Assalamualaikum
Guyonan atau lebih tepatnya sindiran cerdas ala komediwan yang juga sang maestro monolog putra kelima dari begawan seni Almarhum Bagong Kussudiardja, siapa lagi kalau bukan Butet Kartaredjasa yang diperankan oleh Mas Celathu.
Kali ini lewat bukunya presiden guyonan menyuguhkan guyonan politik yang cukup cerdas, mendidik dan tentu saja merakyat.
Bukan hanya itu saja, lewat guyonanya mampu memberikan inspirasi, motivasi dan membangkitkan kesadaran pada kita semua.
Ada satu yang ingin saya kutip disini….pasti Kang Mas Celathu tidak keberatan toh…..sebagai inspirasi buat para Ibu-ibu baik yang sedang merencanakan kelahiran atau dalam proses persalinan agar tetap dapat memberikan ASInya karena ini adalah yang terbaik dari yang paling baik dan tentu saja yang menarik dari semua kemasan segala macam merk susu yang yang ada…bahkan yang paling muahalllll sekalipun…..hehehe…ini guyon loh…..ketularan sama Mas Celathu.
Susu Kretek
(Diambil dari buku Presiden Guyonan - Butet Kartaredjasa, Hal 143 ~ 147)
Mas Celathu merasa beruntung kawin muda. Kalau saja pernikahannya telat, tentu hari ini ia masih direpotkan urusan susu bayi. Pastilah ia terseret panik, sebagaimana pekan ini melanda ibu-ibu. Semua pada khawatir melakukan “pembunuhan” tanpa sengaja kepada bayi-bayinya dengan memberikan oplosan susu formula bercampur bakteri Entrobacter Sakazakii.
Memang, penelitian yang dilakuan para ahli IPB, Institue Pertanian Bogor, itu, bikin gonjang-ganjing. Hasilnya cukup mengejutkan. Jika temuan itu benar adanya, niscaya para orang tua akan selalu merasa bersalah karena diam-diam telah “meracuni” bayinya. Maunya memanjakan dan menyiapkan kebahagian bagi putera atau puterinya, eh malah menuai petaka.
Seharusnya, tanpa menunggu proses para ibu yang rame-rame membuang susu formula di Bundaran HI, Jakarta, pemerintah harus cepat tanggap. Segeralah beri pernyataan susu mana yang membahayakan. Biar rakyat tenang. Hidup sudah susah dan penuh ketidakpastian, jangan lagi wong cilik dibiarkan hidup dalam keterombang-ambingan.
“Bersyukur kita. Andaikan waktu itu kamu tidak segera kukawini, mungkin hari ini kita ikut kebingungan. Kita bisa berdosa meracuni anak kita,” ujar Mas Celathu kepada bininya. Usia perkawinannya yang bulan ini genap 27tahun, membuat keluarga Celathu tidak lagi direpoti urusan elementer berumahtangga, termasuk soal susu bayi itu. Mereka sudah senang melihat ketiga anaknya tumbuh sebagai manusia. Tingkat kerepotannya sudah meningkat. Bukan lagi perkara susu formula atau melatih anak-anak baca tulis, melainkan soal mengawal dan menjaga pergaulan anak-anaknya yang menuju dewasa. Di zaman edan
ini, ruang pergaulan yang penuh ranjau dan jebakan seperti narkoba dan free sex, mungkin setara berbahayanya dengan bakteri yang sembunyi dalam kemasan susu formula. Apalagi, dalam soal pergaulan, Mas Celathu cenderung memberikan kebebasan anak-anaknya memilih ruang gaulnya nyaris tanpa batas.
“Kalau kita sih nggak masalah. Biarpun heboh susu formula ini terjadi sewaktu kita muda, saya juga nggak khawatir kok,” kata Mbakyu Celathu seraya melanjutkan,” Kan anak-anak kita minum ASI. Tidak bergantung pada susu formula”.
Mendengar pengakuan bininya, Mas Celathu mengulum senyum teringat masa lalunya. Ingatannya kembali melayang ketahuan 80an, saat mana ia menjadi mahasiswa sekaligus seorang ayah harus berjuang keras meloloskan diri dari belitan problem ekonomi. Uang ang terbatas dan hanya cukup untuk mempertahankan hidup dalam hitungan hari, menyebabkan keluarga ini harus kreatif melakukan siasat. Termasuk dalam urusan penyelenggaraan susu dirumhanya. Jika duit terlalu cekak untuk dibelanjakan susu merk kondang yang konon dilengkapi vitamin ini-itu, mereka tak segan bikin variasi dengan susu kedelai, air tajin atau susu sapi from Boyolali. Waton bukan oplosan air dan kapur gamping, pasti aman.
Kemiskinan yang menindihnya melahirkan sebuah kiat. Pokoknya asalkan air minum sudah berwarna putih pekat, anggaplah itu air susu yang menyehatkan.
Mas Celathu yang saat itu doyan berteater selalu mengajari isterinya untuk senantiasa mengembangkan imajinasi.
“Coba, sekarang mata dipejamkan. Pegang gelas ini. Yakinlah, segelas air berwarna putih pekat ini adalah susu formula, lalu minumkan ke bayi kita,” saran Mas Celathu membimbing isterinya berfantasi. Lalu, masih dengan mata terpejam, air warna putih pekat yang senyatanya air tajin itu digelontorkan ke kerongkongan sisulung. Cleguk, cleguk, cleguk……dan bayi dipangkuannya akan sumringah kembali. Begitulah, dengan cerdik keluarga ini menyiasati getirnya kehidupan dengan tetap berjenaka. Toh nyatanya bisa aman. Anak-anaknya bisa tumbuh sehat. Dan yang teristimewa, sampai sulungnya umur dua tahun, Mbak Celathu tak berhenti membiarkan si sulung mengenyut ASI-nya.
“Gantian dengan bapak donk. Joint,” seloroh Mas Celathu mengenang masa lalunya, sambil meneruskan,” Lucu juga yah kalau diingat-ingat. Eling nggak, dulu anak kita pernah nggak doyan netek lagi? Pas mau mengenyut langsung gebres-gebres, karena ASI-nya beraroma rokok kretek….hahaha.”
Mempercayai ASI sebagai susu terbaik bagi bayinya, bagi keluarga Celathu sudah merupakan pilihan mutlak. Hal-hal yang bersifat alamiah dan kodrati, diyakini sebagai sebuah kebenaran yang musti diikuti. Lha wong dulu kala, zaman simbah gantung siwur hidup di zaman Diponegoro - mereka juga nggak kenal susu formula kok. Adanya yah cuma susu murni yang menggelantung di dada sang ibu. Buktinya mereka ya bisa hidup. Banyak juga terlahirkan sebagai jagoan dan orang pintar. Kalau sakit, penyembuhannya ya cukup dengan jamu-jamu alamiah. Makanya langsung petik tumbuh-tumbuhan dari kebon belakang rumah.
“Menyusui bayi dengan ASI tidak menurunkan gengsi, kok. Nggak ada yang perlu dicemaskan,” Mbakyu Celathu menjelaskan, sambil cengengesan cekikikan,” Dan ngirit, nggak usah keluar ongkos.”
Dia bilang, memang ada trend dikalangan ibu-ibu muda, memberikan susu formula kepada bayinya terkadang lebih disebabkan adanya pertarungan gengsi.
Semakin sering meminumkan susu formula merk mahal kepada bayinya, semakin tinggi pula citra yang diperoleh. Apalagi disertai sebuah mitos, jika seoarang ibu tidak menyusui bayinya, maka bentuk payudara akan terjaga keindahnnya. Tak mengherankan jika kemudian banyak ibu-ibu yang terjebak pada sihir promosi itu lebih mementingkan indahnya bentuk payudara, katimbang menjaga kesehatan bayinya.
“Wualah walah…., biarpun nggak menyusui, kalau sudah sepuh ya tetep akan melorot. Tetep “Hamlet” alias seperti lidah melet,” sergah Mas Celathu. Dia benar-benar prihatin melihat betapa orang-orang telah kehilangan kearifan tradisional yang ditularkan turun temurun. Untuk sekadar meneruskan dan menjaga kehidupan, sebenarnya agama dan nilai-nilai sudah menyediakan ilmunya. Mungkin terasa kuno. Tapi, bagi keluarga Celathu, yang kuno itu lebih otentik dan sarat khasiat karena telah teruji oleh waktu.
Mas Celathu sadar sesadar-sadarnya, mengkonsumsi apa saja yang sesunggguhnya tidak diperlukan dalam kehidupan ini, adalah siasat industri yang ingin memeras masyarakat. Setiap detik kekuatan industri akan selalu membujuk kita lewat iklan dan promosi aneka macam. Bujuk rayu itu mungkin berupa impian menjadi manusia modern, keindahan badaniah, kepraktisan dan kemudahan serba instan. Dan menggantungkan susu bayi pada susu formula, agaknya merupakan siasat menjauhkan kepercayaan orang pada kekuatan dan kesehatan alamiah.
Karena itu, Mbakyu Celathu menyarankan, ” Ayo ibu-ibu kembali saja memberikan ASI kepada bayi-bayi kita. Biarpun terkadang ada aroma rokok kretek, ASI lebih menyehatkan loh.”
———————————————————————————————————————————————————————————————————————————–
Tertawalah sebelum tertawa itu diperdakan………………hahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha………..
Salam ASI
Wassalamualaikum