Hitam-Putih Prebiotik & Probiotik Pada Susu Formula Dan Minuman
Assalamualaikum
Sudah sejak lama saya mengamati media koran kita banyak memberikan informasi yang tidak berimbang, terutama sekali pada berita-bertita seputar kesehatan, kalau sempat saya mencari referensi lain akan saya tampilkan disini.
Contohnya artikel Kompas, 22 Oktober 2008 pada alinea terakhir menurunkan berita mengenai prebiotik. (artikel ada dibawah) dan Republika, 22 Oktober 2008, serta SINDO 27 Oktober 2008.
quote :
Sementara itu, Medical Marketing Manager Nutricia, Dr Ashari Fitriyansyah menyatakan bahwa penambahan prebiotik FOS (frukto oligosakarida) dan GOS (galakto oligosakarida) dengan rasio 1: 9 dalam susu balita dapat memberi manfaat berarti bagi pertumbuhan dan kekebalan tubuh.
Sementara di link yang lain menurunkan berita Atasi Diare dengan Bakteri Probiotik.
Alhamdulillah, seorang teman Ibu Lita Mariana jauh-jauh hari sudah menuliskan pengetahuannya tentang hal ini, sehingga memudahkan Kita untuk mengambil sikap yang lebih rasional dan terukur. ( artikel ada di bawah)
Sementara informasi seputar bakteri probiotik yang banyak ditayangkan di televisi sungguh tidak berimbang.
Awal th 2008 dunia geger dengan hasil penelitian di Belanda.
24orang dari 296 orang meninggal akibat terapi propilaxis dengan cara pemberian yogurt ( yakult) pada pasien penderita pancreatitis acut. Minuman yogurt yang dipublikasi sebagai minuman yang menyehatkan karena katanya membuat seimbang flora usus. Bakteri jahat diusir oleh bakteri baik di dalam yogurt. Hasil penelitiannya justru lebih banyak yang mati ketimbang jika tidak diberi yogurt.
Penelitian dilakukan di 15 rumah sakit di Belanda sejak tahun 2005 ~ 2007. Dipimpin oleh Universitas Utrecht. Dengan menggunakan dua jenis yogurt, yaitu activia & yakult, yang dicampur untuk mendapatkan 6 jenis bakteria tahan asam. Diberikan selama 28 hari, 2 kali sehari setiap masuk 150 cc dengan jumlah bakteri sekitar 10 pangkat 10.
Penelitian yang diharapkan bisa menurunkan angka kematian akibat infeksi dari bakteria usus, ternyata justru sebaliknya, kematian justru meningkat 4 kali lipat dari jika tidak diberi bakteria2 ini. Sungguh malang nasibnya, 24 dari 296 pasien pancreatitis acut yang diberi yogurt ini justru meninggal dunia.
Karena menggunakan metoda double blind, dokter dan suster, maupun pasiennya tidak ada yang tahu siapa yang dapat placebo dan siapa yang dapat terapi. Setelah penelitian sudah selesai, baru ketahuan. Tapi sudah telat banyak pasien sudah mati.
Berita bisa dibaca disini :
http://www.wereldomroep.nl/actua/nl/wetenschap/act_probiotica080123
Kemudian Belanda mengeluarkan peringatan keras :
Pastikan Anda dalam keadaan sehat pada saat minum yogurt(yakult), sementara untuk orang tua dan bayi TIDAK DIREKOMENDASIKAN.
Sementara informasi resmi yg dikeluarkan pemerintah Amerika bahwa belum ada data yg shahih terkait dengan konsumsi probiotic dalam hal ini yogurt (yakult untuk kesehatan….Lah wong di dalam usus sendiri sudah banyak floranya kog.
Menganai hal ini bisa Anda baca disini :
http://news.yahoo.com/s/afp/20080123/hl_afp/
Semoga informasi ini berguna untuk Kita semua.
Be Rational….
Wassalamualaikum
Berita :
Prebiotik Perkuat Buah Hati
Rabu, 22 Oktober 2008 | 19:29 WIB
ADA banyak cara yang dapat dipilih untuk memperkuat kekebalan tubuh anak. Salah satu yang dapat dipertimbangkan adalah memberi makanan mengandung prebiotik. Selain sangat aman, prebiotik dapat menumbuhkan bakteri baik pada sistem pencernaan dan mencegah timbulnya alergi pada anak.
Prebiotik dikenal sebagai bahan makanan yang dapat mendukung tumbuh kembangnya bakteri menguntungkan dalam sistem pencernaan. Sedangkan proboitik sendiri adalah kuman atau bakteri menguntungkan yang hidup di sistem pencernaan dan berfungsi menjaga kekebalan tubuh.
“Jadi prebiotik itu adalah makanan untuk kuman yang berfaedah atau yang disebut probiotik. Jangan sampai probiotik jumlahnya menurun di dalam tubuh. Oleh sebab itu, mengonsumsi prebiotik sangat baik dalam memperkuat kekebalan terutama dalam saluran cerna. Praktis, bila kekebalan saluran cerna baik, kekebalan tubuh secara umum juga akan baik,” ungkap Dr Zakiudin Munasir, Sp. A (K), Ketua Divisi Alergi Imunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, di Jakarta, Rabu (22/10).
Selain berfungsi memelihara bakteri baik, prebiotik juga secara tidak langsung mampu menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh sekaligus menekan risiko alergi. Dr Zakiudin menjelaskan, suplai prebiotik yang cukup akan membuat pertumbuhan bakteri menguntungkan lebih baik. Dengan kondisi ini, keseimbangan antara sel limfosit T-helper yang berperan dalam merespon alergi dan infeksi juga akan tercapai.
“Artinya, infeksi dan alergi akan seimbang. Dengan kekebalan tubuh yang baik, alergi pun bisa ditekan. Memang bakteri probiotik itu akan berkembang dengan baik kalau ada makanan (prebiotik) yang cukup. Dengan kata lain kuman-kuman (probiotik) ini berfungsi sebagai imunomodulator yang menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh.,” paparnya.
Sumber prebiotik lanjut Zakiudin dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Sumber dari makanan alami seperti gandum, bawang, pisang , bawang putih, madu, dan kacang-kacangan. Ada pula yang dalam bentuk lain atau ditambahkan dalam susu formula.
“Salah satunya adalah pisang, selain buah ini juga kaya akan kalium. Tetapi kan anak tidak bisa terus diberi pisang, tentu harus mendapatkan dari sumber yang lain,” ujarnya.
Sementara itu, Medical Marketing Manager Nutricia, Dr Ashari Fitriyansyah menyatakan bahwa penambahan prebiotik FOS (frukto oligosakarida) dan GOS (galakto oligosakarida) dengan rasio 1: 9 dalam susu balita dapat memberi manfaat berarti bagi pertumbuhan dan kekebalan tubuh.
Hasil penelitian membuktikan komposisi prebiotik unik ini dapat memberi banyak keuntungan mulai dari meningkatkan pertumbuhan bakteri baik dan menekan yang buruk, menguatkan dinding saluran cerna dengan keasaman usus yang lebih rendah dan pola asam lemak rantai pendek, menurunkan insiden infeksi seperti ISPA maupun diare dan membantu proses pembentukan feses yang lunak dan pergerakan saluran cerna yang baik.
Sumber : http://www.kompas.com/
Suplemen Pre/probiotik Dalam Susu Formula
Pengirim: Lita Mariana
Rabu, 15 Oktober 2008
Sudah beberapa tahun ini susu formula bayi diberi tambahan oligosakarida (salah satu jenis gula sederhana/berantai pendek). Ini didasarkan pada dugaan dan hipotesa awal bahwa oligosakarida mampu meningkatkan kekebalan tubuh.
Dampak oligosakarida terhadap kekebalan tubuh baru diketahui tengah tahun lalu (2006) lewat publikasi sebuah penelitian. Sedangkan bagaimana dan peran apa yang dimiliki oligosakarida dalam mekanisme kerja sistem kekebalan tubuh sendiri hingga saat ini belum ada penjelasan yang menyeluruh serta memuaskan.
Mengenai ide awal pemilihan oligosakarida sebagai fortifikasi susu formula sendiri ada beberapa alasan, di antaranya adalah ‘resep’ nenek moyang dan (yang paling shahih adalah) kandungan ASI.
Sebagaimana kita maklumi, susu formula adalah pilihan bagi ibu yang tidak mampu menyusui bayinya secara penuh. Karena itu komposisi yang mendekati ASI sangatlah membantu memberikan ‘assurance’, keyakinan, ketenangan hati, kepada para ibu (dan ayah) yang selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Tentu menjadi salah kaprah apabila ibu memilih berhenti menyusui dan memberikan susu formula sebagai pengganti ASI, dengan dasar pemikiran kandungan susu formula lebih lengkap dan lebih layak bagi bayi daripada ASInya sendiri.
Susu formula dengan suplementasi prebiotik
Perusahaan besar yang memiliki perwakilan dalam penyelenggaraan penelitian tersebut kini menggelar promosi satu jenis susu formula atas nama salah satu mereknya. Nutricia, yang bernaung di bawah Numico, memperkenalkan ‘resep’ baru bagi lini Nutrilon Royal-nya: Immunofortis, berslogan ‘immunity for life’ (baca Immunity breakthrough from Nutricia).
Yang menjadi perhatian saya adalah:
Jika memang studi formulasi campuran fruktooligosakarida (FOS)-galaktooligosakarida (GOS) (ya prebiotik itu tadi) memakai subyek bayi 0-6 bulan, maka tidak terlihat pentingnya susu ini diberikan pada anak usia 1 tahun ke atas. Terutama mengingat sensitifitas anak yang mulai berkurang seiring pertumbuhannya, dan sebagian besar anak akan ‘sembuh’ (outgrow) dari dermatitis atopi (atau eksim) yang dialaminya pada 1 tahun pertama kehidupannya.
Dari mana saya mengambil simpulan bahwa susu ini ditujukan bagi anak usia 1 tahun ke atas? Ada peraturan bahwa produk pengganti ASI yang ditujukan bagi bayi berusia 0-12 bulan tidak boleh dipromosikan terbuka di media massa. Karena produk ini diiklankan, maka dengan sendirinya ‘harus’ memiliki target usia 1 tahun ke atas.
Itu simpulan sekejap sebelum mencari tahu langsung di informasi produknya. Dan ketika dilihat di penjelasan produk Nutrilon Royal, memang ada 4 tahapan produk yang tersedia, masing-masing untuk rentang usia tertentu.
Bisa jadi suplementasi ini memang membantu para ibu yang tidak mampu menyusui bayinya yang masih berusia 0-12 bulan dengan risiko dermatitis atopi. Tapi -sekali lagi- saya tidak melihat sifat mendesak dari pentingnya memberikan susu dengan suplementasi ini pada anak berusia 1 tahun ke atas.
Prebiotik mencegah timbulnya dermatitis atopi
Dari mana kisah suplementasi prebiotik dengan klaim kekebalan tubuh ini bermula? Saya menduga dari sini (berdasarkan keterlibatan dua penelitinya yang mewakili Numico):
A mixture of prebiotic oligosaccharides reduces the incidence of atopic dermatitis during the first six months of age. G Moro1, S Arslanoglu1, B Stahl2, J Jelinek2, U Wahn3 and G Boehm4
1. Center for Infant Nutrition, Macedonio Melloni Maternity Hospital, Milan, Italy
2. Numico Research Germany, Friedrichsdorf, Germany
3. Charité Campus Virchow Klinikum, Berlin, Germany
4. Sophia Children’s Hospital, Erasmus University, Rotterdam, Netherlands
Ringkasan penelitian dapat dilihat di sini sedangkan komentar terhadapnya dapat dilihat di sini.
Immunity for life: terbatasnya lingkup penelitian, luasnya klaim produk
Membantu meningkatkan daya tahan tubuh secara alami. Demikian pengantar tagline ‘immunity for life’. Yang sebaiknya dijadikan pertimbangan bagi yang berminat terhadap produk ini adalah:
1. Pengamatan penelitian ini terbatas pada dermatitis atopi, bukan reaksi alergi lainnya, apalagi yang berkaitan dengan kekebalan tubuh secara umum seperti infeksi ‘standar’ balita semacam flu, selesma, dan lain-lain, seperti yang dikesankan pada iklan.
2. Susu formula yang digunakan (pada penelitian) memang menggunakan basis racikan hipoalergenik. Jadi tanpa suplementasi prebiotik pun sudah dapat menurunkan risiko munculnya reaksi alergi (terhadap susu sapi) berupa dermatitis atopi.
3. Usia subyek penelitian yang tidak mencakup seluruh rentang usia balita, seperti yang dikesankan pada promosinya.
Holisme
Holism, berasal dari kata holos (yunani), yang berarti semua, seluruhnya, total. Secara definitif, holisme (holistik) adalah gagasan bahwa semua sifat (properties) suatu sistem tidak dapat ditentukan atau dijelaskan dengan cara menjumlahkan masing-masing komponennya. Sebaliknya, sistem sebagai suatu keseluruhan, menentukan bagaimana masing-masing bagiannya berlaku.
Istilah holisme muncul dalam ‘pengobatan’ psikosomatis. Ketimbang menemukan hubungan sebab-akibat satu arah antara tubuh dan jiwa, holisme ini membidik model sistem, di mana faktor biologis, kejiwaan, dan sosial saling bertautan. Gangguan pada satu sisi akan memberi pengaruh pada sisi lain juga. Pada taraf ini, holisme mirip dengan model kedokteran biopsikososial (haduh, susah ya istilahnya!).
Dalam bidang pengobatan alternatif, holisme melakukan pendekatan perawatan pada penyebab penyakit sekaligus gejalanya. Contoh terapi holisme ini misalnya akupunktur, ayurveda, pengobatan Cina, pijat kepala India, pengobatan naturopati, Qi Gong, reiki, dan refleksologi. Pengobatan ini umumnya tidak berasal dari tradisi medis-ilmiah yang berkembang di Barat, dan juga sering tidak memiliki bukti ilmiah yang cukup untuk menyokong klaimnya.
Baiklah. Cukup untuk penjelasan mengenai istilah. Ini yang lebih penting:
Holistic nutrition: is it really whole-ly?
Nestle mempromosikan Excella Gold dengan tagline ‘holistic nutrition’. Sebelumnya produk ini tidak diberi label apapun, tapi suplementasinya tidak berubah: probiotik. Tepatnya dari jenis Bifidus.
Dengan prasangka baik, produsen tentunya tidak berniat untuk menggaet calon konsumen yang fanatik terhadap jalur pengobatan holisme hanya dengan berbekal tagline. Kan? Tagline yang tidak ada hubungannya dengan pengobatan holisme. Ataukah ada? Probiotik dapat mempengaruhi kejiwaan dan sisi sosial anak?
Apa yang menyebabkan produk ini dilabel nutrisi holistik? Probiotiknya? Dari bongkar-bongkar arsip jurnal pediatrik, kok ya tidak ada yang menyebut-nyebut ada penelitian tentang probiotik yang berhubungan dengan kejiwaan.
Apa? “Tentu saja tidak ada”? Jadi saya mencari di tempat yang salah? Sebetulnya ada atau tidak sih, dasar ilmiah klaim ini? Yang didukung bukti ilmiah dan ulasan yang memuaskan pertanyaan orang-dengan-banyak-pertanyaan macam saya.
Atau ini sekadar istilah baru yang memang tidak perlu dibuktikan secara ilmiah karena tidak ada hubungannya dengan kandungan produk yang dipromosikan? Karena memang tidak ada hubungannya dengan kejiwaan? Karena maksudnya hanya ingin mengesankan ke-alami-an proses (apapun itu) yang dipromosikan? Karena holistik identik dengan alami?
Mungkin maksudnya whole dalam artian ‘menyeluruh’? Menyeluruh yang bagaimana? Atau… ini permainan definisi kata saja? Karena whole –sebagai predikat- dapat diartikan sebagai ’sehat’? Nutrisi (untuk) kesehatan, begitu? *keluh*
Pergeseran cara promosi susu formula
Saya amati, iklan susu formula akhir-akhir ini bergeser dari ‘mendongkrak kecerdasan anak’ menjadi ‘mewujudkan anak yang sempurna, dari akal, fisik, hingga kejiwaan’ (kepemimpinan, empati, proaktif, sifat apapun itu yang baik dan membuat ibu-ibu bahagia). Selain, tentunya, klaim tentang betapa sehatnya anak jika minum susu tersebut.
Ini pendapat saya: Nutrisi untuk jiwa? Yang benar saja.
Rekan ibu di manapun, saya sangatlah mengerti. Sebagai sesama ibu, kita menginginkan yang terbaik bagi anak. Dalam memberikan yang terbaik, kita bersedia mengorbankan apapun. Jiwa, jika perlu. Satu yang jangan diserahkan pada siapapun: akal sehat. Siapapun dan bagaimanapun seorang anak ditampilkan dalam iklan, belum tentu diakibatkan oleh susu yang dipromosikan.
Bukan susu yang melakukannya, tapi anda!
Susu tidak membuat anak menjadi pintar. Susu tidak membuat anak menjadi seorang pemimpin. Susu tidak membuat anak menjadi bintang. Susu tidak mengantar anak menjadi juara.
Susu tidak membuat anak cerdas melalui indra pelihatnya (walau dalam logika sederhana, mata yang sehat tentu dapat menunjang kegiatan apapun, termasuk proses belajarnya). Tanpa susu tersebut anak tetap akan belajar dengan melihat. Bayi berumur sebulan juga sudah mulai mempelajari lingkungannya dari apa yang didengar dan dilihat, jauh sebelum ia mengenal susu yang diiklankan.
Orangtualah yang berperan dalam mengembangkan kepribadian anak, bukan makanan. Interaksi dengan orangtualah yang merangsang perkembangan kecerdasan anak, bukan makanan. Pendidikan dan bimbingan dari orangtualah yang memperkaya kecerdasan emosional anak, bukan makanan.
Bukan mainan edukatif yang membuat anak pintar, tapi proses bermain, peran orang yang menemaninya bermain, dan kesempatan bermain itu sendiri yang ‘mendidik’nya. Bukan susu yang mendorong perkembangan empati, sifat kepemimpinan, proaktif, kecerdasan, kecerdikan, sifat suka menolong, gemar membantu, suka berbagi, baik hati, dan tidak sombong (eh, kaya janji pramuka aja).
Jangan biarkan ilusi iklan memperdaya anda dari tanggungjawab. Andalah yang memiliki peran di sana. Atau nenek, kakek, pembantu, atau pengasuh anak, siapapun yang paling intim menghabiskan waktu sehari-hari bersama anak. Secara langsung. Susu dan suplemen tidak mengeluarkan yang terbaik dari anak. Anda (dan mereka)lah yang melakukannya.
Sumber : http://wrm-indonesia.org/content/view/1306/1/
Saluran Cerna Awal Imunitas
By Republika Contributor
Rabu, 22 Oktober 2008 pukul 15:53:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Saluran Cerna Awal Imunitas CORBIS.COM
Anak yang sehat didukung dengan sistem imunitas yang kuat. Sistem itu diawali dari pencernan sehat selama masa pertumbuhan
JAKARTA– Sistem kekebalan tubuh manusia dibangun diawali sejak lahir dan berkembang sejalan dengan pertambahan usia.
Sayangnya, pengetahuan masyarakat akan informasi tersebut cenderung kurang. Padahal membangun imunitas anak sejak dini akan menentukan kualitas kesehatan anak hingga dewasa.
Menurut Ketua Divisi Imunologi, Bagian Ilmu kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Dr. Zakiudin Munasir Sp.A, masyarakat perlu memahami arti imunitas karena banyak informasi mengenai imunitas yang tersedia bagi konsumen sebagian kurang akurat.
Padahal sistem imunitas sangat penting bagi kesehatan. “Sistem imunitas yang sempurna dapat mencegah berbagai macam penyakit seperti gangguan pada saluran nafas serta berbagai macam infeksi,” ujarnya dalam acara yang diadakan Nutrilon Royal 3 di Jakarta, Rabu (22/10).
Menurut Zakiudin, pemberian gizi yang seimbang akan membantu pembentukan sistem kekebalan tubuh.
“Jangan menyepelekan masalah gizi pada anak karena berkaitan dengan perkembangan kesehatan anak di masa depan. Percuma bila anak cerdas dan pintar namun kelihatan lemah,” tuturnya.
Medical Manager Nutricia, Dr. Ashari Fitriansyah menjelaskan, sekitar 80 % imunitas anak terdapat di saluran cerna. Oleh karena itu, saluran cerna yang sehat merupakan awal imunitas yang baik.
Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan memberikan tambahan gizi yang diperlukan seperti pemberian prebiotik FOS (Fructo Oligosakarida) dan GOS (Galackto Oligosakarida) dengan ratio 1:9 pada level signifikan ke dalam susu anak usia bawah lima tahun (balita).
“Konsumsi susu yang mengandung prebiotik FOS dan GOS akan memberikan manfaat jangka panjang pada perkembangan anak,”ujarnya.
Menurut Ashari, komposisi prebotik unik tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri sehat dalam saluran cerna, mengurangi pertumbuhan bakteri patogen dalam saluran cerna, menguatkan dinding saluran cerna dan selain itu juga mencegah insiden infeksi seperti infeksi saluran nafas maupun diare.(cr2/ri)
Sumber : Republika
Keajaiban Probiotik
Monday, 27 October 2008
TAK ada yang menyangsikan kegunaan probiotik dalam sistem kekebalan tubuh. Salah satunya mengurangi gejala alergi.
Probiotik merupakan bahan pangan yang mengandung jasad renik hidup atau mikroorganisme yang mampu memperbaiki keseimbangan flora usus jika dikonsumsi dalam jumlah yang memadai dan dalam keadaan hidup. Jasad renik itu berkolonisasi dan membantu memperbaiki keseimbangan flora usus.
Probiotik dalam kehidupan keseharian biasa dijual dalam bentuk suplemen,tapi tak sedikit dalam bentuk fermentasi makanan atau susu,termasuk yogurt dan jus. Menurut penelitian terbaru di Inggris, mengonsumsi probiotik setiap hari dapat membantu menghilangkan alergi serbuk sari (hay fever atau alergi rhinitis) yang biasa dibawa angin.
Riset yang dilakukan peneliti pada Institute of Food Research (IFR) di Norwich, Inggris, menyimpulkan, probiotik atau ”bakteri baik” yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah tertentu dapat mengubah respons sistem kekebalan tubuh terhadap serbuk sari rumput yang menyebabkan alergi, dan menjaga keseimbangan antibodi dengan jalan mengurangi kondisi alergi.
”Data penelitian menunjukkan suplemen probiotik memodulasi respons kekebalan, dan memiliki potensi mengurangi serangan gejala alergi,”sebut Claudio Nicoletti dari Institute of Food Research seperti dilansir jurnal Clinical and Experimental Allergy,belum lama ini. Manusia normal umumnya hingga satu kilogram bakteri dalam saluran cerna.
Bakteri tersebut ada yang merugikan atau bersifat patogen yang membawa penyakit dan menguntungkan, seperti probiotik yang membangun sistem kekebalan dan keuntungan lain. Bila jumlah mikroflora tidak seimbang,atau bakteri patogen lebih banyak, maka dapat menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan yang salah satunya adalah diare.Pencernaan yang sehat adalah tempat tinggal sekitar 100 jenis dan 100 triliun bakteri hidup.
Dalam penelitian IFR, sukarelawanyangmemilikisejarah alergi musiman dianjurkan meminum susu dengan atautanpa lactobacilluscasei— bakteri yang dikenal menguntungkan— dalam periode lima bulan. Peneliti juga mengambil sampel darah penderita sebelum musim serbuk sari rumput beterbangan, pada puncak, dan akhir musim.
Pe-neliti menemukan, orang yang meminum minuman probiotik memiliki tingkat antibodi yang rendah dalam membantu memproduksi gejala alergi. Dan dalam waktu bersamaan, orang tersebut memiliki tingkat antibodi yang berbeda (disebut IgG) yang lebih tinggi yang berperan melawan reaksi alergis. Mengonsumsi lactobacillus casei telah terbukti ampuh menambah kebugaran.
Dalam penelitian yang dilakukan Nagao F et al (2000) lactobacillus casei Shirota strain yang bisa terdapat dalam minuman probiotik Yakult dapat meningkatkan aktivitas sel Natural Killer (sel NK).(lihat grafik).
Keajaiban probiotik saat ini telah memukau sejumlah ahli. Bahkan, pada abad 21 ini,muncul paradigma baru mengenai pengobatan akibat penyakit gaya hidup. Pola konsumsi makanan yang tidak sehat, tidak seimbang, serta westernize dietary dengan sedikit mengonsumsi serat,yang dapat memicu penyakit kanker, jantung, dan diabetes, tidak selalu dapat disembuhkan dengan obatobatan, tapi dengan cara mengubah gaya hidup dan pola makan sehat. (shalahuddin)
Sumber : SINDO








