Ini Ayahku loh
Assalamaualaikum
Sungguh bahagia sore kemarin, kala itu terdengar teraakan kecil dari bibir mungil si Ghozan sembari mengayuh sepeda roda empatnya bergegas menyambut kedatanganku.
Dari jarak kira-kira 30meter Ghozan terus mengayuh dengan arah berlawanan mendekatiku sambil berteriak…ayah….ayah…ayah….
Begitu jarak sudah dekat, pelan-pelan kulepas pegangan gasku……sampai akhirnya berhadap-hadapan antara sepeda motor yang aku naiki dengan sepeda yang dinaiki Ghozan.
Dengan bangganya Ghozan berteriak ke teman-temannya yang sedang asyik bersepeda…ini ayahku….ini ayahku loh.
Subhanalloh……
Dari jiwanya yang putih bersih….keluar ungkapan kata yang teramat sangat dahsyat untuk ukuran telinga dan hatinuraniku.
Ibarat musafir di tengah padang gurun yang gersang yang telah menemukan setitik sumber air.
Tak bisa dibayangkan kebahagiaan suasana hati kala itu….
Segera aku sambut ungkapan itu dengan senyum yang seindah-indahnya buat jagoan kecilku…yah senyum dari lubuk hati yg paling dalam.
Namun dibalik semua itu……tentu tersirat sebuah makna yang teramat sangat dalam.
Bagaimana esok…lusa…yang akan datang nanti Aku masih bisa dibanggakan oleh anakku.
Adalah ujian dan tanggung jawab yang sangat besar yang memang sudah sewajarnya diemban oleh orang tua.
Bagimana agar kelak kebanggaan seperti ini terpatri sampai akhir hayat, bahkan mungkin sampai akhir zaman.
Betapa sedih dan teramat sangat perihatin dengan karut-marutnya kondisi negeri ini.
Institusi-institusi yang seharusnya mengemban amanah rakyat justru berbalik menyerang, menodainya dan mendzoliminya.
Apakah tidak pernah terpikir dengan masa depan keluarganya?
Bagaimana beban psikologis yang harus di tanggung oleh anak-anaknya nanti?
Bagaimana kalau kemudian sang anak bertanya…….Bapak sedang kemana…kok tidak pulang-pulang..???
Bagaimana kalau seoarang teman bertanya, kenapa dengan Ayahmu….???
dst..dsb…dll……
Semoga senantiasa Kita semua dalam lindunganNya, agar tetap istiqomah dalam mengarungi bahtera hidup yang hanya sejengkal saja.
Semoga…amiiiin
Wassalam
“Kewajiban manusia adalah menjadi manusia–(Multatuli)”














