Dokter Ngomongin Puyer
Assalamualaikum
Tadinya hanya iseng seperti biasa jalan-jalan didunia maya, tapi kok ada sesuatu yang menarik…….
Apakah itu…..POOIER/ PUYER/ OBAT RACIKAN
Syukur alhamdulillah…ternyata bola salju itu terus bergulir.
Dulu saya hanya tahu dr. Purnamawati yang secara terang-terangan menentang puyer di negeri ini.
Bahkan dengan gagah berani beliau mengusulkan untuk diadakannya seminar tentang puyer, dan alhamdulillah akhirnya terlaksana juga seminar itu di FKUI awal Mei 2008 yang lalu.
Kebetulan saat itu saya diundang untuk memberikan testimoni terkait dengan RUM (Rational Used Of Medicines) dari sudut pandang saya sebagai konsumen kesehatan.
Dari situ saya mengenal Prof. DR. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK sebagai pembicara utama dalam seminar bertajukPuyer, Quo Vadis?
Dalam pandangan saya, sungguh luar biasa sekali keberanian dr. Purnamawati.
Diusianya yang sudah tidak muda lagi, namun semangat beliau untuk mengedukasi rakjat Indonesia tidak pernah surut.
Padahal diluar…kekuatan pabrik obat sungguh sangat luar biasa sekali, namun sampai detik beliau tetap istiqomah menyuarakan nilai-nilai kebenaran.
Saya yakin tekanan bukan saja datang dari luar, namun dari teman sejawatnyapun pasti luar biasa.
Syukur alhamdulillah…saya melihat perjuangan beliau sudah mulai banyak yang mengikuti jejaknya….terutama oleh dokter-dokter muda, sebut saja :
1. dr. Apin
Dalam blognya beliau menulis….
Salahnya Puyer
Terinspirasi dari laporan jaga harian pagi ini…
Kasus syok anafilaktik yang diduga akibat alergi obat. Anak umur 5 tahun. Sebelumnya pasien hanya sakit ringan, batuk pilek saja. Pergi ke dokter, diberi resep puyer, dan ditebus obatnya. Ada lima macam obat yang tercantum, termasuk dua jenis antibiotika tablet yang digerus dan dicampur ke dalam puyer. Dua jam setelah minum puyer, anak mulai lemas, hilang kesadaran, dan dibawa ke RS. Diagnosisnya syok anafilaktik. Pertanyaannya: obat mana yang menimbulkan reaksi alergi berat?
Selengkapnya : http://arifianto.blogspot.com/2008/01/salahnya-puyer.html
2. dr. Rizal
Dalam blognya menulis…
Puyer pasti berlalu
Siapa yang gak kenal puyer, apalagi kalo ke dokter spesialis anak…………..kalo udah ditanya…bisa minum puyer…waaah pasti mau dikasih obat puyer nih. Bentuk puyer dapat diberikan langsung tapi juga bisa dimasukkan dalam kapsul, biasanya bentuk yg dimasukkan kapsul lebih banyak digunakan pada anak yg besar juga digunakan pada pasien pasien dewasa. Sebenarnya puyer ini hanya ada di negara berkembang bahkan ada yg bilang hanya ada di Indonesia….maaf karena saya belum keliling seluruh negara ASEAN apalagi Asia….yang jelas saat di Singapura nggak ada, di negara maju dari cerita temen temen ditambah internet kayaknya juga nggak ada. Lalu kenapa di Indonesia masih banyak dipakai termasuk para praktisi kesehatan di Indonesia ??? ………….
Selengkapnya : http://dokterearekcilik.wordpress.com/2008/04/20/badai-puyer-pasti-berlalu/
3. Cak Moki
Dalam blognya menulis….
BENARKAH OBAT RACIKAN LEBIH AMPUH ?
Setiap mudik ke Jawa, khususnya Jawa Timur, saya menyempatkan diri mengunjungi kerabat di beberapa kota. Ketika tiba saatnya ngobrol episode pengobatan muncullah beberapa dialog seputar “obat racikan” yang menurut anggapan sebagian dari mereka seolah merupakan obat mujarab.
Berikut di bawah ini adalah ringkasan dialog terkait obat racikan yang sempat saya ingat.
“… mas, saya kalo berobat selalu ke dokter A. Beliau ngasih obat racikan. Lumayan manjur, beberapa hari wis sembuh. Tapi mas, capsule guede-guede, hampir sak driji *jari* …”.
Selengkapnya : http://cakmoki86.wordpress.com/2008/07/11/euforia-obat-racikan/
Dalam blognya menulis….
Menggugat Puyer tidak Rasional
Puyer dinyatakan termasuk penggunaan obat yang tidak rasional. Tidak sesuai dengan RUD (rational use of drugs). Kumpulan taut tulisan sejawat berikut mencoba menggugah pembaca dan ‘menggugat’ puyer.
Puyer biasanya berupa obat tunggal atau kombinasi berbentuk serbuk / bubuk yang diracik pihak apoteker atas resep dokter. Obat puyer dimasukkan dalam lipatan kertas pembungkus, kapsul, bahkan dicampur dalam sirup!
Selengkapnya : http://daniiswara.net/2008/05/04/menggugat-puyer-tidak-rasional/
Dan mungkin masih banyak lagi yang tidak sempat menuliskannya di blog tapi telah menuliskannya di lubuk hati yang paling dalam.
Terus berdjoeang para dokter…
Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Anda.
Semoga tetap bisa istiqomah.
Salam perdjoeangan
Wassalam









saya pikir sama dgn ghozan dot com..
salut utk kebijakan pusat layanan kesehatan yg mengurangi/meniadakan peresepan puyer..
Comment by dani — September 21, 2008 @ 12:20 am