Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Hitam-Putih Fluoride Di Pasta Gigi

September 15, 2009

Assalamualaikum

Sudah lama tidak update berhubung belum ada mood yang pas, nah kebetulan tadi sempat baca artikel yang cukup menarik yaitu "Fluoride Dalam Pasta Gigipun Menyimpan Bahaya" yang di publish SuaraMedia tertanggal Senin 14 September 2009.

Saya jadi ingat diskusi 4tahun yang lalu di milis tercinta milis sehat.

Harapan saya setelah membaca informasi ini Kita bisa lebih bijak dalam mengambil kesimpulan.

Selamat membaca

Semoga bermanfaat

Wassalamualikum

Berikut informasi berita dan hasil diskusi oleh para ahlinya :

Fluoride Dalam Pasta Gigipun Menyimpan Bahaya

Kegiatan menggosok gigi baik bagi kesehatan, tapi anda harus cermat. (SuaraMedia News)

Kegiatan menggosok gigi baik bagi kesehatan, tapi anda harus cermat. (SuaraMedia News)

Menggosok gigi merupakan kebiasaan mutlak diperlukan bagi kesehatan. Kebiasaan ini bahkan diajarkan sejak kita masih kecil dengan tujuan agar gigi kita tetap sehat. Sejak dulu, produk pasta gigi erat sekali dengan kandungan fluoride yang tak bisa dipungkiri merupakan salah satu zat yang dibutuhkan tubuh bagi pertumbuhan dan kesehatan gigi. Namun bagaimana sebenarnyadampak fluoride bagi kesehatan?

Di Indonesia, pasta gigi mengandung fluoride mulai muncul sekitar tahun 70-an. Fluoride yang banyak digunakan jenis Sodium Monofluoro Fosfat atau Sodium Fluoride, dengan kadar yang 250 hingga 800 ppm. Secara detail, fluor merupakan salah satu bahan pasta gigi berfungsi memberikan efek deterjen sebagai satu dari tiga bahan utamanya disamping bahan abrasi sebagai pembersih mekanik permukaan gigi dan pemberi rasa segar pada mulut, sementara bahan lainnya sodium bikarbonat dan baking soda sebagai alkalin untuk mengurangi keasaman plak dan mencegah pembusukan, sedangkan pemutih, pemberi rasa dan sebagainya merupakan bahan tambahan pada racikan pasta tersebut.

Dengan efek tersebut, fluoride berfungsi melapisi struktur gigi dan ketahanannya terhadap proses pembusukan serta pemicu proses mineralisasi. Unsur kimia dalam zat ini mengeraskan email gigi pada persenyawaannya. Begitupun, sejak dulu efek kerugiannya juga sudah dipublikasikan secara luas yakni bahayanya bila tertelan dan karena itu juga kita tidak diajarkan menelan pasta gigi.

Kadar penggunaannya memiliki ambang batas yang bisa membahayakan dari efek paparan bila digunakan berlebihan dan tidak sesuai anjuran. Dari literatur yang ada, fluoride dalam kadar berlebihan berakibat sebaliknya dan harus diawasi terutama pemberian terhadap anak-anak yang cenderung menelan odol pada waktu menyikat gigi karena rasa segar yang didapat apalagi bila ditambah perasa tertentu. Bukan hanya dari pasta gigi, kandungan fluoride juga bisa didapat dari konsumsi makanan tertentu dan tersedia dalam bentuk suplemen yang justru sasaran pemberiannya anak-anak.

Bahaya Fluoride

Dari sejumlah berita yang beredar beberapa waktu lalu fluoride disinyalir sebagai salah satu bahan yang digunakan pada pembuatan bom atom. Efek racun kimiawi yang dipaparkan lewat penemuan ini mendorong para peneliti semakin kritis melakukan riset tentang bahaya flouride pada pasta gigi, kemudian banyak berita mempublikasikan efek samping dan bahaya fluoride dalam memicu osteoporosis dan kerusakan sistem saraf terutama pada penggunaan yang salah.

Sekitar awal tahun 2000‚ pemerintah Belgia menjadi pihak pertama melarang peredaran tablet dan permen mengandung fluoride yang selama ini dianjurkan pemberiannya pada anak-anak untuk menguatkan gigi mereka. Riset lain dari Swedia menyorot kecenderungan anak untuk menelan pasta gigi secara tak sengaja melalui air ludah bekas sikat gigi yang kerap memicu kasus overdosis fluoride dan menimbulkan gangguan seperti banyaknya pengeluaran ludah, tumpulnya indera perasa di sekitar mulut sampai ke gangguan pernafasan bahkan kanker.

Keadaan terhambatnya penyerapan kalsium sebagai salah satu manifestasi efek sampingnya juga dikenal dengan istilah fluorosis yang bisa berakibat lanjut pada penurunan IQ, gangguan sistem saraf dan kekebalan tubuh serta kerapuhan tulang dan terhambatnya pertumbuhan.

Di beberapa negara, anjuran penggunaannya sudah dibatasi untuk usia diatas 5 tahun. Di Indonesia telah dihimbau penggunaannya dalam tiap tube pasta gigi tidak lebih dari 500 ppm dari sebelumnya sekitar 1000-1500 ppm dan mengikuti antisipasinya untuk mengurangi penambah rasa sebagai pencegah anak-anak agar tak menelan pasta gigi tersebut.

Di luar kemungkinan pemberitaan efek fluoride ini sebagai fakta, mungkin tak perlu buru-buru menjadi terlalu resah dan was-was menggunakan produk pasta gigi yang mengan-dung fluoride sejauh kadarnya masih di bawah ambang batas yang dianjurkan. Kesadaran konsumen untuk memilih produk masih tetap bisa dilaksanakan, paling tidak untuk memilih pasta gigi dengan kadar fluoride rendah, dan mungkin, dengan adanya pro dan kontra ini salah satu antisipasi terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan mengawasi penggunaannya.

Berhati-hatilah dengan pasta gigi si kecil.

Berdasarkan riset, pasta gigi yang digunakan si kecil (apalagi yang ditambahkan perasa buah untuk memikat anak) terbukti memiliki kandungan yang cukup membahayakan. Fluoride yang ditambahkan pada pasta gigi bisa menimbulkan osteoporosis dan kerusakan sistem syaraf. Apalagi, jika si kecil doyan mengisap habis pasta gigi yang rasanya enak.

Sejak tahun 1960-an, penggunaan fluoride pada pasta gigi menjadi perdebatan panjang di kalangan ilmuwan. Sebagian dari mereka yakin bahwa fluoride dapat membantu menjaga kesehatan gigi. Kelompok yang menentangnya berargumen bahwa penggunaan fluoride dapat menimbulkan berbagai efek samping yang berbahaya.

Pada dasarnya, pasta gigi mengandung berbagai jenis fluoride. Fluoride yang banyak digunakan adalah jenis sodium monofluoro fosfat (MFP) dan sodium fluoride (NaF). Menurut Iman Firmansyah, Tim Peneliti Lembaga Konsumen Jakarta Public Interest Research and Advocacy Center (LKJ PIRAC), di Indonesia, kandungan fluoride pada pasta gigi anak ternyata cukup besar, yaitu antara 800-1500 ppm. Padahal di beberapa negara, batas maksimal kandungan fluoride mulai dikurangi. Contohnya, di negara Eropa, Australia, dan New Zealand kandungan fluoride berkisar 250-500 ppm.

Hasil penelitian Departemen Kesehatan Belgia menyimpulkan bahwa penggunaan fluoride secara berlebihan dapat menyebabkan osteoporosis dan kerusakan sistem syaraf. Ini mendorong pemerintah Belgia melarang beredarnya segala jenis tablet dan permen yang mengandung fluoride. Pemerintah Belgia juga sedang mempresentasikan hasil penelitiannya di depan anggota Uni Eropa untuk memperoleh kesepakatan bersama pelarangan pasta gigi yang mengandung fluoride.

Seorang pakar lainnya, Profesor Dirk Vanden Berghe, Mikrobiologist Universitas Antwerp, Swedia, menyatakan, sekitar 30-40 persen pasta gigi ditelan anak-anak pada saat mereka menyikat giginya atau melalui air ludah. Inilah yang menyebabkan mereka mengalami overdosis fluoride. Apalagi, produsen umumnya menambahkan aroma seperti rasa buah yang disukai anak-anak. Padahal semakin besar kandungan fluoride dalam pasta gigi anak, maka makin besar pula risiko kesehatan yang akan dideritanya kelak. kelebihan fluoride pada anak dapat dilihat dari tanda-tanda fisik anak banyak mengeluarkan ludah, indera perasa jadi tumpul, badan gemetar, pernapasan berat dan anak jadi cepat lelah.

Sementara, menurut ahli gigi India dari Maulana Azad Medical College (MAMC) Dr Pakaj Goel, pasta gigi yang mengandung fluoride tidak cocok digunakan untuk anak-anak di bawah umur empat tahun. Pakaj menambahkan, jika pasta gigi berfluoride sering tertelan dalam jumlah yang signifikan maka dapat mengakibatkan fluorosis pada anak, kerapuhan tulang, dan pertumbuhannya terhambat. Bahkan, Dr Mahesh Verma, Kepala Pusat Penelitian Gigi MAMC menyebutkan, literatur medis melarang pemberian pasta gigi berfluoride kepada anak-anak di bawah umur lima tahun.

Menurut Iman, riset Tim Peneliti LKJ-PIRAC) pada September-Oktober 2002 terhadap kandungan fluoride dan pengamatan kemasan pasta gigi anak menyimpulkan bahwa dari sembilan produk yang diuji, delapan merek pasta gigi yang beredar menggunakan fluoride di atas 1000 ppm. Hanya satu produk mengandung floride di bawah 500 ppm.”Namun, pasta gigi itu ternyata produk impor dari Australia,” ungkapnya.

Tim peneliti juga menemukan terdapat perbedaan jumlah kandungan fluoride yang signifikan antar hasil uji laboratorium dengan penghitungan teoritis berdasarkan pelabelan dalam kemasan. Bahkan, ada satu merek pasta gigi yang tak mencantumkan kadar fluoridenya.

Iman juga menemukan, hanya satu produk yang melengkapi kemasannya dengan peringatan pihak produsen atas bahaya yang akan terjadi bila anak menelan fluoride. Namun, peringatan disajikan dalam bahasa Inggris. Juga hanya satu produk yang melengkapi kemasannya dengan petunjuk penggunakan seberapa banyak pasta gigi yang boleh digunakan untuk anak. ”Petunjuk itu disajikan dalam bahasa Inggris juga,” ujarnya.

Sementara, As’ad Nugroho, koordinator program PIRAC menyatakan, pihaknya menuntut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) untuk menurunkan standar kandungan fluoride pada pasta gigi, khususnya untuk anak-anak dari 800-1500ppm menjadi 250-500 ppm. ”Badan POM harus segera menginstruksikan penarikan seluruh produk pasta gigi anak yang masih mengandung fluoride lebih dari 500 ppm,” tegasnya.

PIRAC juga meminta para produsen menghilangkan penambahan rasa yang dapat meningkatkan keinginan anak-anak untuk menelan pasta gigi saat mereka menggosok gigi. Mereka juga mendesak produsen pasta gigi anak memberikan peringatan dan keterangan dalam kemasannya mengenai batas aman pasta gigi yang digunakan anak.

Semoga kita lebih cerdas dalam memili pasta gigi. Alternatif yang lebih baik dan lebih sesuai sunnah mungkin dengan menggunakan siwak. Semoga menjadi ide cerdas bagi kita semua. (idc)  Dikutip oleh www.suaramedia.com

 

 

—– Original Message —–
From: Purnamawati
Sent: Friday, December 02, 2005 7:26 AM
Subject: [sehat] Emailing: Dental_care_fluoride
Dental care - fluoride
    Dear all
    Shereen mengirim kembali bebetapa link tentang gigi dan fluor
    Di bawah ini bisa dibaca under dental fluorosis perihal            
    suplementasi fluor yang intinya … jangan berikan fluoride tab     untuk anak (sekalipun air minum tidak supplemented dengan     fluor)
    link nya sbb:
     http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Dental_care_fluoride?

    Ada juga situs lain yang menekankan bahwa fluor bisa                 diperoleh dari apel, bayam, teh dll jadi tidak perlu suplemen         termasuk ibu hamil … lupa tapi di babycenter.com

    Di situs WHO saya pernah membaca perihal fluor ini … dia         ada di alam ada di mana2 apalagi di negara industri dan di         negara yang tingkat polusinya tinggi dan bahaya kelebihan         fluor kronis bukan sekedar pada gigi.(link nya di kompie             satunya)

    Dokter Levi, kalau saya bicara dengan beberapa dokter gigi,         dental fluorosis itu sangat merugikan secara estetik dan upaya     koreksinya sulit serta sangat mahal. Di l;ain pihak dokter             menganjurkan pemberian suplementasi fluor sistemik sampai     usia 14 tahun .. atau saya salah membaca?
    Di lain sisi … di Indonesia .. pasta gigi untuk anak sekalipun         selalu mengandung fluor
    Padahal pengalaman saya di luar tuh kalaupun akan                 memberikan toothpaste pada anak yang sudah bisa berkumur     sekalipun … pasta giginya cukup ditaruh sedikit saja (secuil ..     ada istilahnya saya l;upa)

    Terimakasih atas perhatoiannya
    wati

     Health and medical information for consumers, from the Victorian government 2 December, 2005              
          
            Home > Topics > Health conditions > Mouth and teeth > Dental > Dental care -           
          
        Dental care - fluoride  
                    Fluoride is a mineral found in food, water, plants and toothpaste. Brushing with fluoride toothpaste and drinking fluoridated water help to protect teeth against decay. Fluoride is important for strong teeth and is considered safe when consumed at recommended levels in drinking water. Water fluoridation is recommended by leading national and international health organisations.

                  Fluoride is a natural substance
                  Fluoride is not a medication. Fluoride is a natural mineral found in rock, air, soil and plants.

                  Many foods and drinks naturally contain fluoride. It is also added to:

                    a.. Community water, where fluoride is added to the local water supply.
                    b.. Fluoride toothpastes, gels and mouth rinses.
                    c.. Fluoride gel painted on the teeth by a dental professional.
                  Water fluoridation helps protect teeth against decay
                  Tooth decay occurs when acid attacks the surface of the tooth. Fluoride can limit the amounts of acid produced in the mouth and help repair any damage before it becomes serious. A constant low level supply of fluoride is best for this. Fluoride in your drinking water is like a constant ‘repair kit’ for your teeth.

                  Benefits of water fluoridation
                  Dental decay affects the community in many ways including pain, suffering and cost. Fluoride is helpful because it:
                    a.. Helps protect against tooth decay in children and adults.
                    b.. Repairs weak spots that could become cavities (holes in teeth) on the surface of the tooth.
                    c.. Reduces the amount of money people need to spend on dental treatment.
                    d.. Saves the community time and money (time away from work and school).
                    e.. Reduces discomfort and pain caused by tooth decay.
                  Adult and baby teeth need protection from decay
                  Fluoride can help to protect young and old teeth because it:
                    a.. Helps protect against root and surface decay in adults.
                    b.. Helps protect against tooth decay in children.
                    c.. Helps prevent early loss of baby teeth due to decay. Baby teeth are important because they help to guide the adult teeth developing underneath into the right place.
                    d.. Helps prevent painful and costly dental complications like a tooth abscess or permanent tooth damage, which may need orthodontic treatment.
                  Other ways to help protect your teeth
                  Even if your water is fluoridated, it is still important that you look after your teeth by:
                    a.. Eating a healthy diet.
                    b.. Brushing and flossing your teeth regularly.
                    c.. Having regular dental check-ups.
                    d.. Using a toothpaste with fluoride in it.
                  Use the correct fluoride toothpaste
                  Choose a fluoridated toothpaste designed especially for children.

                  Other suggestions include:
                    a.. Introduce low fluoride toothpaste when a child is approximately two years old.
                    b.. Use a child-size toothbrush with soft bristles.
                    c.. Use low fluoride toothpaste for children under seven years of age.
                    d.. Smear a pea-size amount of low fluoride toothpaste across the toothbrush.
                    e.. Encourage children to spit out toothpaste, not swallow it.
                    f.. Supervise children when they brush their teeth until you are sure they can do it well.
                    g.. Only use fluoride tablets if prescribed by a dentist, as they can cause dental fluorosis (mottled teeth).
                  Dental fluorosis
                  Young children, aged 0 to six years, should not use full strength fluoride toothpaste and should only take fluoride tablets if prescribed by a dentist. Too much fluoride at this age may cause their adult teeth (which are forming underneath) to stain. This is called dental fluorosis.

                  Dental fluorosis cannot develop after teeth are fully formed and does not affect the function of the teeth. Dental fluorosis can occur in areas both with and without water fluoridation.

                  Dental fluorosis looks like fine pearly-white mottling, flecking or lines on the surface of the teeth; it is usually very hard to see. Mottling of the teeth can also be caused by other things like:
                    a.. Injury to the teeth
                    b.. Certain medications
                    c.. Childhood infections.
                  If fluoride is not the cause of staining of the teeth, then it is not called dental fluorosis.

                  Water quality
                  Water fluoridation does not noticeably change your water. Some facts about fluoride and the quality of your water are:
                    a.. Adding fluoride to the water does not change the taste or smell of your drinking water.
                    b.. Your local water authority will be able to tell you if your supply has fluoride added to it.
                    c.. Most Australian capital cities except Brisbane have fluoride added to the water.
                    d.. Boiling the water does not change the levels of fluoride added.
                    e.. Most home water filters do not remove fluoride, with the exception of reverse osmosis systems.
                  Concerns about water fluoridation
                  Some people have medical and ethical concerns about water fluoridation. These include:
                    a.. It’s unethical to add anything to community water supplies.
                    b.. A belief that water fluoridation causes serious problems such as allergy, bone fractures, birth defects and cancer.
                  Safety and water fluoridation
                  Water fluoridation is supported by leading Australian and worldwide health, medical and dental organisations.
                    a.. The best scientific studies show that water fluoridation is a safe and effective way to help protect teeth against decay.
                    b.. There is no evidence that fluoride at recommended levels affects bone development or causes hip fractures or cancer.
                    c.. Fluoride is added to water in carefully controlled amounts. The total amount of fluoride in the water is monitored on a regular basis.
                    d.. Only very small amounts are used. One milligram for every litre of water (1mg/L) has been shown to provide the best dental benefits to the community.
                  Water fluoridation is recommended
                  The following national and international health organisations recommend water fluoridation:
                    a.. Public Health Association of Australia
                    b.. Australian Medical Association
                    c.. Australian Dental Association
                    d.. National Health and Medical Research Council
                    e.. World Health Organisation.
                    f.. Australian Institute of Environmental Health
                    g.. Australian Institute of Health and Welfare
                  Where to get help
                    a.. Water Fluoridation Information Line 1800 651 723 (Department of Human Services)
                    b.. Your dentist
                    c.. Your dental therapist
                    d.. Dental Health Services Victoria Tel. (03) 9341 1000
                    e.. Local water authority
                    f.. School Dental Service (Dental Health Services Victoria) Tel. 1300 360 054 or 1800 833 039
                  Things to remember
                    a.. Fluoride helps protect everyone’s teeth from decay.
                    b.. Fluoride is safe in recommended amounts.
                    c.. Use the correct fluoride toothpaste for children.
                 
                  
                  
                  
                  

                  
                
                    Related articles:
                  Calcium - children.
                  Dental care - common conditions - 0 to 5 years.
                  Dental checks - 0 to 6 years.
                  Dental fillings.
                  Dental sealants.
                  Teeth care.

                  Want to know more?
                  For references, related links and support group information, go to More information.

                  This page has been produced in consultation with, and approved by:

                  (Logo links to further information)

————————————————————–
                  Article publication date: 25/05/1999
                  Last reviewed: October 2005

 

 

 

—– Original Message —–
From: drg. M Fahlevi R, SpKGA
Sent: Friday, December 02, 2005 11:58 AM
Subject: Re: [sehat] Emailing: Dental_care_fluoride

 

Terima kasih dr. Wati, informasinya. Saya katakan perlu pemberian tablet tersebut di bawah pengawasan dokter giginya. Untuk literatur2 luar memang banyak ditemukan fluorosis karena semua produk mulai air minum dan beberapa produk makanan ditembahkan fluor untuk program nasional mereka mencegah karies (Amerika dan Eropa). Dan kemudian dokter2 mereka menambah lagi dengan tablet fluor. Di Indonesia peran dokter gigi atau dokter anaklah yang mengecek kecukupan asupan nutrisinya sudah cukup fluor atau tidak. Karena untuk air minum saja untuk Jakarta, air tanahnya hanya sebagian yang dipakai sebagi air minum dan kandungan mineralnya tdk begitu baik. Daerah yang kandungan air tanahnya banyak mengandung fluor adalah Cipatat Jabar. Sebagian besar penduduk Jakarta mengkonsumsi Aqua yang tdk mengandung fluor. Dan prevalensi karies anak Indonesia amat tinggi.
Rentang usia yang saya tulis berdasarkan pola pertumbuhan benih gigi yang membutuhkan fluor selama masa pertumbuhan dan perkembangan.
Dan perlu kita ingat juga lhoo sebagian anak2 tdk suka sayur dan buah yang pada dasarnya mengandung fluor.
Untuk Pasta gigi berfluor hanya memberikan efek topikal sedangkan yang memberi efek terjadinya fluorosis adalah yang sistemik, kecuali tertelan. Dan memang seharusnya pasta gigi anak anak, sampai dia bisa berkumur, memakai pasta gigi tidak berfluor.

drg. Mochamad Fahlevi Rizal, SpKGA

 

 

—– Original Message —–
From: Purnamawati
Sent: Friday, December 02, 2005 1:11 PM
Subject: Re: [sehat] Emailing: Dental_care_fluoride
Thanlks dok
tetapi saya memilih mengencourage orang tua untuk:

1. memberikan makanan sehat sesuai piramida makanan sehiungga otomatis
kebutuhan fluor terpenuhi

2. Fluor tergolong minor mineral artinya mineral yang dibutuhkan dalam
jumlah amat sangat sedikit
Kalau kita cari RDA (recommended dayly allowance nya) gak ada lho

3. Saya juga meng encourage orang tua untuk menanamkan kebiasaan menjaga
higiene oral ketimbang menambahkan suplemen

Saya punya beberapa anak dengan dental fluorosis .. kasihan dok
Anyway thanks ya

wati

 

 

 

—– Original Message —–
From: drg. M Fahlevi R, SpKGA
Sent: Friday, December 02, 2005 2:51 PM
Subject: Re: [sehat] Emailing: Dental_care_fluoride

 

Sangat-sangat setuju sekali dr. Wati!!! Tiga item yang tadi  disebutkan menjadi dasar prinsip pencegahan untuk kesehatan gigi dan mulut.
Fluor hanyalah traceelement, dalam pembentukan gigi bahan fluor ini bukanlah bahan primer pembentuk email. Karena bahan pembentuk email utama adalah gugus Hidroksiapatit. akan tetapi gugus ini lebih mudah terurai oleh asam yang dihasilkan dari fermentasi karbohidrat oleh kuman Streptococcus Mutan yang selalu ada di dalam mulut. Dan bila gugus hidroksil ini disubtitusi oleh fluor sehingga menjadi Fluoroapatit maka lebih sulit untuk diurai oleh asam tadi. Dalam kadar yang berlebihan akan menyebabkan fluorosis ….. kasihan sekali memang. Sepanjang tercukupi dari intake makanan pastilah cukup dan pemakaian pasta dengan cara yang benar tentu gigi akan tahan terhadap karies.

drg. Mochamad Fahlevi Rizal, SpKGA
Rumah Sakit Pondok Indah

 

 

—– Original Message —–
From: segaintil
Sent: Saturday, December 03, 2005 3:25 AM
Subject: [sehat] MENGAPA TIMBUL GERAKAN ANTI DENTAL FLUORIDE ?
Dear semuanya,
Karena akhir akhir ini di berbagai milis dan nongol juga langsung
ngejapri, tentang bahaya Fluor untuk gigi, maka saya dongengkan
tentang mengapa ada gerakan anti dental fluoride ini. Moga kerasan.
salam,
Julia Maria
———————–

MENGAPA TIMBUL  GERAKAN ANTI   DENTAL  FLUORIDE ?
(atau Dagelan Srimulat?)

Di suatu bulan Juli 2002  Menteri Kesehatan Belgia Magda Aelvoet
melarang penjualan preparat dental fluoride  baik tablet, drop,
kunyah/chewing maupun yang di dalam pasta gigi sekalipun.. Inilah
awal dari  keributan yang memunculkan gerakan anti dental fluorida.
Lho, dilarang oleh menteri kesehatan kok malah ada gerakan anti
fluor, begitu tanya   Cak Ben keheranan.  Lagipula Belgia adalah
menjadi satu-satunya Negara di dunia ini yang melarang penjualan
preparat dental fluoride, kok gelombang anti justru datang dari
hampir di seluruh belahan dunia? Mengapa tidak ada satu pemerintah
pun selain Belgia yang turut ingin nge-ban dental fluorida?.
Pelarangan ini juga membuat banyak dokter gigi di Belgia dan
berbagai Negara tetangga terheran-heran, apalagi pelarangan ini
diikuti dengan penjelasan menteri bahwa fluor adalah preparat yang
berbahaya. Jelas, keputusan Menteri yang didukung oleh dua institute
de Hoge Gezondheidsraad en de Nationale Raad voor de
Voedselveiligheid dituding sebagai keputusan tanpa dasar ilmiah.
Sebab selama ini preparat fluorida dikenal sebagai preventive dental
caries yang sangat ampuh. Ia akan membentuk fluor apetit di email
gigi yang sangat tahan asam dan mencegah terjadinya lubang gigi.
Keampuhannya sudah banyak terbukti baik dalam penelitian ekperiment
maupun eks post facto di kelompok  masyarakat yang memiliki sumber
air minum alam cukup fluor.

Berita pelarangan itu bisa dibaca dalam laporan surat kabar
berbahasa Belanda dalam URL ini.
http://krant.telegraaf.nl/krant/archief/20020731/teksten/bui.fluor.vo
lksgezondheid.html
http://home.hccnet.nl/g.d.vos/art-fluoride.htm

Pelarangan Menteri Kesehatan Belgia Magda Aelvoet ini tidak hanya
selingkup negaranya saja, ia pun maju ke Europa Parlement agar semua
negara negara yang tergabung dalam Europa Unie menarik berbagai
preparat dental fluoride dari pasaran. Dengan majunya Menteri ke
tingkat Europa Parlemen, maka gegap gempita dan keributan  itu
menjalar ke seluruh Negara Negara Eropa. Bermunculan berbagai
website yang menjelaskan bahayanya Fluoride dan menjelaskan apa
sebenarnya kegunaan fluor. Mulai  penggunaan dalam bahan pestisida
hingga bom atom. Mulai dari berefek gigi keropos, tulang keropos,
sampai menyebabkan sakit jantung, kanker, kerusakan otak, buta,
gangguan imun respon dari tubuh, menyebabkan rendahnya ketahanan
tubuh terhadap berbagai serangan penyakit termasuk AIDS, gangguan
syaraf. sampai bisa menyebabkan kematian. Tidak sedikit anggota
masyarakat yang mengalami ketakutan, mencekam, dan ragu terhadap air
minum, makanan mengandung fluor, bahkan pasta gigi. Tawaran makanan
bebas fluor, pasta alami nonfluor pun bermunculan.

Gerakan anti Fluoride di Irland
http://www.fluoridealert.org/news/2447.html

Promosi anti fluoride oleh kelompok pengobatan natur
http://www.fonteine.com/fluor.html

http://friendsoffreedom.org/ARTICLES/2005/Nov./fof_FAN_Bulletin_11_18
_05_bt.htm

Ributnya soal ini juga sampai Ke US
http://www.ada.org/prof/resources/positions/statements/fluoride_bonec
ancer.asp

Penjelasan  Unitates State Enviromental and Prevention Agency
tentang penelitian tentang hubungan  water fluoridation dengan
terjadinya kanker tulang, yang oleh agency ini dijelaskan bahwa
penelitian tersebut merupakan penelitian thesis yang tidak melalui
peer reviewer dan belum dipublikasi. Jadi masih belum bisa
dipercaya.

http://www.ada.org/public/media/presskits/fluoridation/epa_flouoridat
ion_letter_on_thesis.pdf

Kelompok himpunan dokter gigi di semua Negara Eropa justru marah
terhadap usulan menteri Belgia tersebut. Mereka melakukan pertemuan-
pertemuan yang membahas masalah ini. Keputusan  himpunan profesi
dokter gigi di
berbagai negara TETAP menganjurkan preparat dental fluorida dalam
upaya prevensi karies gigi. Situasi ini menjadi sangat panas antara
pro dan kontra.

Tapi mengapa Menteri  Kesehatan Belgia mengusulkan penarikan
Fluoride dari pasaran dan mengatakan berbahaya?
Pasalnya, ingat saat itu dunia tengah dilanda oleh meledaknya
perdagangan food supplement dan orang tengah keranjingan dengan
pengobatan natur dan megadosis vitamin?
Pengetahuan masyarakat tentang foodsupplement ini pada dasarnya
tidak berbahaya. Padahal yang masuk sebagai komoditas food
supplement saat itu juga termasuk jamuan alami yang di negara asal
merupakan obat-obatan tradisional.  Begitu juga dengan fluoride,
ditambahkan ke dalam berbagai bentuk makanan, bon-bon, bubble gum
anak-anak, dan sebagainya. Bahkan tablet fluor dan drop dijual bebas
di rak rak food supplement, sehingga situasi ini sungguh
memprihatinkan Menteri Kesehatan Belgia. Karena pelarangan di
negaranya masih memungkinkan masyarakat berbelanja di negara
tetangga secara bebas baik belanja langsung karena jaraknya dekat,
juga bisa melalui telepon maupun online. Dengan begitu Menteri pun
berangkat menyampaikan keinginannya ini ke Parlemen Eropa.
Adanya keributan tentang fluoride yang disalah mengerti oleh halayak
ramai adalah kesalahan pemberitaan media, seperti yang diuraikan
oleh kementrian kesehatan Belanda di bawah ini:

Ministerie van Volksgezondheid, Welzijn en Sport
Commotie rond fluoride niet terecht

België wil fluoride verwijderen van de lijst toegestane
voedingssupplementen. In Nederland is het supplement al lang
verboden.
Deze week berichtten verschillende kranten dat België fluoride van
de markt wil halen. Dit klopt niet. De Belgische minister van
Volksgezondheid Aelvoet wil alleen fluoride in voeding en
voedingssupplementen verbieden. In Nederland geldt al langer een
verbod op het gebruik van fluoride als voedingssupplement.
Daarnaast heeft Aelvoet haar ministerie gevraagd om enkele
medicinale toepassingen van fluoride onder de loep te nemen.
Fluortabletten en druppeltjes worden vooralsnog niet van de
Belgische markt gehaald.
Fluoride in tandpasta voorkomt gaatjes. Schadelijke effecten van
fluoride kunnen alleen ontstaan bij gebruik van extreem hoge
concentraties over een periode van tenminste tien jaar. De werking
van fluortandpasta wordt nergens wetenschappelijk bestreden.
http://www.nieuwsbank.nl/inp/2002/07/31/t040.htm?fmt=NOVUM

—-

Terjemahan :
Menteri Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan, dan Olah Raga
Keributan tentang fluoride tidak benar
Belgia menginginkan fluoride hilang dari daftar food supplement. Di
Belanda supplement ini sudah lama dilarang.
Minggu ini ada berita di berbagai surat kabar bahwa Belgia ingin
menarik peredaran fluoride dari pasaran. Ini tidak benar. Menteri
Kesehatan Belgia Aelvoet hanya menginginkan agar fluoride dilarang
dijual dalam bahan bahan makanan dan dalam foodsupplement. Di
Belanda sendiri fluoride sudah lama dilarang dijual sebagai food
supplement.
Disamping itu, Alvoet juga sudah menanyakan pada staf
kementeriannya, bahan obat-obatan apa saja yang bisa sesuai dengan
fluoride jika seseorang mengkonsumsinya. Tablet fluor dan drop
sebagaimana sebelumnya  tidak akan dihilangkan dari pasaran.
Fluoride dalam pasta gigi adalah dimaksudkan untuk mencegah  lubang
gigi. Efek samping fluoride hanya  bisa terjadi dalam penggunaan
fluoride dengan dosis yang ektrim  tinggi dengan jangka waktu
setidaknya 10 tahun. Penggunaan fluor dalam pasta gigi tidak
bertentangan dengan berbagai keilmuan.
http://www.nieuwsbank.nl/inp/2002/07/31/t040.htm?fmt=NOVUM

Keributan yang dalam berbagai website yang mendramatisir efek
fluoride umumnya dibuat oleh berbagai pedagang foodsupplement atau
obat-obatan nature dengan maksud menawarkan berbagai bahan alami
untuk kesehatan gigi, misalnya pasta gigi siwak. Siwak adalah batang
dari tanaman perdu dari daerah Timur Tengah yang secara budaya
digunakan untuk membersihkan gigi. Namun di dalam siwak ini juga
banyak mengandung fluor dan memberikan efek prevensi terhadap karies
gigi. Bisa baca disini dari website medicinal plant Kuwait:
http://www.islamset.com/sc/plants/siwak.html

Keputusan EU th 1996
http://europa.eu.int/comm/food/fs/sc/oldcomm7/out09_en.html

EU menolak usulan Belgia
http://europa.eu.int/comm/food/committees/regulatory/scfcah/general_f
ood/summary12_en.pdf.

Keputusan EU 2005 ttg  pasta gigi dengan fluoride
http://europa.eu.int/comm/health/ph_risk/committees/04_sccp/docs/sccp
_o_024.pdf.

Salam,
Julia Maria van Tiel,dokter gigi

 

 

 

—– Original Message —–
From: Purnamawati
Sent: Saturday, December 03, 2005 7:10 AM
Subject: Re: [sehat] MENGAPA TIMBUL GERAKAN ANTI DENTAL FLUORIDE ?

 

Dear Dr Levi dan Ibu Julia
Iya Dokter Levi benar perihal bu Julia ini

hehehe senang sekali saya membaca email Ibu
saya memang berharap ibu mengirim email dan ikut brain storming

Mohon maaf kalau apa yang saya kemukakan di milis dianggap tergolong anti
fluoride
Bukan itu maksud saya
Intinya, apakah memang perlu?
Kalau masih bisa dicukupi dari pola hidup sehat, apakah orang tua memang
perlu merogoh kocek untuk suplementasi ini
Apalagi ketika RDA dan RNInya tak ada, bagaimana menentukan dosisnya …
berapa lama … siapa yang butuh … apa yang mesti dipantau DSA dst dst

Oleh karena itu, bukan hanya terhadap fluor, terhadap suplemen yang lainpun
saya selalu himbau orang tua untuk lebih fokus ke pola hidup sehat tentunya
including pola makan sehat

Ketika major mineral (calcium, iron, natrium dll) tidak perlu suplementasi,
apakah minor mineral (fluor, Zn, dll) perlu suplementasi?

Pasta gigi fluor …. saya bukan tidak setuju tetapi ketika anak belum dapat
berkumur dengan baik tentunya jangan memakai pasta gigi

Salah ya bu saya?
Thanks again
Have a nice week end
pasti sudah dingin ya di Belanda

wati
 

 

—– Original Message —–
From: drg. M Fahlevi R, SpKGA
Sent: Saturday, December 03, 2005 8:02 AM
Subject: Re: [sehat] MENGAPA TIMBUL GERAKAN ANTI DENTAL FLUORIDE ?
dr. Wati dan SPs sekalian berikut saya berikan alamat web, yang mungkin bisa menjadi pembanding bagi kita untuk mengkonsumsi fluride berikut Recommended Total Daily Intake (0.05 mg/kg/day)
www.fluoridealert.org/f-concentrations.data.htm
Di sini bisa terlihat betapa berlebihannya intake yang mereka (negara2 maju) terima dari yang mereka konsumsi. Kita bisa bandingkan dengan konsumsi kita masing2. Sehingga pentingnya fluoride tetap bisa tercukupi tanpa berlebihan mengkonsumsinya atau tanpa sengaja terkonsumsi

drg. Mochamad Fahlevi Rizal, SpKGA
Rumah Sakit Pondok Indah

 

 

 

—– Original Message —–
From: segaintil
Sent: Saturday, December 03, 2005 2:17 PM
Subject: [sehat] Re: MENGAPA TIMBUL GERAKAN ANTI DENTAL FLUORIDE ?

Bener Dr Wati,
Masupan fluor secara alami di Indonesia sudah cukup banyak. Paling
tidak begitulah yang diyakini kebanyakan dokter gigi di Indonesia.
Apalagi jika banyak mengkonsumsi ikan, karena disana merupakan
sumber fluor yang cukup banyak. Minuman teh, juga mengandung fluor
cukup baik. Mau minum satu gentong asal kuat sehari juga gak bakal
keracunan. He he..
Banyak juga daerah-daerah di Indonesia yang masih menggunakan sumber
air tanah mengandung fluor cukup, bahkan di beberapa daerah sekitar
Jakarta seperti beberapa kampung di Serpong mengandung fluor
ketinggian dari batas normal. Sehingga banyak didapatkan gigi anak
anak kelihatan seperti kapur karena fluorosis.
Di Jakarta kebanyakan justru airnya banyak mengandung limbah besi
hasil pecahan sampah oleh bakteri, jadi giginya pada berkarat hitam.

Daerah Banyumas mengandung kapur terlalu tinggi jadi giginya penuh
karang gigi, jadi gusinya rusak melulu dan giginya ambrol…

Di Palembang kebanyakan makan cuka, jadi kalau jalan jalan kesana
banyak anak muda gigi depannya sudah keropok. Habis sih makan empek
empek cukanya dihirup, pagi-pagi saja sudah sarapan empek empek…
Hmh.. enak ya (Kalau ada yang sedang makan ingat saya ya, bagi-bagi
enak…tapi cukanya jangan dihirup ya…).

Pada anak anak yang masih belum bisa kumur, setahu saya ada beberapa
produk pasta gigi nonfluor untuk anak-anak ini, bahkan kalau ditelan
juga gak papa. Terdiri dari bahan jelly & bahan abrasif, pakai rasa
strawbery & jeruk. Saya gak tahu lagi apa di Ind masih diproduksi.
Memang mahal, saya dulu dapatnya dari detailer… dan dijual juga di
supermarket.

Fluor ekstra dalam bentuk tablet/drop kalau kondisi gigi gak
menunjukkan pertumbuhan matrix kurang sehingga mudah keropos, memang
tidak diperlukan. Sebaiknya penggunaan fluor ektra tablet dan drop,
melalui pertimbangan dokter gigi. sebab intake saat itu misalnya
waktu balita, bukan berarti akan memperkuat gigi susunya, tapi gigi
tetapnya.

Sedang prevensi melalui fluor yang dioleskan (topikal) bisa
dilakukan di klinik gigi anak seperti klinik giginya fKGUI tempatnya
Drg Pahlevi, atau klinik FKG lainnya. Dokter gigi praktek umum
seringkali engga melakukan, gak tahu kenapa.

Seharusnya di sekolah-sekolah ada program UKGS kumur fluor yang
dilakukan oleh drg puskesmas. Kalau negara bangkrut gini saya gak
tahu lagi gimana programnya. Sebab posyandu saja sudah endet
endetan…

Hanya sekedar info saja, di Eropa, tablet atau drop fluoride memang
tidak wajib, hanya pada kasus tertentu diberikan. Tetapi penggunaan
pasta gigi mengandung fluor tetap harus dilakukan. Disamping itu
setiap setengah tahun sekali dilakukan aplikasi fluor oleh dokter
gigi. Sejak dahulu masyarakat eropa, sudah 40 tahun menjalankan
program fluoridasi begini, gak ada yang IQ-nya merosot… kayak
dalam gosip…

Bener drg Levi, saya "minggat" dari PH FKGUI, tapi kalau ke Jakarta
saya masih kesana, dan kadang lihat anda di sebelah eks kantor saya.

Salam,
Julia Maria

 

Memaknai Demam Pada Anak

May 6, 2009

Assalamualaikum

Demam, sesuatu yang tidak mungkin dihindari, hampir semua manusia pernah mengalaminya, bahkan pada anak-anak demam menjadi indikator pertama dari sebuah diagnosis.

Sebagian besar penyakit pada anak-anak penyebabnya adalah virus (Self Limiting Diseases).

Coba Anda ketikan ‘demam’ pada raja pencari alias mbah google, ketika saya menulis artikel ini ada 3,260,000 for demam. (0.08 seconds) luar biasa sekali, namun lebih luar biasa lagi ketika Anda menuliskan demam dalam bahasa inggris/ medis ‘fever’ ada 72,800,000 for fever [definition]. (0.07 seconds).

Ya begitu banyak sekali artikel yang terkait dengan demam, namun begitu banyak juga orang tua yang dibuat pusing, stress, binggung dan panik dibuatnya.

Saya tidak akan menulis lagi detail teknis tentang demam, selain saya bukan dokter banyak sekali artikel tentang hal itu, namun saya belum menemukan tulisan yang menyangkut demam ditinjau dari sudut pandang non medis tanpa meninggalkan unsur ilmiahnya.

Pernahkah Kita mencoba untuk merenungi itu semua? Terkadang justru sebaliknya, sebisa mungkin segera diberikan obat penurun panas. Bahkan sebagaian orang terkadang lebih dipusingkan dengan dosis/ takarannya ketimbang mencari apa penyebabnya.

Sepengetuhan saya bahwa timbulnya demam akibat senyawa prostaglandin yang bersumber dari enzym COX (cyclooxygenase) sebagai hasil kerja pirogen. Subhanallah….betapa luar biasanya Allah membuat pirogen ini.

Setidaknya ada 2 fungsi yg saya ketahui dari pirogen:

1. Mengerahkan sel darah putih/ leukosit utk menuju titik saran terjadinya infeksi ( AB Narrow Spectrum)

artinya : si leukosit ini tugasnya mematikan/menyerang/ mengempur markas utama terjadinya infeksi, saya ibaratkan ini Antibiotik tipe Narrow Spectrum

2. Terbentunya prostaglandin sehingga menimbulkan demam (AB Broad Spectrum)

artinya : virus ini tdk tahan dengan suhu tubuh yng tinggi, nah untuk membantu sel darah putih/ leukosit yg sedang menghancurkan pusat komando/infeksi……… si pirogen lewat senyawa prostaglansin ini membuat pertahanan menyeluruh….dengan cara membuat demam……tentunya ada maknanya….sepanjang perenungan dan pemaknaan saya…..inilah radar penangkalnya…disaat leukosit sedang bertempur namun lini pertahan lain ikut menangkal dari serangan yg lain, saya ibaratkan ini Antibiotik tipe Broad Spectrum

Sekedar saran : Tolong fahami baik-baik tentang hal ini. Saya tidak anti obat-obatan pereda nyeri/antipretik seperrti paracetamol/acetaminophen, namun gunakanlah sebijak mungkin (risk and benefit).

Obat-obatan seperti paracetamol/acetaminophen bekerja hanya untuk menghambat enzym cox(cyclo oxygenase) sehingga tidak terbentuk prostaglandin yang ditandai dengan demam bukan untuk menyembuhkan penyebab demamnya, kalau raeksi kimia obatnya habis sangat mungkin sekali demam lagi.

Lantas apa yang sebaiknya dilakukan, poin pentingnya cegah agar jangan sampai terjadi dehidrasi, caranya :

- Perbanyak ASI kalau masih ASI

- Perbanyak minum

- Kompres air hangat

- Rendam air hangat (jangan dipaksakan)

- Skin to skin, transfer panas, cukup efektif ini yang biasa saya lakukan

- dst

Dibawah ada artikel yg mungkin bisa utk mengugah Kita semua, betapapun paracetamol/acetaminophen tentu ada efek sampingnya. sekali lagi fahami baik-baik tentang demam….fahami klausulnya..apa clue2nya DB, DBD, OMA, Gastro…dst……. demam seperti apa sih yg berbahaya…dst. Jadi jangan sampai belum apa-apa sudah di intervensi sama obat-obatan sekalipun paracetamol, Kapan kekebalan tubuhnya akan terbentuk, biarkan tubuh mengaturnya/bekerja sendiri.

Luar biasa sekali perangkat ciptaan Allah ini. Dan fahami……anak demam ini adalah bagian dari pembentukan pertahanannya. taruhlan virus a masuk…..tanpa obat sembuh……masuk lagi a sudah kenal……biasanya demam 5/4 hari…kini tinggal 2 hari….masuk lagi a…….si tubuh ngomong…hai gue udah kenal loe…..gue kaga takut……dst…. alhasil demam cukup 1 hari.

Wassalamualaikum

Acetaminophen poisoning now most common cause of acute liver failure in the USA

Main Category: Liver Disease / Hepatitis
Article Date: 30 Nov 2005 - 0:00 PDT

 

 "Acetaminophen poisoning has become the most common cause of acute liver failure in the United States," report the authors of a new study in the December 2005 issue of Hepatology, the official journal of the American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD). While attempted suicides still account for many cases, almost half are the result of unintentional overdose.

Acetaminophen is the most widely used pain reliever in the United States–36 percent of Americans ingest it at least once a month–but taking more than the recommended dose can lead to fatal liver injury. While intentional overdoses generally present early after ingestion and can be treated with N-acetylcysteine, unintentional overdoses are usually not recognized until later. As a result, lead author Anne M. Larson, M.D. of the University of Washington and her colleagues suspected that patients with acute liver failure from unintentional acetaminophen overdoses would have more severe disease and worse outcomes than patients with intentional overdoses.

To examine this hypothesis the researchers conducted a prospective study of patients presenting with acute liver disease to any of 22 academic centers participating in the Acute Liver Failure Study Group. Of 662 consecutive patients over a six-year period between 1998 and 2003, 275 had acetaminophen-related acute liver failure. For each of these patients, the researchers gathered demographic and clinical information, including illness severity, history of acetaminophen ingestion, and outcome.

Acute liver failure cases attributed to acetaminophen increased from 28 percent in 1998 to 51 percent in 2003. These patients were predominantly female (74 percent) and Caucasian (88 percent.) While 44 percent had intentionally overdosed on the drug in suicide attempts, 48 percent had overdosed unintentionally, either by taking combinations of products containing acetaminophen, or taking more than the recommended dosage of a single product over time. Of all patients with acetaminophen-related acute liver failure, 74 died, 23 received liver transplants, and 178 survived without transplantation.

Those who had unintentionally overdosed were older, used multiple acetaminophen-containing medications more frequently and waited longer to seek care after their symptoms began. Most reported that they had been taking the medications specifically for pain. They were more likely to have severe hepatic encephalopathy than patients who had overdosed intentionally.

Sixty-three percent of patients who overdosed accidentally had been using prescription narcotic/acetaminophen compounds. Thirty-eight percent had been using two acetaminophen medications simultaneously. "This suggests patients lack awareness of the hazards of over-the-counter acetaminophen use in combination with prescribed agents," the researchers say.

Some patients reported taking less than 4 grams of acetaminophen per day before falling ill. "Our data suggests that there is a narrow therapeutic margin and that consistent use of as little as 7.5 g/day may be hazardous," report the authors, who plan to investigate that issue in a future study. Their data also suggest, they say, that there is no chronic form of acetaminophen injury, rather, a threshold of safety that, when breached, has devastating results.

Elsewhere in the world, unintentional overdosing is less common than intentional, so, the authors report, "one of the most alarming findings in our study was that unintentional acetaminophen overdose accounted for 50 percent of our cases."

Although the incidence of acetaminophen overdose is still low compared to the millions of tablets consumed on a daily basis, the findings of this study were startling and led the authors to propose changes in the way acetaminophen is sold.

"Efforts to limit over-the-counter package size and to restrict the prescription of narcotic-acetaminophen combinations (or to separate the narcotic from the acetaminophen) may be necessary to reduce the incidence of this increasingly recognized but preventable cause of acute liver failure in the United States," they conclude.

Published by John Wiley & Sons, Inc., Hepatology is available online via Wiley InterScience (interscience.wiley.com/journal/hepatology).

Article: "Acetaminophen-Induced Acute Liver Failure: Results of a United States Multicenter, Prospective Study," Anne M. Larson, Julie Polson, Robert J. Fontana, Timothy J. Davern, Ezmina Lalani, Linda S. Hynan, Joan S. Reisch, Frank V. Schi�dt, George Ostopowicz, A. Obaid Shakil, William M. Lee, and the Acute Liver Failure Study Group, Hepatology; December 2005 (DOI: 10.1002/hep.20948).

John Wiley & Sons, Inc.
http://www.interscience.wiley.com

Source: http://www.medicalnewstoday.com/articles/34287.php

Apa Perlu Terapi Usus Besar (Colon Cleansing)?

April 17, 2009

Assalamualaikum

Secara tidak sengaja seperti biasanya disaat iklan saya memindahlan saluran televisi yang lebih menarik.
Semalam di sebuah saluran televisi, tepatnya Metro TV pada saat program Welcome to BCA yang disiarkan pukul 21:30wib, ada seorang narasumber dr. Karli sebagi penerapi pengobatan alternatif yaitu colon cleansing.

Sebelumnya saya sudah pernah membaca terapi colon cleansing di Okezone.com dan juga menerima perihal terapi colon cleansing ini dari milis sehat, dan saya menduga kedepan akan menjadi pembicaraan yang cukup hangat di media massa dan di milis-milis.

Buat saya sangat disayangkan, program ini yang sejatinya lebih mengedepankan aspek sosio ekonomi kok malah lebih banyak aspek jualan terapinya, belum lagi kejelasan secara ilmiah dengan terapi ini, yang ada seperti halnya terapi alternatif lainnya hanya mengedepankan testimoni tidak berdasarkan Evidence Based Medicine (EBM), sementara untuk diketahui biaya terapi ini tergolong tidak murah sekitar Rp 3juta sekali terapi, padahal menurut dr. Karli perlu dilakukan beberapa kali terapi/ 7 kali berturut-turut untuk pertama kali (tergantung kondisi) dan rutin untuk setiap tahunnya.

Saya tidak sedang apriori dengan colon cleansing, namun demikian saya punya sedikit catatan/ artikel yang mungkin bisa merubah opini anda paska menonton acara tersebut.

Saya mengajak kepada para pembaca blog ini untuk selalu common sense dengan berbagai macam terapi komplemen yang begitu banyaknya di negeri ini, tidak ada regulasinya apalagi dengan klaim yang sangat luar biasa.

FDA sebagai pembuatan kebijakan yang mengatur obat dan makanan di Amerika hanya mengatur produksi peralatan yang digunakan dalam hidroterapi usus besar tetapi tidak mengatur penggunaan layanan, atau suplemen yang digunakan dalam colon cleansing dan isi produk juga tidak diverifikasi atau diuji. FDA juga telah mengeluarkan beberapa surat peringatan dari produsen dan pemasok peralatan colon hidroterapi tentang klaim-klaimnya yang sangat bombastis dan melanggar keselamatan.

Jangan lupa kerangka berfikir Kita adalah riks and benefit, informasi sudah begitu mudahnya untuk kita akses.
Terlebih statment yang disampaikan dr. Karli semalam sungguh mencengangkan buat saya yang awam.
Apakah tepat menyamakan kondisi usus besar kita dengan pipa saluran air yang sudah berpuluh-puluh tahun dialiri air sehingga terjadi pengendapan atau menurut dr. Karli adalah toksin?

Sedikit yang saya fahami, bahwa secara fisiologis, tubuh memiliki organ ginjal untuk melakukan filtrasi darah dan juga organ hati yang melakukan detoksifikasi terhadap toksin yang masuk tubuh. Konsep colon cleansing menjelaskan bahwa bagaimanapun kotoran dalam usus besar/ colon tidak bisa disaring sepenuhnya oleh organ-organ tersebut. Akibatnya terjadi penumpukan kotoran yang, masih menurut konsep tersebut yang berada di sepanjang usus besar /colon. Karena itu, diperlukan tindakan pembersihan/detoksifikasi dengan cara memasukan sebuah selang/ Canula (ujung selang plastik) yang berdiameter 0.5 cm dimasukkan melalui dubur (anus) kurang lebih 5 cm dengan posisi tidur terlentang pada alat colon cleansing, kemudain mengalirkan air kedalam usus besar mengunakan dorongan gaya grafitasi air yang turun dari tangki air. Pasien mengendalikan sendiri air yang masuk dan keluar seperti menahan dan melepas buang air besar.

Pengalaman saya dengan Ibu mertua saya yang kebetulan belum lama melakukan colonoscopy untuk terapi APC di RS Pondok Indah dan RS Husada, sama sekali tidak tampak adanya kerak seperti yang disebutkan dr. Karli dari hasil pencitraan/ colonoscopy tersebut ataukah memang saya yang awam atau memang tidak dapat di citrakan.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, kedokteran tentu menuntut prinsip logiko-hipotetiko-verifikatif. Konsepnya harus bisa dijelaskan secara logis. Dalam beberapa hal, colon cleansing bagi saya sangat tidak logis sehingga menyisakan ruang yang masih “abu-abu”. Ruang inilah yang kemudain menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjelaskan. Karena itulah, sulit untuk menerima konsep tersebut.Sementara menurut statment beliau juga sedang melakukan kerjasama di rumah sakit-rumah sakit.

Jadi saya menjadi aneh ketika beliau menjelaskan hal ini, sehingga memaksa saya untuk menulis sekedar berbagi agar mendapatkan informasi yang seimbang.

Tempo, 13 April 2009 sudah mempublikasikannya:

Pembersihan Kolon, Perlu atau Tidak?

Masih ingat Farrah Fawcett? Salah sa­tu bintang pemeran serial televisi Charlie’s Angels itu pekan lalu diberitakan terkena ­kanker anal yang sudah menyebar ke hati. Nah, dari kabar yang ditulis berbagai media asing, penyebabnya adalah pembersihan usus besar (colon cleansing) yang sering dia lakukan.

Tentu saja, kabar tentang penyebab ini masih belum bisa dinyatakan akurat. Namun hal itu bisa membuka pertanyaan tentang perlu-tidaknya pembersihan kolon. Maklum, penggelontoran usus besar makin di­sukai orang kota, sejak paham detoksifikasi menjamur. Selalu saja muncul produk herbal baru yang bisa digunakan untuk proses pembersihan ini.

Dalam pandangan manusia urban, colon ­cleansing merupakan solusi instan dari gaya hidup mereka yang ”sangat kota”—sibuk, stres, makan tak teratur, terjebak konsumsi junk food, dan tidak cukup olahraga serta istirahat—dan keinginan untuk tetap sehat. Dalam paham pembersihan kolon ini, semua kotoran dan racun yang parkir di usus besar bisa digelontor tuntas—limbahnya banyak, hitam, dan menjijikkan. Sehingga, dengan usus besar bersih, berat badan pun bisa berkurang.

Menurut kelompok yang mengakui kebenaran terapi ini, racun yang bersarang di sepanjang usus merupakan penyebab berbagai gangguan kesehatan seperti artritis (tulang bengkok), alergi, dan asma. Mereka juga percaya bahwa cara ini bisa mengusir penyakit, karena racun yang biasanya bersemayam nyaman dalam lipat­an-lipatan usus besar akan digelontor keluar. Alhasil, bila usus besar bersih, selain penyakit tak datang, organ kolonnya pun sehat.

Memang belum ada bukti ilmiah tentang keuntungan terapi kolon ini. Bahkan, bagi para pengkritiknya, pembersihan kolon pada umumnya dianggap tidak penting dan malah bisa membahayakan kesehatan. Meskipun dokter mengharuskan pembersihan kolon sebelum tindakan medis tertentu, seperti kolonoskopi—pemeriksaan kondisi di dalam kolon dengan alat seperti kateter yang dilengkapi kamera—kebanyakan dokter tidak merekomendasikan colon cleansing untuk detoksifikasi.

Yang juga dikhawatirkan, pembersihan kolon malah mengakibatkan risiko dehidrasi. Risiko ini makin besar bila zat pencahar seperti sodium fosfat ikut diguna­kan. Zat seperti itu juga bisa membahayakan fungsi ginjal.

Menurut Ari Fahrial Syam, ahli gastroenterologi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ”Terapi kolon hanya bersifat sesaat. Jadi, manfaatnya kurang.” Padahal, dalam hal kesehatan pencernaan—termasuk usus besar—yang dibutuhkan adalah keteraturan.

”Terapi kolon juga bisa mengganggu keseimbangan flora di dalam usus,” tutur Ari Fahrial. Sehingga, menurut dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu, yang jauh lebih penting adalah memastikan proses metabolisme di dalam tubuh berjalan dengan baik.

Selengkapnya : http://majalah.tempointeraktif.com/

Menurut sumber yang saya :

Namun, pakar gastroenterologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. DR. Dr. Daldiyono Hardjodisastro, SpPD, KGEH dalam Majalah Tempo berpendapat lain. Semua jenis cuci usus pasti memiliki efek samping karena colon hydrotherapy adalah campur tangan terhadap otonomi usus yang berisiko merusak rumah tangga internal usus. Koloni bakteri pembusuk makanan, misalnya, bisa ikut dikeluarkan sehingga irama pencernaan terganggu. Selain itu campur tangan yang terlalu banyak akan membuat pencernaan bergantung pada obat atau mesin cuci usus.

Sebetulnya alam sudah menyediakan sistem pencernaan yang memadai. Berbagai masalah di usus akan muncul lantaran yang bersangkutan tidak mengkonsumsi menu makanan seimbang, misalnya didominasi daging plus lemak atau kurang makanan berserat. Untuk mengatasi berbagai hambatan itu sebaiknya tidak mengambil jalan pintas dengan menggunakan pencahar atau cuci usus. Jadi, “Tidak bisa semua orang, apalagi untuk tujuan membersihkan jerawat lalu berbondong-bondong mencuci usus,” katanya.

Saran serupa juga disampaikan oleh Dr. Albert. Agar usus besar kita tak mudah ‘kotor’, perlu diperhatikan pola pola makan seimbang yang terdiri dari 80 persen sayuran dan buah, dan 20 persen sisanya protein. Dengan pola makanan seperti itu kebutuhan akan serat yang 30 gram per hari itu terpenuhi. “Serat itu untuk pencernaan kita fungsinya seperti sikat yang membersihkan pencernaan,” katanya.

Selengkapnya : http://wap.korantempo.com/

Menurut sebuah situs yang mengelola masalah Fraud/Penipuan seputar kesehatan Quackwatch:

“Colon Cleansing”

Colon cleansers are marketed as powders to which water is added before use. The ingredients vary from one product to another, but the basic ingredients include fiber (e.g. psyllium, flaxseed, bentonite) and laxatives such as cascara and magnesium oxide. Other ingredients include vitamins, minerals, amino acids, herbs, and probiotics, all of which are variously claimed to promote detoxification, boost the immune system, promote weight loss and restore helpful bacteria.

Magnesium oxide is claimed to release nascent oxygen. The laxative ingredients may be included in the powder or as a separate herbal tea. Users are generally instructed to drink 6-10 glasses of water daily. The recommended duration of use varies from a few days to several months. Some people have reported expelling large amounts of what they claim to be feces that have accumulated on he intestinal wall. However, experts believe these are simply “casts” formed by the fiber contained in the “cleansing” products. In the absence of constipation, concern about regularity should be met with reassurance. If hard stools are a problem and no underlying pathology is suspected, increasing dietary fiber or using a stool softener should help. “Cleansing” products offer no additional benefit, and some can cause unnecessary bloating, cramps and diarrhea.

Selengkapnya : http://www.quackwatch.org/01QuackeryRelatedTopics/detox_overview.html

Masih dari sumber yang sama :

Gastrointestinal Quackery:
Colonics, Laxatives, and More
Stephen Barrett, M.D.

The importance of “regularity” to overall health has been greatly
overestimated for thousands of years. Ancient Egyptians associated feces
with decay and used enemas and laxatives liberally. In more recent times,
this concern has been embodied in the concept of “autointoxication” and has
been promoted by warnings against “irregularity.” [1]

The theory of “autointoxication” states that stagnation of the large
intestine (colon) causes toxins to form that are absorbed and poison the
body. Some proponents depict the large intestine as a “sewage system” that
becomes a “cesspool” if neglected. Other proponents state that constipation
causes hardened feces to accumulate for months (or even years) on the walls
of the large intestine and block it from absorbing or eliminating properly.
This, they say, causes food to remain undigested and wastes from the blood
to be reabsorbed by the body [2].

Around the turn of the twentieth century many physicians accepted the
concept of autointoxication, but it was abandoned after scientific
observations proved it wrong. In 1919 and 1922, it was clearly demonstrated
that symptoms of headache, fatigue, and loss of appetite that accompanied
fecal impaction were caused by mechanical distension of the colon rather
than by production or absorption of toxins [3,4]. Moreover, direct
observation of the colon during surgical procedures or autopsies found no
evidence that hardened feces accumulate on the intestinal walls.

Today we know that most of the digestive process takes place in the small
intestine, from which nutrients are absorbed into the body. The remaining
mixture of food and undigested particles then enters the large intestine,
which can be compared to a 40-inch-long hollow tube. Its principal functions
are to transport food wastes from the small intestine to the rectum for
elimination and to absorb minerals and water. Careful observations have
shown that the bowel habits of healthy individuals can vary greatly.
Although most people have a movement daily, some have several movements each
day, while others can go several days or even longer with no adverse
effects.

The popular diet book Fit for Life (1986) is based on the notion that when
certain foods are eaten together, they “rot,” poison the system, and make
the person fat. To avoid this, the authors recommend that fats,
carbohydrates and protein foods be eaten at separate meals, emphasizing
fruits and vegetables because foods high in water content can “wash the
toxic waste from the inside of the body” instead of “clogging” the body.
These ideas are utter nonsense [5].

Some chiropractors, naturopaths, and assorted food faddists claim that
“death begins in the colon” and that “90 percent of all diseases are caused
by improperly working bowels.” The practices they recommend include fasting,
periodic “cleansing” of the intestines, and colonic irrigation.

a.. Fasting is said to “rejuvenate” the digestive organs, increase
elimination of “toxins, and “purify” the body.”
b.. Cleansing” can be accomplished with a variety of “natural” laxative
products.
c.. Colonic irrigation is performed by passing a rubber tube through the
rectum. Some proponents have advocated that the tube be inserted as much as
30 inches. Warm water-often 20 gallons or more-is pumped in and out through
the tube, a few pints at a time, to wash out the contents of the large
intestine. (An ordinary enema uses about a quart of fluid.) Some
practitioners add herbs, coffee, enzymes, wheat or grass extract, or other
substances to the enema solution.
The Total Health Connection and Canadian Natural Health and Healing Center
Web sites provide more details of proponents’ claims. The latter states that
“there is only one cause of disease-toxemia” and offers “the most
comprehensive in-depth colon therapy on the continent.” The course costs
$985 for 5 days of in-clinic training or $295 by correspondence.

Some “alternative” practitioners make bogus diagnoses of “parasites,” for
which they recommend “intestinal cleansers,” plant enzymes, homeopathic
remedies. Health-food stores sell products of this type with claims that
they can “rejuvenate” the body and kill the alleged invaders.

The danger of these practices depends upon how much they are used and
whether they are substituted for necessary medical care. Whereas a 1-day
fast is likely to be harmless (though useless), prolonged fasting can be
fatal. “Cleansing” with products composed of herbs and dietary fiber is
unlikely to be physically harmful, but the products involved can be
expensive. Some people have reported expelling large amounts of what they
claim to be feces that have accumulated on he intestinal wall. However,
experts believe these are simply “casts” formed by the fiber contained in
the “cleansing” products.

Although laxative ads warn against “irregularity,” constipation should be
defined not by the frequency of movements but by the hardness of the stool.
Ordinary constipation usually can be remedied by increasing the fiber
content of the diet, drinking adequate amounts of water, and engaging in
regular exercise. If the bowel is basically normal, dietary fiber increases
the bulk of the stool, softens it, and speeds transit time. Defecating soon
after the urge is felt also can be helpful because if urges are ignored, the
rectum may eventually stop signaling when defecation is needed. Stimulant
laxatives (such as cascara or castor oil) can damage the nerve cells in the
colon wall, decreasing the force of contractions and increasing the tendency
toward constipation. Thus, people who take strong laxatives whenever they
“miss a movement” may wind up unable to move their bowels without them.
Frequent enemas can also lead to dependence [6]. A doctor should be
consulted if constipation persists or represents a significant change in
bowel pattern.

Colonic irrigation, which also can be expensive, has considerable potential
for harm. The process can be very uncomfortable, since the presence of the
tube can induce severe cramps and pain. If the equipment is not adequately
sterilized between treatments, disease germs from one person’s large
intestine can be transmitted to others. Several outbreaks of serious
infections have been reported, including one in which contaminated equipment
caused amebiasis in 36 people, 6 of whom died following bowel perforation
[7-9]. Cases of heart failure (from excessive fluid absorption into the
bloodstream) and electrolyte imbalance have also been reported [10]. Direct
rectal perforation has also been reported [11]. Yet no license or training
is required to operate a colonic-irrigation device. In 1985, a California
judge ruled that colonic irrigation is an invasive medical procedure that
may not be performed by chiropractors and the California Health Department’s
Infectious Disease Branch stated: “The practice of colonic irrigation by
chiropractors, physical therapists, or physicians should cease. Colonic
irrigation can do no good, only harm.” The National Council Against Health
Fraud agrees [12].

Legal Action
The FDA classifies colonic irrigation systems as Class III devices that
cannot be legally marketed except for medically indicated colon cleansing
(such as before a radiologic endoscopic examination). No system has been
approved for “routine” colon cleansing to promote the general well being of
a patient. Since 1997, the agency has issued at least seven warning letters
related to colon therapy:

a.. In 1997, Colon Therapeutics, of Groves, Texas, and its owner Jimmy
John Girouard were warned about safety and quality control violations of the
Jimmy John colon hydrotherapy unit and related devices [13].
b.. In 1997, Tiller Mind & Body, of San Antonio, Texas and its owner Jeri
C. Tiller, were ordered to stop claiming that their Libbe colonic irrigation
device was effective against acne, allergies, asthma and low-grade chronic
infections and improved liver function and capillary and lymphatic
circulation [14].
c.. In 1997, Colon Hygiene Services, of Austin, Texas and its owner Rocky
Bruno was notified that their colonic irrigation system could not be legally
marketed without FDA approval [15].
d.. In 1999, Dotolo Research Corporation, of Pinellas Park, Florida, and
its chief executive officer Raymond Dotolo were warned about quality control
violations and lack of FDA approval for marketing its Toxygen BSC-UV colonic
irrigation system [16].
e.. In 2001, Clearwater Colon Hydrotherapy, of Ocala, Florida, and its
vice president Stuart K. Baker were warned about quality control violations
and lack of FDA approval for marketing their colonic irrigators [17].
f.. In 2003. the International Colon Hydrotherapy Association, of San
Antonio, Texas and its executive director Augustine R. Hoenninger, III, PhD,
ND, were notified that it lacked FDA approval to sponsor “research” that had
been proposed or actually begun on the devices of five companies [18].
g.. In 2003, Girourd and Colon Therapeutics were notified that his devices
require professional supervision and cannot be legally marketed directly to
consumers. The letter noted that he had obtained marketing clearance only
for use in medically indicated colon cleansing, such as before radiologic or
sigmoidoscopic examinations [19].
h.. In 2003, the Wood Hygienic Institute of Kissimmee, Florida, and its
owner Helen Wood were warned about quality control violations and the use of
unapproved therapeutic claims in marketing their devices [20].
Girouard, Colon Therapeutics, Tiller Mind & Body, operators of the Years to
Your Life Health Centers, companies that manufactured several components of
Girouard’s colonic irrigation systems, and organizations that trained
operators of the devices are being sued in connection with the death of a
72-year-old woman who perforated her large intestine while administering
colonic irrigation. The suit alleges that the woman was unsupervised when
she administered the “colonic,” perforated her colon early in the procedure,
required surgery the same day, and remained seriously ill for several months
before she died from liver failure. The complaint also alleges that Years to
Your Life Health Center falsely advertised colonic irrigations as “painless”
procedures which provided health benefits including an improved immune
system and increased energy, as well as relief from indigestion, diarrhea,
constipation, weight loss, body odor, candida, acne, mucus colitis, gas,
food cravings, fatigue, obesity, diverticulosis, bad breath, parasitic
infections, and premenstrual syndrome [21]. In response to the woman’s death
and reports of serious injuries to four other patients, the Texas Attorney
General filed lawsuits against:

a.. Girouard and Colon Therapeutics
b.. Abundant Health and Wellness Institute, and its owner, Cordelia Beall
c.. Gentle Colonics Inc. and its owner, Denson Ingram
d.. Eternal Health Inc., doing business as Years to Your Life and Cynthia
Pitre
e.. Jennifer Jackson, doing business as Body Cleanse Spa
f.. Tiller Mind Body Inc., doing business as Mind Body Naturopathic
Institute and Jerri Tiller
g.. International Association for Colon Hydrotherapy, Class 3 Study Group
and Augustine R. Hoenninger III
h.. Linda Gonzalez, doing business as El Paso Health Center.
i.. Soledad Herrera, doing business as Body Matters of El Paso
j.. Lisa Ramoin, doing business as Alternative Health (Houston)
k.. Janice Jackson, doing as InsideOut and Within (Houston)
The suits charged all of the defendants with engaging in the promotion, sale
or unauthorized use of prescription devices for colonic hydrotherapy
treatments without physician involvement. In 2004 and 2005, the cases
involving Girouard, Ingram, Beall, the Jacksons, Herrera, Ramoin, and their
companies were settled with consent agreements under which they would pay a
total of $178,000 in civil penalties, fees, and costs to the state [22-24].

For Additional Information

a.. How Clean Should Your Colon Be?

References.

1.. Chen TS, Chen PS. Intestinal autointoxication: A gastrointestinal
leitmotive. Journal Clinical Gastroenterology 11:343-441, 1989.
2.. Ernst E. Colonic irrigation and the theory of autointoxication: A
triumph of ignorance over science. Journal of Clinical Gastroenterology
24:196-198, 1997.
3.. Alvarez WC. Origin of the so-called auto-intoxication symptoms. JAMA
72:8-13, 1919.
4.. Donaldson AN. Relation of constipation to intestinal intoxication.
JAMA 78:884-888, 1922.
5.. Kenney JJ. Fit For Life: Some notes on the book and Its roots.
Nutrition Forum, March 1986.
6.. Use of enemas is limited. FDA Consumer 18(6):33, 1984.
7.. Amebiasis associated with colonic irrigation - Colorado. Morbidity and
Mortality Weekly Report 30:101-102, 1981.
8.. Istre GR and others. An outbreak of amebiasis spread by colonic
irrigation at a chiropractic clinic. New England Journal of Medicine
307:339-342, 1982.
9.. Benjamin R and others. The case against colonic irrigation. California
Morbidity, Sept 27, 1985.
10.. Eisele JW, Reay DT. Deaths related to coffee enemas. JAMA
244:1608-1609, 1980.
11.. Handley DV and others. Rectal perforation from colonic irrigation
administered by alternative practitioners. Medical Journal of Australia
181:575-576, 2004.
12.. Jarvis WT. Colonic Irrigation. National Council Against Health Fraud,
1995.
13.. Baca JR. Warning letter to Colon Therapeutics, April 27, 1997.
14.. Baca, JR. Warning letter to Tiller Mind & Body, June 2, 1997.
15.. Baca JR. Warning letter to Colon Hygiene Services, June 20, 1997.
16.. Tolen DD. Warning letter to Dotolo Research Corporation, July 21,
1999.
17.. Singleton E. Warning letter to Clearwater Colon Hydrotherapy, Sept
13, 2001.
18.. Marcarelli MM. Warning letter to International Colon Hydrotherapy
Association, March 21, 2003.
19.. Chappel MA. Warning letter to Colon Therapeutics, Oct 23, 2003.
20.. Ormond E. Warning letter to Wood Hygienic Institute, Oct 23, 2003.
21.. Barrett S. Colonic promoters facing legal actions. Quackwatch, Nov
11, 2003.
22.. Attorney General Abbott sues ‘ colonic hydrotherapy ‘ providers for
abuse of medical devices; one death reported: Suits allege unsafe use of
devices without physician oversight is a public health issue. Texas Attorney
General news release, Dec 1, 2003.
23.. Barrett S. Texas Attorney General reaches settlement with three
colonic hydrotherapy providers. Casewatch, July 16, 2004.
24.. Attorney General Abbott wins court judgment with six colon
hydrotherapy providers. News release, March 1, 2005.

Sumber : http://www.quackwatch.org/01QuackeryRelatedTopics/gastro.html

Apa itu Colon Cleansing

Adalah suatu metode pembersihan sumber toxin yang berupa kerak dari pembusukan sisa makanan yang mengeras dan melekat pada dinding usus besar,

sehingga tercapai kondisi zerotoxin. Dengan cara membasahi kerak tersebut dengan air steril secara berulang-ulang supaya lembek, sehingga perlahan-lahan

terkelupas dan keluar bersama air.

Proses Colon Cleansing

Canula (ujung selang plastik) yang berdiameter 0.5 cm dimasukkan melalui dubur (anus) kurang lebih 5 cm dengan posisi tidur terlentang pada alat colon

cleansing, mengalirkan air kedalam usus besar mengunakan dorongan gaya grafitasi air yang turun dari tangki air. Pasien mengendalikan sendiri air yang

masuk dan keluar seperti menahan dan melepas buang air besar. Lama waktu colon cleansing 30 menit dilakukan setiap hari selama 7 hari berturut-turut.

Manfaat Colon Cleansing

Dengan bersihnya toxin, maka beban liver ringan dan fungsinya normal kembali. Nutrisi essensial yang selama ini digunakan untuk detoksifikasi dialihkan

untuk memperbaiki seluruh sel-sel organ tubuh yang diikuti perbaikan secara klinis seperti:

* Kulit halus dan cerah
* Energi meningkat
* Vitalitas meningkat
* Pembakaran lemak meningkat
* Keluhan berbagai penyakit degeneratif secara berangsur-angsur menghilang.

Sumber : http://dokter-karli.com/

So, informasi sudah saya sampaikan cukup detail.

Andalah yang menentukannya.

Sehat itu murah adalah benar.
Sehat itu mahal juga benar.

Be Smarter…Be Healthier…

Wassalamualaikum