Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Saatnya Indonesia terapkan Peringatan Bahaya Rokok yang Efektif

May 27, 2009

Senin 25-05-2009
Saatnya Indonesia terapkan Peringatan Bahaya Rokok yang Efektif

Peringatan berbentuk gambar di kemasan rokok Australia
Dengan angka prevalensi perokok pria sebanyak 63,1% dan prevalensi perokok wanita yang mencapai 4,5%, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok terbesar ke 5 di dunia. Di Indonesia, bukan hanya orang dewasa yang merokok, sejumlah anak di bawah usia 10 tahun pun sudah mulai merokok. Menurut data tahun 2004, sebanyak 1,7% anak mulai merokok pada usia 5-9 tahun. Keadaan yang memprihatinkan ini tidak terlalu mengherankan bila melihat faktor-faktor pemicunya. Lihat saja bagaimana kita semua terpapar iklan dan promosi rokok di mana-mana. Anak-anak pun kerap menghadiri pentas musik yang disponsori oleh perusahaan rokok. Bahkan, sejumlah anak mengaku pernah ditawari produk rokok gratis pada saat menghadiri konser musik tersebut. Peraturan mengenai rokok di Indonesia memang masih sangat lemah. Hal ini mengesankan bahwa perilaku merokok dianggap biasa-biasa saja. Normalisasi semancam ini berdampak pada penilaian anak-anak terhadap perilaku merokok. Saat ini perihal rokok hanya diatur melalui Peraturan Pemerintah no 19/ 2003. Peraturan ini belum sepenuhnya memuat pasal-pasal yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya penggunaan produk tembakau. Hal ini terutama bila mengacu pada ketentuan internasional seperti Kerangka Konvensi mengenai Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Sampai saat ini Pemerintah Indonesia belum meratifikasi FCTC. Sejak diperkenalkan pada tahun 2001, sudah 164 negara yang menandatanganinya. Kini, Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang belum meratifikasi FCTC. Alsasan yang dikemukakan pemerintah untuk tidak meratifikasi cenderung memihak pada kepentingan ekonomi. Padahal, kerugian kesehatan karena rokok jauh lebih besar daripada pendapatan ekonomi yang diperoleh. Pada tahun 2005, pendapatan pemerintah dari tembakau mencapai Rp 37 triliun. Sementara itu, pada tahun yang sama, kerugian kesehatan akibat jumlah kematian dari 3 kelompok penyakit utama akibat merokok yaitu kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, dan penyakit pernafasan kronik obstruktif adalah Rp 167 triliun atau 5 kali lebih besar daripada pendapatan ekonomi. Secara kesuluruhan proporsi penduduk yang bekerja di sektor industri tembakau – mulai dari petani tembakau, petani cengkeh, dan mereka yang bekerja di pabrik rokok pun hanya 2% dari total jumlah tenaga kerja di Indonesia.

Hingga kini upaya untuk menggolkan sebuah Undang-Undang untuk pengendalian produk tembakau masih terhadang sejumlah kendala. Salah satu ketentuan yang masih diperjuangkan adalah mengenai penerapan peringatan bahaya merokok bagi kesehatan berbentuk gambar pada bungkus rokok. Saat ini, PP 19/2003 mengatur bahwa produsen tembakau diwajibkan mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk teks pada bungkus rokok yang berbunyi ”merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan”. Meski peraturan ini sudah dilaksanakan, pada kenyataannya peringatan ini cenderung tidak efektif di mana masyarakat tidak terlalu percaya pada pesan itu karena tidak melihat bukti. Sebagian besar perokok juga merasa peringatan tersebut kurang memotivasi mereka untuk berhenti merokok,bahkan, sering mereka sudah tidak membacanya lagi. Ukuran dari peringatan kesehatan tersebut memang masih belum memadai, yaitu hanya menempati 15% dari luas permukaan bungkus. Berbeda dengan PP 19/2003, FCTC mensyaratkan agar peringatan kesehatan menempati 30-50% dari permukaan bungkus rokok dan ditempatkan pada kedua sisi bungkus, berupa pesan tunggal, berganti-ganti, dan berbentuk gambar.

Sebuah studi dengan 3040 responden remaja perempuan dan wanita muda di Indonesia yang dilakukan Koalisi untuk Indonesia Sehat pada tahun 2008 mengungkapkan bahwa 85,63% responden mendukung diterapkannya peringatan berbentuk gambar pada bungkus rokok. Dari riset tersebut terungkap bahwa sebagian besar berpendapat bahwa peringatan yang berbentuk gambar terutama dapat mencegah anak-anak dan remaja untuk mencoba merokok karena mereka akan mempunyai bayangan seperti apa bentuk penyakit yang ditimbulkan oleh rokok. Sayangnya, sampai saat ini pemerintah Indonesia belum juga menyetujui penerapan peringatan berbentuk teks tersebut. Padahal peringatan kesehatan berbentuk gambar itu merupakan sarana pendidikan kesehatan bagi masyarakat luas yang efektif dan murah karena biayanya tidak ditanggung oleh pemerintah. Ironisnya, semua perusahan rokok internasional, termasuk sejumlah merek rokok Indonesia yang dijual di negara lain, mencantumkan peringatan yang berbentuk gambar karena diharuskan oleh negara yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan rokok menerapkan standar ganda di mana mereka mengabaikan kesehatan warga Indonesia sementara kesehatan warga negara lain lebih mereka hargai.

Tahun ini, peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada tanggal 31 Mei mendatang mengusung tema “Tobacco Health Warnings”. Apa efek peringatan tersebut bagi Indonesia? Mudah-mudahan saja pemerintah Indonesia akan segera maju menunjukkan tanggung jawab mereka terhadap kesehatan warganya.

Sri Manganti Hadi (Aktivis Jaringan Pengendalian Tembakau Indonesia)

[agnes]

Sumber : Koalisi.org

Goresan Tanganku

May 9, 2009

Assalamualaikum teman-teman.

Alhamdulillah, motorik halusku sekarang sudah lebih baik, aku sudah bisa menggambar meskipun bentuknya masih belum sempurna dan aku juga sekarang kalau mewarnai sudah tidak keluar garis pembatas/ obyek gambar lagi….terima kasih Bunda……terima kasih Ayah….terima kasih Mbak…..terima kasih Bunda-bundaku di Sabilina.

Dan ini beberapa contoh hasil goresan tanganku::

Terima kasih

Wassalamualaikum

Memaknai Demam Pada Anak

May 6, 2009

Assalamualaikum

Demam, sesuatu yang tidak mungkin dihindari, hampir semua manusia pernah mengalaminya, bahkan pada anak-anak demam menjadi indikator pertama dari sebuah diagnosis.

Sebagian besar penyakit pada anak-anak penyebabnya adalah virus (Self Limiting Diseases).

Coba Anda ketikan ‘demam’ pada raja pencari alias mbah google, ketika saya menulis artikel ini ada 3,260,000 for demam. (0.08 seconds) luar biasa sekali, namun lebih luar biasa lagi ketika Anda menuliskan demam dalam bahasa inggris/ medis ‘fever’ ada 72,800,000 for fever [definition]. (0.07 seconds).

Ya begitu banyak sekali artikel yang terkait dengan demam, namun begitu banyak juga orang tua yang dibuat pusing, stress, binggung dan panik dibuatnya.

Saya tidak akan menulis lagi detail teknis tentang demam, selain saya bukan dokter banyak sekali artikel tentang hal itu, namun saya belum menemukan tulisan yang menyangkut demam ditinjau dari sudut pandang non medis tanpa meninggalkan unsur ilmiahnya.

Pernahkah Kita mencoba untuk merenungi itu semua? Terkadang justru sebaliknya, sebisa mungkin segera diberikan obat penurun panas. Bahkan sebagaian orang terkadang lebih dipusingkan dengan dosis/ takarannya ketimbang mencari apa penyebabnya.

Sepengetuhan saya bahwa timbulnya demam akibat senyawa prostaglandin yang bersumber dari enzym COX (cyclooxygenase) sebagai hasil kerja pirogen. Subhanallah….betapa luar biasanya Allah membuat pirogen ini.

Setidaknya ada 2 fungsi yg saya ketahui dari pirogen:

1. Mengerahkan sel darah putih/ leukosit utk menuju titik saran terjadinya infeksi ( AB Narrow Spectrum)

artinya : si leukosit ini tugasnya mematikan/menyerang/ mengempur markas utama terjadinya infeksi, saya ibaratkan ini Antibiotik tipe Narrow Spectrum

2. Terbentunya prostaglandin sehingga menimbulkan demam (AB Broad Spectrum)

artinya : virus ini tdk tahan dengan suhu tubuh yng tinggi, nah untuk membantu sel darah putih/ leukosit yg sedang menghancurkan pusat komando/infeksi……… si pirogen lewat senyawa prostaglansin ini membuat pertahanan menyeluruh….dengan cara membuat demam……tentunya ada maknanya….sepanjang perenungan dan pemaknaan saya…..inilah radar penangkalnya…disaat leukosit sedang bertempur namun lini pertahan lain ikut menangkal dari serangan yg lain, saya ibaratkan ini Antibiotik tipe Broad Spectrum

Sekedar saran : Tolong fahami baik-baik tentang hal ini. Saya tidak anti obat-obatan pereda nyeri/antipretik seperrti paracetamol/acetaminophen, namun gunakanlah sebijak mungkin (risk and benefit).

Obat-obatan seperti paracetamol/acetaminophen bekerja hanya untuk menghambat enzym cox(cyclo oxygenase) sehingga tidak terbentuk prostaglandin yang ditandai dengan demam bukan untuk menyembuhkan penyebab demamnya, kalau raeksi kimia obatnya habis sangat mungkin sekali demam lagi.

Lantas apa yang sebaiknya dilakukan, poin pentingnya cegah agar jangan sampai terjadi dehidrasi, caranya :

- Perbanyak ASI kalau masih ASI

- Perbanyak minum

- Kompres air hangat

- Rendam air hangat (jangan dipaksakan)

- Skin to skin, transfer panas, cukup efektif ini yang biasa saya lakukan

- dst

Dibawah ada artikel yg mungkin bisa utk mengugah Kita semua, betapapun paracetamol/acetaminophen tentu ada efek sampingnya. sekali lagi fahami baik-baik tentang demam….fahami klausulnya..apa clue2nya DB, DBD, OMA, Gastro…dst……. demam seperti apa sih yg berbahaya…dst. Jadi jangan sampai belum apa-apa sudah di intervensi sama obat-obatan sekalipun paracetamol, Kapan kekebalan tubuhnya akan terbentuk, biarkan tubuh mengaturnya/bekerja sendiri.

Luar biasa sekali perangkat ciptaan Allah ini. Dan fahami……anak demam ini adalah bagian dari pembentukan pertahanannya. taruhlan virus a masuk…..tanpa obat sembuh……masuk lagi a sudah kenal……biasanya demam 5/4 hari…kini tinggal 2 hari….masuk lagi a…….si tubuh ngomong…hai gue udah kenal loe…..gue kaga takut……dst…. alhasil demam cukup 1 hari.

Wassalamualaikum

Acetaminophen poisoning now most common cause of acute liver failure in the USA

Main Category: Liver Disease / Hepatitis
Article Date: 30 Nov 2005 - 0:00 PDT

 

 "Acetaminophen poisoning has become the most common cause of acute liver failure in the United States," report the authors of a new study in the December 2005 issue of Hepatology, the official journal of the American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD). While attempted suicides still account for many cases, almost half are the result of unintentional overdose.

Acetaminophen is the most widely used pain reliever in the United States–36 percent of Americans ingest it at least once a month–but taking more than the recommended dose can lead to fatal liver injury. While intentional overdoses generally present early after ingestion and can be treated with N-acetylcysteine, unintentional overdoses are usually not recognized until later. As a result, lead author Anne M. Larson, M.D. of the University of Washington and her colleagues suspected that patients with acute liver failure from unintentional acetaminophen overdoses would have more severe disease and worse outcomes than patients with intentional overdoses.

To examine this hypothesis the researchers conducted a prospective study of patients presenting with acute liver disease to any of 22 academic centers participating in the Acute Liver Failure Study Group. Of 662 consecutive patients over a six-year period between 1998 and 2003, 275 had acetaminophen-related acute liver failure. For each of these patients, the researchers gathered demographic and clinical information, including illness severity, history of acetaminophen ingestion, and outcome.

Acute liver failure cases attributed to acetaminophen increased from 28 percent in 1998 to 51 percent in 2003. These patients were predominantly female (74 percent) and Caucasian (88 percent.) While 44 percent had intentionally overdosed on the drug in suicide attempts, 48 percent had overdosed unintentionally, either by taking combinations of products containing acetaminophen, or taking more than the recommended dosage of a single product over time. Of all patients with acetaminophen-related acute liver failure, 74 died, 23 received liver transplants, and 178 survived without transplantation.

Those who had unintentionally overdosed were older, used multiple acetaminophen-containing medications more frequently and waited longer to seek care after their symptoms began. Most reported that they had been taking the medications specifically for pain. They were more likely to have severe hepatic encephalopathy than patients who had overdosed intentionally.

Sixty-three percent of patients who overdosed accidentally had been using prescription narcotic/acetaminophen compounds. Thirty-eight percent had been using two acetaminophen medications simultaneously. "This suggests patients lack awareness of the hazards of over-the-counter acetaminophen use in combination with prescribed agents," the researchers say.

Some patients reported taking less than 4 grams of acetaminophen per day before falling ill. "Our data suggests that there is a narrow therapeutic margin and that consistent use of as little as 7.5 g/day may be hazardous," report the authors, who plan to investigate that issue in a future study. Their data also suggest, they say, that there is no chronic form of acetaminophen injury, rather, a threshold of safety that, when breached, has devastating results.

Elsewhere in the world, unintentional overdosing is less common than intentional, so, the authors report, "one of the most alarming findings in our study was that unintentional acetaminophen overdose accounted for 50 percent of our cases."

Although the incidence of acetaminophen overdose is still low compared to the millions of tablets consumed on a daily basis, the findings of this study were startling and led the authors to propose changes in the way acetaminophen is sold.

"Efforts to limit over-the-counter package size and to restrict the prescription of narcotic-acetaminophen combinations (or to separate the narcotic from the acetaminophen) may be necessary to reduce the incidence of this increasingly recognized but preventable cause of acute liver failure in the United States," they conclude.

Published by John Wiley & Sons, Inc., Hepatology is available online via Wiley InterScience (interscience.wiley.com/journal/hepatology).

Article: "Acetaminophen-Induced Acute Liver Failure: Results of a United States Multicenter, Prospective Study," Anne M. Larson, Julie Polson, Robert J. Fontana, Timothy J. Davern, Ezmina Lalani, Linda S. Hynan, Joan S. Reisch, Frank V. Schi�dt, George Ostopowicz, A. Obaid Shakil, William M. Lee, and the Acute Liver Failure Study Group, Hepatology; December 2005 (DOI: 10.1002/hep.20948).

John Wiley & Sons, Inc.
http://www.interscience.wiley.com

Source: http://www.medicalnewstoday.com/articles/34287.php