Polemik Puyer
Assalamualaikum

Sepertinya tidak akan pernah habis membahas polemik mengenai puyer di Indonesia.
Entah sampai kapan…….???
Atau sampai menunggu jatuhnya korban…???
Padahal bahaya resistansi obat-obatan sudah didepan mata.
Luar biasa sekali respon menganai hal ini, dari mulai Menkes, Ketua IDI, YLKI sampai buruh pabrik.
Inilah proses pembelajaran yang sangat baik buat masyarakat kita.
Informasi sudah dibuka lebar-lebar.
Sedih dengar komentar Pemerintah/Bu Menkes
Prihatin dengan komentar IDI
Kecewa dengan komentar YLKI
3 Mei 2008 pernah di adakan seminar mengenai perihal tersebut di FKUI, tak kurang dari Pemerintah, IDI Jakarta, YLKI, Akademisi dan YOP (Yayasan Orang Tua Peduli) yang dihadiri oleh para para dokter muda/ tua, farmasis dan calon dokter dengan harapan ada suatu ’warning’ atau suatu capaian yg lebih baik kedepan.
Juni 2008 majalah Farmacia menurunkan liputan khusus mengenai polemik ini.
Dan awal tahun ini tepatnya Feb 2009 RCTI lewat program Seputar Indonesia menurunkan berita ini selama 10hari berturut-turut diserati dengan investigasi lebih dalam.
Liputannya disini :
- http://video.okezone.com/play/2009/02/12/236/7350/puyer-lahir-dari-keterbatasan-obat-anak-anak
- http://video.okezone.com/play/2009/02/09/236/7260/sisi-negatif-obat-puyer
- http://video.okezone.com/play/2009/02/12/235/7328/praktik-dokter-umum-dibanjiri-pasien
- http://www.mediafire.com/file/hd3xm1mlzmw/sisi negatif obat puyer.wmv
- http://www.filefactory.com/file/afhhh76/n/bahaya_puyer_RCTI_09022009_flv
- http://bdwiagus.blogspot.com/2009/02/puyer.html
Miris rasanya melihat fenomena ini, namun apa dikata puyer sudah seperti rokok, begitu sangat membudaya di Indonesia.
Harus dengan I’tikad yang baik untuk mencapai semua ini.
Faktanya tidak dapat dipungkiri, Indonesia dengan lebih dari 220juta jiwa adalah pasar yang sangat luar biasa sekali untuk industri obat-obatan.
Bukan rahasia umum kolusi dokter dengan pabrik obatpun sepertinya sudah menjadi hal yang mahfum.
Miris rasanya melihat fenomena semacam ini……
Pengalaman pribadi saya sekitar 20tahun yg silam terkait dengan puyer tidak pernah begitu saja dilupakan.
Dengan berbekal kertas bekas obat nyamuk, waktu itu cap kingkong sangat populer sekali di Jawa Tengah, atau kertas bekas bungkus teh, atau kertas bekas apa saja yang saat itu ditemuainya, kemudian dengan cekatan orang tua saya menuliskan keluhan perihal sakitnya saya. Tak lama dari itu 6 atau 9 bungkus obat racikan atau puyer sudah terbungkus rapi dikertas obat dimasukan kedalam plastik tak lupa disertai dengan aturan minum 3 x 1 sehari.
Suatu ketika, orang tua yang sakit giliran saya menuliskan gejala klinisnya dikertas bekas bungkus obat nyamuk atau kertas bekas lainnya, sebut saja kepala pusing, pegal-linu dan batuk-batuk.
Segera saya ambil sepeda ontel dan menggayuhnya menuju apotik langganan keluarga kami yang berjarak kurang lebih 3km, Yah Apotik Ratna namnya, yang hingga sampai kini masih tetap berdiri kokoh ditempatnya berada. Kembali kertas bekas bersisi keluhan itu saya sodorkan dan secepat kilat sang apotekerpun membuat adonan/ racikan sesuai dengan keluhannya.
Tak tahu obat apa saja yang digerus didalamnya…..dan tak pernah terpikir saya untuk tahu akan hal itu, yang penting kami bisa lekas sembuh, yang saya rasakan pahit rasanya, kalau kesembuhan relatif rasanya sangat tergantung dengan sistem kekebalan tubuh kita, nyatanya waktu kecil saya gampang sakit-sakitan.
Luar biasa sekali, saya kira praktek itu sudah berjalan seiring usia negeri ini, sejak zaman penjajahan Belanda berdasarkan Reglement(=Peraturan) DVG(Reglement of de Dienst der Volksgezondheid) praktek peracikan obat yang lazim disebut puyer sudah dilakukan dan telah ditetapkan Peraturan Pemerintah RI, yang mana peraturan tersebut adalah :
1. Apoteker ( Ijazah,Sumpah, SIK/SP, SIA , PERMENKES No.922/93 )
2. Asisten Apoteker (Dibawah Pengawasan Apoteker di Apotik)
3. Dokter (Khusus untuk suntikan,kecuali dalam keadaan darurat,di daerah terpencil yang tidak ada Puskesmas/Apotik boleh menyimpan obat (PP No.1/1988)
Sementara pengertian tentang peracikan obat tersebut adalah :
1. Peracikan Obat (Dispensing) : adalah perubahan bentuk atau penyerahan obat dengan maksud kesehatan (Reglement DVG)
2. Peracikan Obat (Dispensing) : adalah semua kegiatan yang terjadi setelah resep ditangani di apotik sampai obat dan atau bahan obat lain yang di resepkan diserahkan pada pasien. (Standard for dispensing Procedures, Azwar Daris)
3. Peracikan Obat (Compunding ) : preparation, mixing, assembling, packaging or labeling of a drug or device as a result of a practitioner’s prescription drug order based on the patient/pharmacist/prescriber relationship in professional practice.(FDA-Act 1990)
4. Apotek melakukan Pelayanan Kefarmasian yang meliputi; Pembuatan,pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat. (KEPMENKES No. 1027/Menkes/SK/IX/2004)
5. Apotek Rakyat melakukan Pelayanan Kefarmasian antara lain penyerahan obat dan perbekalan kesehatan , akan tetapi dilarang meracik obat.(Permenkes 284/Menkes/PER/III/2007 )
(Dikutip dari : Makalah Seminar 3 Mei 2008, Ida Z. Hafiz Dra, Apt, Msi)
Harapan saya sebagai konsumen kesehatan, sudah saatnya pemberian puyer seperti itu ditinjua ulang kalau perlu dihilangkan sama sekali, investigasi RCTI telah membuka mata hati kita semua betapa mengerikan cara-cara peracikan puyer di Indonesia sudah tidak ada alasan lagi lebih murah dan mudah pemberiannya khusus untuk anak-anak, sebab 80% penyakit anak-anak adalah penyebabnya virus, kalau mau murah bisa pilih obat generik yang sudah disiapkan lebih banyak lagi oleh pemerintah.
Akhirnya berpulang pada diri kita masing-masing.
Puyer adalah bagian kecil dari bahaya overmedication yang paling mendasar adalah bagaimana layanan kesehatan di Indonesia bener-benar RUM (Rational Use Of Medicine), sebab 1 obat saja ketika memang tidak diperlukan sudah termasuk overmedication.
Jadilah konsumen kesehatan yang cerdas.
Jadilah dokter dan apoteker yang bijak
Masih adakah hati nurani di tulang belulang yang dibalut oleh kulit ini…???
Inikah yang Tuhan mau dari Kita….???
Salam prihatin,
Wassalamualikum
Sumber gambar : farmacia.com








