Renungan 1 hari menjelang hari anak nasional 23 Juli 2008
Assalamualaikum
Sungguh tragis nasib anak-anak negeriku, sedari kecil sudah didera oleh ujian yang sangat dahsyat, bukan karena kedahsyatan gempa atau tsunami akan tetapi dahsyatnya hutang yang di pikul oleh negara akibat salah urus dari segelintir orang yang bahkan sejak dalam kandungan anak-anak negeri ini harus menanggungnya, belum lagi kejahatan neoliberalis yang telah mengoyak-ngoyak negeri ini.
Tak pelak……gemanya nyaris tertimpa oleh sorak-sorai kampanye dari para elite politik yang sedang berebut kursi panas, dan herannya tak satupun dari mereka yang peduli dengan generasi kedapan negeri ini.
Coba kita tengok disana….ndak usah jauh-jauh kepelosok negeri ini, ditengah metropolitan…ditengah hiruk-pikuknya aktivitas negeri ini dengan omzet milyaran rupiah perhari…..apa yang Anda lihat ….Apa yang Anda rasakan dengan mereka yang bergelantungan di metromini….mayasari…..kereta api….dan belum lagi yang sedang asyik mengorek-orek tempat sampah sambil berharap menemukan botol air minum bekas…..hmmmmmmmmmmmmm…..sungguh potret bocah negeri ini sangat memilukan dan menyayat hati ini.
Mereka hidup dari mengais rezeki dari belas kasihan orang sementara nyawa adalah taruhannya, tak jarang sering terdengar anak jatuh dari gerbong kereta api…..
Sungguh potret buram bangsa ini……..
Mau jadi apa kedepan bangsa ini…….
Sementara sebagian orang yang dikasih amanah…tidak ada lagi yang bisa diharapkan.
Berita gizi buruk…..sekolah ambruk…..narkoba….kekerasan….dll….setiap hari menghiasi media cetak dan elektronik dan seakan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah.
Dimanakah hati nurani kalian…….
wassalamualaikum








