Lilypie 5th Birthday PicLilypie 5th Birthday Ticker

Debu ini sudah melekat terlalu tebal

March 13, 2009

Assalamualaikum…

Jum’at Kliwon 13 Maret 2009, 09.00wib

Allahumma ya muqalliba al-qulub thabbit qalbi `ala dinika

Hiruk pikuk dunia ini
Terkadang membuat diri ini terlena
Sehingga apa-apa yang semestinya dilakukan, justru malah ditinggalkan
Padahal sesuatu itu datangnya pasti
Semakin jauh meninggalkan terasa semakin senang
Serasa sesuatu itu tidak akan pernah menemuinya
Hingga saatnya datang…tercekat…tak mampu berujar…
Terkatup…kaku membisu….pandangan mata kosong…..
Tangisan….seruan orang-orang disekitarnya tak lagi mampu menembus pendengarananya.

Subhanallah…..

Ya Rab…
Tegurlah diriku yang sering terlena
Sehingga melupakan keberadaan-Mu yang sungguh-sungguh sangat dekat
Jewer aku Ya Rab…agar aku tahu mana yang mesti dikerjakan dan mana yang mesti ditinggalkan
Debu ini sudah melekat terlalu tebal

Astagfirallah…..
Astagfirallah….
Astagfirallah…

Wassalamualaikum

Air Mata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dia lah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dia lah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dia lah malaikatul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”.

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii (Umatku, umatku, umatku).”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

Sumber : Suara Merdeka

Hadits-hadits Dho’if di Mimbar Romadhon

October 4, 2007

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Di bulan Romadhon banyak da’i-da’i yang bermunculan, mulai dari yang berilmu sampai yang karbitan. Semua mengambil bagian dalam jadwal-jadwal ceramah sehingga terkadang yang jahil diantara mereka sering kali menimbulkan pelanggaran, diantaranya adalah menghiasi ceramah-ceramahnya dengan hadits-hadits dho’if (lemah), bahkan maudhu’ (palsu)!! Padahal hadits-hadits lemah tidak boleh dipakai berdalil, baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlaq, dan fadho’il (keutamaan), apalagi jika haditsnya palsu.

Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan -rahimahullah- beliau berkata dalam Nuzul Al-Abror (hal. 45) : “Telah keliru orang yang menyatakan bahwa boleh (bagi seseorang) toleransi terhadap hadits-hadits yang ada dalam fadho’il amal. Itu (keliru) karena hukum-hukum syari’at sama derajatnya, tidak ada bedanya antara yang wajib, haram, sunnah, makruh dan mandubnya, tidak boleh menetapkan sesuatu darinya kecuali dengan (dalil) yang bisa dijadikan hujjah. Kalau tidak, niscaya itu merupakan kedustaan atas nama Allah yang tidak pernah difirmankan dan kelancangan terhadap syari’at yang suci ini dengan memasukkan sesuatu yang bukan termasuk darinya. Sungguh telah shohih secara mutawatir bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : [“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di nereka”]. Ini yang dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengharapkan kebaikan untuk manusia dengan memperoleh pahala, tidak bisa diharapkan kecuali ia itu akan jadi ahli neraka”.

Hadits dho’if, dan palsu tidak boleh dipakai berhujjah dalam segala: aqidah, hukum, ibadah, akhlaq, karena ini termasuk taqowwul (berdusta) atas nama Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

Al-Allamah Ibnul Arabiy Al-Malikiy-rahimahullah- berkata, “Hadits dho’if tidak boleh diamalkan secara mutlak”.[Lihat Al-Muqni’ fi Ulum Al-Hadits (hal. 104) oleh Sirojuddin Umar bin Ali Al-Anshoriy]

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata dalam Tamam Al-Minnah (hal. 34), “Sesungguhnya sebagian ulama muhaqqiqin berpendapat tidak bolehnya hadits-hadits dho’if diamalkan secara mutlak, baik dalam masalah hukum maupun dalam masalah fadho’il a’mal “.

Jadi, tidak boleh berdalil dengan hadits dho’if walaupun untuk menjelaskan keutamaan suatu ibadah, seperti hadits-hadits berikut yang akan kami jelaskan derajat dan segi ke-dho’if-an, serta kepalsuannya agar para pembaca dan penceramah berhati-hati jangan sampai menjadikannya sebagai hujjah dan dalil:

* Hadits Pertama

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا إِنَّ الْجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ

“Andaikan para hamba mengetahui apa yang terdapat dalam Romadhon, niscaya ummatku akan mengharapkan Romadhon adalah setahun penuh. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Romadhon dari awal tahun ke tahun berikutnya”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya(1886), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (5273), Ibnul Jauziy dalam Al-Maudhu’at (2/188-189)]

Hadits ini palsu, karena terdapat rowi yang bernama Jarir bin Ayyub Al-Bajaliy Al-Kufiy. Dia seorang yang memalsukan hadits. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini palsu dalam Dho’if At-Targhib (596), dan Adh-Dho’ifah (871)

* Hadits Kedua

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

يَا أَيُّهَا النّاَسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ… وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Wahai manusia, sungguh kalian telah dinaungi oleh bulan yang agung; bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban, dan sholat malamnya sebagai tathowwu’ (sunnah). Barang siapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan satu bentuk kebaikan, maka ia ibaratnya orang yang menunaikan kewajiban pada selain Romadhon…Awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah pengampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya(1887), Al-Mahamiliy dalam Al-Amaliy (293)]

Hadits ini dho’if (lemah), karena ada rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jad’an. Dia adalah seorang yang jelek hafalannya sehingga menyebabkan haditsnya lemah. Tak heran jika Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini dho’if munkar dalam Adh-Dho’ifah (871 & 1569)

* Hadits Ketiga

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8312), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/357/488 & 7/57/1986)]

Dalam sanad Ath-Thobroniy ada rawi yang bernama Zuhair bin Muhammad. Haditsnya dho’if jika diriwayatkan oleh orang-orang Syam dari Zuhair, sedang hadits ini termasuk diantaranya. Adapun riwayat Ibnu Adi, dalam sanadnya terdapat Husain bin Abdullah bin Dhumairoh Al-Himyariy (orangnya tertuduh dusta), dan Nahsyal bin Sa’id Al-Wardaniy (orangnya matruk/ditinggalkan). Jadi, riwayat-riwayat ini tak bisa saling menguatkan. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy men-dho’if-kan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (253)

* Hadits Keempat

Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Apabila Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berbuka, maka beliau berdo’a, “Ya Allah, karena Engkau aku berpuasa, dengan rezqi-Mu aku berbuka. Ya Allah, terimalah (amal sholeh) dariku; Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.”. [HR. Ad-Daruquthniy dalam Sunan-nya (26), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (12720)]

Hadits ini juga lemah, karena dalam sanadnya terdapat Abdul Malik bin Harun bin Antaroh (orangnya tertuduh dusta). Sebab itu, Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini dho’if jiddan (lemah sekali) dalam Irwa’ Al-Gholil (919)

* Hadits Kelima

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الصَّائِمُ فِيْ عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa (senantiasa) dalam ibadah, sekalipun ia tidur di atas tempat tidurnya”. [HR. Tamam Ar-Roziy dalam Al-Fawa’id (18/172-173)]

Hadits ini dho’if (lemah), karena di dalamnya terdapat rawi-rawi yang tak dikenal, seperti Yahya bin Abdullah Az-Zajjaj, dan Muhammad bin Harun. Syaikh Al-Albaniy men-dho’if-kan hadits ini dalam As-Silsilah Adh-Dho’ifah (653)

* Hadits Keenam

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الصَّائِمُ فِيْ عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ

“Orang yang berpuasa (senantiasa) dalam ibadah selama ia tidak meng-ghibah”. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (5/283/1421)]

Hadits ini dho’if munkar, karena AbdurRahim bin Harun Abu Hisyam Al-Ghossaniy, seorang yang tertuduh dusta !! [Lihat Adh-Dho’ifah (1829)]

* Hadits Ketujuh

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الصَّائِمُ فِيْ عِبَادَةٍ مِنْ حِيْنَ يُصْبِحُ إِلَى أَنْ يُمْسِيَ إِذَا قَامَ قَامَ وَإِذَا صَلَّى صَلَّى وَإِذَا نَامَ نَامَ وَإِذَا أَحْدَثَ أَحْدَثَ : مَا لَمْ يَغْتَبْ فَإِذَا اغْتَابَ خَرَقَ صَوْمَهُ

“Orang yang berpuasa senantiasa dalam ibadah sejak subuh sampai sore. Jika ia shalat malam, maka ia shalat malam; jika ia tidur, maka ia tidur; jika ia berhadats maka ia berhadats, selama ia tidak menggibah orang. Jika ia menggibah, maka ia melobangi (merusak) puasanya”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (2/257-258)]

Hadits ini derajatnya palsu, karena ada dua orang pendusta, yaitu Muqotil bin Sulaiman Al-Balkhiy, dan Umar bin Mudrik. Sebab itulah, Al-Albany menyatakan hadits ini palsu dalam Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (3790).

* Hadits Kedelapan

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ

“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad akbar (yang besar)”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Az-Zuhd sebagaimana dalam Takhrij Al-Ihya’ (2/6)]

Hadits ini lemah sekali, karena dalam sanadnya terdapat Isa bin Ibrahim, Yahya bin Ya’laa, dan Laits bin Abi Sulaim. Ketiga orang ini lemah.

Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafazh lain,

قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ قَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ : مُجَاهَدَةِ الْعَبْدِ هَوَاهُ

“Kalian telah datang (pulang) dengan kepulangan yang baik, kalian datang (pulang) dari jihad kecil menuju jihad akbar (yang besar), yaitu seorang hamba melawan hawa nafsunya”. [HR. Abu Bakr Asy-Syafi’iy dalam Al-Fawa’id Al-Muntaqoh (13/83/1), Al-Baihaqiy dalam Az-Zuhd (42/1), dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (13/523-524)]

Hadits ini juga dho’if (lemah), karena jalur periwayatannya sama !! Al-Albaniy melemahkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (2460)

* Hadits Kesembilan

Konon kabarnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصِّيَامُ

“Puasa adalah separuh kesabaran. Segala sesuatu memiliki zakat, sedang zakat bagi jasad adalah puasa”. [HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (3577), dalam Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (158, dan 229)]

Hadits ini dho’if (lemah), karena seorang rawi yang bernama Musa bin Ubaidah; seorang yang disepakati kelemahannya oleh para ahli hadits sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah (3810)

* Nasihat bagi Para Da’i

Jika kalian memberikan nasihat dan wejangan kepada para jama’ah, maka janganlah kalian menghiasi ceramah kalian dengan hadits-hadits dho’if, dan palsu. Sayangilah diri kalian sebelum kalian terkena sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]

Periksalah hadits-hadits yang kalian sampaikan dalam ceramah-ceramah kalian. Jika tidak tahu, maka belajarlah, dan tanya kepada orang-orang yang berilmu. Janganlah perasaan malu dan sombong membuat dirimu malu bertanya dan belajar sehingga engkau sendiri yang menggelincirkan dirimu dalam neraka, wal’iyadzu billah !!

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 31 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

sumber : http://almakassari.com/
Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Poligami Dari Gus Mus

December 8, 2006

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh…..

Ada tulisan yang menghujam ke nurani ulu hati saya dari Gus Mus……..

Poligami

Oleh A. Mustofa Bisri

Seperti biasa, setelah pengajian Selasanan, beberapa “aktivis” jamaah
masih duduk-duduk berkumpul di aula. Malah kali ini nyaris lengkap.
Ada Kang Kimin; Kang Zaini; Haji Arifin; Kang Slamet; Kang Mansur; Mas
Guru Manaf; si Dul; dan bahkan Gus Mad dan Mbah Paiman.

Kali ini Kang Slamet yang membuka “diskusi”. “Wah, kasihan Aa’ Gym
ya?! Mau itbaa’, mengikuti jejak Nabi, malah dihujat jamaahnya.”

“Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang selama ini mengidolakan Aa’ dan
merasa dikecewakan. Lebih-lebih Teteh Ninih, istrinya!” sahut Haji
Arifin yang istrinya ketua muslimat ranting. “Perempuan itu kan paling
sakit jika dimadu.”

“Tapi, Teteh Ninih itu kan sudah legawa, Aa’-nya kawin lagi,” Kang
Zaini menimpali. “Dia itu tipe perempuan yang taat dan selalu
mendukung suaminya.”

“Legawa itu kan lahirnya saja!” sergah Haji Arifin.

“Wah, sejak kapan sampeyan jadi paranormal, tahu batin orang?” ledek
Kang Zaini.

“Lho, bukan begitu. Wajahnya di teve kan kelihatan,” jawab Haji Arifin
tak mau diledek sebagai paranormal.

“Tidak. Yang saya heran, mengapa kok jamaah Aa’ menghujatnya dan
orang-orang pada geger; sampai-sampai presiden segala ikut disibukkan.

“Ini ada apa?” si Dul nimbrung. “Bukankah sebelumnya sudah banyak
tokoh yang kawin lebih dari satu, seperti petinggi PPP Hamzah Haz;
mubalig sejuta umat Zainuddin M.Z.; aktivis gender Masdar Mas’udi;
bahkan Kiai Nur Muhammad Iskandar konon menjadi penasihat Paguyuban
Poligami yang dipimpin wong Solo itu.”

“Lain,” Gus Mad yang sejak tadi seperti tidak mendengarkan, angkat
bicara. “Pak Hamzah itu meskipun tokoh nasional, kan tokoh politik.
Tokoh politik itu biasanya hanya dianggap milik partainya dan biasanya
perilaku politiknya saja yang disorot. Zainuddin M.Z. dan Nur Iskandar
juga begitu setelah terjun di politik. Sementara Masdar adalah pemikir
yang ketokohannya tidak karena hubungan langsung dan intens dengan
jamaah.”

Gus Mad berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah yang
memperhatikannya, baru kemudian melanjutkan. “Aa’ Gym lain. Dia itu
tokoh public figure sebenarnya. Dia tidak hanya mubalig, tapi juga
sekaligus selebriti.”

“Jamaahnya adalah fans-fansnya. Aa’ adalah gabungan antara Zainuddin
M.Z. dan Iwan Fals atau Tuti Alawiyah dan Krisdayanti. Lagi pula, dia
datang pada waktu yang tepat. Ibarat hujan, turun pada saat kemarau
panjang. Pada saat kebanyakan kepala orang Indonesia panas oleh
berbagai kesulitan dan kekecewaan, dia membawa keteduhan.”

Lagi-lagi Gus Mad berhenti sebentar, meneguk tehnya yang sudah dingin,
kemudian baru melanjutkan. “Kalian tahu, kebanyakan jamaah yang
mengidolakan Aa’ adalah ibu-ibu. Mereka ini tidak hanya memuja Aa’
karena kelembutan dan kesejukan bicaranya, tapi antara lain juga
keharmonisannya dengan sang istri. Kalian lihat sendiri, dalam hampir
setiap penampilannya, Aa’ didampingi Teteh Ninih. Tidak jarang dalam
orasinya, dia sengaja meminta dukungan istrinya itu.”

“Boleh jadi, dalam pandangan jamaahnya, khususnya ibu-ibu, Aa’
merupakan tokoh idola yang sempurna, yang tidak ada cacatnya. Ya,
seperti umumnya fans terhadap tokoh idolanyalah. Bahkan, untuk Aa’ ini
mungkin lebih dari itu. Dalam bahasa Ainun, di mata mereka, Aa’ sudah
menjadi semacam berhala. Terhadap ‘berhala’, pandangan tidak ada cacat
bisa menjadi tidak boleh cacat.”

“Dan umumnya orang Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap kawin lagi;
atau istilah populernya poligami, adalah cacat. Minimal mengurangi
kesempurnaan tokoh suami. Maka ketika Aa’ kawin lagi, jamaah yang
selama ini menganggapnya idola tunggal yang tak bercacat pun kecewa
berat dan meradang.”

“Tapi Gus,” sela Kang Mansur, “poligami itu kan halal dan itbaa’ Nabi?”

Tiba-tiba jamaah meledak, tertawa. Mas Guru Manaf sambil tertawa,
menuding Kang Mansur. “Mentang-mentang istrinya dua!”

Kang Mansur terlihat agak sewot ditertawakan kawan-kawannya dan
menyemprot Mas Guru Manaf: “Alaah, kamu sendiri sebetulnya kan pingin
kawin lagi, tapi tak punya nyali. Dasar guru takwa. Takut istri tua!”

Jamaah pun semakin riuh tertawa. Setelah reda, Mbah Paiman yang paling
tua di antara jamaah tiba-tiba mengacungkan tangan dan bicara:
“Begini; sebenarnya ini tidak masalah hukum. Hukumnya kan sudah jelas.
Poligami boleh dengan syarat adil. Nah, yang jadi masalah kepercayaan
terhadap adilnya suami inilah yang hampir tidak ada.”

“Orang, apalagi zaman sekarang, apalagi perempuan, hampir tidak ada
yang percaya ada suami yang bisa adil. Ditambah lagi maraknya kasus
perselingkuhan membuat kepercayaan orang terhadap suami yang kawin
lagi menjadi pupus.”

“Lho, Kang Mansur ini alasannya kawin lagi justru agar tidak
selingkuh, Mbah,” sela Mas Guru Manaf. Kang Mansur melirik sengit ke
arah Mas Guru Manaf.

“Ya, hampir semua mereka yang berpoligami selalu berkilah bahwa
poligami jauh lebih baik daripada selingkuh. Ini halal dan selingkuh
itu haram. Tapi, ini sekaligus juga merupakan dalil penguat bagi
mereka yang antipoligami untuk menuduh mereka yang berpoligami.
Artinya, mereka itu melihat dorongan untuk selingkuh dan kawin lagi
adalah sama. Syahwat.”

“Lho, bukankah agama memang memberi jalan agar orang tidak terjerumus
ke dalam kemungkaran, Mbah?” tanya Kang Zaini, “Agar tidak terjerumus
dalam riba, agama memberi jalan: jual-beli. Agar tidak terjerumus
dalam zina, agama memberi jalan: kawin.”

“Ya, benar;” jawab Mbah Paiman sareh, “Tapi yang membuat orang,
terutama perempuan, semakin tidak percaya itu ialah alasan-alasan
mulia yang sering dikemukakan mereka yang berpoligami, seperti untuk
mengikuti jejak Nabi; memberantas perselingkuhan; dsb.”

“Lalu, fatwa Mbah kepada kita-kita ini, terutama kepada Mas Guru Manaf
yang kata Kang Mansur sudah ngebet pingin kawin lagi ini, bagaimana?”
tanya Haji Arifin.

“Istafti qalbak! Mintalah fatwa nuranimu sendiri!” jawab Mbah Paiman
menirukan sabda Nabi Muhammad SAW.

Suasana menjadi hening agak lama. Kemudian, yang memecahkan kesunyian
adalah Kang Kimin, senior jamaah yang sejak tadi diam saja. “Dari tadi
kita kok hanya geger bicara soal orang kawin lagi. Yang kasihan kepada
Aa’-lah, yang kasihan kepada istrinyalah, yang kasihan kepada ibu-ibu
yang mengidolakannyalah. Bukankah di negeri ini masih banyak yang
lebih perlu dikasihani; misalnya para korban bencana alam yang belum
benar-benar terurus; korban Lapindo yang berlarut-larut hanya
dijadikan bahan diskusi; para pemimpin yang bebal terhadap kehendak
umat yang dipimpinnya; para pejabat yang masih kerepotan melepaskan
diri dari lilitan kepentingan materi; dan sebagainya dan seterusnya.”

Suasana kembali sunyi; sampai Gus Mad memecahkannya dengan berkata:
“Marilah kita tutup perbincangan kita ini dengan membaca Al-Fatihah,
semoga Allah mengasihani dan merahmati kita bangsa Indonesia ini,
terutama mereka yang kita kasihani. Al-Faaatihah!”

Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh