
ofwhatever background, coming to school curious, confident, and aware of
whatbehavior is expected. Successful
children are comfortable seekingassistance, able to get along with others,
and interested in using their knowledge and experience to master new
challenges.

Bruer is right that there is no magic bullet for making kids smart. But
byerroneously focusing exclusively on intellectual achievement, he fails
torecognize that all aspects of development affect one another, and
thatchildren cannot learn or display their intelligence as well if they
havenot developed emotionally and socially. The task for parents and
othercaregivers who want their children to succeed in school is not to
forcedevelopment. Rather, it is to try to ensure
that the moment-to-momentevents of daily life give babies and toddlers the
sense of security,encouragement, and confidence that are the foundation of
emotional health. It is this that will ultimately allow them to learn at
home, in school andthroughout life.

Dangers of the Book
We are concerned that readers will draw the wrong conclusions. Many
parentsare likely to be confused by Bruer’s message, which contradicts what
theymay know instinctively about the importance of the first three years.
Thebook may let other parents off the hook — particularly those parents who
aren’t willing or able to devote the time and attention that is needed to
provide a nurturing environment for babies and toddlers.

Moreover, some parents will be offended by Bruer’s assertion that
“motherswho behave in acceptable American middle-class fashion tend to
havesecurely attached children. The challenge is to get more
non-complying,mostly minority and disadvantaged, mothers to act in this
way.” We know that there are plenty of poor, minority parents doing a
marvelous job of raising their children in securely attached relationships.
Whether by design or accident, Bruer stigmatizes minority racial and ethnic
groups by defining them as the exception to the rule. And just what is
“acceptable American middle-class”
parenting? We know of no such thing as a homogeneous approach to parenting
and attachment.

Policymakers may come away from Bruer’s book with the misconception that
efforts to help young children are a waste of money and time. Indeed, it
appears that this may be Bruer’s intent. For example, he attacks the very
modest funding provided for such programs as Early Head Start, a desperately
needed initiative that is a drop in the bucket relative to other government
programs. Early Head Start was conceived on the basis of ample evidence for
the value of early intervention — evidence that was gathered long before
the hoopla began over neuroscience, but that Bruer conveniently omits from
his
book.

Pioneering work done in the 1970s by Sally Provence, at the Child Study
Center at Yale University provides just one example. Over a period of
several years, Provence studied two groups of families with young children
who were at risk for poor outcomes in school and adulthood. One group was
offered free medical care and high quality day care, which included help in
learning to be more responsive parents. The other group received no
assistance. Provence found that when the children of both groups reached
school age, those who received help missed far less school than the others,
were able to learn and retain information more easily, and were more
motivated. Their families had fewer children and the births were spaced
farther apart.

Efforts to help all children achieve the basic skills of trust,
motivation,and self-control needed for later intellectual and emotional
development should not be aimed at creating super-babies, or giving anxious
parents one more thing to worry about, or overambitious parents one more
reason to push
their children. Our aim should be to ensure that all children reach school
age with a solid foundation for learning and relating to others, and that
all parents know what they can do to help their children develop. In the
last decade, the United States has made important progress in recognizing
the needs of young children. Businesses have made efforts to create
family-friendly policies. Government has made efforts to provide services to
families. Parents are increasingly interested in how best to encourage and
prepare their children. Taking to heart many of the negative messages of The
Myth of the First Three Years can only set back those efforts. Our nation’s
youngest citizens deserve better.
———————————————————————
———————————————————————
Readiness and Relationships ? Issues in Assessing Young Children,
Families, and Caregivers
By Samuel J. Meisels

School readiness has become a near obsession in this country. Although no
agreed-upon definition of readiness exists, children are now being asked to
take standardized “readiness” tests as early as the beginning of first
grade. This obsession with readiness has even gone below preschool and
kindergarten. Recent years have witnessed an explosion of interest in
infants’ developing brains. Books and magazines are filled with information
on how to “grow the best brains possible.” Though some of this information
is quite good, these publications fuel the view that infants’ brains are
essentially moldable as long as you intervene early enough, and that if you
don’t intervene early enough, you’ve missed the boat.

The critics of this interpretation of brain research complain that brain
development is not over at age three, and they are correct. However, that
does not free us from an obligation to nurture, support, and seek to advance
the development of children during those years. What we do during the first
three years is extremely important, even though much more growth and
development is still to come.

An essential element of good practice in the first three years is
assessment. Assessment should give a picture of the whole child, not just
splinter skills and milestones, and it should help to differentiate and
expand parents’ and providers’ perception of their babies. In early
childhood, assessment is not the same thing as testing. Assessment should
engage us in a process of ongoing discovery. It should be viewed as a
collaborative process of observation and analysis that involves formulating
questions, gathering information, sharing observations, and making
interpretations to form new questions.

Functional Assessment
What does an assessment like this look like at a practical level? My
colleagues and I make two assumptions in our work on new assessment tools.
The first is that skills and behaviors that have functional applications
should be the centerpiece of early intervention. A second is that positive
relationships between infants and their primary care providers, both within
and outside the family, advance development most effectively. In short, our
overall purpose is to enhance relationships by strengthening infant/toddler
competence and increasing parental and caregiver knowledge, information, and
skills. We can do this through functional assessments.

Functional assessments focus on everyday, naturally occurring behaviors that
are easily recognizable. In a functional approach, children do not have to
score at a certain level or exhibit a certain type of behavior to achieve a
certain acceptable score. Instead, we’re trying to help parents and
caregivers appreciate children’s abilities in the first three years of life
and think about how that relates to a whole range of other developmental
indicators.

Functional assessments help families and service providers set goals. They
also enable families and providers to work together to document
accomplishments and identify areas in need of further development. This type
of assessment provides a vehicle for families and service providers to learn
to observe the child and contribute to the evaluation of his or her growth.
It links intervention with assessment, programs with families, and families
with young
children’s developing competence.

Returning to school readiness, we must begin to think of readiness as much
more than a few skills seen in the first few weeks of kindergarten.
Consistent with ZERO TO THREE’s “Heart Start Indicators” described in the
1992 Head Start Report, The Emotional Foundations of School Readiness, the
characteristics that equip children to come to school with knowledge of how
to learn include confidence, curiosity, intentionality, self-control, and
the ability
to relate, communicate, and cooperate. To attain these readiness skills,
children need a sense of self that can only be developed over time and
through interactions with trustworthy and caring adults. We believe that
functional assessments can contribute to these kinds of relationships.

We have reached a critical moment in the life of Head Start. Besieged by
those who advocate a downward extension of K?12 testing practices, Early
Head Start must remain strong in its commitment to children, families, and
communities. It must remain committed to maximizing meaning in all aspects
of its activities, and particularly in assessment. If we can use assessment
data to enhance the child’ s primary context? the family?then we will have
engaged
in something meaningful?something that will open the doors to lifelong
learning for untold numbers of children.

Sam Meisels is Professor of Education at the University of Michigan-
Ann Arbor. T: 734-763-7306, E: smeisels@….

==============
Selamat sore sp’s

sekedar share aja….
karena saya penasaran dengan kecerdasan beliau (Prof. Ken Soetanto) yang
menyabet gelar profesor dan empat doktor
(http://tn85.blogsome.com/2005/07/01/profesor/)

pikiran saya tergelitik ingin tanya ke beliau …
berikut jawaban dari Ken Soetanto yg di wakili oleh sekertarisnya.

Dear Bapakeghozan,

Persilahkan saya Kenny Chen seketaris membalas surat anda. Terima kasih atas
perhatiannya pada articlenya Prof. Soetanto. Kami hanya orang biasa dan
bekerja keras demi memenui impian kami. Dan kami merasa lucky juga.
Persilahkan kami menanyakkan melalui milis mana anda melihat article kami?

Prof. Soetanto selalu mengajarkan kita lumayan banyak juga, tetapi yg kami
merasa beliau selalu bekerja keras sekali dan boleh dapat dikatakan tidak
pernah berputus asa. Beliau selalu berterima kasih atas segala-galanya,
termasuk kegagalan atau kesuksesan.

Pertanyak anda ttg kunci rahasia sebenarnya adalah biasa saja dan susah
menjawabnya. Tetapi persilahkan apa yg saya rasa selama bekerja dgn Prof.
Soetanto.
1. Untuk ilmu
Hanya mempunyai Goal dan berusaha benar2 dan tekun demi mencapaikan Goalsnya
tsb.
2. Keluarga
Berterima kasih atas adanya keluarga. Pengertian dan berani mengalah.
3. Mendidik anak
Menenukan bakatnya si anak serta memberi/membuat kesempatan demi grow. Self
esteem adalah sangat penting sekali. Penghormatan pada orang tua
juga sangat penting juga. Teman dan pergaulan sangat penting juga. Jadikan
anak kita sebagai Lakonnya di study/career/hidupnya.

Semoga ada gunanya.

with all the best,

Kenny Chen

jadi pendapat PapaRafi, Ibu Julia , Ibu Intan, Ibu Heni adalah benar….

saya copy paste lg dari Ibu Dr.drg. Julia Maria van Tiel.

Banyak saran dalam pendidikan anak bahwa pendidikan/pengasuhan itu
perlu sesuai dengan:
- pola tumbuh kembangnya
- kulturnya
- logis dan realis

Jangan lupa (Mamakavin gak pernah lupa… he he) bahwa setiap anak akan
selalu membawa pengaruh dari nature-nya (genetik sebagai blue
printnya) dan nurture-nya (pola pengasuhan).

kebetulan saya pernah baca buku yang lumayan bagus menurut saya Judulnya
Dunia Anak/ Memahami Perasaan Anak karangan Hisbullah (kl tidak salah agak
lupa maaf…kl perlu besok saya confirm lagi.Insya Allah besok, beliau
pemikir dari lebanon)

beliau menyebutkan bahwa…faktor genetik masih bisa di kalahkan oleh faktor
lingkungan/kultur yg disebutkan Ibu doktor Julia. kecuali kl kemudain dia
tumbuh dan berkembang dengan apa adanya…tentu faktor genetik akan lebih
dominan.

kemudian dalam buku tersebut juga betapa beliu sangat tidak setuju dengan
pola asuh yang di berikan ke pengasuh
(red-babysister)…kecuali..amat..sangat…diperlukan…dan tentu dipilih
pengasuh yang baik….karena akan sangat berdampak pula dalam
proses tumbuh kembang anak.

kemudian di buku: (pernah saya posting ke milis ini silakan kalo yang
berminat di buka-buka lagi arsip milis tercinta ini)

Einstein Never Used Flash Cards : How Our Children Really Learn- And Why
They Need to Play More and Memorize Less
by Roberta Michnick Golinkoff (Author), Kathy Hirsh-Pasek (Author), Diane
Eyer (Author)
Hardcover: 272 pages ; Dimensions (in inches): 1.15 x 9.39 x 6.38
Publisher: Rodale Press; (October 3, 2003)
ISBN: 1579546951

Itu pesan yang disampaikan dalam buku ini yang ditulis oleh tiga peneliti di
bidang psikologi perkembangan. Pesan tersebut didukung oleh berbagai
penelitian dalam bidang psikologi perkembangan anak selama 40 tahun
belakangan. Tetapi meskipun bukti-bukti penelitian menyatakan demikian,
pesan tersebut tampaknya tidak sampai kepada kita, orang tua dan pengasuh
anak. Buku ini mengingatkan kita bahwa kita terjebak dalam asumsi yang
salah sehingga kita membuat anak-anak kita belajar (dalam konteks akademis)
lebih awal dan mengurangi waktu bermain mereka, sementara dalam bermainlah
anak-anak belajar banyak.

Sebagai orang tua, kita tentu selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak
kita. Salah satu yang kita khawatirkan adalah apakah anak kita akan memiliki
keunggulan untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Akibatnya kita
sangat mengedepankan perkembangan otak anak: susu formula
yang kita pilih adalah susu yang mengandung semua zat yang membantu
pertumbuhan otak bayi; kita membelikan mainan yang merangsang intelejensia
anak; musik Mozart dan Bach menjadi menu bagi telinga mereka. Begitu
anak-anak kita mulai bicara, sebagian dari kita berlomba-lomba memasukkan
anak-anak kita ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menawarkan
pelajaran musik, program dwi-bahasa, mental aritmatika dan berbagai
aktivitas lain. Kita merasa bahwa belajar secara mandiri sebagaimana yang
telah dilakukan selama ribuan tahun tidak lagi cukup. Kekhawatiran kita
menyebabkan anak-anak kita menjadi “anak-anak yang dibuat tergesa-gesa,” dan
mereka pun kehilangan masa kecil …dst….(selanjutnya => pernah saya
posting ke milis ini silakan kalo yang berminat di buka-buka lagi arsip
milis tercinta ini).

mohon maaf jika ada yg tidak berkenan….
semata-mata sekedar share saja

semoga bisa menjadi inpirasi buat kita agar anak-anak kita kelak tumbuh dan
berkembang sesuai dengan keinginan orang tua masing2.

salam,
-ayahghozanwongcilikbiasayangselaluberusahamenjadiorangtuayangbijak-
“Kesempurnaan Manusia Sejati Bukan Dari Apa Yang Dimilikinya, Tapi
Bagaimana Dia.!!!”

Informasi lainnya yang wajib untuk Anda baca :

http://rasti812.multiply.com/journal/item/36

Cuma mau menambahkan:

Glenn Doman memaksudkan memberi flash card adalah untuk membangun
fotografis memori
http://www.internationalparentingassociation.org/Early_Learning/math.html

Supaya nanti waktu anak itu bisa ngomong langsung bisa baca segala
macam bahasa yang diflash-kan, plus mampu berhitung en matematika.
Lha napa engga sekalian diajarkan ilmu2 fisika biar ngalah-ngalahin
Pak Rachmat Adi … hehehee..

Ttg membentuk photographic memory itu adalah onzin, kalau kata Bu
Adi pepesan kosong. Bisa dilihat disini, publikasi dari Psychology
Today, sebab photografis memori adalah genetik.

http://juliavantiel.multiply.com/journal/item/20

http://si-entong.blogspot.com/2004/08/memori-fotografis-1.html

Salam,
Julia

Hitam - Putih Stimulasi Anak Dalam Kandungan

Assalamualaikum

Jujur sudah lama ingin sekali kali ingin membuat kategori baru di blog ini terkait dengan pemberitaan beberapa media yang terkesan bombastis, bahkan mohon maaf cenderung membodohi masyarakat, akan tetapi karena keterbatasan waktu sampai saat ini belum juga dimulai.

Dari kemarin ingin menulis…..ehhhh…ndilalah hari ini ada satu lagi artikel yang dalam pemikiran saya tidak berimbang setelah saya membacanya dari sumber yang lain yang Insya Alloh lebih terpercaya.

Berikut artikel yang saya maksud.

Silakan anda simpulkan dengan baik.

Wassalam

Kamis, 17 Juli 2008
Gaya Hidup
Tiga Rangsangan untuk Si Kecil

Ketiga kebutuhan anak ini sebaiknya sudah diberikan sejak kehamilan 6 bulan.

“Siapa yang ingin anaknya tumbuh menjadi anak cerdas?” teriakan Dr Soedjatmiko, SpA (K), Msi, menggema di Plaza Semanggi, Sabtu lalu, dalam sebuah acara diskusi. Pastilah semua orang tua menginginkan anak mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas. Namun, tak semua orang paham cara agar bayi dan anak balita tumbuh kembang optimal, sehat, cerdas, kreatif, dan berperilaku baik.

Untuk meraih harapan itu, Soedjatmiko menyodorkan tiga modal yang harus digenggam para orang tua. “Supaya bayi dan balita tumbuh kembang optimal, jawabannya hanya ada tiga hal, yaitu kebutuhan fisik-biologis, kasih sayang, dan stimulasi sejak di dalam kandungan,” ujar dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang Pediatri Sosial pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini.

Ia menjelaskan, yang disebut kebutuhan fisik-biologis berupa nutrisi, seperti air susu ibu (ASI), makanan pendamping ASI, imunisasi, kebersihan badan, serta lingkungan tempat tinggal, bergerak, dan bermain. “Kebutuhan fisik-biologis terutama berpengaruh pada pertumbuhan fisik, seperti otak, alat pengindraan, dan alat gerak untuk mengeksplorasi lingkungan,” ujarnya.

Untuk kebutuhan kasih sayang buat bayi dan balita, Soedjatmiko menyebutkan terutama berupa rasa dilindungi, aman dan nyaman, diperhatikan dan dihargai, keinginan atau pendapatnya didengar, serta tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan, tapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan. “Kebutuhan kasih sayang besar pengaruhnya pada kemandirian dan kecerdasan emosi anak,” ucapnya.

Lantas kebutuhan stimulasi meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indra (pendengaran, penglihatan, sentuhan, penciuman, dan mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial, kemandirian, serta berpikir dan berkreasi. “Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak atau multiple intelligent,” ujar Soedjatmiko.

Menurut dia, ketiga kebutuhan pokok itu harus diberikan secara bersamaan sejak anak berada dalam kandungan karena akan berpengaruh. Bila kebutuhan fisik-biologis tidak tercukupi, gizinya akan kurang dan sering sakit, yang membuat perkembangan otak tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi, kecerdasan emosi rendah. Dan jika stimulasi bermain kurang bervariasi, perkembangan kecerdasan kurang bervariasi.

Soedjatmiko menyatakan cara melakukan stimulasi sebaiknya harus disesuaikan dengan umur dan tahapan umur kembang anak. Rangsangan dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita, misalnya, ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton televisi, berada di dalam kendaraan, menjelang tidur, atau dilakukan melalui kelompok bermain atau sejenisnya.

Dia menambahkan, ketiga rangsangan itu sebaiknya sudah diberikan sejak kehamilan enam bulan. Pasalnya, pertumbuhan percabangan sel-sel otak paling cepat sejak kehamilan 6 bulan sampai anak berumur 2 tahun. Inilah yang disebut masa keemasan.

Soedjatmiko menjelaskan, sel otak janin sudah tumbuh dan berkembang sejak bulan pertama di dalam kandungan kemudian membelah dengan cepat mencapai 100 miliar sel sambil berkembang sesuai dengan tempat dan fungsi masing-masing.

Nah, sejak kehamilan 6 bulan, sel itu membentuk banyak sinaps (hubungan antarsel otak) dengan berbagai rangkaian fungsional yang kompleks. “Jadi kualitas sirkuit otak bergantung pada kualitas rangsangan dan nutrisi yang didapat sejak di dalam kandungan sampai umur 2 tahun,” dia menjelaskan. Proses perkembangan otak ini berlangsung sangat cepat dan kompleks sampai umur 2 tahun setelah itu melambat pada usia sekolah dan remaja.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, pakar nutrisi dari Institut Pertanian Bogor, menambahkan, asupan nutrisi yang kurang berdampak pada bobot badan atau tinggi badan dan perkembangan bayi. “Apabila bayi mengalami anemia atau kekurangan zat besi, dapat membatasi potensi intelektual, suplai oksigen ke otak menjadi terbatas sehingga berdampak pada penurunan tingkat inteligensi (IQ) sebesar 40-80 juta poin,” ucapnya.

Menurut Soedjatmiko, karena tumbuh kembang otak sejak kehamilan 6 bulan sampai umur 2 tahun sangat cepat dan penting, bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat, dan lemak. Pasalnya, sampai berumur 1 tahun, 60 persen energi makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Selain itu, bayi dan balita membutuhkan vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, kalsium, zinc, AA, DHA, sphynogomyelin, sialic acid, dan asam-asam amino, seperti tyrosine dan tryptophan. “Semua kebutuhan nutrisi tadi terdapat dalam ASI, termasuk AA, DHA, sphynogomyelin dan sialic acid,” katanya. marlina marianna siahaan

Sumber : http://www.korantempo.com/

Jawaban dari sumber yang lain, artikel ini di tulis th 2004 oleh seorang pakar, Bu’e…mohon maaf dongengannya saya copy kesini yah…buat belajar bersama…..maaf tidak ijin dulu…..terima kasih Bu’e.

MEMORI JANIN

Yak, sekarang dongeng menyoal memori janin, perkembangan emosi, apalagi tengah digunjingkan bisa membuat janin jenius jika perut dielus elus . Lho kok… gampang banget membuat baby jenius kebak multiple intelligence? Engga cuma jenius, bahkan katanya bisa menghasilkan baby yang perfek kumplit gak pakai cacat. Lho…. Apa engga hebat? Tapi rupanya pendidikan kepada orang tua untuk menstimulasi sedini mungkin jabang bayik malah menyebabkan banyak bumil menjadi stress. Soalnya katanya kalau kurang stimulasi gedenya bisa sakit jiwa atau mengalami gangguan belajar. Wak….

Menyoal beginian di Ind bisa dibaca dalam URL ini:

http://www.pdpersi.co.id/pdpersi/news/artikel.php3?id=200

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0308/14/inspirasi/490040.htm

http://www.glorianet.org/berita/b3196.html

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/08/hikmah/utama02.htm

Gara-gara beberapa surat japri emak stress, maka kuubrak abrik toko buku dan perpustakaan fakultas kependidikan dan keguruan di kotaku. Semuanya kumaksudkan untuk mencari pencerahan dari sumber aslinya, sekalipun seorang teman diskusi sudah mendongeng bahwa janin janin di perut para emak belum komplit, semua masih belum jadi, jempol, otak, mata, dlsbnya, apalagi belum pernah ketemu orang ya gak punya social awarness (yang ada juga ketemu jedag jedug jantung emaknya) dan belum ada selfregulation, jadi gak mungkin ada emosi. Tapi mengapa kok kini ramai digunjingkan di seantero dunia, engga cuma di Eropa, engga di Amerika, kini sudah melipir sampai Indonesia. Ternyata jawabnya, jelas, dan cukup menggelikan. …kik kik kik….(damput kita ini emang jadi konsumen korban doangan).

Eee… ala, ngapain daku pergi ke toko buku wong disana (perpustakaan) ngejentrek sagambreng buku-buku yang menjelaskan tentang learning process. Beberapa buku kucomot, semuanya berjudul Ontwikkeling psychologie (psikologi perkembangan) yaitu dari Matine F Delfos, 2002 (Psikolog ini adalah psikolog kondang yang berkaitan dengan gangguan perkembangan atau pathopsychology); Miriam van Reijen,2000 (psikolog yang demen banget ngoprek perkembangan emosi); Monks, 2000 (psikolog perkembangan yang spesialisasinya pada anak gifted), & Rita Kohnstamm, 2002 (nah ini seru bukunya bener bener psikologi perkembangan yang banyak ngejentrek teori-teori serta aplikasinya dalam bimbingan psikologi jadi isi bukunya juga banyak mengkritik penggunaan teori yang seringkali dipakai secuil secuil atau sepotong sepotong atau bahkan overaplikasi) .

Meski banyak buku psikologi perkembangan, tapi gak banyak yang menceritakan secara detil tentang teori-teori terutama yang klasik (yang pada bekelahi sendiri tea) yang mendukung soratus persen cara belajar (learning process) anak manusia apalagi learning process pada jabang bayek yang masih diperut.
Teori yang sejentrek banyaaaak banget itu akhirnya berhasil kusaring, teori mana yang kini tengah dimanfaatkan oleh para “pakar” stimulasi dini.The New Wave Theory tentang fetal learning. Sampai sampai ada “cabang”baru dalam psikologi yang disebut fetal psychology yang mengklaim tentang adanya personalitas pada janin (hebat ya sampai jabang bayek janinpun punya personalitas) . Karena sang Janin mampu hal hal seperti ini, katanya:

As if overturning the common conception of infancy weren’t enough, scientists are creating a startling new picture of intelligent life in the womb. Among the revelations:
- By nine weeks, a developing fetus can hiccup and react to loud noises. By the end of the second trimester it can hear.
-Just as adults do, the fetus experiences the rapid eye movement (REM) sleep of dreams.
-The fetus savors its mother’s meals, first picking up the food tastes of a culture in the womb.
-Among other mental feats, the fetus can distinguish between the voice of Mom and that of a stranger, and respond to a familiar story read to it.
-Even a premature baby is aware, feels, responds, and adapts to its environment.
-Just because the fetus is responsive to certain stimuli doesn’t mean that it should be the target of efforts to enhance development. Sensory stimulation of the fetus can in fact lead to bizarre patterns of adaptation later on. http://www.leaderu.com/orgs/tul/psychtoday9809.html

(buat ibu-ibu hamil jangan banyak makan tempe… he he… nanti fetusnya mabuk tempe, apalagi kalau makan pete dan jengkol soalnya katanya indera pengecap janin itu sudah ada jadi dia selain bisa mencium bau jengkol tapi juga mulai mengecap rasa jengkol… ini mah Cuma kata saya lho, aplikasi lho kalau mau ngikutin teorinya).

Nah dari berbagai bacaan tea, maka kutelusurilah teori yang tengah dicomot pakar-pakar stimulasi dini tea, yaitu TEORI HABITUATION namanya, dalam bahasa Belanda dipakai istilah habituatie. Kang comot teori inilah yang diomel-omeli oleh mpok Rita Kohnstamm dalam bukunya: Ontwikkeling psychologie het jonge kleine kind (2002) yang menurutnya banyak psikolog (di Ind juga banyak digandrungi dokters) menggunakan teori ini secara menggampangkan diaplikasikan pada anak manusia. Anak manusia tea pan bukan binatang, katanya, anak manusia tea pan dalam proses belajarnya menggunakan juga perangkat kemanusiaan, yaitu factor kognitif maupun nonkognitif, fleksibiltas, kreativitas, instink, emosi dan tetek bengeknya lagi termasuk juga berbagai organ sensoris atau pancaindera . Belum lagi masih ada factor nature atau genetic yang akan senantiasa menjadi blue print perkembangan seorang anak. Ini, katanya gara-garanya karena ada new wave, teori tua dibuat mederen yaitu teori etiologi dari Konrad Lorenz (1893-1989) orang Perancis (pemakan craisont deh pastinya) yang terkenal dengan teori anak bebeknya. Ini juga gara-gara, kata mpok Rita dalam bukunya sebetebel bantal tea, karena jaman moderen ini mengambil pengertian bahwa learning process merupakan processing informasi yang diperoleh dari berbagai indera (mata, lidah, kulit, telinga dan mata) yang kemudian disimpan dalam sel sel otak.. Terus secara mentah-mentah ditelen gitu doangan. Padahal katanya lagi, memori doang eta mah bukan inteligensia (jadi mana mungkin tah dengan hanya ngelus perut bayeknya bisa berkecerdasan hebring sekalipun ada habituasi juga). Ini kali yang dimaksud temanku, bahwa banyak orang mengambil teori cuma sepotong potong gak utuh, jadinya begitu deh cuma membuat bingung yang menjadi konsumennya.

Habituation sendiri dimencungulkan ke dunia psikologi bahkan ke berbagai riset dasar dalam basic medical sciences oleh Eric Kandel (lahir 1929) psiko-neuroscientist orang Polandia lahir dan sekolah di Austria minggat ke Amerika karena dikejar Nazi. Habituation secara singkat sering diartikan sebagai awal dari memori. Maksudnya jika ada perangsangan pada organ sensoris, maka rangsangan itu akan disimpan dalam sel sel neuron di otaknya yang sekalipun masih sangat sederhana, dalam bentuk memori. Memori ini bisa berjangka pendek dan bisa berjangka panjang. Jika dilakukan terus menerus maka memori itu akan semakin kuat dan menjadi memori jangka panjang. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah suatu learning process, sekalipun masih dalam bentuk primitip. Habituation sendiri maksudnya, jika rangsangan pertama si bayek akan memberikan reaksi, namun pada rangsangan berikutnya dengan stimulus yang sama maka ia akan tidak lagi merespon, yang diartikan oleh para pemikir bidang ini sebagai kondisi dimana si bayek sudah belajar bahwa rangsangan itu tidak membahayakan. Dengan begitu pada rangsangan yang sudah ia pelajari tidak membahayakan tsb ia akan bersikap tenang.

Pemikiran inilah yang digunakan oleh Kandel dari berbagai riset-risetnya pada berbagai binatang. Dengan dasar pengertian bahwa binatang mempunyai otak yang sederhana dan sel neuron yang jumlahnya gak terlalu banyak, namun mampu mempunyai memori, maka Kandel mengasosiasikannya pada janin manusia dengan sel neuron yang masih sederhana tea. Dengan begitu kini banyak banget penelitian yang meneruskan Kandel dalam hal nguprek memori jabang bayek. Bahkan ada juga yang nyoba-nyoba kalau semakin dirangsang inderanya – ngikutin teori new wave processing information (rangsangan taktil/raba jabang bayik dielus elus, auditory bayinya dikasih Mozart, emaknya makan yang enak-enak , perut emaknya dikasih cahaya sehingga si bayi punya memori tentang gelap dan terang, dan ibunya nyium bau-bauan ) maka saat bayi itu lahir dia sudah punya memori itu semua. Rupanya penelitian kayak gini lagi rame nih…yang pengen membuktikan bahwa bayek punya memori, dan punya ikatan emosi dengan emaknya karena mendengar dan merasakan denyut jantung ibunya. Kemampuan menangkap rangsang tadi ini kemudian setelah lahir perlu dilanjut, agar bayi-bayi yang ternyata katanya pinter tea akan semakin pinter dan hebring.

Makin rame, soale beberapa hari lalu di tipi Belanda ada tayangan bayi-bayi yang baru lahir dikasih hearingphone disuruh mendengarkan muzik Mozart. Konon banyak yang mendongeng katanya kalau bayi-bayi yang saat emaknya hamil diberi muzik Mozart maka saat begitu lahir teriak oek oek kaget karena dilingkungan baru, bayinya segera diperdengarkan muzik Mozart ia akan segera anteng deh….Eta mah baru cerita, testemoni. Ngebayang kalau emaknya bengekan, terbatuk batuk gak keruan, waktu lahir pasti bayinya anteng kalau ngedenger napas kucing disangkanya emaknya lagi bengek… He he… ini mah dongengku aja.

Teori ini cocok dengan teorinya Konrad Lorenz yaitu tentang imprinting atau fiksasi stimuli di otak. Kasus yang diamati adalah bebek dan angsa. Dia mengamati, bebek begitu jebrot netes dari telurnya, begitu ngeliat ada yang goyang-goyang dimukanya, langsung disangkanya emaknya. Jadi telur bebek kalau dieram oleh ayam, begitu jebrot dia sangka ayam itu emaknya, ngekor aja dia terus pada ayam. (ngebayang engga sih kalau misalnya jadi gynekolog, saat enak enak makan di mol-mol, eh… banyak anak kecil teriak-teriak: “Bapak…. Bapak…..”Soalnya begitu lahir jebrot yang goyang goyang dimukanya adalah pak gynekolog).

Coba buka URL di bawah ini deh, ada promo tentang bagaimana membuat bayi jenius yang engga ketinggalan teori habituation tadi.
.

http://www.enfamil.com/babys_develop/prenatal/b_1_6.html

Month Six
What’s happening in there?

Muscle development will give your baby’s movements new power.

Your baby will have his first experience of memory, called habituation.

His lungs will develop to prepare for breathing.

By the end of this month, he could weigh as much as two and one-half pounds.

Ternyata teori habituation ini bukan sampah lho… he he… ada yang lagi meningkatkan kemampuan dokter gynekolog melacak “kepinteran” jabang bayek dengan memanfaatkan teori habituation ini. Salah satunya penelitian disertasi yang dilakukan dengan judul:
Development of habituation and memory in the human fetus
5 oktober 2001, oleh
Cathelijne van Heteren, Katholieke Universiteit Nijmegen
http://www.nvog.nl/pub/dynamic/proefschrift.asp?id=29441

Cathelijne van Heteren ini melakukan percobaan dengan cara emak emak hamil antara 26 – 40 minggu perutnya beberapa kali diberi stimulasi vibroakustik secara berulang-ulang, dalam skala yang bervariasi. Saat jabang bayek diberi stimulus baru, nampak bahwa jabang bayek itu memberikan respon. Diantara jabang bayek itu ada yang memberi respon cepat ada yang lambat. Waktu bayeknya keluar menunjukkan bahwa yang pada lambat itu ternyata mengalami cacat bahkan ada yang cacat kromosom segala. Jadi menurut Catelijne cara-cara ini bisa dipakai untuk mengidentifikasi kondisi janin saat masih di dalam perut, atau pre-natal. (Pan kalau bayi lahir langsung diliat tuh segala refleksnya lalu diberi skor, misalnya Apgar skor kalau skornya 10 namanya perfek baik banget, makin rendah skornya, kemungkinan ada apa-apanya dalam kemajuan di bayek.

Tapi apakah stimulus itu kalau berulang ulang bayeknya akan makin hebring jadi jenius? Jawabnya: tetep aja AUK DAH! Seperti kata para dokter/psikolog dari di bawah ini, yang mengatakan bahwa sekalipun seorang bayi sudah diberi pelajaran kok gedenya lupa? Soalnya Catelijne sendiri juga gak mikir sampai sana, tapi dongeng bahwa kalau rangsangan pada indera jabang bayik diberi berulang ulang sampai terjadi habituasi, dimana si jabang bayek tidak lagi bereaksi waktu dirangsang, apa berarti bahwa bayeknya sudah menerima rangsangan itu, terbiasa, dan menyimpannya dalam otaknya sebagai memori…. ataukah….. bayeknya sudah sebel duluan lalu dia cuek bebek? begitu kata ponakanku… kik kik…. mana tauk!

Begitulah dongengnya. Dongeng ini boleh digebuki, dikeplaki, supaya kita makin mantab mengahadapi berbagai publikasi aneh tapi nyata… he he

Salam,
JM (jangan lupa yang di bawah di baca)
—————

http://my.webmd.com/content/article/1728.61819.

The Kid’s A Genius! (Or Will Be When He’s Born)
By Neil OsterweilWebMD Medical News

Sept. 28, 2000 — Don’t be surprised if those strangers in the checkout line who insist on showing you a photo of their child prodigy whip out an ultrasound picture of a fetus. Researchers from the Netherlands report in the Sept. 30 issue of the journal The Lancet that fetuses can learn, based on their responses in the womb to stimulation by noise and vibration.
Youth may be wasted on the young, but education apparently is not, contend Cathelijne van Heteren, MD, and colleagues from the University of Maastricht in the Netherlands. They subjected full-term fetuses to repeated noises and vibrations from a harmless device placed on their mother’s stomachs, and they looked at moving ultrasound images for evidence that the fetus was becoming “habituated” — that is, accustomed — to the stimulus.
They determined this by seeing whether the fetus moved his or her trunk or arms within 1 second of being exposed to a specific sound-vibration combination. If the fetus didn’t move after four successive repetitions, it was considered to be habituated — that is, it that he or she had “learned” to recognize the sound.
The researchers found that after initially being exposed to a stimulus, 16 of 19 fetuses became rapidly habituated to it when encountering it again 10 minutes later and then 24 hours after the first exposure. “We conclude, therefore, that fetuses are able to learn. They have a short-term memory of at least 10 [minutes], and a long-term memory of at least 24 [hours],” the authors write.
Habituation is the ability to gradually adapt to a stimulus or new environment, through repeated exposure to the same stimulus. Without this form of fundamental learning, says senior author Jan Nijhuis, MD, in an interview with WebMD, we might be overwhelmed by harmless background sensations. He likens it to living on a busy road: After a while, you get used to the traffic noise and it doesn’t bother you anymore.
“That’s what animals do. A rabbit knows [the sound of a predator] and knows what sound is safe, so it’s habituated to safe sounds. Otherwise, it would be very anxious all day,” says Nijhuis, professor in the department of obstetrics and gynecology at University Hospital Maastricht. “For [a] fetus, a baby, and an adult, it’s all the same. You get habituated to stimuli — sounds, light, whatever — which you tend to know as safe. But once you hear a burglar in your house you wake up because you’re not habituated to that sound.”
But why does a fetus need to become habituated to a stimulus when it has everything it needs, food, shelter, warmth, and safety? WebMD posed that question to a fetal researcher who was not involved in the study.
“In very broad terms, there appear to be two reasons why the fetus learns before birth,” says Peter Hepper, PhD, professor of psychology at the Queen’s University of Belfast in Northern Ireland. “One is the start of attachment and recognition behavior, so that it actually recognizes its mother or a familiar object in its environment — usually it’s the mother by voice. And there’s some indication that because it recognizes voice in the womb and remembers this for many years afterward that it may start the language learning process as well,” Hepper tells WebMD.
Another child development researcher cautions, however, that measuring habituation can be a tricky business, especially when the study subjects — in this case fetuses — aren’t capable of contradicting the results themselves.
“There’s lots of argument about whether or not habituation is real learning,” says Mary L. Courage, PhD, professor of psychology at Memorial University of Newfoundland in St. John’s. “The argument always is with habituation studies that … it’s not really a [thought] process. On the other hand, the conclusion [of the study] is not that unreasonable, because there is other research with late-term fetuses with memory using other methods.”
Although the study indicated that a majority of late-term fetuses become habituated to audible and physical sensations before birth, it is still unknown why children stop listening to their parents a few years afterward. Perhaps some mysteries are still too deep for modern scientific techniques.

(dongeng ini kita diskusikan di milis Anakberbakatyahoogroups.)

Kesimpulannya:
1) Sampai saat ini teori habituation masih dipertanyakan, artinya masih menjadi ajang debat, dan masih menjadi ajang penelitian para periset.
2) Sampai saat ini untuk melihat kondisi tumbuh kembang bayi (mengidentifikasi kondisi bayi) dengan menggunakan stimulasi vibroakustik, masih dalam percobaan. selain dilakukan oleh kedokteran (gynekologi) Belanda, juga dilakukan oleh dokter-dokter Jepang. tujuannya membuat alat-alat idetifikasi sedini mungkin saat bayi berada di dalam kandungan, yaitu untuk melihat bagaimana reaksi/refleks janin. Cara ini adalah perluasan dari cara-cara selain menggunakan ultrasonografi (USG). tapi cara dengan vibroakustik ini masih dalam penelitian lho, walaupun beberapa peneliti sudah menghasilkan kesamaan pendapat.
3) hal-hal lain mengenai apakah janin mempunyai memori, masih dalam penelitian terus, sebab banyak yang menyangsikan, mengapa setelah dia besar lupa semua kejadian apa saja yang pernah dia lalui.
4) hal hal lain yang menyangkut fungsi panca indera (pengecapan, penciuman, penglihatan) masih dalam tahap penelitian, jadi belum ada kesimpulannya.
5) Memori bukanlah inteligensia, walaupun inteligensia membutuhkan faktor memori juga.
6) learning process (proses belajar) adalah proses yang sangat kompleks menyangkut berbagai faktor baik kognitif maupun non kognitif, fleksibilitas, kreativitas, instink, kemampuan analisis, kemampuan abstraksi, bahasa dlsb. Jadi bukan sekedar memori belaka. sehingga kesiapan seorang anak untuk menerima pembelajaran haruslah memenuhi berbagai bagai tadi, baru dia bisa belajar. Belajar jalan? Bukan termasuk learning process yang dimaksud di atas. Itu instink biologis, seperti juga anak kambing atau sapi begitu keluar dari induknya langsung nyari-nyari ambing susu dan mencoba jalan.

He he… boleh bingung dah…

Sumber : http://si-entong.blogspot.com/