Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Pemberitaan Kompas dan Tempo Mengenai Pneumokokus Tidak Berimbang

July 28, 2008

Assalamualaikum…

Saya kok ndak yakin yah dengan berita ini.

Ada berita yg cukup menarik menurut saya…lebih tepatnya membingungkan.

Mungkin ada yg mempunyai data terbaru terkait penyebab Pneumonia di Indonesia….???

Dari informasi terakhir yg saya peroleh penyebanya di Indonesia di dominasi oleh kuman HiB.

Terkait dengan vaksin IPD

Mengingat…menimbang…….pemberitaan di media dari tahun ketahun yang sangat luar biasa sekali……..belum lagi kalau masuk Rumah Sakit…..baru masuk langsung di suguhi pamflet besar bertuliskan vaksin IPD ini….yang juga sudah masuk dalam rekomendasi jadual imunisasi dari IDAI.

Saya hanya ingin bertanya….mengenai Pneumonia/ Meningitis ini……

Sependek yg saya tahu penyebab pneumonia dan meningitis inikan buanyaaak sekali.
Dari virus dan kuman, sementara virus dan kuamnnya sendiri bisa macam-macam.
Kumannya sendiri misalnya Kuman TBC, kuman HiB, kuman S pneumonia.

Seperti yang saya sampaikan, bahwa informasi terakhir yg saya peroleh penyebabnya lebih didominasi oleh kuman HiB.

Nah kalau memang di Indonesia penyebanya adalah kuman S Pneumonia….terus yg mana……kan ada 23 jenis…????
Apakah yg sekarang beredar di Indonesia 7 strain ini memang sesuai dengan tipe kuman S pneumonia yang disini, lah kalau tidak artinya kan tidak mengcover atau melindungi anak kita dari kemungkinan pneumonia akibat S pneumonia.

Sementara kalau denger harganya membuat hati miris…….
dari yg saya dengar…mungkin ini pendengaran saya salah mohon koreksi..ongkos produksinya hanya kira2 $2

Kok sepertinya semua ’sepakat’, padahal harganya kan……..hmmmmmmm…….

Coba kalau di teliti lebih dahulu…..mungkin….sekali lg mungkin tidak perlu ke 7 starin tsb..barangkali hanya 1 atau 2 saja…kan harga bisa lebih miring……iya kalau di subsidi.

Ops….
Ada informasi menarik…lengkapnya ada di bawah.

Quote :
“pemerintah berencana memasukkan vaksin pneumokokus ke dalam program imunisasi rutin bagi bayi berusia di bawah satu tahun. Biayanya didukung Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi. Negara penerima bantuan kelak cukup membayar 15 sen saja (sekitar Rp 1.400) per dosis dari harga vaksin senilai US$ 58 (sekitar Rp 530 ribu).”

Harapan saya bukan lantas harganya yg murah….coba penelitiannya di maksimalkan terlebih dahulu…..
kalau toh nantinya harganyaa menjandi Rp 1.400 yah memang sdah sewajarnya…wong diluar saja gratis.

——————————————————————————————————————————
Quote :

ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia, Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD).

sumber : Kompas
(Berita ada di bawah)

—————————————————————————————————————————-
Quote :

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan lebih dari 2 juta anak meninggal akibat pneumonia. Bukan hanya itu, pneumonia merupakan penyebab satu dari lima kematian pada anak balita. Bagaimana data penyakit ini di Indonesia? Data WHO 2006 memperlihatkan ternyata Indonesia menempati peringkat keenam di dunia dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak pada anak. Wah!

sumber : Tempo
(Berita ada dibawah)

—————————————————————————————————————————

Ini wartawannya yang salah kutip atau memang sayanya yang bolot.

Atau mungkin ada yg punya data epidemiologisnya..????

Saya sebagai konsumen kesehatan hanya khawatir..publikasi media yang gencar sekali dari tahun kemarin tidak melihat masalah ini secara komprehensif, sehingga konsumen kesehatan seperti saya lebih banyak dirugikan.
————————————————————————————————————————-
Lucunya lagi di artikel yg lain atau sebelumnya begini :

Quote :

Ketua Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr Soedjatmiko SpA (K), dalam media edukasi, Selasa (29/4), di Jakarta menyatakan upaya untuk menekan laju morbiditas dan mortalitas bayi dan balita perlu keterlibatan lebih besar dari komponen masyarakat, terutama orang tua, tenaga kesehatan, media massa serta pemuka masyarakat.

Sejauh ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan Indonesia menempati urutan keenam di dunia dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak pada anak. Setengah dari kasus pneumonia disebabkan oleh kasus pneumokokus, sehingga diperlukan intervensi aktif untuk pencegahan dengan vaksinasi selain nutrisi yang cukup, pemberian ASI eksklusif dan zinc.

Sumber : Kompas
( Berita ada di bawah )
——————————————————————————————————————————

Kalau iya 6jt kematian bayi itu disebabkan oleh IPD ( merujuk pada artikel : Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita) jadi angka sebenarnya adalah 12juta…..artinya kita di bawah China alias nomer loro.

Mana yang benar…..????

Tolonglah Kompas dan juga Tempo……mbok kalau nulis yang bener…ini sudah yang kesekian kalinya………..jangan sampai nama besar kalian runtuh perlahan-lahan karena hal-hal seperti ini.

Kalau memang saya yg bodoh ini salah….saya minta maaf.

fyi…..

Bahwasannya pemilihan 7 serotype (PCV-7) ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia, Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri geografis yang sama dgn Indonesia.
Seandainya lebih spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga lebih murah.

Diskusi mengenai Vaksin IPD secara detail bisa Anda bacadisini.

Dalam paparan diskusi di milis sehat terkait dengan bombastisnya iklan Vaksin IPD/ Vaksin Pneumokokus, berikut komentar yang di sampaikann oleh Dr. Purnamawati :

—– Original Message —–
From: “Muhammad Adityo Kusumawardhana”
To:
Sent: Saturday, November 18, 2006 9:20 PM
Subject: Balasan: Re: [sehat] [TANYA] Vaksin Pneumokokus/IPD: perlu atau tidak?

Dear ibu2…
Kata dokter SpA Anakku….vaksin IPD sudah direkomendasikan oleh PP IDAI…dan juga sudah dicantumkan di jadual imunisasi dengan nama Pneumokokkus….
Informasi dari SpA ku juga mengatakan penting sekali untuk diberikan kepada anak mulai dari 2 bulan s/d 9 th….dan ini merupakan vaksin khusus untuk usia 2 tahun (jgn sampai salah ya…soalnya ada juga vaksin pneumokokkus lain tetapi jenisnya untuk tang tua2 …maksudnya yang mau pergi naek haji)….
Penyebabnya S. Pneumokkus yang dapat menyebanbkan Pneumonia, bakterimia sampai meningitis…dan bisa menyebabkan cacat seumur hidup atau kematian…
Kalau masalah perlu atau tidak sih…kalau dilihat dari sumbernya yang ada di tubuh kita…ya..perlu sekali…memang sih mahal harganya…..tetapi kata SpA ku pula….jangan dilihat harga tetapi manfaatnya (bener sih)…
Oh ya…..sekedar info ada acara bagus banget (walau baru liat pagi ini) mengenai kesehatan anak…yaitu Pelangi Buah hati di Antv setiap sabtu jam 08.00 wib…..aku nyesel juga baru liat pagi ini…..kata temenku sih udah 4-5 episode….
thanks

Jawaban :

From: “Purnamawati”
To:
Sent: Sunday, November 19, 2006 3:09 PM
Subject: [sehat] Re: Vaksin Pneumokokus/IPD: perlu atau tidak?

Dear M Adityo
Thanks atas sharingnya
Coba deh buka postingan terdahulu perihal vaksin yang satu ini … buanyak sekali

Nah saya mau ikut urun rembug ya
1. PNEUMONIA, MENINGITIS
Penyebab pneumonia dan meningitis buanyaaak sekali
Virus dan kuman .. Virusnya bisa macam2, kumannya juga macam2
Kuman yang bisa menimbulkan meningitis pada anak mis Kuman TBC, kuman HiB, kuman S pneumoniae

2. DI INDONESIA … APA PENYEBAB UTAMA MENINGITIS DAN PNEUMONIA?
Belum tahu karena belum ada datanya
Khusus untuk S pneumoniae …. Sedang diteliti
Apakah memang di Indonesia banyak infeksi akibat S pneumoniae ..
Kalau banyak … apakah sampai fatal …
Kalau banyak dan fatal .. kuman S pneumoniae yang mana? (kan ada 23 jenis)

3. Vaksin IPD
Vaksin IPD yang di Indonesia merupakan vaksin yang sangat bagus. Ia mengandung 7 jenis kuman S pneumoniae
Nah .. yang menjadi masalah adalah ….
Di Indonesia … kalau memang S penumoniae nya buanyak dan fatal .. apakah masuk dalam 7 jenis di vaksin ini?
Kalau bukan (seperti di beberapa negara asia/asia tenggara lain, dan Afrika) … vaksin ini tidak bisa mengcover atau melindungi anak kita dari kemungkinan pneumonia akibat S pneumoniae yang ada di Indonesia

Artinya … kalau mau imunisasi ini dan ada uangnya .. silakan
Dengan catatan … belum tentu jenis S pneumonia di vaksin ini sama dengan jenis kumannya di Indonesia .,… artinya lagi, kemungkinan tidak terprotect tetap ada

Idealnya sih, bikin penelitian dulu …
baru buat rekomendasi imunisasi

wati

—– Original Message —–
From: “Purnamawati, SpAK”
To:
Sent: Sunday, December 17, 2006 8:20 PM
Subject: Re: [sehat] Re: [berita]Menangkal Bakteri Pneumokokus, “Pembunuh” Anak Bawah Lima Tahun

Dear All (thanks ya gendi)

Iya nih … kalau dana promosi besar, bisa bikin bingung ya hehehe maaf

Rabu lalu saya ketemu DSA neurologi
saya tanya juga sama beliau, katanya, meningitis bakteri di Indonesia
didominasi kuman HiB (nah, ayo jangan lupa imunisasi HiB ya)

wati

—– Original Message —–
From: “Purnamawati”
To:
Sent: Monday, March 12, 2007 9:07 AM
Subject: Re: [sehat] [news] FYI => Penyakit Pneumokokus Cegah Bahayanya Sebelum Terlambat

Thanks ayah Ghozan
mau mengulang aja urun rembug saya terdahulu, boleh ya hehehe

Data depkes 2001 itu kan soal pneumonia bukan soal IPD karena penyebab
pneumonia banyak sekali
kebanyakan sih virus
Semoga kita semua cukup bijak membedakan meningitis-pneumonia dari IPD
IPD hanya salah satu penyebab pneumonia

Kedua, anak Indonesia dari kalangan sosek rendah yang paling berisiko kena
pneumonia

ketiga, pneumonia di Indonesia sampai saat ini katanya penyebab utamanya
bukan IPD
Begitu juga meningitis nya

wati
maaf kalau tak berkenan

—– Original Message —–
From: “anto lucu”
To:
Sent: Thursday, January 10, 2008 9:38 PM
Subject: Re: [sehat] [Tanya] tentang interval vaksin IPD (Pneumokokus)

malam sp..
untuk pneumonia di indonesia, yang saya ketahui dalam tiga tahun ke depan
(dari kompas) bahwa sedang dilakukan penelitian mengenai jenis kuman
penyebab pneumonia di indonesia dalam rangka penentuan serotipe /jenis
penyebab tersering, dalam rangka untuk program imunisasi pneumonia,
penelitian dilakukan di rscm, rs hasan sadikin dan sanglah dikatakan mulai
tahun ini..

untuk pembedaan penyebab pneumonia dikumpulkan data dari riwayat/sejarah
sakit, usia saat ini (secara statistik kemungkinan tersering pada usia
tersebut), dapat dilanjutkan pemeriksaan laboratorium atau penunjang
(pemeriksaan lab dan penunjang untuk rapid test untuk virus saya kurang tahu
apakah sudah tersedia di indonesia)..gejala-gejala penyerta lain juga
penting sebagai pemandu diagnosis..campak, varisela dengan gejala penyerta
khasnya akan membantu diagnosis dan umumnya keadaan perburukan (pneumonia)
pada campak/varisela terjadi pada anak yang status kekebalan tubuhnya
terganggu, mis. pada anak kurang gizi, keganasan, pemakaian steroid jangka
lama..

kemungkinan pneumonia bisa terjadi tetapi tidak semua batuk pilek akan
menjadi pneumonia..unutk itu peran observasi sangat penting.

mohon maaf bila blum membantu
-anto-

http://www.kidshealth.org/parent/infections/lung/pneumonia.html
..

When pneumonia is caused by bacteria, an infected child usually becomes sick
relatively quickly and experiences the sudden onset of high fever and
unusually rapid breathing. When pneumonia is caused by viruses, symptoms
tend to appear more gradually and are often less severe than in bacterial
pneumonia. Wheezing may be more common in viral pneumonia.

Some types of pneumonia cause symptoms that give important clues about which
germ is causing the illness. For example, in older children and adolescents,
pneumonia due to *Mycoplasma* (also called walking pneumonia) is notorious
for causing a sore throat and headache in addition to the usual symptoms of
pneumonia.

In infants, pneumonia due to
chlamydia< a href="http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/chlamydia.html">http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/chlamydia.html>
may cause conjunctivitis (pinkeye) with only mild illness and no fever.
When pneumonia is due to whooping coughhttp://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/whooping_cough.html>
(pertussis), the child may have long coughing spells, turn blue from lack of
air, or make a classic “whoop” sound when trying to take a breath…
http://www.aafp.org/afp/20040901/899.html

TABLE 2 Clinical Assessment of Community-Acquired Pneumonia in Children
——————————

Clinical clue

Suggested diagnosis or interpretation

History

Day care attendance

Viral infection

Exposure to infectious diseases

Viral or Mycoplasma infection, tuberculosis

Hospitalization

Nosocomial infection

Missing immunizations

Pneumococcal or Haemophilus influenzae infection, pertussis

Antibiotic therapy within previous month

Infection with resistant bacterial strain

Recent travel

Fungal infection, influenza, severe acute respiratory syndrome

Physical examination

Elevated temperature

Respiratory signs

Grunting

Nasal flaring

Rales

Retractions

Tachypnea

Use of accessory muscles for breathing

Wheezing

Pneumonia is unlikely without fever and more than one respiratory sign.

In patients with respiratory signs and no fever, consider reactive airway
disease, aspiration of foreign body, chemical ingestion, or an underlying
cardiac or pulmonary disorder.

Laboratory studies*

Complete blood count

Not helpful in distinguishing etiology

Erythrocyte sedimentation rate

Not helpful in distinguishing etiology

C-reactive protein level

Not helpful in distinguishing etiology

Gram stain and culture

Helpful if specimen is adequate

Polymerase chain reaction

Helpful with Mycoplasma and Chlamydia infections

Rapid viral antigen testing

Useful if available

Serologies

Not helpful in acute settings

Imaging

Chest radiograph*

Not helpful in distinguishing etiology

Salam Anti Kapitalis

Wassalamualaikum
—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia, Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati. Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta, Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5 tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI, hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan, sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi. Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7) telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina, Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu, dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas

Sebelum Radang Paru, Segera Vaksin Si Kecil

Selasa, 29 April 2008 | 18:04 WIB
ANGKA KESAKITAN dan kematian bayi dan balita akibat penyakit pneumonia (radang paru) yang disebabkan kuman pneumokokus sangat tinggi. Untuk menekan angka kasus penularan infeksi ini pada bayi dan balita, intervensi aktif untuk menghindari kuman pneumokokus perlu dilakukan melalui pemberian vaksin kepada bali dan balita.

Ketua Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr Soedjatmiko SpA (K), dalam media edukasi, Selasa (29/4), di Jakarta menyatakan upaya untuk menekan laju morbiditas dan mortalitas bayi dan balita perlu keterlibatan lebih besar dari komponen masyarakat, terutama orang tua, tenaga kesehatan, media massa serta pemuka masyarakat.

Pemberian vaksinasi dibutuhkan sebagai tindakan preventif yang efektif sebelum terserang penyakit berbahaya ini. Bila dilakukan perbandingan, biaya pengobatan bagi penderita IPD dengan biaya vaksinasinya terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga perlu dilakukan usaha untuk merubah pola pikir dari pengobatan ke pencegahan.

Salah satu bentuk intervensi aktif yang dapat dilakukan adalah melalui sosialisasi dan edu kasi, baik melalui media massa maupun tatap muka. Orang tua, terutama kaum ibu diberikan pengetahuan yang cukup tentang bahaya penyakit ini dan akibat yang ditimbulkannya. Di samping itu, sosialiasi dan edukasi diharapkan akan mendorong inisiatif para ibu untuk memberikan vaksinasi kepada anaknya.

Di sisi lain, keterlibatan pemerintah dalam mensukseskan program edukasi ini sangat diperlukan sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih luas dan pada akhirnya akan menurunkan angka kematian pada bayi dan balita akibat infeksi pneumokokus. Dengan demikian manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Sejauh ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan Indonesia menempati urutan keenam di dunia dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak pada anak. Setengah dari kasus pneumonia disebabkan oleh kasus pneumokokus, sehingga diperlukan intervensi aktif untuk pencegahan dengan vaksinasi selain nutrisi yang cukup, pemberian ASI eksklusif dan zinc.

Penyakit pneumonia tergolong dalam penyakit infeksi pneumokokus yang invasif dan merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia (pneumokokus). Penyebarannya melalui darah (invasif) ke organ-organ penting seperti selaput otak, paru, telinga tengah dan menyebabkan kematian utama satu juta bayi dan balita setiap tahunnya di seluruh dunia. Penyakit ini paling banyak menyerang anak-anak di bawah usia 2 tahun.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) WHO tahun 2007 mencatat, penyakit infeksi pneumokokus invasif merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan 1 juta kematian anak-anak yang berumur di bawah lima tahun per tahunnya.

Pada Maret 2007, WHO bahkan mengeluarkan rekomendasi penting mengenai vaksin pneumokokus konjugasi (PCV-7) yaitu negara-negara di dunia harus memprioritaskan penggunaan vaksin pneumokokus konjugasi dalam program imunisasi nasional. Rekomendasi ini terutama berlaku bagi negara dengan lebih dari 50 kematian/ 1000 kelahiran hidup anak balita maupun negara dengan lebih dari 50.000 kematian balita per tahun.

Rekomendasi tersebut telah ditindaklanjuti oleh para pakar ilmu kesehatan anak bahkan di Asia pun telah dibentuk suatu kelompok kerja aliansi str ategis penyakit pneumokokus, yaitu Asian Strategic Alliance for Pneumococcus Disease (ASAP) yang diwakili oleh dokter anak di Asia termasuk Indonesia. Bagi negara-negara berkembang, vaksin PCV-7 merupakan prioritas utama yang dapat diintegrasikan pada jadual imunisasi rutin dan sebaiknya dimulai sebelum usia 6 bulan.

Ikatan dokter anak Indonesia (IDAI) telah menerbitkan rekomendasi dan petunjuk pemakaian dari vaksin pneumokokus ini sejak bulan Juni 2006 yang lalu. Vaksin Pneumokokus ini mulai diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan dan diberikan 1 dosis lagi pada usia 12 - 15 bulan sebagai booster / penguat. Pemberian vaksinasi IPD ini dianjurkan sedini mungkin untuk dapat meningkatkan efektifitas sehingga proteksi / perlindungannya dapat mencapai level yang optimal.

Sumber : Kompas

Senin, 05 Mei 2008

Manula pun Rentan IPD
IPD juga terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun.

Demam tinggi, menggigil, batuk, sesak napas yang tidak kunjung berhenti jangan dianggap sebelah mata. Mungkin saja itu salah satu serangan gejala penyakit Invasive pneumococcus disease (IPD). Sederet kondisi tersebut, menurut Dr Soedjatmiko SpA(K) MSi, adalah gejala IPD.

Menurut dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini, walaupun penyakit ini paling banyak menyerang bayi di bawah usia 2 tahun, manusia lanjut usia dengan usia di atas 65 tahun berisiko terserang penyakit tersebut.

IPD adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri streptococcus pneumoniae yang terdiri atas 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah tujuh jenis serotipe. Penyakit ini dapat menyebar melalui darah dan menyebabkan kematian utama pada bayi dan balita setiap tahun di dunia. Beberapa penyakit yang termasuk golongan ini adalah radang paru (pnemonia), radang selaput otak (meningitis), dan infeksi darah (bakteremia).Penyebarannya melalui darah ke organ-organ penting, seperti selaput otak, paru, dan telinga.

Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dan cacat permanen berupa tuli, gangguan mental (idiot), kemunduran inteligensia, kelumpuhan, dan gangguan saraf. “Jika sudah kena, ya pilihannya cuma dua: kalau tidak meninggal, ya dia akan cacat,” Soedjatmiko menjelaskan dalam acara media edukasi intervensi aktif untuk turunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi akibat infeksi pneumococcus yang invasif di Jakarta, Selasa lalu.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan lebih dari 2 juta anak meninggal akibat pneumonia. Bukan hanya itu, pneumonia merupakan penyebab satu dari lima kematian pada anak balita. Bagaimana data penyakit ini di Indonesia? Data WHO 2006 memperlihatkan ternyata Indonesia menempati peringkat keenam di dunia dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak pada anak. Wah!

Bagaimana menghindari serangan penyakit tersebut? Anda dapat memberi vaksin pada bayi dan anak Anda. Pasalnya, menurut Soedjatmiko, bayi dan balita yang berada satu rumah dengan Anda dapat menularkan bakteri ini. Dia menjelaskan, orang dewasa yang berada serumah dengan anak-anak, sekitar 18-29 persen pada tenggorokannya terdapat kuman streptococcus pneumoniae. Bila di rumahnya tidak terdapat anak-anak hanya 6 persen.

Sekretaris Satuan Tugas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia ini menyebutkan pemberian vaksin PCVT 7 bukan hanya untuk mencegah penyakit pada balita dan bayi, tapi juga untuk seluruh anggota keluarga. Ini adalah vaksin pneumococcus konjugasi yang berguna untuk mencegah berkembangnya bakteri streptococcus pneumoniae yang terdiri atas tujuh serotipe yang memang paling banyak menyebabkan IPD. Vaksin ini telah menjadi salah satu vaksin yang diwajibkan di Amerika Serikat, Australia, Eropa, dan Meksiko serta telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di dunia. Di Indonesia, vaksin ini telah diluncurkan pada 2006 dan termasuk dalam jenis vaksin yang disarankan untuk diberikan kepada bayi dan anak Anda.

PCVT 7 dapat diberikan kepada bayi mulai usia 2 bulan hingga 9 tahun. Studi klinis memperlihatkan reaksi umum dari vaksinasi yang paling banyak dilaporkan berupa demam ringan, rewel, mengantuk, sulit tidur, berkurangnya nafsu makan, muntah, diare, dan kemerahan pada kulit. Menurut Soedjatmiko, reaksi ini hal yang umum ditimbulkan oleh semua jenis vaksin.

Penelitian tentang manfaat vaksin itu pada anak dan bayi terhadap dewasa yang tinggal serumah dengan mereka menyebutkan kejadian pneumonia pada 100 ribu orang dewasa berusia di atas 50 tahun dapat ditekan hingga 55 persen. Pada kelompok usia 20-39 tahun, risiko terkena pneumonia turun hingga 40 persen. Bagaimana, ingin memberi vaksin kepada anak Anda? Sebelumnya Anda harus menyiapkan dana. Pasalnya, harga vaksin ini sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. MARLINA MARIANNA SIAHAAN

Yang Layak Divaksin

Kelompok yang paling berisiko, anak berusia 2 tahun ke atas. Selain itu, penderita penyakit jantung, paru (termasuk asma), ginjal, kanker hati, kebocoran pada cerebrospinal, dan kecanduan alkohol.

Yang berusia 65 tahun ke atas.

Orang yang limpanya diangkat.

Anak dan dewasa yang tinggal di panti asuhan serta jompo.

Yang berdekatan dengan penderita penyakit kronis.

Orang yang sistem kekebalannya lemah, seperti pasien kanker, HIV, dan yang menjalani transplantasi organ.

Pasien yang mendapat pengobatan jangka panjang, termasuk steroid.

nlm.nih.gov

Sumber : Koran Tempo

Selasa, 15 Juli 2008
Gaya Hidup
Berlindung dari Infeksi Pneumokokus

Kematian akibat pneumonia lebih tinggi ketimbang akibat diare, tuberkulosis,
atau campak.

Mungkin tidak pernah tebersit sedikit pun dalam benak orang tua Najla akan
kehilangan buah hati mereka. Bayi perempuan mungil yang baru berusia lima
bulan terasa tiba-tiba direngut dari tangan mereka. Penyebabnya, serangan
penyakit pneumonia. “Saya kira pneumonia itu seperti penyakit lainnya, yang
bisa dikendalikan dengan obat,” ujar pasangan muda ini. Kenyataannya, tubuh
Najla tidak mampu bertahan melawan serangan bakteri Streptococcus pneumonia
(pneumokokus), penyebab pneumonia, sehingga ia mengembuskan napas terakhir.

Penderitaan serupa tak hanya dialami orang tua Najla. Bahkan dari catatan
ahli medis, banyak orang tua di Indonesia yang harus kehilangan bayi mereka
akibat serangan bakteri ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Indonesia
adalah negara nomor 6 dalam kasus pneumonia terbanyak. ‘’Tahukah Anda,
kematian akibat pneumonia malah lebih banyak ketimbang akibat diare,
HIV/AIDS, tuberkulosis, campak, flu burung, atau demam berdarah sekalipun?”
kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia dr Sukman Tulus Putra, SpA(K), FACC,
FESC dalam acara peresmian Asian Strategic Alliance for Pneumococcal Disease
Prevention (ASAP) Indonesia di Surabaya akhir bulan lalu. Wah!

Untuk membendung semakin tingginya jumlah balita yang meninggal akibat
penyakit ini, akhir Juni lalu, bertempat di Hotel Shangri-La Surabaya, ASAP
meresmikan ASAP Indonesia. ASAP merupakan kelompok aliansi strategis
independen di Asia yang bergerak di bidang pencegahan infeksi pneumokokus.
ASAP terdiri atas 20 orang perwakilan negara di Asia.

Ketua ASAP Profesor Lulu Bravo mengatakan pendirian ASAP Indonesia bertujuan
membantu mencegah dan menyelamatkan lebih banyak anak-anak, terutama di
Indonesia, dari bahaya penyakit pneumokokus. “Melihat banyaknya angka
kejadian penyakit, ternyata masih banyak yang tidak mengetahui penyakit ini
bisa membunuh anak-anak, bukan hanya orang tua, tapi masih banyak dokter
yang belum mengenal bagaimana pencegahannya,” ia mengungkapkan.

Sukman mengatakan pneumonia memang bisa diobati dengan antibiotik. Namun,
karena semakin hari tingkat resistensi terhadap penisilin dan antibiotik
lainnya semakin tinggi, penyakit ini menjadi sukar diatasi. “Kalaupun
sembuh, akan meninggalkan sisa, pasien mengalami kecacatan,” ujarnya.
Biasanya dalam bentuk kehilangan pendengaran, kemunduran inteligensia,
kesulitan berbicara, atau kelumpuhan.

Sebenarnya penyakit ini bisa dicegah. Prof Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K)
mengatakan langkah terakhir pencegahannya adalah vaksinasi. Mengapa
terakhir? Sebab, kata dia, ada beberapa hal lain yang bisa dilakukan dengan
vaksinasi sebagai pelengkap, di antaranya pemberian air susu ibu
(ASI)eksklusif selama enam bulan, gizi yang seimbang, dan lingkungan yang
bebas dari polutan.

Menurut Sri, yang juga anggota ASAP Indonesia, bakteri pneumokokus secara
normal berada dalam rongga hidung dan tenggorokan anak-anak dan dewasa
sehat. Dari 90 serotipe Streptococcus pneumonia, 11 di antaranya merupakan
jenis yang berbahaya bagi kelangsungan hidup balita. “Memang tidak semua
individu akan menderita penyakit ini, tapi ketika dalam tubuh seseorang
sudah terjadi kolonisasi bakteri, ia akan menjadi pembawa sekaligus penyebar
penyakit melalui udara misalnya pada saat bersin atau batuk,” ucapnya.

Keberadaan bakteri pneumokokus tidak menimbulkan gejala atau keluhan pada
pembawa. Yang perlu diwaspadai, kuman tersebut mudah menyebar dan
menginfeksi anak. Beberapa faktor yang menyebabkan risiko anak terjangkit
pneumokokus meningkat, antara lain, bayi baru lahir hingga di bawah dua
tahun berpeluang paling tinggi. “Pasalnya, tingkat sirkulasi antibodi
pneumokokus mereka masih rendah,” kata dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi.

Faktor risiko lainnya, bayi lahir dengan berat badan kurang, prematur, tidak
mendapat ASI, tinggal di hunian padat, sering terpapar asap rokok, sering
dititipkan di penitipan anak, kerap mendapat infeksi virus di saluran napas,
memiliki sistem kekebalan tubuh rendah dan menderita penyakit kronis.
“‘Dengan percikan ludah, saat mencium si kecil atau saat batuk, misalnya,
kuman bisa masuk ke saluran napas anak, yang kekebalan tubuhnya rendah,”
ujarnya.

Wakil Presiden Ikatan Dokter Anak di Pakistan, Prof Iqbal Ahmad Memon,
mengatakan salah satu perlindungan untuk melawan penyakit pneumokokus ini
adalah pemberian vaksin Pneumococcus conjugate vaccine 7 vallent (PCVT 7).
Pemberian vaksin ini bisa dimulai sejak bayi berumur 2 bulan. Menurut Iqbal,
sejak 2000 bayi di Amerika Serikat mulai mendapat vaksinasi pneumokokus
secara rutin dan berhasil menurunkan angka kasus penyakit ini pada
anak-anak. Vaksin ini juga aman dan tidak terbuat dari senyawa yang
menggunakan bahan dari babi.

“Dengan pemberian vaksin, anak-anak di Indonesia diharapkan dapat hidup
lebih lama dan hidup lebih sehat. Sebab, banyak di antara mereka yang
terserang penyakit pneumokokus di Indonesia tidak dapat hidup mencapai usia
lima tahun,” ujar Iqbal. MARLINA MARIANNA SIAHAAN

Sumber : http://www.korantempo.com/

Edisi. 23/XXXVII/28 Juli - 03 Agustus 2008

Kesehatan
Maut Terselubung di Awal Usia

Sebagian besar kematian bayi diakibatkan penyakit yang tampak sepele. Namun penyebab sebenarnya adalah bakteri ganas, pneumokokus.

SUDAH hampir sebulan Setodewo batuk tak sembuh-sembuh. Anak laki-laki menjelang lima tahun itu tertular penyakit tersebut di sekolahnya di Bekasi, Jawa Barat. Beberapa teman sekelasnya di taman kanak-kanak juga tengah menderita batuk.

Karena masih kecil, Seto belum bisa meludah dan selalu menelan dahak yang keluar akibat batuk. ”Sudah diberi obat batuk, tapi tak mempan juga,” kata Nulik Prawaningrum, 38 tahun, ibunya, pekan lalu. Menurut ibu dua anak itu, tiap musim kemarau si kecil bergantian terserang batuk. Apalagi di perumahan tempat tinggalnya banyak debu pada musim kering. Tahun lalu, Seto pernah diobati dokter karena terkena flek pada parunya.

Musim kemarau memang membuat jumlah anak penderita sakit pernapasan dan tenggorokan meningkat. ”Secara umum jumlahnya lebih banyak ketimbang musim hujan,” kata Profesor Dr dr Cissy B. Kartasasmita, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Gejala ini, menurut Cissy, juga tampak pada jumlah pasien infeksi saluran pernapasan akut di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, serta sejumlah rumah sakit lain di Indonesia. Penyebabnya, menurut dokter spesialis anak ini, adalah kualitas lingkungan yang buruk.

Infeksi saluran pernapasan dikenal sebagai ”penyakit maut” bagi bayi dan anak-anak. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga pada 2001, ada tiga penyakit mematikan bagi bayi dan anak di bawah lima tahun di Indonesia, yakni infeksi saluran pernapasan, komplikasi perinatal (masa di dalam kandungan hingga usia tujuh hari), dan diare. Menurut survei sebelumnya, pada 1996, tiga penyakit itu juga muncul sebagai penyakit mematikan.

Berdasarkan penelitian terbaru pada 2006 yang dikemukakan dalam sebuah seminar tentang penyakit anak di Surabaya pada akhir Juni lalu, muncul kesimpulan lain. ”Ternyata ada yang tak tampak di belakang gejala-gejala penyakit umum itu,” kata Cissy, yaitu gejala pneumokokus, kumpulan penyakit yang disebabkan bakteri streptococcus pneumoniae—penyebab radang paru atau pnemonia. Indikasinya, mula-mula mirip penyakit musiman biasa, seperti batuk, demam, sakit hidung, dan telinga. Padahal bakteri tersebut bersifat patogen alias ganas dan dapat menyerang organ lain. Jika tidak berakibat kematian, kelalaian dalam pengobatan mengakibatkan cacat, seperti lumpuh, tuli, cacat mental, dan epilepsi.

Dua studi yang dilakukan Institut Vaksin Internasional bekerja sama dengan Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali, dan Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya, berhasil medapatkan data klinis kasus pneumonia berikut gejala lainya, seperti sepsis (kondisi tubuh yang ditandai demam tinggi pertanda adanya infeksi dalam darah atau jaringan tubuh) serta meningitis (akibat bakteri dan virus menyerang lapisan pelindung otak), pada Januari-Desember 2006.

Di Rumah Sakit Sanglah, dari 448 pasien anak di bawah lima tahun, 82 persen atau 367 pasien menderita pneumonia. Di Surabaya, ada 680 pasien anak di bawah lima tahun, 77 persennya atau 524 pasien terkena pneumonia, 118 di antaranya meninggal. ”Pneumokokus adalah silent killer,” kata dokter Sukman Tulus Putra, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Pneumokokus jelas bukan penyakit baru—virusnya sudah dikenal sejak abad ke-19. Namun bakteri ini tetap menjadi ancaman—termasuk di negara maju—karena berakibat kematian pada anak kecil. Total penderita di 15 negara berkembang mencapai 113 juta orang. Ada dua juta kematian akibat penyakit ini setiap tahun. Sekitar 700 ribu hingga satu juta di antaranya bayi di bawah lima tahun. Sementara itu, Indonesia, berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), berada di posisi keenam dengan enam juta penderita. Tertinggi adalah India, 44 juta, Cina 18 juta, dan Nigeria 7 juta.

Karena besarnya ancaman pneumonia di sini, pemerintah berencana memasukkan vaksin pneumokokus ke dalam program imunisasi rutin bagi bayi berusia di bawah satu tahun. Biayanya didukung Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi. Negara penerima bantuan kelak cukup membayar 15 sen saja (sekitar Rp 1.400) per dosis dari harga vaksin senilai US$ 58 (sekitar Rp 530 ribu). Di Amerika Serikat dan Kanada, vaksinasi ini terbukti efektif memangkas penderita pneumokokus.

Departemen Kesehatan telah mengirimkan surat pernyataan berminat atas tawaran dana dari Aliansi Global pada 2007. ”Tapi peluangnya sangat tergantung kesiapan dan komitmen pemerintah,” kata Profesor Dr Sri Rejeki S. Hadinegoro, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang juga Ketua Tim Ahli Imunisasi Nasional, kepada Tempo. Sebab, lembaga tersebut baru mau mengeluarkan dana bila pemerintah membangun sarana pendukungnya.

”Di Indonesia, pelaksanaannya diperkirakan mulai 2010. Sasarannya lima juta bayi,” kata Nyoman Kandun, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. Untuk persiapan, Departemen Kesehatan akan melakukan uji laboratorium kasus-kasus pneumonia pada anak di tiga rumah sakit: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta; Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung; dan Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Pemeriksaan awal ini diperlukan untuk mengetahui tipe pneumokokus di Indonesia.

Arif A.K.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com/