Lilypie 4th Birthday PicLilypie 4th Birthday Ticker

Ghozan dan Laskar Pelangi

October 20, 2008

Minggu, 19 Oktober 2008 barangkali menjadi hari yang paling istimewa buat Ghozan (3.7th), karena untuk pertama kalinya Ghozan nonton di bioskop meskipun sebenarnya sudah pernah, tepatnya ketika masih usia 1.5th menonton teater 3D di Ancol namun demikian tidak dapat menikmati tontonananya karena takut dengan kondisi dalam gedung pertunjukan yang gelap.

Nah Minggu kemarin itulah Saya melihat Ghozan begitu menikmati jalannya film Laskar Pelangi, dari mulai pintu masuk sampai duduk di bangku terlihat mengikuti alur ceritanya yang terkadang diselingi dengan gelak tawanya beserta penonton yang lain.

Luar biasa antrian tiket film tersebut, sama persis ketika film Ayat-Ayat Cinta (AAC) diputar, hampir di semua gedung bioskop diminggu-minggu pertama dan kedua mengular, dan Kamipun kemarin duduk dibangku paling depan, berhadapan langsung dengan dinding film.

Laskar Pelangi (LP)

Sebetulnya agak ragu juga mau nonto film yang satu ini karena dalam hati sudah ragu, bukan karena sudah membaca resensi film tersebut dari berbagai macam berita baik lewat koran, majalah, blog maupun mailing list.
Keraguan Saya bukan hanya dari unsur filmnya saja akan tetapi saya sudah mempunyai prinsip, hasil karya tulisan tangan pasti tidak akan sama di terima oleh matahati jika divisualisasikan.

Dan ini sudah terbukti sebelum film AAC garapan Hanung Bramantyo yang sungguh sangat luar biasa penontonya dan sekarang LP garapan Rizi Reza yang juga menuai nasib yang sama dengan film AAC tersebut, tak kurang dari RI-1pun ikut menonton jua.

Saya bukan pengamat perfilman juga tidak terlalu hobi nonton bioskop, lebih suka nonton film dirumah tentunya, namun demikian Saya mengikuti perkembangan dunia perfilman. Saya lebih menikmati membaca buku berjam-jam dibandingkan dengan nonton film. 3 Novel karya Andrea Hirata Saya ‘lahap’ dengan cepat dan kini sedang penasaran menunggu Maryamah Karpov yang tidak kunjung terbit.

AAC vs LP

Sedikit mengulas dari sudutpandang buruh pabrik tidak bermaksud hendak latah mengomentari kedua film tersebut yang memang bukan bidang Saya, tapi ijinkan saya sedikit menuliskannya untuk sekedar berbagi saja.

Dari sudut pandang Saya yang awam tentang perfilman, LP jauh lebih baik dari AAC.
Banyak kisah yang menginspirasi dan mengharukan dari LP, bahkan pada saat adegan perpisahan Lintang dengan teman-temannya Saya sampai menitikan air mata. Belum lagi pesan moral yang disampikan lewat film tersebut dan juga keberaniannya mengekspose kemiskinan vs kemelaratan antara SD Muhammadiyah Belitong vs SD PN Timah, harapan Saya, tak kurang dari RI-1 dan pejabat yang lain tergugah hatinya melihat kondisi yang senyata-nyatanya yang sampai detik ini masih saja Kita temukan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara di AAC, tak ada hal yang baru dalam alur ceritanya. Semuanya berputar-putar pada masalah primitif hawa nafsu manusia, hubungan lain jenis, yang 90 persen menjadi topik film dan sinetron Indonesia.
Narasi yang yang disuguhkan tidak fokus, ceritanya sendiri mengisahkan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Di mana lagi kalau bukan di Universitas Al Azhar yang kesohor itu. Tapi di situ tidak dijelaskan, sang bintang, yang bernama Fahri, mengambil fakultas apa,jurusan apa.

Selama film berlangsung, tidak menggambaran bentuk fisik bangunan Al Azhar yang sudah berumur 1000 tahun itu. Padahal nilai historis ini kalau ditampilan dalam film tentu akan sangat luar biasa sekali.
Sangat berbeda dengan LP, yang sangat menarik buat Saya adalah bukan alur ceritanya karena lebih bagus novelnya, akan tetapi setting film yang dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat tampak sangat natural. Bagaimana kondisi alam Belitong saat itu, bagaimana aktifitas sebagian besar rakyat Belitong saat itu, hal itulah yang membuat Saya terkagum-kagum dengan film ini, hampir mirip dengan film Daun Diatas Bantal garapan Garin Nugroho yang dengan sangat apik dimainkan oleh Christin Hakim.

Lantas apa yang membuat 2 film tersebut sukses besar? Dalam pandganan sempit Saya tak lebih karena kedua novel tersebut telah laris manis sebelumnya dan juga sebagian kecil dari promosi kedua film ini.

Akhir kata, Saya sebagai masyarakat Indonesia hanya bisa berharap, buatlah film-film yang lebih menyentuh….lebih peka…dan tentu saja lebih berani seperti Laskar Pelangi dan Daun Diatas Bantal.

Wassalam
Bapakeghozan

Ayah Jangan Pulang Malam, Nanti Capai

May 16, 2008

Assalamualaikum…

Kembali siang ini terhenyak perasaan bahagia tiada tara…..Ghozan via telpon Ayah pulangnya kalau ada matahari yah….jangan pulang malam-malam nanti capai..

Subhanalloh…
Terima kasih Ya Rabb…

Entah dapat kata-kata dari mana…..bahagia rasanya hati ini melihat kemajuan Ghozan dari hari kehari, namun juga sedih…permintaan Ghozan belum dapat terpenuhi sepenuhnya……maklum hanya buruh pabrik jadi kesempatan pulang kerja bisa bermain dengan Ghozan pada hari Senin, Kamis dan Sabtu.

Terima kasih ya Rabb.
Terima kasih Bunda.
Terima kasih Ghozan.

Wassalamualaikum

Ayah O’on

May 5, 2008

Assalamualaikum

Ndak biasanya saya bisa telpon berlama-lama dengan Ghozan.
Biasanya 2 atau 3 menit langsung ditutup apalagi sama orang lain, kalau sudah begitu saya uring-uringan telpon ulang dan diminta salam dulu sebelum ditutup.

Hari ini sungguh diluar dugaan, saya bisa telpon sama Ghozan lebih dari 10menit, sementara saya telpon menggunakan telpon kantor pas jam istirahat.

Berhubung telpon kantor ada timernya, jadi setiap 5menit akan mati sendiri.

Hal ini rupanya membuat Ghozan marah sekali….
Disaat Ghozan sedang bicara tanpa saya pamit tiba-tiba telpon mati.
Begitu saya telpon ulang……apa yang terucap…ayah o’on….ayah o’on…ayah o’on.

Sedih rasanya…tapi juga mau tertawa dalam hati tapi aku pendam…….saya ndak nyangka akan seperti itu.
Ghozan begitu marah….dan ini sangat beralasan…karena setiap hari saya telpon…sebelum ditutup harus salam dulu.

Barangkali dalam pikirannya kok ayah saya malah berbohong………
Alhamdulillah….setelah sekian detik mendengarkan kemarahan Ghozan…..dan akhirnya keluar juga kata-kata Ghozan…
Kenapa ayah ndak pamit…????

Alhamdulillah penjelasan saya sepertinya cukup bisa dimengerti Ghozan, terbukti mau meneruskan pembicaraan via telpon meskipun di akhir pembicaraan langsung salam dan langsung di tutup tanpa menunggu jawaban salam balik saya seperti biasanya.

Hehehehe……ternyata my Ghozan bisa marah sebegitunya.

Pelajaran berharga buat saya.

I Love U Ghozan

Wassalamualaikum.